Setelah tiga tahun berpisah, Rocky kembali menggemparkan hati Ariana dengan membawa calon tunangannya.
Siapa sangka CEO tempat Ariana bekerja adalah sang mantan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertengkar Dengan Mama
*****
" Hari ini aku nggak antar kamu pulang, nggak papa ya." Ucap Rocky.
Fia dan Ariana berada di lobby kantor. Sudah jam nya pulang kantor. Dan biasa nya Ariana akan pulang dengan Rocky secara mengendap - endap masuk ke dalam mobil di basemen.
" Aku harus sampai rumah sebelum Nelly mengadu yang tidak - tidak pada mama dan papa." Ucap Rocky lagi.
" Harus nya tadi kamu bisa menahan emosi kamu sama dia. Dia pasti sakit hati karena kamu mengusir nya. Aku juga nggak mau Rocky, dia semakin curiga dengan hubungan kita."
" Aku selalu emosi setiap kali bertemu dengan dia. Dia selalu memaksa kan apa yang dia mau tanpa memikirkan kesibukan aku."
" Ya harus nya tadi kamu bilang tunggu sama dia. Tunggu sampai pekerjaan kamu selesai. Nggak usah pakai usir - usir segala."
Rocky menatap Ariana dengan tatapan heran.
" Kamu belain Nelly?" Tanya Rocky curiga.
" Siapa yang belain Nelly? Aku cuma bilangin kamu. Lihat sekarang, kamu juga kan yang kebingungan. Takut dia ngadu yang macam - macam sama mama dan papa kamu." Jawab Ariana.
" Ah... dia memang bikin aku pusing. Kamu pulang naik taksi saja ya. Aku duluan."
" Pelan - pelan nyetir nya. Fokus ke jalan. Okey." Pesan Ariana.
" Oke, sayang. Bye."
Rocky sempat menyentuh lengan Ariana saat tak ada orang yang melintas di sana. Walau pun CCTV di sana selalu aktif dan pasti mereka tindakan mereka selama di kantor.
*
*
*
Sore itu, Nelly berjalan pelan menuju rumah, tangannya bergetar sedikit saat membuka pintu. Dia berusaha keras membuat raut wajah sesedih mungkin untuk mencari perhatian dari pala dan mama nya Rocky. Wajahnya menampakkan kesedihan yang mendalam, setiap langkahnya seakan membawa beban berat.
Rocky, yang biasanya mendampinginya, kali ini tak ada di sisinya. Nelly berusaha sekuat tenaga untuk menunjukkan betapa kecewanya dia karena ditinggalkan sendirian, berharap ini akan mendapatkan simpati dari calon mertuanya.
Yusnita, yang menunggu di ruang tamu, langsung menyadari sesuatu yang tidak beres saat melihat Nelly masuk sendirian.
" Sayang... kamu kenapa? Kok sedih gitu wajah nya? Rocky mana? Kamu nggak pulang dengan Rocky?" Tanya Yusnita bingung.
Kerutan di dahinya menandakan kekecewaan yang mendalam, bibirnya bergetar seolah hendak berkata namun tak jadi terucap. Yusnita mendekat dan memeluk Nelly yang mulai terisak, tangannya mengusap punggung Nelly dengan lembut.
" Katakan sama tante ada apa? Rocky mana? Kenapa kalian tidak pulang sama?" Tanya Yusnita lagi.
" Rocky mengusir aku dari kantor, tante. Tadi nya aku mau ngajak dia buat lihat - lihat perlengkapan pernikahan kita. Tapi dia malah membentak aku dan mengusir aku. Dia bilang dia sibuk, tante."
" Apa tadi Rocky memang lagi sibuk kamu lihat?"
" Sewaktu Nelly masuk ke dalam ruangan Rocky, dia sedang main hp tante. Nggak lagi sibuk makanya aku ajak keluar."
Nelly kembali menangis dalam pelukan Yusnita.
" Sudah, sayang. Jangan menangis lagi. Kamu yang sabar ya." Yusnita terus mengusap punggung Nelly dengan lembut.
Yusnita kemudian mengurai pelukan mereka. Dia membawa Nelly duduk di sofa agar dia bisa lebih tenang.
" Rocky memang sudah kelewatan sama kamu. Berani - berani nya dia mengusir kamu dari kantor." Geram Yusnita.
" Aku sedih, tante. Kayak nya Rocky kurang nyaman tante kalau aku menemui dia ke kantor?" Ucap Nelly sedih.
" Nggak, sayang. Jangan bilang begitu." Jawab Yusnita mengusap sisa air mata yang jatuh di pipi Nelly.
