Nayla Thalita Firliany 21 tahun, gadis cantik yang biasa di panggil Nayla ini merantau dari Riau ke ibu kota Jakarta untuk menuntut ilmu di salah satu kampus ternama.
Dan Naas Nayla harus kehilangan ke Virginan nya dalam sebuah insiden pemerkosaan saat ia tengah mabuk.
Karena pelaku bukan pria yang Nayla kenal, serta dirinya juga tidak hamil maka Nayla memilih melupakan kejadian itu dan menganggapnya sebagai mimpi buruk semata.
Namun beda halnya dengan Giovani Farmost 29 tahun, seorang Presdir sebuah perusahaan kontruksi yang merasa jika Nayla adalah takdirnya.
Gion panggilan dari Giovani menghalalkan segala cara untuk bisa membuat Nayla selalu di sisihnya
Namun kesalah pahaman yang terjadi di awal pertemuan mereka membuat keduanya tidak pernah akur. Terlebih Nayla yang tidak mencintai Gion membuat Gion selalu cemburu berlebihan.
Lalu apa yang akan terjadi pada kisah mereka berdua?
Simak kisah mereka selanjutnya dalam
I'M JUST FOR YOU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jujuk Aza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Pukul 07.30 Nayla baru bangun dari tidurnya. Memang tidak seperti biasanya karena tadi habis subuh ia memilih tidur lagi.
Matanya terasa berat, itu alasan kenapa ia malas beraktivitas. Mungkin efek nangis semalam.
Setelah mandi dan makan mie sambil nonton TV yang ada kamarnya. Untung ia punya TV sendiri, jadi lumayan membantu saat ingin bersembunyi dari penghuni kos yang lain seperti sekarang.
Selesai sarapan Nayla merapihkan tempat tidur, seraya mencari HP diantara tumpukan bantal dan selimut.
Begitu ketemu, langsung menyalakan benda hitam itu dan melihat isinya. Nayla memiliki dua buah pesan suara dan dua buah pesan tertulis di kotak masuknya.
Pesan 1: “Nay, elo ngobrolin apa sih kok kgk turun jg? Gue dah terlambat nih? Kalau sepuluh menit lg elo kgk keluar juga, gue tinggal kerja ya? karena sekarang gue dah terlambat. Pesan dari Faya sahabatnya.
Pesan 2: “Nay kenapa nomor mu tidak aktif Ndok? Kamu ada di mana sekarang?” Pesan dari bibi Anni.
Pesan suara 1: “Gadis, aku sudah berbaik hati pada mu dan membiarkan mu pergi dari hadapan ku, tapi kenapa kamu malah menyakitiku begini? Aku akan memaafkan perbuatan mu, asal kamu kembalikan barang-barang yang ada dalam kantong jaket ku. Karena itu sangat berharga bagi ku?"
Pesan suara 2: “Aku Tunggu Paling Lama Tiga Hari."
Nayla melihat waktu rekaman suara itu di kirimkan, yang ternyata dikirim pukul tujuh pagi tadi. Berarti baru saja pikirnya.
Mendengar pesan dari cowok itu, lekas Nayla melihat isi kantong jaket yang sekarang tergeletak begitu saja di sofa.
Betapa terkejutnya Nayla ketika melihat sebuah jam tangan mewah dan dua buah cincin berlian di saku jaket coklat itu.
Nayla langsung lemas seketika. Bagaiman ini? Ia tidak ingin bertemu dengan pria itu lagi, tapi jika ia diam saja pasti pria itu akan sangat marah? Sekarang apa yang harus dilakukan?
Meminta Farel menemaninya mengembalikan barang-barang itu, tentu akan membuat pacarnya bertanya banyak hal dan ia belum siap menjelaskan semuanya pada Farel. Begitu juga dengan Faya.
Mengembalikan barang itu lewat jasa pengiriman barang juga sangat beresiko. Mengingat itu barang mahal. Kalau sampai hilang bisa mampus dirinya. Belum lagi ia tidak bakal sanggup untuk menggantinya.
"Ya Allah apa yang harus aku lakukan sekarang" ujarnya, "aku harus bagaimana menghadapi ini semua?" Nayla Frustasi.
Teringat kata-kata pria itu semalam, agar mereka tidak berjumpa lagi, karena jika bertemu tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya.
