NovelToon NovelToon
#SALAHFOLLOW

#SALAHFOLLOW

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Berbaikan
Popularitas:117
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.

Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.

#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: DIMANA KAMU MENDAPATKAN DATA DADU KARET?

Content Warning: Bab ini mengandung deskripsi tentang dosen berkumis tebal yang menari, perbincangan grup chat yang canggung setengah mati, dan kebenaran yang lebih aneh daripada fiksi.

---

Pukul 08.57. Ardi berdiri di depan pintu perpustakaan kampus dengan mata berkantung setebal buku "Manajemen Operasi Edisi 7". Dia sudah memakai kaus polos terbaiknya (yang tidak ada noda kecap), celana chino yang sedikit menyempit di betis, dan menyemprotkan parfum sample bekas beli online ke ketiaknya tiga kali. Just in case.

Rencananya sederhana: masuk, duduk di pojok, angguk-angguk pura-pura paham saat Rendra si ketua kelompok berkoar, lalu menyelinap keluar untuk "cari referensi" yang sebenarnya adalah membalas DM Kinan dengan serius.

Tapi alam semesta, sepertinya, punya rencana lain yang lebih kacau.

"Dude, lo keliatan seperti mayat yang dicuci dengan deterjen murah," sapa Bima, teman sekelompoknya, sambil menepuk punggung Ardi. "Begadang ngerjain tugas?"

"Lebih ke... begadang menghancurkan masa depan digital," gumam Ardi, setengah pada dirinya sendiri.

"Maksud?"

"Gapapa."

Mereka masuk. Rendra sudah duduk di meja besar dengan laptop terbuka dan ekspresi "CEO startup" yang memaksakan. "Team! Silakan duduk. Waktu kita terbatas, produktivitas harus maksimal!"

Ardi duduk paling ujung, dekat pot tanaman plastik yang berdebu. Langsung membuka HP, membuka chat dengan Kinan. Dia belum membalas sejak tadi pagi. Mungkin sedang membuat konten "Morning Routine for Peak Productivity".

Rendra mulai membagi tugas. "Jadi, gue yang buat pendahuluan dan analisis pasar. Bima dan Farel, lo urus bagian metodologi. Ardi..."

Ardi mengangkat kepala, berusaha terlihat fokus.

"Lo... bikin bagian analisis data dan contoh studi kasus," ujar Rendra dengan senyum puas, seperti baru memberikan anugerah. "Gue percaya lo bisa."

Ardi merasa perutnya melilit. Analisis data? Contoh studi kasus? Dia bahkan kesulitan menganalisis kenapa indomie soto lebih enak dari padang.

"Studi kasusnya tentang apa?" tanyanya, berharap jawabannya "penjualan air mineral".

"Usaha kreatif skala mikro," kata Rendra sambil membaca slide. "Misalnya... usaha dadu karet."

Senyum Ardi membeku.

Tidak.

Bukan.

Ini tidak mungkin terjadi.

"Kita butuh data riil, Ard," lanjut Rendra. "Cari narasumber, wawancara, hitung modal, omset, segala macem. Deadline? Besok."

"BESOK?!" teriak Ardi, suaranya lebih tinggi dari yang direncanakan.

"Ya, besok kita presentasi draft ke Pak Suryo. Jangan bilang lo belum mulai?"

Ardi memandangi laptop Rendra. Di layar, ada gambar grafik dan tabel. Di kepalanya, hanya ada gambar Kinan dan emoji mata.

HP nya bergetar. DM. Dari Kinan.

kinanstudies: Gimana? Udah dapet narasumber usaha dadu karet? Aku udah siapin template excel buat hitung break even point-nya.

Ardi ingin menangis. Ini seperti dua alam semesta yang berbeda dunia tugas kelompok yang kejam dan dunia DM dengan influencer bertabrakan dan meledak tepat di wajahnya.

"Ardi, lo kenapa? Pucat banget," tanya Farel.

"Gue... gue merasa ini adalah takdir," jawab Ardi kosong.

---

Sementara itu, di kamar Kinan yang bersih dan wangi lavender, situasinya tidak lebih tenang.

Kinan sedang record Story untuk konten "Study With Me", namun sudah tiga kali gagal. Biasanya, dia bisa berpura-pura tersenyum tipis sambil menulis di planner dengan stabilo warna pastel. Hari ini, tangannya gemetar. Pikirannya melayang ke chat dengan Ardi.

Kenapa dia membantu orang asing ini?

