Sequel Langit Senja Galata
Pernikahan adalah suatu hal sakral untuk menyatukan dua hati dalam satu ikatan janji suci. Lalu bagaimana jika pernikahan tersebut terjadi antara dua orang yang tidak pernah akur satu sama lain? Alvin adalah CEO yang dingin, sedangkan Nana adalah gadis yang terlihat sempurna tapi memiliki gangguan duck syndrome. Baik Alvin maupun Nana memiliki ke hidupan lain di balik layar, tanpa ke duanya tahu bahwa mereka adalah musuh bebuyutan di dunia cyber.
Adik Lunara Ayzel Devran tersebut tanpa pikir panjang menujuk gadis yang sedang duduk di samping sang kakak adalah calon istrinya. Hanya demi menghindari kehidupannya diusik oleh sang kakek yang telah membuat hati sang kakak banyak tersakiti.
“Aku akan menikah dengan Nana,” ucap Alvin.
Nana yang sedang minum terkejut, dia tidak sengaja menyemburkan minumannya.
“Onty jolok! Baju Ezza jadi bacah,”
Apa alasan Nana akhirnya menyetujui permintaan Alvin? Lalu bagaimanakah kehidupan ke duanya setelah menikah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Frustasinya Alvin ngasuh bocil
Jika para ras terkuat di bumi sedang menikmati momen me time mereka, berbeda dengan Alvin bersama kakak ipar dan sang ayah. Mereka bergantian tugas mejaga Haziel yang sudah mulai bisa berjalan, bocah itu mengeksplor apa saja yang dia temui di Jazganara. Dengan langkah yang masih belum kokoh dan terhuyung ke kanan dan ke kiri, Haziel tidak mau diam. Dia sedang dalam masa senang menjelajah dengan dua kaki mungil namun gemoy tersebut.
Alvin yang sedatar dan sedingin itu bisa frustasi gara-gara keponakan kecilnya, Haziel bocah satu tahun itu membuat kehebohan di kantor Jazganara.
“Apa senyum-senyum?” gerutu Alvin saat Haziel tersenyum seolah meledek uncle kulkas 100 pintu itu.
“Ehek...eheee...hoyaa,” Haziel menarik-narik dasi Alvin, seolah menemukan mainan baru saat Alvin memangkunya.
Tadinya Altezza sedang asik dengan tabletnya, bocah itu sedang mengotak atik progam gamenya. Dia langsung menghentikan aktifitasnya begitu melihat sang adik mengganggu uncle Alvin, putra sulung Alvaro itu tersenyum penuh makna. Altezza berdiri dan membiarkan tabletnya begitu saja di karpet, dia ikut menyerbu Alvin.
“Pololo ciap melakukan pendalatan dalulat...wuch...wuch,” Altezza lari menuju Alvin dan langsung naik ke sofa, bocah itu nemplok pada tubuh sang uncle.
“Kamu kira uncle runway atau landasan pacu, haah?” Alvin menghela napas, dua bocil beda usia nemplok seperti cicak pada tubuhnya. Altezza ada di sisi kanan Alvin sedangkan Haziel diatas dada bidang sang uncle.
Ayah Devran sampai tertawa melihat putra bungsunya sama sekali tidak bisa berkutik, dia sengaja membiarkan dua cucunya merecoki uncle mereka tersebut. Alvin bahkan harus berhenti memeriksa berkas yang tadi di berikan sang ayah, dari pada berkasnya akan jadi mainan untuk Haziel ataupun Altezza.
“Katanya CEO hebat. Tapi kalah sama bocil umur tiga dan satu tahun,” ayah Devran kembali meledek Alvin.
Alvaro memang menitipkan ke dua putranya pada sang adik ipar, karena dia harus menghangatkan ASIP yang masih beku untuk Haziel.
“Ini berdua tidak ada takut-takutnya,” Alvin akhirnya hanya bisa pasrah harus jadi baby sitter dua keponakannya tersebut.
