NovelToon NovelToon
Tabib Dari Masa Depan

Tabib Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Ajaib / Penyelamat / Anak Lelaki/Pria Miskin / Era Kolonial / Mengubah Takdir / Time Travel
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mardonii

Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20. DEMAM YANG TAK KENAL AMPUN

..."Ketika nyawa bergantung pada seutas benang, hanya keberanian yang bisa mengubah takdir."...

...---•---...

Matahari belum sepenuhnya muncul ketika ketukan keras mengguncang pintu gubuk pak Karso. Karyo, yang tidur di tikar sebelah, terbangun lebih dulu. Matanya langsung terbuka lebar, naluri terlatih dari bulan-bulan terakhir mengikuti Doni. Ia bangkit dengan gerakan cepat, mengusap wajah sebelum membuka pintu.

"Tuan Doni harus segera datang!"

Suara lelaki paruh baya itu terengah, putus-putus seperti habis berlari jauh. Keringat membasahi keningnya, mengalir ke pelipis meski udara pagi masih sejuk dan lembap. Napasnya berbunyi, dadanya naik turun cepat.

"Anak Tuan Kasim semakin parah. Kejang terus sejak tengah malam." Ia menelan ludah, suaranya turun menjadi bisikan panik. "Tuan Kasim menunggu di rumahnya."

Doni sudah duduk di tikar, mengumpulkan kesadarannya yang buyar. Namanya disebut dengan panggilan terhormat kini, bukan lagi anak yatim yang dianggap beban. Ia meraih kain sarung lusuh yang tergantung di paku bambu, membungkus pinggangnya dengan gerakan cepat dan terlatih.

"Bawa aku sekarang."

Suaranya masih serak, tapi tegas. Tidak ada ruang untuk ragu.

Karyo sudah bergerak ke sudut gubuk, mengambil tas anyaman berisi ramuan dasar dan kain bersih yang selalu mereka siapkan untuk kondisi seperti ini. Ia melemparkannya ke Doni tanpa bicara. Tidak perlu. Mereka sudah terbiasa dengan rutinitas darurat seperti ini, sudah terlalu sering dipanggil di tengah malam atau subuh buta.

Gerobak kerbau menunggu di luar, kayu lapuknya basah oleh embun. Utusan Tuan Kasim menatap gelisah saat Doni dan Karyo naik, tangannya sudah menarik tali kendali sebelum mereka duduk stabil. Kerbau berjalan cepat, lebih cepat dari biasanya, seolah merasakan urgensi majikannya.

Jalan tanah becek setelah hujan semalam. Gerobak bergoyang keras, roda kayunya terperosok di genangan lumpur lalu memantul keluar dengan hentakan. Doni mencengkeram pinggiran kayu yang kasar, serpihan-serpihan menggores kulitnya. Pikirannya sudah melayang jauh, pada pasien yang menunggunya.

Malaria. Pasti malaria.

Ia sudah menduga sejak kunjungan pertama beberapa hari lalu. Demam tinggi berulang dalam pola teratur. Menggigil hebat yang membuat tubuh kecil itu gemetar seperti daun. Muntah cairan kuning kehijauan, empedu murni.

Tanpa kina, peluangnya tipis. Sangat tipis.

Tangannya mengepal di atas lutut. Ia hanya punya tanaman dan harapan. Tapi ia tidak bisa mengatakan itu pada Tuan Kasim, seorang pedagang kaya yang terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan dengan uang. Di mata orang seperti itu, semua masalah punya solusi jika harganya tepat. Mereka tidak mengerti bahwa kematian tidak bisa dibeli.

Rumah Tuan Kasim berdiri di tepi jalan utama menuju kota kecamatan, jauh lebih besar dari gubuk-gubuk kampung yang berkerumun seperti jamur. Dinding kayu jati kokoh, berkilau bahkan di cahaya fajar yang redup. Atap genteng merah rapi, tidak ada yang retak atau bergeser. Halaman luas dengan pagar bambu tinggi, dan di sudutnya ada kandang ayam yang masih sunyi.

Dua pelayan menunggu di depan pintu. Wajah mereka pucat, mata sembab. Mereka mundur saat Doni turun dari gerobak, memberi jalan tanpa bersuara.

Doni tidak menunggu sambutan. Tidak ada waktu untuk basa-basi.

Ia melangkah masuk, kakinya meninggalkan jejak lumpur di lantai kayu yang bersih. Biasanya pelayan akan menegur, tapi hari ini tidak ada yang bersuara.

