NovelToon NovelToon
Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Kutukan / Romansa / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.

Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.

Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.

Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman Bayu

Berapa lama lagi kamu akan bersembunyi di balik seragam OB ini, Nyonya Raras Inten Cokrodinoto?

Nama itu, gelar itu, diucapkan dengan penekanan yang sinis dan mematikan di koridor yang sunyi, terasa seperti belati es yang menancap di jantung Raras.

Udara seakan tersedot keluar dari paru-parunya. Seluruh dunianya yang sudah rapuh kini pecah berkeping-keping di bawah tatapan dingin Bayu. Wajah ramah yang biasa ia lihat kini hanyalah topeng tipis yang menutupi predator yang sabar.

“Saya… saya tidak mengerti maksud Bapak,” bisik Raras, suaranya nyaris tidak keluar. Ia memaksa tubuhnya untuk tetap memainkan peran ‘Rara’, si gadis desa lugu yang kebingungan.

Bayu tertawa kecil, suara serak tanpa humor yang menggema di lorong sepi itu.

“Oh, ayolah, Nyonya. Permainan ini sudah basi. Aktingmu memang sempurna, harus kuakui. Sangat meyakinkan. Tapi mata tidak bisa berbohong.”

Bayu melangkah maju lagi, menutup jarak di antara mereka. Bau kolonnya yang maskulin dan mahal kini terasa menyesakkan.

“Mata seorang pegawai rendahan tidak akan memindai laporan keuangan dengan presisi seorang akuntan. Mata seorang gadis desa tidak akan setajam itu saat melihat ada yang salah dengan proposal tender. Dan yang paling penting,” jedanya sesaat, matanya menelusuri seragam Raras yang sedikit kebesaran.

“Mata seorang OB tidak akan memancarkan ketenangan yang sama seperti mata istri pewaris Cokrodinoto saat menghadapi masalah, meski kau merubah warna kulit dan menutupi wajah dengan riasan seperti itu, kau tidak bisa menipuku Nyonya.”

Setiap kalimat adalah paku yang menancapkan Raras lebih dalam ke dinding di belakangnya. Ia tidak bisa lari. Ia tidak bisa mengelak. Ia sudah tertangkap basah.

“Apa mau Bapak?” tanya Raras akhirnya, menanggalkan kepura-puraannya. Suaranya kini lebih datar, lebih dingin, menyembunyikan getaran ketakutan di dalamnya.

Senyum Bayu melebar, senyum kemenangan yang membuat Raras mual.

“Nah, ini baru Nyonya Cokrodinoto yang asli. Cerdas dan langsung ke intinya. Apa mauku? Sederhana sekali.”

Ia mencondongkan tubuhnya, suaranya turun menjadi bisikan konspirasi yang berbisa.

“Aku tidak akan menyakitimu. Aku juga tidak akan membongkar rahasiamu. Aku justru ingin melindunginya. Pernikahan siri Anda dengan Tuan Radya, sangat rapuh, tidak ada kepastian dari sebuah ikatan tanpa dasar hukum, iyakan? Sebuah skandal kecil saja bisa menghancurkan segalanya.”

Jantung Raras berdebar kencang. Ini ancaman.

“Bayangkan judul berita besok pagi,” lanjut Bayu, seolah sedang melukis sebuah mahakarya yang mengerikan.

'CEO muda Radya Maheswara, Menikah Sirri dengan Penjual Jamu Demi Tolak Bala.’ Reputasi yang ia bangun bertahun-tahun akan hancur dalam semalam. Logika dan citra modernnya akan menjadi bahan tertawaan. Dan Eyang Putra yang terhormat… akan dianggap sebagai patriark kolot yang mengorbankan masa depan cucunya demi takhayul.”

Raras menelan ludah. Pukulan itu telak. Bayu tidak mengancamnya, ia mengancam dua orang yang, dengan cara yang rumit, sedang coba ia lindungi.

“Jadi, apa mau Bapak?” ulang Raras, giginya terkatup rapat.

