Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.
Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 RTJ
Cahaya putih yang menyilaukan itu bukan sekadar ledakan energi; itu adalah dinding murni yang memisahkan kehidupan dan kematian. Di pusat pusaran merah darah, Lin Xi merasakan tubuhnya seakan ditarik oleh ribuan benang tak kasat mata. Qi dalam tubuhnya mengalir deras, dipaksa keluar untuk menambal retakan Formasi Penghancur Diri yang ditanam oleh utusan Utara.
"Xi'er! Hentikan! Kau akan mengeringkan inti jiwamu sendiri!" teriak Kakek Bai dalam ruang kesadarannya. Suara sang guru yang biasanya tenang kini dipenuhi kepanikan yang nyata.
"Aku tidak punya pilihan, Kek!" balas Lin Xi dalam batin, giginya gemeretak menahan rasa sakit yang luar biasa. "Jika segel ini meledak, radius satu mil dari kediaman ini akan rata dengan tanah. Pasar, penduduk sipil... mereka tidak bersalah!"
"Tapi kau akan mati!"
"Bukankah itu alasan aku kembali? Untuk mengakhiri semua ini?"
Di luar pusaran cahaya, Long Chen berusaha menerjang maju, namun dorongan energi dari formasi itu melemparkannya kembali. Garda Bayangan harus menahan sang Pangeran agar tidak ikut tertelan.
"Lepaskan aku! Lin Xi! Kembali!" raung Long Chen. Suaranya serak, matanya memerah menatap siluet putih gadis itu yang mulai memudar di tengah badai energi.
"Yang Mulia, jangan! Anda adalah harapan Kekaisaran, jangan sia-siakan nyawa Anda!" teriak Satu, yang sedang melindungi Pengasuh Han.
Pengasuh Han bersimpuh di lantai yang bergetar, tangannya tertangkup dalam doa. "Dewa... jangan ambil dia lagi. Ambil nyawaku saja, jangan Xi'er..."
Di pusat ledakan, Lin Xi merasakan Segel Militer Wilayah Barat di tangan kanannya mulai berpijar panas. Logam perunggu itu menyerap Qi es dari Pedang Es Jiwa, menciptakan reaksi alkimia yang tidak terduga.
“Segel Militer bukan hanya simbol kekuasaan... ia adalah artefak penyeimbang tanah Barat,” tiba-tiba sebuah suara kuno bergaung di kepalanya, berbeda dengan suara Kakek Bai.
"Siapa itu?" bisik Lin Xi. Pandangannya mulai mengabur, darah mengalir dari telinga dan hidungnya.
“Gunakan darahmu... darah murni keturunan Lin yang belum ternoda pengkhianatan,” suara itu kembali membisik.
Lin Xi tidak ragu. Ia memutar Pedang Es Jiwa dan mengiris telapak tangannya sendiri. Darah segar menyiram permukaan Segel Militer. Seketika, cahaya merah darah dari formasi di bawah tanah berubah menjadi biru es yang tenang.
"Dinginkan... membekulah!" teriak Lin Xi.
Ia menghujamkan Pedang Es Jiwa tepat ke tengah retakan tanah. Gelombang es yang sangat dingin merambat secepat kilat, membekukan cahaya merah yang membara, mengubah aula yang terbakar menjadi gua es dalam hitungan detik. Ledakan yang seharusnya menghancurkan kota itu tersumbat oleh segel es raksasa.
Keheningan mendadak jatuh. Angin kencang berhenti bertiup. Asap pun seolah membeku di udara.
Lin Xi berdiri di tengah gua es itu, tubuhnya kaku, tangannya masih menggenggam pedang yang tertancap di tanah. Segel Militer jatuh dari tangannya, berdentang di atas lantai es. Kemudian, tubuhnya yang rapuh tumbang.
"LIN XI!" Long Chen adalah orang pertama yang berhasil mencapai pusat aula setelah dinding energi itu runtuh. Ia menangkap tubuh Lin Xi sebelum menghantam es.