Logikanya berkata: ini berisiko. Orang ini bisa jadi benar-benar creepy. Tapi sesuatu yang lebih dalam, yang sudah lama dipendam di balik filter dan kurasi, memberontak. Membosankan. Semuanya terlalu sempurna, terlalu terkendali. Dan Ardi, dengan kekacauan digital dan pengakuan "lelah dan malu" nya, adalah sesuatu yang... nyata.

HP nya berdering. Bukan Ardi. Tapi Rara, sahabatnya sekaligus hype woman di balik layar.

Rara (Telp): "Kin, lo beneran ngechat itu orang? Ardi apa? Gue stalk profilnya. Kasihan amat. Kayaknya dia tipe yang minum kopi sasetan."

"Rara, jangan judes," protes Kinan, tapi sedikit tersenyum. "Dia butuh bantuan tugas."

"Dan lo butuh content, sayang," balas Rara dengan nada business. "Bayangin: 'Helping a Random Follower with His College Assignment'. Itu judul YouTube yang bagus! Empati + edukasi. Bisa viral!"

"Gak akan. Ini private."

"Nothing is private, Kin. Everything is content." Rara berhenti sejenak. "Tapi hati-hati ya. Kalau dia aneh, langsung blokir."

Kinan menutup telpon. Dia melihat template excel yang sudah dia buat. Rapi, dengan rumus yang sudah terisi otomatis. Lalu dia melihat chat terakhir Ardi yang belum dibalas.

Dia mengetik.

kinanstudies: Deadline kapan? Give me the specifics.

Balasan datang hampir instan.

ardi.pras: BESOK KA. presentasi draft ke dosen killer. gue disuruh cari narasumber usaha dadu karet. gue mau nangis.

Kinan mengernyitkan kening. Besok? Itu mustahil. Tapi... ada sesuatu yang menggelitik rasa penasarannya. Tantangan. Sesuatu yang tidak terencana.

kinanstudies: Okay. Jangan nangis. Kita kerjain sekarang.

kinanstudies: Step 1: Cari usaha dadu karet di sekitaran kampus lo. Googling. IG Search. Tanya kenalan.

ardi.pras: di google cuma ada jual dadu karet di shopee ka.

kinanstudies: That's not a real business with a real cost structure. Kita butuh usaha fisik.

ardi.pras: gue coba tanya2 ka.

Ardi memandang sekeliling perpustakaan. Siapa di sini yang mungkin tahu tentang usaha dadu karet? Dia membuka grup WhatsApp angkatan.

Ardi: halo semua, ada yang tau atau punya kenalan usaha dadu karet gak? butuh buat wawancara tugas. urgent banget.

Dia kirim. Beberapa menit berlalu. Ada yang bereaksi dengan 😂. Ada yang bilang, "Dadu karet? Serius lo, Ard?"

Tidak ada jawaban yang berguna.

Lalu, sebuah pesan pribadi masuk. Dari Dita, si cewek rajin yang selalu duduk di barisan depan.

Dita: Ardi, coba tanya ke Pak Suryo aja.

Ardi: ??? kenapa?

Dita: Katanya beliau punya side hustle jualan dadu. Aku denger dari kating.

Ardi membaca pesan itu lima kali. Pak Suryo? Dosen killer berkumis tebal, bersuara mengguruh, yang nilai B dianggap sebagai berkah itu? Jualan dadu karet?

Itu sama tidak masuk akalnya dengan Kinan yang tiba-tiba follow akun meme kucing.

Tapi ini satu-satunya petunjuk. Dengan hati berdebar-debar karena alasan yang sama sekali berbeda, Ardi membalas Kinan.

ardi.pras: ka, ada info aneh. katanya dosen gue sendiri yang jualan dadu karet.

Kali ini, butuh waktu lebih lama bagi Kinan untuk membalas. Ketika balasan datang, isinya hanya:

kinanstudies: WKWKWKWK. Oke, sekarang gue harus lihat ini.

kinanstudies: Wawancarai dia. Sekarang juga. Gue bantu bikin list pertanyaannya.

Ardi menatap layar. Wawancarai Pak Suryo? Lebih mudah mencuri singgasana Raja Charles.

Tapi pilihan lain? Tidak ada.

Dengan keberanian yang didorong oleh keputusasaan, Ardi berjalan menuju ruang dosen. Di depan pintu, dia hampir berbalik badan. Lalu dia ingat deadline besok. Dan DM Kinan yang menunggu.

Dia ketuk pintu.

"MASUK!" suara dari dalam menggema.

Ardi membuka pintu. Pak Suryo sedang duduk di belakang meja, membaca dokumen dengan kacamata rendah di hidung. Ruangannya khas dosen tua: buku berserakan, papan tulis penuh coretan, dan bau kapur barus.

