NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Pendekar Dewa : Kehidupan Kedua Dunia Yang Berubah

Reinkarnasi Pendekar Dewa : Kehidupan Kedua Dunia Yang Berubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi
Popularitas:390.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Boqin Changing

Lanjutan dari novel Reinkarnasi Pendekar Dewa

Boqin Changing, pendekar terkuat yang pernah menguasai zamannya, memilih kembali ke masa lalu untuk menebus kegagalan dan kehancuran yang ia saksikan di kehidupan pertamanya. Berbekal ingatan masa depan, ia berhasil mengubah takdir, melindungi orang-orang yang ia cintai, dan menghancurkan ancaman besar yang seharusnya merenggut segalanya.

Namun, perubahan itu tidak menghadirkan kedamaian mutlak. Dunia yang kini ia jalani bukan lagi dunia yang ia kenal. Setiap keputusan yang ia buat melahirkan jalur sejarah baru, membuat ingatan masa lalunya tak lagi sepenuhnya dapat dipercaya. Sekutu bisa berubah, rahasia tersembunyi bermunculan, dan ancaman baru yang lebih licik mulai bergerak di balik bayang-bayang.

Kini, di dunia yang telah ia ubah dengan tangannya sendiri, Boqin Changing harus melangkah maju tanpa kepastian. Bukan lagi untuk memperbaiki masa lalu, melainkan untuk menghadapi masa depan yang belum pernah ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bersiap Merebut Tahta

Kelompok itu akhirnya kembali ke penginapan setelah makan malam usai. Tidak banyak percakapan yang terjadi sepanjang perjalanan singkat itu. Setiap orang tenggelam dalam pikirannya masing-masing, terlebih Shang Mu, yang sejak tadi tampak diam dengan wajah kaku.

Setibanya di penginapan, Zhiang Chi dan Shang Ni langsung menuju kamar mereka. Namun Shang Mu tidak ikut masuk ke kamarnya. Ia berhenti sejenak di ambang pintu, lalu berbelok ke arah taman kecil di bagian dalam penginapan.

Taman itu sederhana. Sebuah kolam kecil dengan batu-batu alam, beberapa pohon bambu yang bergoyang pelan diterpa angin malam, dan bangku kayu yang sudah agak usang. Di situlah Shang Mu duduk seorang diri.

Ucapan Wu Ping masih terngiang jelas di kepalanya. Bukan tentang putranya. Melainkan tentang penduduk Kekaisaran Shang.

Dadanya terasa sesak. Ia menundukkan kepala, menatap pantulan wajahnya sendiri di permukaan kolam yang gelap. Setelah ia turun takhta… ternyata keadaan rakyatnya jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan.

Pamannya, orang yang merebut tahtanya dengan bantuan kekuatan luar, ternyata tidak mampu memimpin dengan adil dan bijaksana. Kekaisaran tidak runtuh dalam sekejap, namun perlahan-lahan membusuk dari dalam. Keistimewaan diberikan pada kelompok-kelompok yang mendukung perebutan takhta, sementara yang lain ditekan, diperas, dan dibiarkan menderita.

Shang Mu mengepalkan tangannya. Lebih menyakitkan lagi, rumor yang disampaikan Wu Ping kembali terlintas. Istana harus menyetorkan upeti kepada Kekaisaran Xin, kekaisaran yang menjadi sekutu dalam perubahan takhta itu. Sebuah harga yang akhirnya harus dibayar, bukan oleh istana… melainkan oleh rakyatnya.

Amarah muncul, namun bersamaan dengan itu, rasa tak berdaya juga menghantamnya. Ia menutup mata.

Di saat itulah langkah kaki terdengar mendekat di atas batu taman. Shang Mu membuka matanya. Boqin Changing dan Sha Nuo berjalan masuk ke area taman. Boqin Changing tampak santai, seolah benar-benar tidak tahu siapa yang sedang duduk di sana.

“Oh?” Boqin Changing berkata ringan. “Ternyata ada orang di sini. Kebetulan sekali bisa bertemu, Paman Mu.”

Shang Mu mengangkat pandangannya, sedikit terkejut, lalu menghela napas pendek.

“Kalian belum tidur?”

“Masih terlalu awal,” jawab Boqin Changing sambil tersenyum tipis. “Lagipula, taman ini cukup tenang.”

Ia melirik sekilas ke arah wajah Shang Mu.

“Apa yang sedang Paman Mu pikirkan malam ini?” tanyanya. “Ucapan Wu Ping tadi?”