Wajah gadis itu sepucat salju. Bibirnya membiru, dan napasnya hampir tidak terasa.
"Xi'er... Xi'er, bangun!" Long Chen mendekapnya erat, mencoba menyalurkan Qi hangatnya, namun tubuh Lin Xi terlalu dingin. "Jangan lakukan ini padaku. Jangan pergi setelah kau membuatku jatuh cinta padamu, dasar gadis keras kepala!"
"Hembusan... terakhir..." gumam Lin Xi sangat pelan, matanya sedikit terbuka.
"Jangan bicara! Kau akan selamat. Satu! Panggil tabib istana! Bawa semua obat terbaik!" teriak Long Chen panik.
Lin Xi tersenyum tipis, matanya menatap langit-langit aula yang kini tertutup kristal es. "Kek... kau masih di sana?"
Di dalam kepalanya, Kakek Bai menghela napas panjang, suaranya terdengar sangat jauh. "Kau berhasil, Nak. Kau menaklukkan Formasi Darah itu dengan Qi esmu. Tapi... kau telah membakar hampir seluruh basis kultivasimu. Kau mungkin tidak akan bisa menggunakan ilmu bela diri lagi."
"Setidaknya... aku bisa tidur tanpa mimpi buruk," bisik Lin Xi.
Tiga hari kemudian.
Suasana di Kediaman Utama keluarga Lin sangat berbeda. Kediaman yang dulunya angkuh dan penuh intrik itu kini dijaga ketat oleh tentara Kekaisaran. Lin Tian dan Lin Mei telah dibawa ke penjara bawah tanah terdalam, menunggu eksekusi mati atas tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi.
Di sebuah paviliun kecil yang terpencil—tempat Lin Xi dulu tinggal bersama ibunya—suasana terasa tenang. Bau obat-obatan tradisional menguar di udara.
Lin Xi perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah lelah seorang pria yang tertidur sambil duduk di samping tempat tidurnya, tangannya masih menggenggam tangan Lin Xi.
"Yang Mulia..." suara Lin Xi parau.
Long Chen tersentak bangun. Matanya yang sembab seketika berbinar. "Kau bangun? Syukurlah! Pelayan! Bawakan air hangat!"
"Berapa lama aku..."
"Tiga hari. Kau hampir menjadi patung es seumur hidup," ucap Long Chen, suaranya bergetar karena emosi. Ia membantu Lin Xi duduk. "Tabib bilang kau sangat beruntung. Jika Qi-mu terlambat sedetik saja ditarik kembali, jantungmu akan membeku."
Lin Xi melihat tangannya yang dibalut kain kasa. "Basis kultivasiku... hilang, bukan?"
Long Chen terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Qi-mu hancur. Tapi kau hidup. Itu yang terpenting bagi kami... bagiku."
Lin Xi menghela napas, ada rasa kehilangan, namun juga rasa lega yang aneh. "Sepuluh tahun aku hidup hanya untuk kekuatan dan dendam. Mungkin ini cara langit mengatakanku untuk beristirahat."
Pintu paviliun terbuka, dan Pengasuh Han masuk dengan nampan berisi bubur. Melihat Lin Xi sadar, ia hampir menjatuhkan nampan itu.
"Nona Kedua! Oh, Nona!" Pengasuh Han memeluk Lin Xi sambil menangis sesenggukan. "Saya pikir saya telah gagal menjaga Anda lagi. Saya pikir saya akan melihat Anda pergi seperti Nyonya dulu."
"Aku di sini, Pengasuh. Aku tidak akan pergi ke mana-mana," ucap Lin Xi lembut, mengusap punggung wanita tua itu.
"Yang Mulia," Satu muncul di ambang pintu, memberi hormat. "Kaisar telah mengeluarkan titah. Nama Jenderal Lin Xi akan dipulihkan secara resmi, dan seluruh aset keluarga Lin yang disita akan diserahkan kembali kepada Nona Kedua sebagai ahli waris tunggal yang sah."
