Mandala, pemuda tampan berusia 24 tahun dari kampung di seberang kota, bekerja sebagai sopir pribadi di sebuah perumahan elit. Tanpa diketahui siapa pun, pekerjaannya bukan sekadar mencari nafkah melainkan jalan untuk menemukan jati dirinya.
Mandala menyimpan kebencian mendalam pada ayah kandung yang tak pernah ia kenal, pria yang ia yakini telah menghancurkan hidup ibunya hingga mengalami gangguan jiwa. Ketika ia ditugaskan mengantar Keyla, putri cantik seorang konglomerat, Mandala yakin takdir sedang memihak dendamnya. Keyla adalah anak dari pria yang ia sebut Ayah.
Cinta pun ia jadikan senjata. Mandala berniat membalas luka masa lalu dengan membuat Keyla jatuh cinta padanya. Namun seiring waktu, perasaan yang tumbuh tak lagi bisa dikendalikan, dan rencana balas dendam perlahan runtuh.
Saat Mandala hampir menuntut pertanggungjawaban, Kenyataan mengejutkan terungkap.
Bagaimana kebenaran tentang Mandala dan bagaimana kisah cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAGI YANG MEMPERTEMUKAN
***
Pagi datang dengan cahaya lembut yang menyelinap di antara gedung-gedung kampus. Udara masih bersih, dipenuhi suara langkah kaki mahasiswa, deru motor yang terburu-buru, dan tawa-tawa kecil yang lahir dari semangat masa depan. Kampus itu berdiri megah tempat mimpi-mimpi dirangkai, sekaligus tempat takdir diam-diam bekerja.
Mandala datang menggunakan sepeda motor nya melewati gerbang kampus dengan percaya diri, bukan sombong, ransel lusuh di punggungnya menjadi kawan. Kemeja putihnya sederhana, sepatu putihnya sudah sedikit lusuh, namun langkahnya mantap. Tak banyak yang tahu bahwa pemuda itu adalah penerima beasiswa prestasi hasil dari kerja keras dan malam-malam panjang yang ia lalui setelah seharian bekerja sebagai montir di bengkel mobil kecil di pinggir kota.
Baginya, kuliah bukan sekadar pilihan. Ini adalah satu-satunya jalan.
Mandala mengambil Fakultas Manajemen Bisnis, jurusan yang ia yakini mampu mengubah hidupnya. Ia ingin keluar dari lingkaran kemiskinan, ingin membuktikan bahwa masa lalu kelam tak harus menentukan akhir cerita seseorang. Meski tangannya terbiasa kotor oleh oli dan mesin, pikirannya selalu bersih oleh harapan.
Di sisi lain kampus, sebuah mobil hitam berhenti dengan mulus.
Pintu terbuka, dan Keyla Pratama turun dengan anggun. Rambutnya tergerai rapi, senyumnya ringan, seolah dunia selalu berpihak padanya. Mahasiswi Fakultas Manajemen Bisnis itu dikenal bukan hanya karena kecantikannya, tetapi juga karena status keluarganya yang tak pernah bisa dipisahkan dari namanya.
Namun Keyla bukan tipe yang mencari perhatian. Ia berjalan santai, ditemani seorang pria di sisinya Erga, kekasihnya. Tampan, percaya diri, dan selalu terlihat pas berada di dunia Keyla. Mereka tampak serasi, seperti pasangan yang sudah ditakdirkan untuk berjalan bersama.
Keyla tertawa kecil saat Erga membisikkan sesuatu di telinganya, tanpa menyadari sepasang mata memperhatikannya dari kejauhan.
Mandala berhenti sejenak.
Ada sesuatu dalam diri Keyla yang membuat langkahnya tertahan. Bukan sekadar cantik melainkan aura hangat yang asing, namun entah mengapa terasa dekat. Mandala mengernyit pelan, mengusir perasaan aneh itu. Ia tak suka terlalu lama memikirkan hal-hal yang tak perlu.
Mereka berbeda dunia, batinnya.
Namun takdir punya caranya sendiri untuk menyatukan dua garis yang seharusnya tak pernah bertemu.
Di dalam ruang kelas Manajemen Bisnis, Mandala duduk di barisan tengah, membuka buku catatannya dengan rapi. Tak lama kemudian, Keyla masuk bersama Erga. Dosen menyebut daftar hadir dan di situlah Mandala tersadar.
Nama mereka dipanggil dalam jurusan yang sama.
Mandala mengangkat kepala, menoleh sekilas. Pandangan mereka bertemu hanya sesaat. Keyla tersenyum sopan, senyum yang biasa ia berikan pada siapa pun. Namun bagi Mandala, senyum itu meninggalkan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.