Shang Mu terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan.

“Tidak apa-apa,” katanya lirih. “Aku hanya… berpikir terlalu banyak.”

Boqin Changing tidak langsung menanggapi. Ia melangkah lebih dekat, berdiri di samping bangku taman, lalu berkata dengan nada datar,

“Bagaimana perasaanmu sekarang, setelah kembali ke Kekaisaran Shang?”

Pertanyaan itu membuat Shang Mu kembali terdiam.

Boqin Changing melanjutkan, suaranya tetap tenang namun menusuk,

“Dan bagaimana perasaanmu, melihat begitu banyak rakyatmu menderita?”

Kata-kata itu seperti pisau. Shang Mu membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Tidak ada jawaban yang keluar. Bahkan di dalam hatinya sendiri, ia ragu. Ia marah, ia menyesal, ia sedih. Namun semua perasaan itu bercampur tanpa arah.

Boqin Changing memandang kolam di hadapan mereka.

“Ngomong-ngomong,” katanya seolah berganti topik, “putramu sepertinya tidak berhasil ditangkap oleh istana.”

Shang Mu menegang.

“Bukankah itu artinya,” lanjut Boqin Changing perlahan, “kau tidak punya beban lagi untuk hanya memikirkan keselamatannya? Tidak perlu lagi menahan diri karena takut ia dijadikan sandera.”

Ia menoleh, menatap langsung mata Shang Mu.

“Sekarang… bukankah kau bebas memperhatikan rakyatmu sepenuhnya?”

Sebelum Shang Mu sempat menjawab, Sha Nuo melangkah maju setengah langkah. Wajahnya keras, suaranya tidak bertele-tele.

“Tuan muda,” katanya singkat, “tidak perlu berputar-putar.”

Ia menatap Shang Mu tajam.

“Jawab aku satu hal.”

“Apakah kau seorang lelaki?”

Shang Mu mengangkat kepalanya.

“Apakah kau Kaisar Shang yang asli?”

Keheningan menyelimuti taman.

Sha Nuo melanjutkan dengan suara rendah namun penuh tekanan,

“Jika iya… lihat rakyatmu. Selamatkan mereka.”

Ia berhenti sejenak, lalu berkata tegas,

“Rebut kembali tahtamu.”

Kata-kata itu menggantung di udara malam, lebih berat dari apa pun yang diucapkan sebelumnya. Shang Mu duduk terpaku, napasnya tertahan, sementara di dalam dadanya, sesuatu yang telah lama padam… mulai bergetar kembali.

Shang Mu tidak segera menjawab. Pandangannya jatuh kembali ke permukaan kolam, tempat bayangan bambu bergetar pelan seiring hembusan angin malam. Kata-kata Sha Nuo masih menggema di kepalanya, menghantam lebih keras daripada teriakan atau ancaman mana pun.

Ia mulai berpikir keras. Sejak awal, ia sama sekali tidak tertarik membahas soal tahta. Baginya, mahkota itu telah menjadi sumber petaka. Sesuatu yang merenggut keluarganya, memaksanya melarikan diri, dan menyeret hidupnya ke dalam pengasingan panjang. Namun… apakah ia benar-benar bisa berpaling?

Ucapan Sha Nuo barusan terlalu sederhana, terlalu lugas, dan justru karena itu mustahil diabaikan. Ia tidak berbicara soal kehormatan, bukan pula soal balas dendam. Ia hanya menyebut satu hal, rakyat. Penduduk Kekaisaran Shang.

Petani yang diperas pajak, pedagang kecil yang dirampas haknya, keluarga-keluarga yang harus menyerahkan anak mereka sebagai tenaga paksa. Semua penderitaan itu terjadi… setelah ia turun takhta.

Shang Mu mengepalkan tangan di atas lututnya.

“Aku…” suaranya serak ketika akhirnya membuka mulut. Ia berhenti sejenak, seolah mencari kata yang tepat. “Sejujurnya aku tidak ingin kembali ke istana.”

Sha Nuo tidak menyela. Boqin Changing juga diam, membiarkan kalimat itu menggantung.

“Aku tidak ingin tahta, kekuasaan, atau gelar kaisar,” lanjut Shang Mu pelan.

Ia mengangkat kepalanya, menatap lurus ke depan.

“Namun jika yang duduk di sana sekarang membuat rakyat menderita…” napasnya tertahan sesaat. “…maka aku tidak bisa menutup mata.”

