NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

CINTA KEDUA DI RUMAH MEWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / CEO / Romantis / Cinta setelah menikah / Pengasuh
Popularitas:28k
Nilai: 5
Nama Author: Cumi kecil

Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.

Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.

Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 SALAH TAPI TAK MAU SALAH

" Aku bekerja untuk keluarga ini!” balasnya cepat, defensif. “Aku melakukan semua ini demi masa depan!”

“Lalu Queen?” potong Ammar. “Apa dia termasuk dalam ‘masa depan’ yang kamu maksud?”

" Aku dan queen tidak membutuhkan uang receh mulai itu, Sabrina. "

Sabrina menggertakkan giginya. Matanya memerah.

“Jadi sekarang aku ibu yang buruk?” sindirnya pahit. “Dan dia pembantu itu jadi pahlawan?”

Ammar memalingkan wajah. “Aku tidak pernah mengatakan itu.”

“Tapi sikapmu mengatakan semuanya!” Sabrina meninggi. “Kamu membelanya, kamu melarangku menegurnya, bahkan Queen pun ikut melawan aku demi dia!”

Ammar menatap Sabrina kembali, kali ini lebih dingin. “Queen tidak melawanmu. Dia hanya menyayangi orang yang selalu ada untuknya.”

Sabrina tertawa kecil, suaranya bergetar. “Atau jangan-jangan… wanita itu memang berniat mengambil posisiku?”

Ammar menegang. “Apa maksudmu?”

Sabrina melangkah maju, menunjuk ke arah lantai atas ke kamar Sari.

“Jangan bilang kamu tidak melihatnya,” ucap Sabrina sinis. “Cara dia dekat dengan Queen. Cara dia bersikap di rumah ini. Perempuan seperti itu...”

“Cukup!” suara Ammar memotong tajam.

Sabrina tersentak.

“Jangan berani-berani bicara seperti itu,” lanjut Ammar dengan nada berbahaya. “Kamu tidak tahu apa pun.”

“Oh, aku tahu,” balas Sabrina cepat, emosinya meluap.

“Dia perempuan desa yang tidak tahu diri! Pasti sejak awal dia sudah punya niat tidak baik. Mengambil perhatian anakku… dan...”

“Dan suamimu?” Ammar menyelesaikan kalimat itu dengan dingin.

Sabrina terdiam sesaat, lalu mengangguk tajam. “Iya! Jangan pura-pura bodoh, Ammar! Jangan bilang aku satu-satunya yang melihat kejanggalan ini!”

Ammar mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras.

“Kamu menuduhnya wanita tidak benar?” tanyanya pelan namun mengancam.

“Aku hanya mengatakan yang aku lihat!” Sabrina membalas. “Perempuan seperti itu tidak pantas tinggal di rumah ini!”

Ammar melangkah lebih dekat, membuat Sabrina refleks mundur setengah langkah.

“Dengar baik-baik,” kata Ammar rendah. “Sari tidak seperti yang kamu tuduhkan. Dia datang ke rumah ini untuk bekerja. Untuk mengurus Queen. Titik.”

Sabrina tertawa sinis. “Kamu terlalu mudah percaya.”

Atau terlalu ingin percaya, tambahnya dalam hati.

“ kamu terlalu cepat menghakimi,” balas Ammar.

Keheningan jatuh di antara mereka.

" Dan jika kamu tidak mampu menajadi seorang ibu yang baik, lebih baik kamu diam! "

Dari lantai atas, terdengar suara langkah kecil.

Queen.

Ammar dan Sabrina langsung menoleh. Wajah Queen muncul di ujung tangga, matanya masih sembab, boneka kesayangannya dipeluk erat.

“Papah… Mamah…” suaranya ragu.

Dalam sekejap, ketegangan di wajah Ammar dan Sabrina mengendur setidaknya di permukaan.

“Ada apa, sayang?” tanya Sabrina cepat, memaksakan senyum.

Queen turun perlahan. “Kak Sari sudah tidur?” tanyanya polos.

Ammar mengangguk. “Iya. Kak Sari sedang istirahat.”

Queen terlihat lega. “Syukurlah.”

Sabrina melirik Ammar, lalu kembali menatap putrinya. “Queen jangan terlalu dekat dengan pembantu, ya.”

Ammar langsung menoleh. “Sabrina.”

Namun Queen lebih dulu bersuara.

“Kak Sari baik, Mah,” ucap Queen jujur. “Queen sayang Kak Sari.”

Kalimat sederhana itu menusuk lebih dalam daripada pertengkaran apa pun.

Sabrina tersenyum kaku. “Iya… tapi Queen juga harus lebih dekat sama mamah.”

Queen menunduk, tak menjawab.

Ammar meraih tangan putrinya. “Ayo, papah antar kamu ke kamar.”

Queen mengangguk.

Saat Ammar berlalu bersama Queen, Sabrina berdiri sendiri di tengah ruangan. Tatapannya tertuju ke arah tangga, lalu ke arah kamar Sari.