Di ruang tengah yang luas, Tuan Kasim duduk di kursi kayu jati dengan ukiran naga. Tangannya terkepal di atas lutut, buku-buku jarinya memutih karena tekanan. Matanya merah, garis-garis pembuluh darah terlihat jelas seperti jaring laba-laba. Kantung mata menghitam, dalam. Ia tidak tidur semalaman, mungkin lebih.

Ketika mendengar langkah kaki, ia mengangkat kepala. Gerakannya lambat, seperti beban berat menarik lehernya.

"Kau sudah datang."

Suaranya rendah, parau. Ada getaran di sana, getaran halus yang ia coba sembunyikan tapi gagal.

"Anakku... Arif..." Ia berhenti, menelan ludah berkali-kali. "Ia tidak sadarkan diri sejak subuh. Sebelumnya kejang berkali-kali. Aku..."

Kalimatnya putus. Tangannya terangkat, menggantung di udara seolah mencari sesuatu untuk dipegang, lalu jatuh lemas kembali.

Untuk pertama kalinya, Doni melihat seorang pedagang kaya yang kehilangan semua kekuasaannya. Uang, pengaruh, koneksi, semuanya tidak berarti di hadapan penyakit yang tidak mengenal status sosial.

"Bawa aku ke kamarnya."

Tuan Kasim bangkit. Kakinya sempat goyah, tapi ia menegakkan tubuh dengan paksa.

Mereka melewati lorong panjang dengan lampu minyak yang masih menyala meski fajar sudah menyingsing. Api kecil di dalam kaca bergoyang, membuat bayangan menari di dinding. Bau dupa bercampur obat-obatan tradisional menyengat hidung, campuran manis dan pahit yang membuat tenggorokan gatal.

Di ujung lorong, pintu terbuka menampakkan kamar luas. Ranjang kayu tinggi berdiri di tengahnya, dikelilingi tirai kain putih yang sebagian tersibak.

Arif terbaring di sana.

Tubuh kecilnya tenggelam di bawah selimut tebal yang naik turun tidak teratur. Kulitnya pucat kekuningan, seperti lilin tua yang kehilangan warna. Bibir kering pecah-pecah, sudut-sudutnya berdarah. Napasnya cepat dan dangkal, terdengar seperti desisan halus.

Seorang perempuan paruh baya duduk di sampingnya, punggungnya membungkuk. Tangannya bergerak mekanis, mengusap dahi anak itu dengan kain basah yang sudah menghangat. Matanya bengkak, kelopaknya merah dan berat. Ketika mendengar langkah kaki, ia menoleh.

Matanya menatap Doni, lalu ke anaknya, lalu ke Doni lagi. Mencari, memohon sesuatu yang bahkan ia tidak tahu pasti apa.

"Nyonya Kasim," sapa Doni pelan, menundukkan kepala sedikit.

Perempuan itu tidak menjawab. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara keluar. Hanya anggukan kecil, hampir tidak terlihat.

Ia mendekat, meletakkan tas anyaman di samping ranjang. Kayu di bawah kakinya berderit pelan. Ia duduk di tepi ranjang, kasur empuk sedikit melesak, dan mengulurkan tangan ke dahi Arif.

Panas menyengat kulitnya seketika.

Empat puluh, mungkin lebih.

Demam setinggi ini bisa merusak otak. Setiap menit berarti.

Ia geser jari ke leher, mencari denyut nadi di bawah rahang. Lemah. Cepat. Seperti sayap kupu-kupu yang sekarat.

Dengan lembut, ia buka kelopak mata Arif. Putih matanya tidak lagi putih. Kuning. Kuning pekat seperti kunyit tua.

Hati mulai rusak.

Doni menekan perut bagian kanan atas dengan hati-hati. Ada pembengkakan di sana, keras dan tegang. Arif merintih lemah meski matanya tetap tertutup, tubuhnya menegang sedikit lalu lemas kembali.

Semua tanda mengarah pada satu hal.

Malaria berat. Parasit sudah menyerang organ dalam.

Tanpa mikroskop, ia tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam darah. Tapi gejala sudah jelas seperti tulisan di dinding. Ia pernah melihat ini puluhan kali di ruang gawat darurat. Bedanya, di sana ia punya infus, obat antimalaria kuat, transfusi darah, monitor jantung.

Di sini?

Ia melirik tas anyamannya yang kusut.

Hanya tanaman dan waktu yang menipis.

"Sejak kapan ia tidak sadar?" tanya Doni tanpa mengalihkan pandangan dari pasien.