Kenapa bisa begini dih? pikirnya. Sekarang yang ada cuma penyesalan karena ia sudah mengambil jaket itu untuk menutup tubuhnya.
Nayla masih berkecamuk dengan pikirannya sampai seseorang mengetuk pintu kamarnya. Lekas ia memasukkan barang-barang itu ke dalam kantong jaket lagi, lalu memasukan jaket itu ke dalam lemari pakaiannya sebelum ia membuka pintu dan melihat siapa yang datang.
*
*
*
*
Faya
Suara alarm yang sangat berisik membangunkan seorang wanita yang masih tidur di bawah hangatnya selimut. Rasanya belum puas ia menjelajahi dunia mimpi karena matanya baru saja terpejam ketika pukul setengah empat subuh tadi, dan sekarang ia harus bangun karena pagi ini ada janji dengan dengan Nayla.
Meski sangat berat cewek itu membuka matanya dan mematikan alarm dari HP yang sengaja ia letakkan di sebelah bantal.
Beranjak untuk bangun, dilanjutkan merentangkan kedua tangannya untuk melemaskan otot-otot tubuh yang sangat capek agar sedikit lebih rileks dari sebelumnya.
Kemudian Faya melangkah keluar kamar yang suasana sudah tampak sepi. Mungkin seluruh penghuni kost sudah memulai aktifitas mereka masing-masing sehingga membuat kos mereka senyap layaknya kuburan.
Faya melongok kamar yang tepat di sebelah kamarnya, yang pagi itu masih tertutup sempurna, tidak seperti hari biasanya.
“Tok tok tok!” ia mengetuk pintu itu beberapa kali. Namun belum ada jawaban dari pemiliknya.
“Nay!” panggilnya lagi,
"Tok tok tok, Nay!" Panggil Faya lagi.
Tak seberapa lama, pintu terbuka dari dalam.
“Ya Ampun Nayla!”
Faya berteriak, kaget dan tidak percaya ketika mendapati Nayla dengan mata merah besar dan rambut terurai begitu saja, mirip kuntilanak pulang tugas.
“Elo kenapa?” tanya Faya lagi, “Elo habis nangis ya? Kenapa Mata elo bisa gede kayak bola kasti gini? Emang elo ada masalah? Kalau ada masalah cerita dong, jangan dipendam sendiri, jangan nangis sampai kayak gitu?" Omel Faya yang prihatin melihat keadaan Nayla.
Lekas Faya masuk ke dalam kamar sahabatnya sambil menarik tangan pemilih ruangan dan mendudukkan cewek itu pada sofa ruang tamu. Sedang ia sendiri mengambil kapas dari meja rias sahabatnya lalu membasahi dengan air es yang ada di kulkas.
Faya meminta pada sang empunya mata untuk tiduran di sofa. Kemudian ia mulai menempelkan kapas basah itu dimata Nayla untuk mengompresnya agar bengkaknya cepat kempes. Faya melakukan hal itu berulang kali.
"Jadi kagak kita ke kampus hari ini?" Tanya Faya.
"Elo tega banget sih. Ngajak ke kampus saat mata gue kayak gini," Jawab Nayla.
"Ya udah deh, kalau gitu elo di kos saja, biar gue yang ke kampus sendiri. Elo sih, pakai acara nangis sampai kayak gini," Omel Faya lagi, "Kan sekarang gue mesti ngampus sendirian."
Nayla meringis, "sorry," ujarnya.
Mereka berdua memang janjian ngampus bareng, buat ketemu sama dosen pamong. Juga buat kenalan dengan teman-teman satu perusahaan tempat mereka magang. Kalau sudah kenal sebelumnya kan enak, besok pas di tempat kerja kagak usah kenalan lagi.
Tapi kayaknya gagal. Karena kondisi Nayla yang tidak mungkin buat dia keluar kamar.
*
*
*
*
Sepeninggalan Faya, Nayla menimang-nimang Handphone miliknya, ia ingin menelpon bibi ataupun pamannya, namun ragu, karena kalau pagi biasanya mereka berdua sedang sibuk.
Bibinya tentu saja ada di kelas sedang mengajar. Sedang sang paman, sudah pasti ada di kantor yang Nayla juga tidak tahu apakah adik bapaknya itu sedang sibuk atau tidak .