" Sudah sayang, jangan menangis. Nanti tante akan tegur Rocky. Ayo, kita ke kamar. Tante temani kamu istirahat. Kamu pasti capek sekali kan? Seharian menunggu Rocky kerja." Ajak Yusnita.
Di kejauhan, Rizal yang menyaksikan adegan tersebut merasa tidak tega. Ia mengerti betul bahwa Rocky tidak memiliki perasaan terhadap Nelly dan ini semua adalah keinginan Yusnita semata.
Dengan langkah yang berat, Rizal meninggalkan ruangan dan mengambil ponselnya. Jarinya mengetik nomor Rocky, matanya terlihat tegas dan ada sedikit kemarahan saat ia berbicara.
" Halo, pa." Sapa Rocky saat panggilan itu tersambung.
"Rocky, kita perlu bicara sekarang juga tentang Nelly. Kamu tidak bisa terus menghindar seperti ini." Kata Rizal.
" Maksud papa apa? Kenapa tiba - tiba bicara soal Nelly?" Tanya Rocky heran.
" Nelly baru saja sampai rumah. Dia bilang kamu mengusir dia dari kantor. Padahal dia mau mengajak kamu belanja kebutuhan pernikahan kalian. Kamu jangan kelewatan begitu dong Rocky." Jawab Rizal menjelaskan.
" Papa kan tahu aku nggak mau nikah dengan Nelly. Tapi dia malah mengajak beli kebutuhan pernikahan. Aku hanya menolak nya tadi. Tapi Nelly terus memaksa sampai aku emosi dan mengusir Nelly." Bela Rocky pada diri nya sendiri.
" Sekarang kamu dimana? Bicara baik - baik dengan Nelly. Sebelum mama marah dengan kamu." Pinta Rocky.
" Aku masih di jalan, pa. Sebentar lagi juga akan sampai rumah."
" Baiklah. Kalau begitu papa tunggu kamu di rumah."
" Oke, pa."
Rizal pun menutup sambungan telpon nya dan kembali menuju ruang tengah. Namun belum sempat dia berjalan, dia sudah melihat Yusnita baru saja keluar dari kamar Nelly dan memperhatikan Rizal dari jauh.
" Kamu telpon siapa, Mas?" Tanya Yusnita curiga.
" Habis telponan sama Rocky." Jawab Rizal dengan tenang.
" Dia bilang apa? Dimana dia? Suruh dia pulang sekarang."
" Dia bilang dia sudah di jalan. Sebentar lagi juga sampai rumah."
Yusnita mendesah dan berjalan menuju ruang tengah.
" Apa sih yang ada di pikiran anak itu. Bisa - bisa nya dia mengusir Nelly dari kantor. Dia semakin tidak punya sopan santun. Memang nya dia sesibuk itu sampai mengabaikan Nelly?"
" Mungkin Rocky memang sedang sibuk tadi."
" Tapi apa harus sampai mengusir nya? Memang nya dia tidak bisa bicara baik - baik dengan Nelly?" Omel Yusnita kesal.
" Jangan terus menyalahkan Rocky. Kamu juga harus paham hati anak kamu."
" Oh... jadi sekarang, kamu menyalahkan aku? Gitu?" Nada suara Yusnita naik satu oktaf.
Yusnita menatap nyalang ke arah Rizal. Dia tidak terima jika Rizal malah menyalahkan dia dalam hal ini. Sebagai ibu, dia merasa paling tahu dan paling berhak mengatur semua apa pun itu menyangkut kehidupan Rocky.
" Kamu terlalu egois. Nggak semua yang menurut kamu baik, itu terbaik untuk anak kamu." Ucap Rizal. Dia pun melangkah dengan santai meninggalkan Yusnita yang masih kesal pada nya.
" Kalian tuh yang egois. Papa sama anak sama saja. Nggak ada yang bisa di atur. Padahal ini semua untuk kebaikan mereka." Jerit Yusnita.
Selama ini Rizal tidak pernah berbicara keras atau pun menantang setiap ucapan yang keluar dari mulut Yusnita. Dia sadar, semua yang dia miliki sekarang itu adalah kerja keras orang tua Yusnita yang mempercayakan Rizal untuk mengambil alih semua.
Hanya sebagai suami, Rizal kadang merasa tidak punya harga diri ketika Yusnita mulai berani membentak dirinya. Hanya untuk mengemukakan keinginan Yusnita yang menurut dia adalah yang terbaik bagi dia dan keluarga nya. Namun untuk tetap menjaga keharmonisan rumah tangga nya di depan sang anak, Rizal lebih banyak memilih diam dari pada harus memperpanjang masalah.
* Jangan lupa tinggalkan reaksi kalian untuk BAB ini di kolom komentar ya.
Biar saya makin semangat menulis nya.
Terima kasih.