"Sejak ayam berkokok pertama kali." Suara Nyonya Kasim bergetar. "Sebelumnya ia masih bisa bicara, meski mengigau. Memanggil-manggil namaku. Mengatakan dingin, panas, dingin lagi. Sekarang..."

Ia tidak melanjutkan. Tidak perlu.

Doni mengangguk pelan. Ia tidak punya pilihan lain selain bertarung dengan apa yang ada.

"Karyo."

Suaranya tajam, memecah keheningan.

Karyo, yang berdiri di ambang pintu, langsung menegakkan tubuh.

"Cari daun sambiloto sebanyak mungkin. Yang masih segar, belum layu. Juga kulit pohon kina jika ada di pasar. Dan tanaman artemisia, yang biasa tumbuh liar di pinggir sawah, bunganya kuning kecil-kecil."

Karyo berlari keluar tanpa bertanya. Langkah kakinya menggema di lorong, semakin menjauh, lalu hilang.

Doni menatap Tuan Kasim yang berdiri kaku di sudut ruangan.

"Aku butuh air mendidih. Banyak. Sebanyak yang bisa kau siapkan. Dan gula aren atau madu murni, jangan yang sudah dicampur. Sebanyak yang kau punya."

Tuan Kasim mengangguk cepat, keluar dengan langkah tergesa. Suaranya terdengar memberi perintah di lorong, keras dan cepat.

Dalam hitungan menit, suara kayu dibelah terdengar dari dapur. Tungku dinyalakan, api berderak, dan aroma asap kayu mulai merembes ke kamar.

Doni mengambil kain bersih dari tasnya. Ia lipat kecil-kecil, persegi sempurna, lalu celupkan ke mangkuk air dingin yang sudah disiapkan pelayan. Air itu dingin menggigit, membuat ujung jarinya mati rasa.

Ia peras sedikit, lalu letakkan di dahi Arif. Anak itu tidak bereaksi. Ia tambahkan satu lagi di leher, dan satu lagi di lipatan paha.

"Kau harus sering ganti kain ini," katanya pada Nyonya Kasim, matanya tetap fokus pada Arif. "Setiap kain terasa hangat, bahkan hanya sedikit hangat, ganti dengan yang baru dicelup air dingin. Jangan berhenti."

Nyonya Kasim mengangguk, tangannya sudah bergerak. Ia celup kain baru ke mangkuk, gerakannya gemetar tapi cepat.

Demam harus diturun secepatnya. Setiap derajat di atas normal adalah ancaman bagi sel-sel otak yang rapuh.

Doni kemudian mencari posisi pembuluh darah di lengan Arif. Kulitnya tipis, hampir transparan. Urat biru terlihat samar di bawah permukaan. Tanpa jarum suntik, ia tidak bisa memberikan cairan langsung ke dalam darah. Tapi ia bisa memaksa tubuh anak itu menerima cairan lewat mulut, bahkan dalam kondisi tidak sadar.

Asal refleks menelannya masih ada.

"Bawa sendok kecil," perintahnya pada pelayan yang berdiri seperti patung di dekat pintu.

Perempuan itu tersentak, lalu berlari keluar. Ia kembali dengan sendok perak kecil, pegangnya berukir bunga.

Doni mengambil air matang yang sudah disediakan dalam teko tanah liat. Uapnya masih mengepul, terlalu panas. Ia tuang ke mangkuk kecil, tunggu. Jari-jarinya mengetuk pelan di tepi mangkuk, menghitung detik.

Ketika air cukup dingin, ia ambil gula aren yang sudah diserut halus, masukkan sesendok penuh. Ia aduk perlahan sampai larut sempurna, warna coklat menyebar merata.

Cairan rehidrasi sederhana. Glukosa dan mineral. Tidak sempurna, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.

Dengan hati-hati, ia buka mulut Arif. Rahangnya kaku, hampir terkunci. Doni harus memberi tekanan lembut di sudut mulut, geraham perlahan terbuka.

Ia angkat kepala anak itu sedikit, sangga dengan tangan kiri. Lalu, dengan sendok di tangan kanan, ia teteskan air manis itu ke sudut bibir.

Satu tetes.

Dua tetes.

Cairan mengalir lambat ke dalam mulut. Tenggorokan Arif bergerak. Refleks. Ia menelan.

Bagus. Batang otaknya masih berfungsi.

Doni teruskan. Satu sendok. Tunggu. Pastikan tertelan. Satu sendok lagi. Tunggu lagi. Prosesnya lambat, melelahkan. Tapi penting. Sangat penting.