“Kenapa Ezza halus takut cama uncel? Kan kita cama-cama makan naci catu piling,” sahut Altezza.
Ayah Devran kembali tergelak. “Sudahlah, Vin! Mengaku kalah saja sama mereka,”
“Ini bapaknya lama sekali timbang hangatin ASIP saja” gerutu Alvin.
“Sorry, Vin. ASIPnya masih beku tadi,” Alvaro masuk ke dalam ruangan membawa botol berisi ASIP dan sufor untuk Altezza, dia juga membawa camilan untuk putra sulungnya tersebut.
Haziel langsung menoleh begitu mendengar suara papanya, netranya berbinar mengarah pada botol berisi sumber nutrinya. Aroma ASI sang mama seolah bisa dia kenali dari jarak jauh sekalipun.
“Cu...cu...cu pa...pa,” Haziel berlonjak naik turun dalam pangkuan Alvin. “Ya ampun boy, tahu saja kamu kalau itu sumber nutrisimu.” Alvin mencubit gemas hidung Haziel.
“Bagaimana tidak tahu, Vin. Dia jadi ras terkuat kalau di rumah,” jawab Alvaro, dia meraih Haziel dari pangkuan adik iparnya. Namun Haziel tidak mau. “Lah? Sudah nyaman sama uncle ya, boy?” lanjut Alvaro.
Alvaro tersenyum penuh kemenangan, Alvin masih belum menyadari maksud di balik senyum kakak iparnya tersebut. “Haziel mau kamu yang temani dia minum susu,” Alvin memberikan botol dot milik Haziel pada Alvin.
“Ayo, boy! Abang juga harus minum susu lalu tidur sebentar,” Alvaro mengangkat tubuh Altezza agar putranya tersebut duduk dengan posisi yang baik dan benar, lantas memberikan botol susu karakter pada putranya.
“Heran! Dulu mbak Zeze ngidam apa pas hamil bocah ini satu,” ucap Alvin, Haziel sudah dalam posisi terlentang dalam pangkuan Alvin. Bocah itu sambil memegangi botol susunya, perlahan-lahan Haziel mulai mengantuk sambil tetap menyesap susu dari botol dotnya.
Sedangkan Altezza, bocah itu mencari posisi yang nyaman untuk minum susu. Dia merebahkan dirinya di sofa, melihat itu Alvaro lantas mengambil bantal sofa dan menaruhnya di bawah kepala putra sulungnya tersebut. Perlahan-lahan baik Haziel maupun Altezza mulai mengantuk, mereka memejamkan matanya.
Ayzel memang membiasakan untuk ke dua putranya tidur sebelum jam makan siang, dia juga mengajarkan pada Altezza jika sudah waktunya untuk tidur siang maka dia harus pergi ke tempat tidur dan merebahkan dirinya di kasur.
Tangan Alvin sudah merasa pegal menjadi bantal tidur Haziel, dia sudah mulai kesemutan juga. “Bagaimana ini, kak?”
Alvaro tadinya mau mengerjai adik iparnya tersebut, namun dia tidak tega dan akhirnya dengan sangat hati-hati memindahkan Haziel dari pengkuan Alvin untuk dia tidurkan di sofa yang sama dengan Altezza tidur. Haziel ada di kiri dan Altezza di kanan, Alvaro menaruh bantal sofa untuk pembatas agar mereka tidak jatuh.
“Akhirnya terbebas dari ras terkuat ke dua,” lirih Alvin.
***
Sembari menunggu dua bocah itu bangun dari tidur, Alvin ngobrol dengan Alvaro. Mereka tetap ada di ruangan itu karena sambil menjaga Altezza dan Haziel yang masih tidur. Di sana juga ada ayah Devran, nampaknya ada pembicaraan serius diantara ke tiganya.
“Aku serius ingin menikahi Nana, kak. Aku harus menemui siapa untuk meminta restu?” tanya Alvin.
