NovelToon NovelToon
Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Dokter Genius / Cintapertama
Popularitas:115
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
​Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
​Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
​Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Seragam Abu-Abu di Parkiran Rumah Sakit

Gerakan jari Lala itu mengisyaratkan bahwa ada sebuah rahasia besar yang tersimpan di dalam stetoskop tersebut yang bisa membuat ayahnya jatuh pingsan seketika jika mendengarnya. Adrian mematung sambil menatap alat medis miliknya yang kini berada di tangan kekar seorang polisi yang tampak sangat murka. Sang ayah mulai mendekatkan bagian pendengar stetoskop itu ke telinganya sendiri dengan dahi yang berkerut sangat dalam dan sangat tajam.

"Tunggu dulu Pak, saya bisa menjelaskan kenapa alat itu ada di sana!" teriak Adrian dengan suara yang sedikit melengking karena panik.

"Diam Dokter, saya ingin mendengar rahasia apa yang disembunyikan putri saya sampai dia harus membolos sekolah!" balas polisi itu dengan nada yang sangat menggelegar.

Beruntung bagi Adrian karena baterai alat perekam kecil yang ditempelkan Lala pada stetoskop itu mendadak habis tepat sebelum suara pengakuan cinta diputar. Polisi itu mendengus kesal karena hanya mendengar kesunyian, namun ia segera menarik paksa tangan Lala agar segera turun dari tempat tidur perawatan. Adrian mencoba menghalangi tindakan kasar itu karena ia tahu kondisi fisik Lala belum sepenuhnya pulih dari serangan kepanikan tadi siang.

"Pak, tolong hargai kondisi pasien, Lala masih membutuhkan observasi medis selama beberapa jam ke depan," ucap Adrian sambil berdiri menghadang di depan pintu.

"Putri saya tidak butuh observasi, dia butuh pelajaran moral agar tidak mencuri alat milik orang lain!" bentak polisi itu sambil mengacungkan stetoskop ke wajah Adrian.

Lala hanya bisa tertunduk lesu dengan seragam abu-abu yang tampak sangat kuyu dan berantakan setelah berjam-jam berada di ruang perawatan. Ia melirik ke arah Adrian dengan binar mata yang penuh permintaan maaf sekaligus rasa takut yang sangat nyata terlihat di wajahnya. Adrian merasakan ada sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya, sebuah keinginan untuk melindungi yang tidak pernah ia rasakan kepada pasien mana pun sebelumnya.

"Biarkan dia pulang dengan saya, saya akan memastikan dia sampai di rumah dan mendapatkan hukuman yang pantas," tegas sang ayah sambil menyeret tas sekolah Lala.

"Ayah, aku tidak mencuri, aku hanya ingin merasa dekat dengan cita-citaku menjadi asisten dokter!" seru Lala sambil terisak-isak kecil karena menahan tangis.

Adrian hanya bisa menatap punggung Lala yang perlahan menjauh meninggalkan koridor ruang perawatan menuju arah parkiran rumah sakit yang mulai gelap. Ia segera menyambar jasnya dan berlari mengikuti mereka dari kejauhan untuk memastikan tidak terjadi hal-hal yang membahayakan nyawa gadis tersebut. Di parkiran yang luas itu, pemandangan seragam abu-abu Lala yang bersanding dengan seragam polisi ayahnya menciptakan kontras yang sangat menyedihkan di bawah lampu merkuri.

"Masuk ke mobil sekarang juga, jangan pernah lagi saya melihat kamu menginjakkan kaki di rumah sakit ini!" perintah polisi itu sambil membuka pintu mobil dinasnya.

"Tapi Ayah, Dokter Adrian itu orang baik, dia yang menolongku saat aku sesak napas tadi!" bela Lala dengan suara yang masih bergetar-getar.

Adrian berdiri di balik pilar beton sambil mencengkeram erat laporan medis yang masih ia bawa tanpa sadar di tangan kanannya. Ia melihat bagaimana Lala dipaksa masuk ke dalam kendaraan sementara ayahnya kembali menatap ke arah gedung rumah sakit dengan tatapan yang penuh ancaman. Pria polisi itu seolah-olah sedang memberikan peringatan tidak tertulis kepada Adrian agar menjauhi putrinya yang masih di bawah umur tersebut selamanya.

"Jika saya melihat Anda mendekati putri saya lagi, saya tidak akan segan-segan melaporkan ini sebagai tindak penculikan anak!" teriak polisi itu seolah tahu Adrian sedang mengintai.

"Saya hanya menjalankan tugas saya sebagai seorang dokter, tidak ada niat lain!" sahut Adrian sambil akhirnya menampakkan diri dari balik pilar.

Mobil polisi itu segera melesat pergi meninggalkan kepulan asap tipis dan keheningan yang sangat mencekam di area parkir rumah sakit yang mulai sepi. Adrian berdiri mematung di tengah jalan aspal yang masih terasa hangat oleh sisa panas matahari sambil menatap lencana perak miliknya yang terjatuh di lantai. Ia memungut lencana itu dan menyadari bahwa hubungan ugal-ugalan mereka kini telah memasuki babak baru yang melibatkan hukum dan keluarga.

"Dokter, kenapa Anda masih di sini? Bukankah jam praktik Anda sudah selesai sejak satu jam yang lalu?" tanya seorang petugas keamanan yang sedang berkeliling.

"Saya hanya sedang mencari udara segar, pastikan gerbang depan terkunci rapat malam ini," jawab Adrian dengan nada suara yang sangat hampa.

Ia berjalan menuju mobilnya sendiri dengan perasaan yang sangat berat seolah ada batu besar yang sedang menindih pundaknya yang tegap itu. Di dalam mobil, Adrian kembali teringat pada wajah Lala yang menangis saat diseret paksa oleh ayahnya di depan banyak orang tadi. Ia merasa bersalah karena telah melibatkan gadis remaja itu ke dalam dunianya yang sangat kaku dan penuh dengan aturan medis yang membosankan.

"Mungkin benar kata polisi itu, saya harus menjauh sebelum segalanya menjadi semakin hancur berantakan," gumam Adrian sambil menyandarkan kepalanya di kemudi.

Tanpa sengaja, tangan Adrian menyentuh saku jasnya dan menemukan sebuah benda kecil yang tertinggal, yaitu pita rambut berwarna merah muda milik Lala. Ia menggenggam pita itu dengan sangat erat seolah sedang memegang satu-satunya kenangan manis yang tersisa dari pertemuannya yang gila-gilaan dengan sang gadis kompor. Adrian memutuskan untuk mengakhiri pengejaran ini demi kebaikan Lala, namun takdir sepertinya memiliki rencana lain yang jauh lebih mengejutkan bagi mereka berdua.

Baru saja ia hendak menghidupkan mesin mobil, sebuah pesan masuk dari nomor rahasia yang mengabarkan bahwa Lala kembali melarikan diri dari rumah melalui jendela kamar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!