Setelah cukup lama berargumen dengan pikiran antara telpon atau tidak, Nayla melihat jam bergambar mahluk ajaib itu. Apa lagi kalau bukan Doraemon yang tergantung di dinding kamarnya. Sekarang menunjukkan pukul 10.00 pagi.
Berarti sang bibi sedang istirahat ujarnya dalam hati yang membuat Nayla dapat memutuskan siap yang harus ia telpon.
Lekas ia memencet nomor sang bibi untuk melayangkan panggilan.
“Hallo, Assalamualikum bi!” Sapa Nayla begitu telepon sudah tersambung.
“Walaikumsalam Nayla.”
“Oh ya bi, Kenapa bibi nelepon Nayla sebanyak itu? Ada apa?” tanya Nayla penasaran, karena di HP-nya ada laporan panggilan tak terjawab dari paman dan bibinya sebanyak 19 kali.
“Begini Nay, bibi mau tanya. Apa kamu punya hubungan dengan bosnya paman mu?”
“Hubungan? Bosnya paman?” Nayla bingung,
“Siapa ya bi? Perasaan Nayla tidak kenal dengan teman-temannya paman deh, apalagi bosnya paman. Tidak ada ah.”
“Beneran kamu tidak ada hubungan dengan mereka?” tanya sang bibi meyakinkan.
“Beneran deh bi. Memang kenapa bi?”
“Gak, soalnya semalam pak Gion datang ke rumah nyariin kamu. Katanya dia punya urusan yang belum terselesaikan sama kamu, tapi pas ditanya sama mas (Panggilan bibi Anni ke suaminya) pak Gion tidak mau ngasih tahu urusan apa itu. makanya bibi dan paman coba tanya sama kamu.”
Nayla terdiam, jadi pak Gion itu bosnya paman di kantor. Dan dia datang ke rumah untuk mencari Nayla di sana.
“Nay? Kamu dengar yang bibi omongin kan?”
“Ih, iya bi," Nayla gagap.
“Kamu tidak apa-apa kan, Nak?” terdengar nada khawatir dari sang bibi.
“Iya bi, Nayla tidak apa-apa. Jadi pak Gion itu bosnya paman ya bi?” Nayla balik tanya.
“Iya, dia CEO di perusahaan paman mu bekerja. Kamu kenal dengan dia Nay?”
“Kenal, gak kenal sih bi, cuma sempat beberapa kali ketemu doang.”
“Kamu gak bohong kan Nay? Atau jangan-jangan pak Gion itu pacar kamu yang kamu ceritakan tempo hari itu, yang bajunya kamu bawa pulang. Soalnya Rahel bilang beberapa hari lalu kamu nangis setelah pergi dengan dia?”
Nayla hanya terdiam, tapi dalam hati ia mengutuki sepupunya yang ternyata membongkar rahasianya. Emang si Rahel itu ember batin Nayla kesal.
"Tapi bukanya pacar kamu itu yang ngapel kemarin Nay? Terus kenapa kamu pergi dengan pak Gion juga? atau jangan-jangan pacar kamu itu dua ya?" tanya sang bibi.
"Gak kok bi, pacar Nayla cuma satu, Farel doang." Nayla membantah.
"Lalu pak Gion?"
Nayla terdiam.
"Dia apa kamu?"
"Teman," Jawab Nayla cepat.
"Bukannya bibi mau ikut campur masalah pribadi kamu, tapi disini bibi dan paman yang jadi wali kamu, yang bertanggung jawab terhadap keselamatan kamu. Kamu tahu itu kan Nay?” tanya sang bibi lagi setelah memberi penjelasan pada keponakanya.
"Gak masalah kamu dekat dengan siapa saja, selagi itu anaknya baik dan kamu juga bisa menjaga batasan mu dalam pergaulan, karena kamu sendiri tahu kan Nay, bagaiman pergaulan anak sekarang? Bibi gak mau kamu terkena masalah karena salah gaul. Bagaimana pun juga bibi sayang sama kamu. Bibi anggab kamu sebagai anak bibi sendiri.”
“Nayla tahu bi.”