Wajahnya mengeras. Di dalam dadanya, kecemburuan berubah menjadi kebencian. Dan Sabrina bersumpah dalam hati.. Ia tidak akan membiarkan seorang pelayan merebut apa pun yang menjadi miliknya.

...----------------...

Ammar duduk di tepi ranjang putrinya, menyelimuti tubuh kecil itu dengan lembut. Queen berbaring miring, memeluk boneka kesayangannya, namun matanya belum terpejam. Tatapannya menatap kosong ke arah langit-langit, jelas sedang memikirkan sesuatu.

Ammar mengusap rambut Queen pelan.

“Kenapa belum tidur, hm?” tanyanya lembut.

Queen menggigit bibirnya ragu-ragu, lalu menoleh menatap papahnya dengan mata polos yang jujur mata yang selalu membuat Ammar merasa bersalah.

“Pah…” panggil Queen pelan.

“Iya, sayang?”

Queen menarik napas kecil. “Apa mamah tidak menyukai Kak Sari?”

Pertanyaan itu membuat tangan Ammar terhenti sejenak.

Hatinya mencelos. Ia menatap wajah putrinya wajah kecil yang tak seharusnya dibebani konflik orang dewasa.

“Kenapa Queen bertanya begitu?” Ammar balik bertanya, tetap lembut.

Queen mengernyit kecil. “Soalnya mamah marah… terus Kak Sari sakit… dan mamah kelihatan tidak suka.”

Ammar menelan ludah. Ia memilih kata-kata dengan sangat hati-hati.

“Kak Sari itu sangat baik sama Queen,” ucap Ammar akhirnya. “Dan mamah… mamah hanya sedang capek.”

Queen tampak berpikir.

“Kak Sari baik sekali,” lanjut Ammar. “Mana mungkin mamah tidak menyukainya.”

Queen masih terlihat ragu. “Tapi…”

Ammar segera mengusap pipi Queen dengan ibu jarinya, tersenyum kecil.

“Sudah, jangan terlalu banyak berpikir, ya. Sekarang Queen bobo siang dulu.”

Queen menatap papahnya. “Papah temani?”

“Tentu,” jawab Ammar tanpa ragu. “Papah temani.”

Queen tersenyum kecil. Ia memejamkan mata, menggenggam ujung baju Ammar seperti takut ditinggalkan. Ammar tetap duduk di sana, menunggu napas kecil itu berubah teratur.

Dalam diam, Ammar menatap wajah putrinya.

Ia sadar apa pun yang terjadi antara dirinya dan Sabrina, Queen tak boleh menjadi korban.

1
💗 AR Althafunisa 💗
Kaya-kaya koq bisa dimanfaatkan begitu, kagak ada ketenangan, kagak ada kehangatan. Sepi seakan tak punya istri kalau begitu, kenapa ga cerai aja sih 😬
ollyooliver🍌🥒🍆
saranku sih pangggil mama aja, soalnya kalau anak sari lahir, trus panggil ammar papa dan sari bunda jatohnya kek.. anaknya sari juga anak tiri/anak angkat karna mengikuti panggilan queen.
Yatiek Widhodho
lanjut thorr
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
selamat ya Sari..
Felycia R. Fernandez
jadi ingat nge liwet dengan teman2 kerja🤍
Felycia R. Fernandez
aku laper jadinya 🤤😆😆😆
Felycia R. Fernandez
mas Ammar donk,masa panggil nama aja
Felycia R. Fernandez
Tetiba membuat nya berdua,eeeh yang salah cuma Ammar sendiri 🤣🤣🤣🤣
gak adil ya Mar...
semangat Mar...
Felycia R. Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤦‍♀️😭😭😭😭
Reni Anjarwani
makin seru thor
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Queen kamu akan punya bunda🥰🥰
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
yeaaayyy queen punya bunda🥰🥰
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Felycia R. Fernandez
biang kerok,gak bisa nahan nafsu🤬
Felycia R. Fernandez
ikutan 😭😭😭😭😭😭😭
Felycia R. Fernandez
ini datang karena Queen rindu atau sekaligus melamar Sari
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
😥😥😥😥😥😥
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
semoga keluarga Ammar benar² menerima Sari..
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
yang kuat ya Sari...
Sweetie blue
Sejauh ini yang aku baca ada pesan yang di taman dalam cerita ini.

jika sudah memiliki suami sebisa mungkin diam di rumah. ngurus suami, anak dan juga rumah. jangan banyak gaya ingin kerja di luar dan mengabaikan kewajiban seorang istri.

kalo semuanya harmonis maka semuanya akan berakhir bahagia terutama restu orang tua. 😍😍

Mudah-mudahan happy ending ya cerita nya thour.. semangat berkaya💪💪💪😍😍😍
Felycia R. Fernandez: Sebenarnya gak gtu juga kk,
istri bole bekerja,aku juga bekerja.cuma kita juga harus ingat kewajiban kita sebagai istri dan ibu.
Sabrina diijinkan Ammar kerja tapi dia kebablasan,malah mentingin kerjaaan dari suami dan anak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!