Kata-kata itu keluar dengan berat, seolah setiap suku katanya adalah beban yang telah ia pikul sejak lama. Di dalam hatinya, sebuah keputusan mulai terbentuk. Perlahan, menyakitkan, namun tak terelakkan.

Jalan satu-satunya untuk menghentikan penderitaan itu… adalah menyingkirkan kaisar saat ini. Pamannya sendiri.

Orang yang dulu ia percaya. Orang yang mengkhianatinya dengan senyum dan janji, lalu menjual kekaisaran pada kekuatan luar. Shang Mu menelan ludah. Tidak ada kebencian berlebihan di wajahnya, hanya kelelahan dan tekad yang pahit.

“Jika aku bergerak,” katanya lirih, “itu berarti perang saudara. Darah dan kekacauan akan timbul.”

Ia menoleh, memandang dua sosok yang berdiri di hadapannya.

Boqin Changing berdiri santai, tangan di balik punggung, wajahnya tenang namun matanya tajam seperti sedang menilai seluruh papan catur di hadapannya. Sha Nuo berdiri tegak di sisi lain, auranya kokoh dan dingin, seperti pedang yang sudah terhunus sejak lama.

Dua pendekar hebat. Bukan karena perintah, bukan pula karena imbalan, namun karena pilihan mereka sendiri, mereka bersedia berdiri di sisinya.

“Kenapa kalian?” tanya Shang Mu pelan. “Ini bukan urusan kecil. Ini bukan konflik antar pendekar. Ini mengguncang satu kekaisaran.”

Boqin Changing tersenyum tipis.

“Karena seseorang harus memulainya,” jawabnya ringan. “Dan karena… kebetulan aku tidak menyukai orang yang membuat dunia berantakan.”

Sha Nuo menambahkan dengan nada datar.

“Dan karena penderitaan rakyat tidak mengenal garis keturunan.”

Shang Mu menutup matanya sejenak. Saat ia membukanya kembali, keraguan yang tadi masih tersisa… telah menghilang.

“Baik,” katanya perlahan, suaranya kini lebih stabil. “Jika ini memang jalannya.”

Ia berdiri dari bangku taman. Angin malam meniup jubahnya, membuatnya berkibar pelan di bawah cahaya lentera.

“Aku tidak akan merebut takhta demi diriku sendiri,” ucapnya tegas. “Aku akan melakukannya demi mereka, penduduk Kekaisaran Shang.”

Pandangan Shang Mu mengeras.

“Dan jika pamanku berdiri di jalan itu…” ia berhenti sejenak. “…maka aku sendiri yang akan menjatuhkannya.”

Keheningan kembali menyelimuti taman. Namun kali ini, bukan keheningan yang ragu, melainkan keheningan sebelum badai.

Boqin Changing menatap Shang Mu, senyum tipisnya sedikit melebar.

“Kalau begitu,” katanya santai, “sepertinya malam ini bukan sekadar obrolan di taman.”

Sha Nuo mengangguk sekali. Ia tertawa kegirangan.

“Keputusan telah diambil. Mari kita kacaukan kekaisaran ini. Hahahaha.”

Di bawah langit malam Kekaisaran Shang, roda takdir mulai berputar kembali. Shang Mu bersiap membuka lembaran lamanya dan membuat lembaran baru dengan dua orang pendekar kuat di sisinya.

1
Darwito
egk
Arie Chaniago70
👍👍👍💪💪💪💪🙂🙂🙂
Arie Chaniago70
👍👍👍👍🙂🙂🙂🌹🌹🌹
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Masuuuuk...
Nanik S
Makin seru Tor 💪💪💪
Nanik S
Perang akan menyenangkan Dasar Sha Nuo... maniak Pembantaian 🤣🤣🤣
angin kelana
peraaaaaaaaang....💪💪💪
Dar Mono
1 pikiranny cuma bertsrung dan bertarung 1 lagi smw penuh perhitungan dan hal bertarung duet yg seru ni nnti di medan perang
Ipung Umam
mantap Thor lanjutkan terus meningkat
Suwoyo Woyok
lanjut thorr seru
Daniel Simamora
Akhirnya ada updatednya juga.
Terimakasih thor.
Sarip Hidayat
waah
A 170 RI
xin da ohh xin da.. temen tapi musuh
Angga Charnado: musuh dalam selimut
total 1 replies
Darwito
wgeur
Darwito
urru
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjut Up Thor
Darwito
ywywey
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
Darwito
ysyw
Darwito
dukmo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!