Karyo kembali dengan napas terengah, kakinya berlumpur hingga lutut. Tangannya penuh dengan ikatan daun dan akar yang masih basah embun.

"Sambiloto ada banyak. Artemisia juga." Ia berhenti, menarik napas dalam. "Tapi kulit kina... tidak ada yang punya. Aku sudah tanya ke tiga pedagang."

Kekecewaan menusuk dada Doni seperti pisau tumpul. Kulit kina mengandung zat alami yang bisa membunuh parasit malaria. Tanpa itu, peluang Arif turun drastis.

Tapi ia tidak punya pilihan lain.

"Rebus semua sambiloto dengan air banyak," instruksinya, suaranya tetap tenang meski pikirannya berteriak. "Biarkan mendidih lama sampai airnya jadi pekat dan sangat pahit. Artemisia juga direbus terpisah, jangan dicampur dulu."

Karyo berlari ke dapur. Suara air dituang ke kuali besar terdengar, disusul bunyi kayu dimasukkan ke tungku.

Sementara ramuan disiapkan, Doni terus bekerja. Tangannya tidak berhenti bergerak.

Ia pijat lembut perut Arif, gerakan melingkar searah jarum jam. Merangsang sirkulasi. Membantu organ yang sedang berjuang.

Ia angkat kaki anak itu, letakkan di atas tumpukan kain sehingga lebih tinggi dari jantung. Memaksa darah mengalir ke otak yang kekurangan oksigen.

Setiap detail kecil bisa membuat perbedaan. Antara hidup dan mati.

Tuan Kasim berdiri di sudut ruangan. Tangannya menggantung lemas di sisi tubuh, jari-jarinya membuka menutup tanpa tujuan. Ia menatap Doni bekerja, tapi matanya kosong, seperti melihat tapi tidak melihat.

Aroma pahit menyengat mulai memenuhi ruangan. Bau yang membuat mata perih dan tenggorokan gatal. Karyo muncul di pintu, membawa dua mangkuk besar berisi cairan gelap pekat yang masih mengepul. Uapnya berputar-putar naik, membentuk spiral di udara.

Doni mencium aromanya dari jarak jauh. Pekat. Kuat. Konsentrasi cukup tinggi.

Ia terima kedua mangkuk, letakkan di atas meja kecil di samping ranjang. Dengan sendok kayu, ia campurkan kedua ramuan dengan perbandingan tertentu, dua bagian sambiloto, satu bagian artemisia. Cairan mengental, warnanya hitam kecoklatan seperti lumpur.

Ia tambahkan madu, aduk sampai sebagian rasa pahit tertutupi. Tidak sepenuhnya hilang, tapi setidaknya bisa ditelan tanpa langsung dimuntahkan.

Artemisia dan sambiloto, kombinasi terbaik yang bisa ia berikan dengan apa yang ada.

Dengan sendok perak yang sama, ia teteskan ramuan itu ke mulut Arif.

Wajah anak itu langsung menyeringai. Bahkan dalam kondisi tidak sadar, tubuhnya menolak rasa pahit yang ekstrem. Ototnya menegang, kepalanya sedikit menoleh.

Bagus. Reaksi adalah tanda kehidupan.

Doni paksa lebih banyak masuk. Satu sendok. Tunggu. Pastikan tertelan. Satu sendok lagi.

"Ramuan ini harus diberikan setiap dua jam," katanya pada Nyonya Kasim tanpa mengalihkan pandang. "Tidak boleh terlewat. Bahkan jika ia terlihat membaik, jangan berhenti sampai aku bilang boleh."

Nyonya Kasim mengangguk, tangannya memegang mangkuk dengan erat. Buku-buku jarinya memutih.

...---•---...

Siang berganti sore tanpa terasa. Bayangan di dinding bergeser, memanjang. Cahaya yang masuk lewat jendela berubah dari putih terang menjadi kuning keemasan.

Doni tidak meninggalkan sisi ranjang. Tubuhnya lelah, punggungnya kaku, tapi pikirannya tetap waspada. Tangannya bergerak otomatis: kompres, ramuan, monitoring. Pelayan membawa makanan, tapi ia hampir tidak menyentuhnya. Beberapa suap nasi, cukup agar tubuhnya tidak roboh.

Demam Arif naik turun seperti ombak laut. Kadang tubuhnya berkeringat dingin, kulitnya basah dan lengket. Kadang menggigil hebat, gigi-giginya bergemeretak sampai terdengar bunyi klik kecil.