"Pak, permisi," suara Ardi terdengar seperti cicit tikus.

Pak Suryo mengangkat kepala. "Ardi, ya? Ada perlu?"

"Pak, saya... mau tanya tentang tugas Manajemen Operasi." Ardi maju selangkah. "Tentang... analisis break even point."

"Bagus. Lanjutkan."

"Untuk studi kasus... saya ingin menganalisis usaha... mikro kreatif." Ardi menelan ludah. "Misalnya... usaha dadu karet."

Sesuatu yang aneh terjadi. Mata Pak Suryo di balik kacamata itu berkedip cepat. Ekspresi kerasnya sedikit melunak, lalu berubah menjadi waspada.

"Dadu karet? Pilihan yang... unik," ujar Pak Suryo, suaranya lebih rendah. "Kenapa memilih itu?"

"Saya dengar... ada peluang pasar yang menarik, Pak," jawab Ardi, berbohong dengan kikuk.

Pak Suryo diam sejenak. Lalu, dengan gerakan pelan, dia membuka laci mejanya. Bukan mengeluarkan berkas tugas. Tapi sebuah koper kecil berwarna hitam.

Dengan penuh misteri, dia membuka koper itu di atas meja.

Di dalamnya, tertata rapi di lapisan busa, berpuluh-puluh dadu karet dalam berbagai warna dan ukuran. Merah, hijau, biru neon, transparan dengan glitter, bahkan ada yang berbentuk karakter anime.

Ardi terpana. Mitos itu benar.

"Usaha mikro kreatif, kamu bilang?" ujar Pak Suryo, tiba-tiba suaranya berubah, lebih bersemangat. "Ini bukan sekadar dadu karet, Nak. Ini adalah alat pengambil keputusan, alat perjudian yang aman, dan alat terapi stres. Lihat ini" dia mengambil sebuah dadu hijau neon, "ini untuk keputusan makan siang. Dan ini" dia mengambil dadu berbentuk Pikachu, "ini untuk memutuskan siapa yang bayar kopi."

Ardi hanya bisa mengangguk, otaknya tidak bisa memproses fakta bahwa dosen killer nya adalah seorang dadu enthusiast.

"Data, Pak," Ardi akhirnya berhasil berkata. "Saya butuh data untuk dianalisis. Modal, harga jual, omset..."

Pak Suryo mengangkat telunjuk. "Ah, data. Tunggu sebentar."

Dia membuka laptopnya, bukan dokumen akademik, tapi sebuah file Excel yang penuh dengan grafik warna-warni. Judulnya: "PROYEKSI OMZET DADU CHAMP 2024".

"Ini adalah passion project saya," kata Pak Suryo, tiba-tiba seperti presenter startup. "Modal awal per dadu? Rp 2.300. Harga jual? Rp 15.000. Margin? Cukup untuk membeli dua kopi tubruk per dadu terjual."

Ardi tercengang. Dia mengeluarkan HP nya, membuka chat dengan Kinan, dan mengetik cepat dengan satu tangan.

ardi.pras: KA. LU GAK AKAN PERCAYA. DOSEN GUE BENERAN JUALAN DADU KARET DAN PUNYA FILE EXCEL LENGKAP. DIA SEDANG JELASIN MARGIN KE GUE.

Balasan Kinan instan, dalam bentuk banyak pesan beruntun.

kinanstudies: WHAT.

kinanstudies: VIDEO. RECORD. NOW.

kinanstudies: Tapi jangan ketauan! Ini content gold!

ardi.pras: gue gak berani ka.

"Kamu mencatat?" tanya Pak Suryo tiba-tiba.

Ardi kaget, hampir menjatuhkan HP. "Iya, Pak! Di... notes."

"Bagus. Sekarang, untuk menghitung break even point, rumusnya adalah..." Pak Suryo mengambil spidol dan mulai menulis di papan tulis kecil di samping mejanya. Dengan penuh semangat, dia menerangkan fixed cost, variable cost, dan contribution margin.

Ardi merekam suaranya dengan fitur voice notes, sambil diam-diam membagikan live lokasi ke Kinan, seolah berkata, "Lihat, ini benar-benar terjadi."

Sepanjang 20 menit berikutnya, Ardi mendapat pelajaran Manajemen Operasi terbaik dan teraneh dalam hidupnya. Dari seorang dosen yang juga adalah pebisnis dadu karet bawah tanah.

Di akhir penjelasan, Pak Suryo menutup kopernya dengan penuh kasih sayang. "Nah, data sudah lengkap. Kamu bisa gunakan untuk tugas. Tapi" matanya menyipit, "ini antara kita saja. Jangan sampai... tersebar."