“Aku hanya ingin kau berhenti,” desis Bayu, dengan tatapan dingin pada Raras.

“Berhenti bermain pahlawan. Berhenti mencampuri urusan yang bukan urusanmu.Jika Anda di sini sebagai OB maka jadilah ‘Rara’ si OB. Sapu lantai, antar kopi, dan tutup matamu rapat-rapat. Jangan lihat apa yang tidak perlu kau lihat. Jangan dengar apa yang tidak perlu kau dengar. Anggap saja kau tidak pernah melihatku di ruang arsip. Anggap saja kau tidak pernah menyentuh komputer Pak Tirtayasa.”

Jadi dia tahu. Dia tahu segalanya. gumam Raras dalam hati.

“Jika Bapak tahu siapa aku,” kata Raras, mencoba peruntungan terakhir, “Bapak pasti tahu kalau aku tidak akan tinggal diam melihat perusahaan suamiku disabotase dari dalam.”

Bayu terkekeh geli.

“Suami? Pria yang bahkan tidak sudi berbagi atap denganmu? Pria yang menganggapmu jimat hidup pembawa sial? Jangan naif, Nyonya Raras. Kau dan aku sama-sama orang luar yang mencoba bertahan di dalam sangkar emas ini. Bedanya, aku tahu cara bermainnya .. Sedang kau...” Bayu menjeda ucapannya menatap Raras dari atas sampai bawah dengan mata mengejek.

Ia menegakkan tubuhnya, merapikan dasinya seolah percakapan mereka hanyalah obrolan ringan.

“Pilihan ada di tanganmu, Nyonya. Menjadi pahlawan kesiangan yang menghancurkan nama baik Cokrodinoto, atau menjadi istri bayangan yang patuh dan memastikan rahasia kecilmu aman. Aku memberimu waktu sampai besok pagi untuk berpikir, dan ingat Nyonya.. Kau sendirian.”

Tanpa menunggu jawaban, Bayu berbalik dan melangkah pergi dengan tenang, meninggalkan Raras sendirian dalam keheningan koridor yang terasa membekukan. Gema langkah kakinya adalah satu-satunya suara yang menemani detak jantung Raras yang kacau balau.

***

Raras tidak ingat bagaimana ia bisa sampai di rumah dengan selamat. Pikirannya kosong, dipenuhi gema ancaman Bayu. Ia terkurung, dia hanya berjalan dengan pikiran yang penuh dan berisik.

Jika ia membongkar kejahatan Bayu, ia akan menghancurkan reputasi Radya dan mempermalukan Eyang. Tapi jika ia diam, ia membiarkan serigala berbulu domba itu menggerogoti Cokrodinoto dari dalam hingga rubuh.

Raras duduk di tepi ranjangnya di paviliun tamu, menatap kosong ke dinding. Amarah, ketakutan, dan rasa putus asa bergejolak dalam dirinya. Bayu benar. Radya membencinya. Tapi kebencian Radya akhir-akhir ini terasa tidak wajar. Irrasional. Sama seperti kemarahannya soal teh jahe.

Pelet.

Kata-kata Eyang kembali terngiang. Ini energi pemikat tingkat rendah. Tujuannya bukan untuk membuat dia jatuh cinta pada si pengirim, tapi untuk membuatnya muak dan benci setengah mati pada orang lain. Pada dirimu.

Ayunda. Pasti Ayunda pelakunya. Dan Bayu… Bayu pasti tahu. Mereka bersekongkol. Sabotase bisnis dan serangan spiritual. Sebuah serangan dua arah yang sempurna.

Raras bangkit. Tekad yang dingin dan keras kini menggantikan keputusasaannya. Ia tidak bisa melawan Bayu di kantor untuk saat ini. Pria itu terlalu licin dan memegang kartunya. Tapi ia bisa melawan Ayunda di medannya sendiri. Ia harus menemukan bukti. Bukti fisik yang bisa ia tunjukkan pada Radya, atau setidaknya pada Eyang.