Long Chen menoleh ke arah Lin Xi. "Kau dengar itu? Kau bukan lagi 'buronan' atau 'putri yang terbuang'. Kau adalah pahlawan ibu kota."
Lin Xi menatap Segel Militer Wilayah Barat yang diletakkan di atas meja di samping tempat tidurnya. Benda itu kini tampak biasa, tidak lagi memancarkan aura haus darah.
"Aku tidak menginginkan aset itu," kata Lin Xi tiba-tiba. "Berikan sebagian besar untuk panti asuhan dan pembangunan kembali wilayah Barat yang hancur karena perang. Aku hanya ingin paviliun ini, dan kedamaian."
"Dan aku?" tanya Long Chen tiba-tiba, membuat suasana menjadi canggung namun manis. "Apakah tidak ada tempat untuk Pangeran ini dalam rencana kedamaianmu?"
Lin Xi menatap mata Long Chen. Pria ini telah mengikutinya ke dalam bahaya, mempercayainya saat semua orang meragu, dan menjaganya saat ia di ambang maut.
"Pangeran Chen," Lin Xi memanggil namanya secara resmi, "Hamba sekarang hanyalah seorang gadis biasa tanpa kekuatan Qi. Hamba tidak bisa lagi menjadi pengawal Anda atau memimpin pasukan untuk Anda."
Long Chen tersenyum, ia meraih tangan Lin Xi dan mengecupnya. "Aku punya ribuan prajurit untuk melindungiku, Lin Xi. Tapi aku hanya punya satu wanita yang berani menampar wajahku dan menyelamatkan jiwaku. Aku tidak mencari jenderal. Aku mencari teman hidup."
Wajah Lin Xi memerah—sebuah pemandangan yang sangat langka. Pengasuh Han dan Satu saling melirik, lalu perlahan-lahan mundur keluar kamar, memberikan privasi bagi keduanya.
"Kau sangat pandai bicara, Yang Mulia," gumam Lin Xi.
"Itu salah satu bakatku selain 'menjadi cacat' dan 'membuat masalah'," canda Long Chen.
Di dalam benak Lin Xi, suara Kakek Bai terdengar tertawa kecil. "Yah, Xi'er, sepertinya petualangan kita sebagai tabib keliling harus berakhir di sini. Pria ini sepertinya tidak akan membiarkanmu pergi ke mana pun."
"Kek, kau akan tetap di sini, kan?" tanya Lin Xi dalam hati.
"Tentu saja. Siapa lagi yang akan memarahi suamimu jika dia nakal?"
Lin Xi tertawa kecil, suara tawa yang jernih dan tulus. Ia menatap ke luar jendela, di mana pohon prem mulai berbunga. Musim dingin yang panjang dalam hidupnya akhirnya benar-benar berakhir. Dendamnya telah tuntas, keluarganya yang busuk telah runtuh, dan di sampingnya, ada seseorang yang siap berjalan bersamanya menuju musim semi yang baru.
"Jadi," Long Chen memecah keheningan, "setelah kau sembuh, apakah kau mau mengajariku cara membuat teh bunga prem yang kau buat di hutan dulu? Rasanya jauh lebih enak daripada teh istana."
Lin Xi tersenyum, "Dengan satu syarat."
"Apa?"
"Jangan pernah memintaku untuk melompat ke formasi ledakan lagi."
Long Chen tertawa, suaranya memenuhi paviliun itu dengan kehangatan yang sesungguhnya. "Aku berjanji. Mulai sekarang, jika ada ledakan, aku yang akan berdiri di depanmu."
Lin Xi menyandarkan kepalanya di bahu Long Chen. Untuk pertama kalinya, ia merasa Segel Militer itu tidak lagi berat. Karena beban yang sesungguhnya—kebencian—telah ia lepaskan bersama es yang mencair.