"Tentu, Pak," jawab Ardi cepat.

"Saya serius. Reputasi akademik saya harus dipertahankan."

Ardi mengangguk-angguk seperti burung pelatuk.

Saat dia hampir keluar ruangan, Pak Suryo berseru, "Ardi!"

Ardi berbalik.

"Kalau kamu butuh sample untuk perhitungan fisik... saya bisa beri satu." Pak Suryo membuka kembali kopernya, mengambil sebuah dadu berwarna emas, dan melemparkannya ke arah Ardi. "Ini edisi terbatas. Untuk pembuat keputusan berat."

Ardi menangkapnya. Dadu itu terasa lembut dan anehnya... melegakan.

---

Kembali di perpustakaan, Ardi duduk dengan wajah masih blank. Di depannya, data lengkap dari Pak Suryo. Di HP nya, chat Kinan yang penuh dengan tanda seru dan permintaan detail.

Dia mengirim semua data ke Kinan.

Lima belas menit kemudian, Kinan mengirim kembali sebuah file Excel yang sudah terisi dengan indah. Grafik, tabel, break even point yang jelas. Bahkan ada analisis SWOT kecil: Strength: Unik. Weakness: Niche. Opportunity: Market nostalgia. Threat: Dinosaurus plastik.

kinanstudies: Done. Tinggal lo susun jadi slide.

ardi.pras: ka, lo ini malaikat penyelamat. gue gak tau harus bayar pake apa.

kinanstudies: Bayarnya jangan jadi creepy lagi. Dan jangan sebar-sebar tentang dosen dadu itu. Itu our little secret.

ardi.pras: our little secret. got it.

Ardi tersenyum. Our little secret. Kedengarannya... menyenangkan.

Dia mulai menyusun slide dengan semangat baru. Bahkan Rendra terkesan. "Wah, Ard, datanya lengkap banget! Dapet dari mana?"

"Rahasia," jawab Ardi, sambil memainkan dadu emas di saku. Dadu itu terasa hangat.

Malam itu, setelah tugas kelompok selesai, Ardi membuka DM nya dengan Kinan lagi.

ardi.pras: makasih lagi ka. seriously. lo nolong gue dari krisis besar.

kinanstudies: Sama-sama. Tugasnya jadi menarik karena ada cerita dosen dadu. Aku ketawa sendiri di kamar.

Ada keheningan. Lalu, Kinan mengetik lagi.

kinanstudies: Jadi besok presentasi?

ardi.pras: iya. doain gue gak gagap.

kinanstudies: Kamu akan baik-baik saja. Data nya sudah solid.

kinanstudies: Oh, dan Ardi.

ardi.pras: iya?

kinanstudies: Kalau ada yang tanya sumber datanya... kreatif aja. Jangan jualin Pak Dosen.

Ardi tertawa. Ini mungkin adalah percakapan teraneh dan terbaik yang pernah dia alami.

Dia memandang dadu emas di meja. Dengan iseng, dia melemparkannya.

1: Send her a thank you sticker.

2: Ask her about her day.

3: Share a funny meme.

4: Ask if she wants to maybe, sometime, see the dadu collection in person?

5: Say goodnight and leave it at that.

6: Roll again.

Dadu itu berputar-putar di atas bukunya.

Berhenti di angka 3.

Dia tersenyum. Mencari meme terbaik dari koleksinya sebuah gambar burung hantu (foto profilnya) dengan caption "When you accidentally become a dice merchant's apprentice."

Dia kirim ke Kinan.

Balasan datang cepat: sebuah reaksi 😂 dan sticker burung hantu yang sama.

Mungkin, pikir Ardi, dunia tidak berakhir setelah accidental like. Mungkin itu hanya awal dari sebuah cerita yang lebih aneh, lebih kacau, dan lebih... nyata, daripada yang bisa dibayangkan oleh algoritma mana pun.

Dan besok, saat presentasi, dia akan memegang dadu emas di saku sebagai jimat.

Sementara itu, di akun TikTok tersembunyi @suryo_daduchamp, Pak Suryo sedang mengedit video terbarunya: sebuah video slow-motion dadu emas berputar di atas meja kayu, dengan caption: "When your student finally appreciates the art of decision-making. 🎲 #DaduChamp #GoldenRoll"

Tanpa dia sadari, di sudut video, terlihat sebagian wajah Ardi yang sedang terpana.

#ToBeContinued

(Besok: Presentasi, Joget, dan Sebuah Video yang Tidak Sengaja Terekam.)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!