Dengan langkah pelan dan tanpa suara, ia keluar dari paviliunnya, melintasi taman yang diselimuti kegelapan menuju bangunan utama. Tujuannya satu, kamar tidur lama Radya. Kamar yang sudah jarang ditempati sejak Radya lebih sering tinggal di apartemennya. Jika Ayunda pernah berhasil masuk ke rumah ini, jejaknya mungkin masih ada di sana, di tempat yang tidak sering dibersihkan sedetail apartemen modern Radya.

Pintu jati tua itu tidak terkunci. Raras mendorongnya perlahan, menimbulkan suara derit pelan yang membuatnya bergidik. Udara di dalam kamar terasa pengap, beraroma kayu tua dan debu. Cahaya bulan yang masuk melalui jendela besar menerangi siluet perabotan yang tertutup kain putih. Kamar ini seperti museum masa lalu Radya.

Instingnya, yang diasah oleh ajaran almarhum kakeknya, menuntunnya. Ia tidak menyalakan lampu, hanya mengandalkan cahaya bulan dan indra perabanya. Pelet atau guna-guna sering kali disebar di empat penjuru ruangan, di bawah ranjang, atau di ambang pintu dan jendela jalur masuknya energi.

Tangannya yang gemetar meraba sudut-sudut ruangan yang gelap. Dinginnya lantai marmer merambat ke tubuhnya. Di bawah tempat tidur, ia hanya menemukan debu tebal. Di dekat jendela, nihil. Jantungnya mulai mencelos. Mungkin ia salah. Mungkin Ayunda hanya menaburkannya di apartemen.

Tapi kemudian, matanya menangkap sesuatu. Di celah antara kepala ranjang kayu berukir dan dinding, ada seberkas kain beludru berwarna merah tua yang terjepit, sepertinya bagian dari hiasan dinding yang sudah lama. Tempat yang sempurna untuk menyembunyikan sesuatu. Tempat yang tidak akan tersentuh oleh sapu atau kemoceng.

Dengan hati-hati, Raras menarik kain itu. Saat ia melakukannya, segumpal debu halus berwarna gelap jatuh ke tangannya yang ia tadahkan. Awalnya ia mengira itu hanya kotoran biasa.

Namun, saat ia membawanya lebih dekat ke cahaya bulan, napasnya tercekat.

Itu bukan debu. Itu serbuk yang sangat halus, nyaris seperti tepung, dengan warna hitam kecokelatan dan kilau aneh yang memantulkan cahaya bulan seperti serpihan mika. Hidungnya menangkap aroma yang sangat samar, aroma anyir yang manis dan memuakkan, seperti bau tanah kuburan yang dibasahi parfum murahan.

Ia mengenalinya. Ia pernah melihat kakeknya menunjukkan serbuk serupa dari pasien yang terkena guna-guna.

Serbuk Tulang Janggala. Dicampur dengan minyak pengasihan dari dagu mayat. Bahan pelet tingkat tinggi yang tujuannya bukan hanya untuk membangkitkan kebencian, tapi untuk mengunci jiwa target agar tunduk sepenuhnya pada kehendak si pengirim.

Jadi ini lebih parah dari yang Eyang duga.

Tubuhnya gemetar hebat. Ini buktinya. Bukti nyata kejahatan Ayunda. Dengan serbuk ini di tangannya, ia…

KLIK.

Suara pelan namun tajam itu memecah keheningan, datang dari arah pintu kamar.

Suara kunci yang diputar dari luar.

1
Vay
♥️♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
💜💜💜💜
Vay
💙💙💙💙
Vay
💜💜💜💜
juwita
iih ko bayu tau sih
juwita
pdhal g ush di tolong Raras biar bangkrut sekalian perusahaan. klo udh kere ap si ayunda mau sm dia
juwita
waah ternyata bayu org jahat. radya sm. eyangnya miara ular
juwita
semoga g berhasil ada yg lindungi raras
juwita
jahat si bayu mgkn musuh dlm selimut dia
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!