“Lalu, kenapa kamu gak pernah cerita sama bibi kalau memang ada masalah. Sampai kamu nangis segala? Kamu juga tidak bilang ke bibi dan paman kalau ternyata kamu sudah kenal dengan pak Gion."
Nayla terdiam. Bibi bukannya Nayla tidak mau menceritakan masalah yang Nayla hadapi ke orang lain, tapi karena aku sendiri juga tidak tahu harus mulai cerita darimana dan semua itu juga karena salah ku sendiri. Jadi aku yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada ku. Maaf bi, aku sudah mengecewakan mu, batin Nayla.
“Semalam paman mu bilang sama pak Gion kalau kamu sudah pulang ke kost, apa dia datang ke kost mu?”
“Iya Bi, dia datang ke sini dan kita udah ketemu kok. Udah kita obrolin masalah yang ada diantara kita. Itu cuma salah paham saja.” Nayla berbohong ke bibinya, mencoba meyelamatkan diri karena ia tidak mau bibinya semakin cemas, alasan yang sebenarnya karena Nayla tidak mau diomelin lagi.
"Ya sudah kalau gitu. Kamu sudah sarapan apa belum?”
“Sudah bi. Ini Nayla lagi nunggu teman buat pergi ke kampus.”
“Oh, kalau begitu ya sudah. Teleponnya bibi tutup dulu. Kita ngobrol lagi besok kalau kamu pulang ke rumah.”
“Iya bi, assalamualaikum.”
“Walaikumsalam," jawab sang bibi sambil mengakhiri obrolan mereka.
Nayla lemas. Ternyata pak Gion mencarinya ia di rumah. Apa sih mau pria itu? Kenapa dia membuat kehebohan dengan mencari Nayla segala? Dan sialnya lagi, ternyata pak Gion itu kenal dengan sang pamannya.
Nayla takut jika Gion menceritakan semua yang terjadi antara mereka berdua kepada pamannya supaya cowok itu bisa menguasai Nayla.
Jika sampai pak Gion menceritakan kepada paman kalau mereka sudah pernah tidur bersama pasti Nayla bakal langsung dipaksa nikah saat ini juga, dan menikah dengan Pria seperti Gion, Nayla tidak pernah bermimpi akan melakukannya.
Cowok brengsek, kasar, gila, mesum, keras kepala dan sederet sifat buruk Gion yang tidak akan cukup untuk Nayla tuliskan dalam sebuah buku itu, tidak pernah masuk daftar suami idaman dalam hidupnya. Bahkan dalam mimpi pun Gion langsung tereliminasi. Bagaimana bisa ia menikahinya.
Ya, Allah…. aku berusaha menjadi hamba mu yang baik agar aku bisa memperoleh pasangan yang baik juga. Jika aku harus menikahi dengan pria brengsek itu, berarti firman mu tentang wanita yang baik akan bertemu pria yang baik semua hanya kebohongan semata.
Meski begitu Nayla bersyukur karena kemarin ia menolak ketika sang paman menawarkan dirinya untuk magang di perusahaan Adam bekerja. Coba Kalau Nayla mau, apa tidak sama saja masuk kandang macan. Harus ketemu Gion tiap hari, sama saja bunuh diri namanya.
Flashback On
Saat mereka sedang makan malam di rumah pamannya, Malam Itu Adam bertanya.
"Katanya semester ini kamu mau magang ya Nay?"
"Iya paman."
"Gimana? Sudah Dapat tempat magang belum? Kalau belum, magang saja di kantor paman. Nanti biar paman yang mintakan surat rekomendasi nya?"
"Sudah kok paman. Nayla sudah menemukan tempat magang, kemarin malah sudah mengirimkan formulirnya ke sana, tinggal menunggu balasannya saja."
"Oh..., ya sudah kalau begitu. Kalau belum nemu tempat, bisa hubungin paman Nay."
"Iya paman."
Kemudian mereka lanjut makan dengan diam dan tenang.
Flashback off
Adam memang menjadi manejemen keuangan salah satu perusahaan makanan terbesar di kota ini. Jadi wajar jika dia bisa merekomendasikan Nayla untuk magang di sana.
Namun sayangnya Nayla sendiri lebih tertarik magang di Smart Grup ketimbang SM food tempat pamannya bekerja.
*
*
*
*
Jangan lupa
Like
Komen
dan bagi hadiah