Ia tak tahu bahwa pagi itu adalah awal dari rangkaian peristiwa yang akan menyeretnya pada masa lalu yang selama ini ia cari dan pada seorang perempuan yang kelak akan menguji dendam, mimpi, dan seluruh keyakinannya.
Karena di kampus inilah, takdir mulai menulis ulang kisah Mandala yang terbungkus waktu.
***
waktu berjalan, Dosen mulai menjelaskan silabus mata kuliah pagi itu. Suaranya tegas, memantul di antara dinding kelas yang dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Tak lama kemudian, sebuah tugas diumumkan tugas kelompok.
“Kelompok berisi tiga orang,” ucap sang dosen sambil menuliskan daftar nama di papan tulis. “Saya yang menentukan.”
Mandala menegakkan punggungnya. Ia terbiasa bekerja sendiri. Bekerja di bengkel mengajarkannya bahwa mengandalkan orang lain sering kali berujung kecewa. Namun kali ini, ia tak punya pilihan.
Nama demi nama disebut.
Hingga .... “Mandala… Keyla Pratama… Erga.”
Udara di sekitar Mandala terasa berubah. Ia menoleh perlahan, hampir tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Keyla pun tampak sedikit terkejut, sementara Erga menyunggingkan senyum tipis senyum yang sulit diterjemahkan apakah itu ramah atau sekadar formalitas.
Seusai kelas, ketiganya berdiri canggung di dekat pintu.
“Sepertinya kita satu kelompok,” ujar Keyla lebih dulu, suaranya ringan, berusaha mencairkan suasana.
Mandala mengangguk singkat. “Iya.”
Sederhana. Tanpa basa-basi.
Erga mengamati Mandala dari ujung kepala hingga kaki. Dari sepatu putih yang mulai kusam, ransel tua, hingga cara Mandala berdiri tenang, tidak rendah diri, tapi juga tidak mencari perhatian. Ada sesuatu yang membuat Erga tak nyaman, meski ia sendiri tak tahu apa.
“Kita bisa kerjain di kafe kampus nanti sore,” kata Erga, nada suaranya terdengar tegas, seolah ia sudah terbiasa memimpin.
Mandala menatapnya sekilas. “Sore saya kerja. Malam lebih bisa.”
Keyla melirik Mandala. “Kerja?”
“Montir,” jawab Mandala singkat.
Ada jeda sesaat.
“Oh,” Keyla mengangguk pelan, tanpa nada merendahkan. “Kalau begitu malam nggak apa-apa. Kita bisa cari waktu yang sama.”
Erga tersenyum, tapi sorot matanya mengeras. Ia tak melewatkan cara Keyla menanggapi Mandala terlalu mudah menerima, terlalu tertarik untuk ukuran orang asing.
“Aman,” ucap Erga akhirnya. “Nanti kita atur.”
Saat mereka berjalan berpisah, Erga menoleh sekali lagi ke arah Mandala. Tatapannya tajam, penuh perhitungan. Bukan tatapan seorang mahasiswa pada teman sekelompok, melainkan tatapan seorang pria yang merasa wilayahnya perlahan dimasuki orang lain.
Mandala merasakan tatapan itu, namun memilih tak peduli. Baginya, ini hanya tugas kelompok. Tidak lebih.
Mandala melangkah menjauh menuju parkiran motor, pikirannya kembali pada jadwal hari itu. Setelah kuliah, ia harus segera ke bengkel. Mesin-mesin menunggunya, sama seperti kehidupan nyata yang tak memberinya banyak ruang untuk melamun. Pertemuan singkat dengan Keyla tadi ia anggap tak lebih dari kebetulan kecil sesuatu yang akan berlalu begitu tugas selesai. Namun takdir rupanya belum selesai bermain.
...
Di kafe kampus sore itu, Keyla duduk di dekat jendela, menatap layar ponselnya sambil menunggu. Erga berada di depannya, sesekali mengetuk meja dengan jari, jelas tak sabar. Beberapa menit kemudian, Mandala datang dengan kemeja yang sama, aroma oli masih samar melekat di tubuhnya.
“Maaf, telat sedikit,” ucap Mandala singkat.
Keyla tersenyum. “Nggak apa-apa.”
Mereka mulai membahas tugas. Mandala lebih banyak mendengar, sesekali menyela dengan pendapat yang ringkas namun tepat sasaran. Keyla tampak terkejut bukan karena Mandala banyak bicara, melainkan karena cara berpikirnya yang terstruktur dan berbeda dari bayangannya tentang seorang montir.