Doni terus bergantian. Kompres dingin saat demam naik. Selimut tebal saat tubuh menggigil. Cairan terus dimasukkan, memaksa tubuh tetap terhidrasi.

Tuan Kasim duduk di sudut, memandangi pemuda yang bekerja tanpa henti menyelamatkan anaknya. Ia tidak bicara lama, tapi akhirnya suaranya memecah keheningan.

"Kenapa kau melakukan ini?" tanyanya pelan. "Kau bisa menolak. Ini bukan tanggung jawabmu."

Doni tidak mengalihkan pandang dari Arif. Tangannya terus bergerak, mengganti kompres yang menghangat.

"Karena aku tahu bagaimana rasanya tidak punya siapa-siapa saat kau sekarat."

Suaranya datar, tapi ada beban di sana. Beban yang tidak perlu dijelaskan lebih jauh.

Tuan Kasim terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat Doni bukan sebagai tabib ajaib, tapi sebagai manusia yang pernah menderita. Manusia yang memilih menyembuhkan karena pernah tidak disembuhkan.

Menjelang maghrib, langit di luar berubah jingga kemerahan. Suara azan terdengar samar dari masjid kampung, merdu dan panjang.

Doni mengecek dahi Arif untuk kesekian kalinya. Demam turun sedikit. Hanya sedikit, tapi konsisten.

Ia melawan. Tubuhnya melawan.

Ia tatap Nyonya Kasim yang duduk dengan mata kosong, dan tersenyum tipis.

"Tubuhnya merespons. Ia sedang bertarung."

Untuk pertama kalinya sejak pagi, ada harapan di mata perempuan itu. Kecil. Rapuh. Tapi ada.

Kemudian, saat langit hampir gelap sepenuhnya, Arif kejang.

Tubuhnya menegang seketika, seperti kayu kering yang patah. Punggungnya melengkung, kepala terlempar ke belakang. Mata terbuka lebar tapi tidak fokus, putih mata yang kuning berputar ke atas. Mulut terbuka, berbusa di sudut-sudutnya.

Nyonya Kasim berteriak, suaranya melengking memecah keheningan. Tuan Kasim berlari mendekat, wajahnya pucat.

Tapi Doni sudah bergerak.

Ia miringkan tubuh Arif dengan cepat, posisi pemulihan. Mencegah lidah jatuh ke belakang. Mencegah busa masuk ke paru-paru. Tangannya menahan kepala agar tidak membentur kayu ranjang yang keras.

Jantungnya berdegup keras di dada, tapi tangannya mantap. Tidak gemetar. Ia sudah terlatih untuk ini.

Dua menit. Biasanya kejang berhenti dalam dua menit.

Ia hitung dalam hati. Satu. Dua. Tiga.

Detik terasa seperti jam.

Tubuh Arif terus bergetar. Kakinya menendang-nendang, tangannya mencakar udara.

Nyonya Kasim menangis di sudut, suaranya teredam oleh telapak tangannya sendiri.

Satu menit lewat. Dua menit.

Akhirnya, kejang berhenti.

Arif lemas seketika, seperti boneka kain yang talinya putus. Napasnya terengah, cepat dan dangkal. Tubuhnya basah oleh keringat.

Doni periksa nadi di leher. Masih ada. Masih berdetak. Cepat tapi kuat.

Ia masih bertahan.

Ia tahan napas yang tidak sadar ia tahan, lalu hembuskan perlahan.

Malam tiba tanpa terasa. Lampu minyak dinyalakan satu per satu di sekeliling kamar. Api kecil di dalamnya bergoyang, membuat bayangan menari di dinding seperti wayang.

Tuan Kasim dan istrinya duduk di sudut, saling berpegangan tangan. Tidak ada yang bicara. Hanya suara napas Arif dan sesekali derak kayu yang memuai.

Karyo tertidur di tikar dekat pintu, tubuhnya meringkuk, kelelahan setelah seharian bolak-balik.

Doni sendiri hampir tidak bisa menutup mata. Kelopaknya berat, terasa seperti ditarik ke bawah. Tapi setiap kali ia mulai tertidur, ia paksa matanya terbuka lagi.

Tidak boleh lengah. Tidak boleh.

Ia terus memantau pernapasan Arif. Menghitung. Satu tarikan napas. Dua. Tiga. Memastikan tidak ada henti napas mendadak yang bisa berarti akhir.