Alvaro menghela napas. “Papa Nana masih ada, tapi aku tidak yakin kalau paman Haejun perduli padanya. Untuk wali nikah mungkin bisa di wakilkan paman Haejong, kakak kandung paman Haejun sekaligus adik kandung papaku. Papa Nana tidak akan bisa menjadi wali nikah karena mereka beda keyakinan,” jawab Alvaro.
Alvin manggut-manggut. “Tapi tetap saja aku harus menemuinya kan, kak? Entah dia perduli atau tidak pada Nana, setidaknya aku sudah minta ijin pada papanya Nana.”
Alvin tahu hubungan Nana dan keluarga intinya tidak baik-baik saja, namun sebagai pria dia tetap harus menemui papanya Nana. Alvin akan meminta Nana dengan cara yang baik, dia sudah memantapkan hati untuk menikahi Nana dalam waktu dekat. Meskipun antara ke duanya belum ada rasa, Alvin tidak akan mundur.
“Bagaimana kalau minta tolong Haruna, Alvaro? Bunda kalian adalah sahabat dekat Haruna,” ayah Devran memberikan usulannya. “Biar ayah yang bicara pada bunda, Vin. Ayah hanya minta satu hal padamu, jangan sakiti Nana. Kami tahu kalian belum saling kenal lebih jauh, jika kamu ingin menikahinya karena kakek Zekai. Ayah pastikan kamu akan menyesalinya nanti, karena Nana pantas mendapatkan pria yang baik. Ayah sendiri yang akan memu kulmu jikan nanti kamu membuat Nana terluka, Vin. Karena kamu juga punya kakak perempuan,” lanjut ayah Devran.
Alvin tidak mengangguk maupun menggeleng, dia hanya diam mendengarkan harapan sekaligus ancaman dari sang ayah.
“Bagaimana denganmu, nak?” tanya ayah Devran pada sang menantu.
“Alvaro yakin kalau Alvin akan mengambil keputusan matang, yah. Aku pernah di posisi Alvin kalau ayah lupa, bahkan lebih parah darinya karena meminta Zeze pada ayah dan bunda tanpa sepengetahuan mama anak-anak saat itu. Tentu aku akan memantau Alvin dan Nana dengan caraku dan Zeze. Kalaupun suatu saat dia menyakiti Nana, aku siap untuk mengambil Nana darinya. Aku pastikan dia tidak akan bisa menemukan Nana lagi,” jawab Alvaro diangguki ayah Devran.
Alvin menghela napas. Bukan hanya dua wanita kesayangannya yang memberikan ultimatum sekligus ancaman, ternyata dua pria yang ada di hadapannya saat ini adalah sekutu kakak dan sang bunda.
“Garda terdepan Nana banyak juga,” celetuk Alvin.
“Tentu saja. Sama seperti kakakmu Zeze, di manapun dia berada...kamu selalu menjaganya,” sahut Alvaro diangguki Alvin dan ayah Devran.
Mau bagaimana lagi dia, karena jalan yang Alvin temukan hanya itu. Harapan satu-satunya saat ini adalah Nana, setidaknya Alvin mengenal orang-orang terdekatnya. Sang kakak juga hampir setiap hari bersama dan bertemu dengan Nana, perihal cinta...semoga saja seiring berjalannya waktu mereka berdua akan saling jatuh cinta. Alvin sendiri tahu perihal Nana akhirnya setuju menikah dengannya, jika Nana ingin lepas dari kelurganya. Maka Alvin ingin lepas dari sang kakek yang sampai hari ini selalu memata-matainya, dan juga tanpa Nana duga. Alvin sudah tahu perihal Nana yang menerima pesan dari orang asing, Alvin tahu siapa di balik pengirim pesan tersebut. Namun dia masih stay cool, memantau dalam diam dan waspada.
tapi aku suka gaya Nana sih
moga kena stroke 🤣🤣🤣🤣
ga bisa nolak 🤣🤣🤣