Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.
Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.
Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 SALAH TAPI TAK MAU SALAH
" Aku bekerja untuk keluarga ini!” balasnya cepat, defensif. “Aku melakukan semua ini demi masa depan!”
“Lalu Queen?” potong Ammar. “Apa dia termasuk dalam ‘masa depan’ yang kamu maksud?”
" Aku dan queen tidak membutuhkan uang receh mulai itu, Sabrina. "
Sabrina menggertakkan giginya. Matanya memerah.
“Jadi sekarang aku ibu yang buruk?” sindirnya pahit. “Dan dia pembantu itu jadi pahlawan?”
Ammar memalingkan wajah. “Aku tidak pernah mengatakan itu.”
“Tapi sikapmu mengatakan semuanya!” Sabrina meninggi. “Kamu membelanya, kamu melarangku menegurnya, bahkan Queen pun ikut melawan aku demi dia!”
Ammar menatap Sabrina kembali, kali ini lebih dingin. “Queen tidak melawanmu. Dia hanya menyayangi orang yang selalu ada untuknya.”
Sabrina tertawa kecil, suaranya bergetar. “Atau jangan-jangan… wanita itu memang berniat mengambil posisiku?”
Ammar menegang. “Apa maksudmu?”
Sabrina melangkah maju, menunjuk ke arah lantai atas ke kamar Sari.
“Jangan bilang kamu tidak melihatnya,” ucap Sabrina sinis. “Cara dia dekat dengan Queen. Cara dia bersikap di rumah ini. Perempuan seperti itu...”
“Cukup!” suara Ammar memotong tajam.
Sabrina tersentak.
“Jangan berani-berani bicara seperti itu,” lanjut Ammar dengan nada berbahaya. “Kamu tidak tahu apa pun.”
“Oh, aku tahu,” balas Sabrina cepat, emosinya meluap.
“Dia perempuan desa yang tidak tahu diri! Pasti sejak awal dia sudah punya niat tidak baik. Mengambil perhatian anakku… dan...”
“Dan suamimu?” Ammar menyelesaikan kalimat itu dengan dingin.
Sabrina terdiam sesaat, lalu mengangguk tajam. “Iya! Jangan pura-pura bodoh, Ammar! Jangan bilang aku satu-satunya yang melihat kejanggalan ini!”
Ammar mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras.
“Kamu menuduhnya wanita tidak benar?” tanyanya pelan namun mengancam.
“Aku hanya mengatakan yang aku lihat!” Sabrina membalas. “Perempuan seperti itu tidak pantas tinggal di rumah ini!”
Ammar melangkah lebih dekat, membuat Sabrina refleks mundur setengah langkah.
“Dengar baik-baik,” kata Ammar rendah. “Sari tidak seperti yang kamu tuduhkan. Dia datang ke rumah ini untuk bekerja. Untuk mengurus Queen. Titik.”
Sabrina tertawa sinis. “Kamu terlalu mudah percaya.”
Atau terlalu ingin percaya, tambahnya dalam hati.
“ kamu terlalu cepat menghakimi,” balas Ammar.
Keheningan jatuh di antara mereka.
" Dan jika kamu tidak mampu menajadi seorang ibu yang baik, lebih baik kamu diam! "
Dari lantai atas, terdengar suara langkah kecil.
Queen.
Ammar dan Sabrina langsung menoleh. Wajah Queen muncul di ujung tangga, matanya masih sembab, boneka kesayangannya dipeluk erat.
“Papah… Mamah…” suaranya ragu.
Dalam sekejap, ketegangan di wajah Ammar dan Sabrina mengendur setidaknya di permukaan.
“Ada apa, sayang?” tanya Sabrina cepat, memaksakan senyum.
Queen turun perlahan. “Kak Sari sudah tidur?” tanyanya polos.
Ammar mengangguk. “Iya. Kak Sari sedang istirahat.”
Queen terlihat lega. “Syukurlah.”
Sabrina melirik Ammar, lalu kembali menatap putrinya. “Queen jangan terlalu dekat dengan pembantu, ya.”
Ammar langsung menoleh. “Sabrina.”
Namun Queen lebih dulu bersuara.
“Kak Sari baik, Mah,” ucap Queen jujur. “Queen sayang Kak Sari.”
Kalimat sederhana itu menusuk lebih dalam daripada pertengkaran apa pun.
Sabrina tersenyum kaku. “Iya… tapi Queen juga harus lebih dekat sama mamah.”
Queen menunduk, tak menjawab.
Ammar meraih tangan putrinya. “Ayo, papah antar kamu ke kamar.”
Queen mengangguk.
Saat Ammar berlalu bersama Queen, Sabrina berdiri sendiri di tengah ruangan. Tatapannya tertuju ke arah tangga, lalu ke arah kamar Sari.
Wajahnya mengeras. Di dalam dadanya, kecemburuan berubah menjadi kebencian. Dan Sabrina bersumpah dalam hati.. Ia tidak akan membiarkan seorang pelayan merebut apa pun yang menjadi miliknya.
...----------------...
Ammar duduk di tepi ranjang putrinya, menyelimuti tubuh kecil itu dengan lembut. Queen berbaring miring, memeluk boneka kesayangannya, namun matanya belum terpejam. Tatapannya menatap kosong ke arah langit-langit, jelas sedang memikirkan sesuatu.
Ammar mengusap rambut Queen pelan.
“Kenapa belum tidur, hm?” tanyanya lembut.
Queen menggigit bibirnya ragu-ragu, lalu menoleh menatap papahnya dengan mata polos yang jujur mata yang selalu membuat Ammar merasa bersalah.
“Pah…” panggil Queen pelan.
“Iya, sayang?”
Queen menarik napas kecil. “Apa mamah tidak menyukai Kak Sari?”
Pertanyaan itu membuat tangan Ammar terhenti sejenak.
Hatinya mencelos. Ia menatap wajah putrinya wajah kecil yang tak seharusnya dibebani konflik orang dewasa.
“Kenapa Queen bertanya begitu?” Ammar balik bertanya, tetap lembut.
Queen mengernyit kecil. “Soalnya mamah marah… terus Kak Sari sakit… dan mamah kelihatan tidak suka.”
Ammar menelan ludah. Ia memilih kata-kata dengan sangat hati-hati.
“Kak Sari itu sangat baik sama Queen,” ucap Ammar akhirnya. “Dan mamah… mamah hanya sedang capek.”
Queen tampak berpikir.
“Kak Sari baik sekali,” lanjut Ammar. “Mana mungkin mamah tidak menyukainya.”
Queen masih terlihat ragu. “Tapi…”
Ammar segera mengusap pipi Queen dengan ibu jarinya, tersenyum kecil.
“Sudah, jangan terlalu banyak berpikir, ya. Sekarang Queen bobo siang dulu.”
Queen menatap papahnya. “Papah temani?”
“Tentu,” jawab Ammar tanpa ragu. “Papah temani.”
Queen tersenyum kecil. Ia memejamkan mata, menggenggam ujung baju Ammar seperti takut ditinggalkan. Ammar tetap duduk di sana, menunggu napas kecil itu berubah teratur.
Dalam diam, Ammar menatap wajah putrinya.
Ia sadar apa pun yang terjadi antara dirinya dan Sabrina, Queen tak boleh menjadi korban.
ceraikan Sabrina,nikahi Sari...
lembek🙃
kaulah ,...bodoh!
Ammar salting nih... ya Queen,papa mu hampir saja membuatkan kamu adik dengan Sari...
untung papa mu cepat waras lagi...