Tengah malam lewat sedikit. Lampu minyak mulai redup, minyaknya hampir habis. Pelayan datang mengisi ulang tanpa bersuara, seperti hantu yang lewat.

Kemudian, sesuatu berubah.

Gerakan kecil. Hampir tidak terlihat.

Jari Arif bergerak. Hanya sedikit, kedutan kecil. Tapi Doni melihatnya.

Ia condongkan tubuh, dekat sekali dengan wajah anak itu. Ia periksa dahi dengan punggung tangan.

Demam mulai turun.

Tidak drastis. Tidak seperti keajaiban. Tapi konsisten. Suhu tubuh perlahan menurun, bisa ia rasakan perbedaannya.

Napas lebih dalam. Lebih teratur. Tidak lagi cepat dan putus-putus.

Warna kulit tidak sepucat tadi. Sedikit warna mulai kembali ke pipinya.

Doni rasakan dadanya terasa ringan. Beban berat yang ia pikul sejak pagi mulai terangkat, sedikit demi sedikit.

Ia dekatkan mulut ke telinga Arif, berbisik pelan.

"Arif, bisa dengar aku?"

Tidak ada respons.

Ia coba lagi, sedikit lebih keras. "Arif, coba buka mata."

Kelopak mata anak itu bergerak.

Perlahan. Sangat perlahan. Berat seperti tertimpa batu.

Tapi bergerak.

Kemudian, mata itu terbuka.

Hidup. Masih hidup.

Sayu. Bingung. Matanya bergerak ke sana ke mari, mencoba fokus.

"Ibu..."

Suaranya hampir tidak terdengar. Serak seperti kertas kusut yang diinjak. Tapi itu suara. Suara manusia. Suara kehidupan.

...---•---...

...BERSAMBUNG...

1
Chimpanzini Menolak Nepotisme
akhirnya tari berhasil juga melawan penyakitnya. good job Doni, good job thor/Determined//Determined/
Chimpanzini Menolak Nepotisme
vigil itu apa thor?
CACASTAR
kalau kataku ya, Doni itu ketitipan roh, jadi kuat saat menangani ratusan pasien...
Tulisan_nic
Betul, saat tubuh demam memang banyak sekali cairan yang hilang. Di sarankan untuk memperbanyak minum air putih. Namun harus perlahan-lahan. Sedikit demi sedikit.
Tulisan_nic
Tari ini ada kemungkinan dehidrasi juga, sebaiknya minum secara perlahan-lahan. Karna kalau sekaligus bisa berefek mual, muntah.
Wida_Ast Jcy
Wah... akhirnya ya Don. usaha gak ada yang dia sia
Mingyu gf😘
begitu ahli dan teliti
Three Flowers
jangan merasa bersalah,Doni. Meski kamu seharusnya bisa mengobati, tapi di jaman ini semua serba terbatas. Lagipula, ada yang sakit nya sudah parah banget, meski hidup di dunia modern pun belum tentu bisa selamat. Serahkan pada takdir.
Three Flowers
Lebih baik jujur daripada memberi harapan palsu. Tapi penyampaiannya bagus, jadi di balik harapan juga ada peluang tidak selamat, tergantung kondisi si anak. Jadi tinggal menunggu takdir, yang penting sudah berusaha sebaik mungkin.
Jing_Jing22
Ki Darmo ini bener-bener ya, pinter banget memutarbalikkan fakta pakai alasan jimat! Kayaknya dia bakal jadi penghalang besar buat Doni nih.
PrettyDuck
duhh gimana ya? kalo doni nolak pun mereka bisa tersinggung gak sih? 🥲
PrettyDuck
sedihnya 😭
boro2 mau makan bergizi. bisa makan tiap hari aja mereka udah bersyukur mungkin 🥲
PrettyDuck
kalo diduitin doni bisa jadi orang kaya sih ini 🙈
DANA SUPRIYA
luar biasa kemenangan ini
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
lagi-lagi jin yang disalahkan /Facepalm//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
ki darmo hanya bisa mengandalkan mantra dan sesajian
🦋⃞⃟𝓬🧸 MULIANA ѕ⍣⃝✰
dia udah biasa melakukannya. tapi, dengan alat lebih lengkap 🤭
putri bungsu
perjuangan km nggk sia sia Don, lihat udah ada kemajuan
Mentariz
Kamu harus pecaya dengan kemampuanmu sendiri don, jangan pernah ragu, lakukan aja secara maksimal, hasilnya pasti akan baik-baik saja
Mentariz
Iya, sebaiknya kamu istirahat dulu, don
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!