Erga memperhatikannya dalam diam. Setiap kali Mandala berbicara, Erga merasa posisinya sedikit bergeser. Ia terbiasa menjadi pusat perhatian, terbiasa menjadi yang paling menonjol. Namun kini, tanpa usaha berlebihan, Mandala justru mencuri fokus Keyla.
“Kamu sering baca buku bisnis?” tanya Keyla spontan.
Mandala mengangguk. “Kalau ada waktu.”
“Waktu di sela kerja?” Keyla tampak semakin penasaran.
“Iya.”
Jawaban singkat itu justru terasa jujur.
Erga menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Yang penting tugas ini kelar tepat waktu. Kita bagi aja per bagian.”
Mandala setuju tanpa banyak komentar. Baginya, bekerja dalam tim berarti menyelesaikan tanggung jawab, bukan unjuk diri.
Saat diskusi usai, senja mulai turun. Cahaya jingga memantul di jendela kafe, menyelimuti mereka dalam keheningan singkat. Keyla membereskan catatannya, lalu menatap Mandala sejenak.
“Kita lanjut lagi nanti ya,” katanya.
Mandala mengangguk. “Iya.”
Tatapan itu terlalu lama untuk ukuran rekan kelompok. Terlalu dalam untuk sekadar sopan.
Erga melihatnya. Dan untuk pertama kalinya, ada rasa tak nyaman yang benar-benar ia akui. Mandala mungkin hanya montir dengan ransel lusuh, pikirnya, tapi ada sesuatu dalam diri pemuda itu sesuatu yang tak bisa ia kendalikan.
Sementara Mandala melangkah keluar kafe, ia tak menyadari bahwa hidupnya perlahan bergeser.
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu🥰🤗💪
rasain tuh Keyla bela Mandala 😡😡
Erga stresss tuhh dia yg selingkuh dia yg gk Terima Keyla dg Mandala 😡😡
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetp semangat sayyy quuu🥰🤗💪
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuuu🥰🤗 tetap semangat Sayyy 💪💪
padahal dia yg salah selingkuh dg sahabat Keyla 😡😡
Bayu bukan ayah mu Mandala 😌😌
duhh Erga yg pura-pura siapa coba? qm yg pura-pura bukan Mandala pakai suruh Mandala jaga jarak dg Keyla, lalu perselingkuhan mu dg sahabat nya Keyla??
greget sama Erga 😌😌😄😄
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 🥰🤗💪🐱
kau harus cari tau kebenarannya Mandala 😌😌
waduhhhh Erga cemburu gk tuh Keyla jalan dg Mandala 😆😆
Erga gk tau malu dia yg selingkuh dg Sahabat nya Keyla, dia pula cemburu Keyla dg Mandala 😌😌
penasaran...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuuu
tetap semangat Sayyy quu 🥰🤗💪
duhhh jangan² Mandala jatuh cinta dg Keyla tapi blm sadar 😄😄
qm bukan anak nya Bayu Pratama gk pantas qm panggil Ayah 😁😁
seandainya Mandala tau yg sebenarnya pst kecewa sama Alira. tapi jgn dulu tau yaa, nnt cepat tamat pula 😄😄
duhh ternyata Pak Arifal itu tetangga rumah nya sama Bayu Pratama.. ?? kebetulan sekali.
Mandala pun bertemu dg Pak Arifal di bengkel....
duhh akhirnya Mandala tinggal dg Pak Hermawan...
gmn yaa selanjutnya..
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu🥰🤗 tetap semangat Sayyy quuu🤗🥰💪
gmn yaa reaksi Bayu nnnt jika tau siapa Mandala 🤔🤔
duhhh jgn² Bengkel yg Pak Arifal maksud sama dg bengkel nya Keyla dongg...
gmn yaa reaksi Pak Arifal jika tau siapa Mandala 🤔🤔
di tunggu updatenya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 🥰🤗💪
akhirnya Mandala di Terima kerja jadi sopir nya Keyla...
duhhh Keyla ada² saja Mandala tinggal sama Pak Hermawan dekat rumah nya.
gmn klo Bayu dan Sekar tau siapa Mandala?
penasaran....
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuuu
tetap semangat Sayyy quuu🐱🤗🥰💪
duhh dalam perjalanan, Keyla curhat ke Mandala dong 🤗
waduhhh Mandala mau jadi sopir nya Keyla?? duhh gmn nnt jika Mandala ketemu Bayu Pratama🤔🤔
Keyla chat Mandala dan blg Ayahnya mau ketemu dg Mandala dong...
penasaran gmn nnt nya Mandala ketemu dg Bayu 🤔🤔
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu🤗 tetap semangat sayyy quuu🐱🥰💪