Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Terobosan di Tengah Hening
Malam di Jurang Ketiadaan terasa lebih pekat dari biasanya.
Di dalam ruang bawah tanah rumah batu mereka, Jian Wuyou duduk bersila di atas formasi pelindung yang ia buat sendiri.
Di hadapannya, puluhan ribu batu spiritual kualitas tertinggi, tanaman obat legendaris yang ia simpan di kantong dimensinya selama bertahun-tahun, dan inti energi dari para Jenderal Penghakiman yang ia kalahkan dulu, melayang di udara.
Ia tahu bahwa menjadi perisai bagi keluarganya tidaklah cukup hanya dengan ranah Domain Kehendak Tahap Akhir.
Lawan-lawan berikutnya adalah mereka yang telah melampaui konsep ruang dan waktu fana.
"Sudah waktunya." gumam Wuyou.
Dengan satu tarikan napas dalam, ia mengaktifkan teknik penyerapan energi tingkat tinggi.
Seketika, sumber daya yang nilainya setara dengan kekayaan satu sekte besar itu hancur secara bersamaan, melepaskan gelombang energi murni yang luar biasa padat.
Ruang di bawah tanah itu mulai bergetar hebat. Energi yang masuk ke dalam tubuh Wuyou bukan lagi seperti aliran air, melainkan seperti hantaman ombak samudra yang mencoba meremukkan setiap inci tulang dan meridiannya.
Jian Wuyou mengerang, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
Rambut putihnya bercahaya perak terang, dan dari punggungnya, muncul proyeksi raksasa dirinya yang sedang memegang pedang ke langit.
Inilah manifestasi dari jiwanya yang sedang bertarung melawan hukum alam untuk mencapai keabadian yang sesungguhnya.
KRAAAK!
Dinding-dinding rumah batu itu retak. Di lantai atas, Li Hua mendekap anak-anaknya dengan cemas, sementara Mei Lian terus memperkuat segel agar energi Wuyou tidak meledak keluar dan menghancurkan kota.
Tiba-tiba, suara dentuman halus bergema di dalam jiwa Wuyou.
Seolah-olah ada gerbang raksasa yang terbuka. Tekanan gravitasi di sekitarnya menghilang, digantikan oleh perasaan ringan yang tak terbatas.
Matanya terbuka, memancarkan cahaya perak murni yang sanggup menembus kegelapan terdalam.
Ranah Puncak Abadi Tahap Awal.
Wuyou kini bukan lagi sekadar pendekar hebat; ia adalah entitas yang keberadaannya telah diakui oleh semesta sebagai sosok yang berdiri di puncak piramida kekuatan.
Saat Wuyou melangkah keluar dari ruang bawah tanah dengan aura yang masih bergetar, ia menemukan Li Hua sedang berdiri di depan pintu utama dengan wajah pucat.
Di atas meja kayu mereka, terdapat sebuah belati hitam yang menancap pada sebuah gulungan surat berwarna merah darah.
"Wuyou... baru saja ada bayangan yang masuk lewat jendela. Dia tidak menyerang, hanya meninggalkan ini." ucap Li Hua pelan.
Jian Wuyou mendekat, mencabut belati itu tanpa ekspresi, lalu membuka gulungan suratnya.
Tulisan di dalamnya dibuat dengan tinta emas yang memancarkan energi ranah Puncak Abadi juga.
"Kepada Jian Wuyou, Sang Pencuri Waktu.
Kehadiranmu telah mengusik tidur panjangku. Seorang naga tidak seharusnya bersembunyi di lubang tikus. Aku, Penguasa Kota Tanpa Nama, mengundangmu dan keluargamu ke Istana Obsidian malam besok untuk perjamuan 'Penyambutan'.
Jika kau menolak, aku tidak menjamin kabut kelabu di sekitar rumahmu tetap aman bagi paru-paru anak-anakmu.
Tertanda, Sang Raja Buangan."
Jian An dan Jian Han, yang baru saja terbangun karena getaran energi ayahnya, berdiri di belakang Li Hua. Mereka melihat surat itu dan merasakan tekanan yang mengerikan darinya.
"Ayah... apakah kita harus pergi?" tanya Jian Han dengan nada waspada.
Jian Wuyou meremas surat itu hingga hancur menjadi debu.
Tatapannya dingin, namun ada kepercayaan diri yang baru setelah terobosannya. Ia menoleh ke arah keluarganya, lalu tersenyum tipis untuk menenangkan mereka.
"Dia bukan mengundang, dia sedang mengancam," ucap Wuyou. "Jika kita melarikan diri sekarang, dia akan memburu kita di seluruh Jurang Ketiadaan. Tapi dia melakukan satu kesalahan besar."
"Kesalahan apa, Ayah?" tanya Jian An penasaran.
"Dia mengundangku saat aku baru saja mendapatkan kekuatan untuk menghancurkan istananya," jawab Wuyou sambil menepuk bahu kedua anaknya. "Besok kita akan pergi. Bukan sebagai tamu yang ketakutan, tapi sebagai tamu yang akan menentukan siapa sebenarnya penguasa di tempat ini."
Li Hua menggenggam tangan Wuyou. "Apapun yang terjadi, kita hadapi bersama."
Wuyou mengangguk. Malam itu, ia kembali melatih anak-anaknya lebih keras dari sebelumnya.
Ia memberikan mereka beberapa butir pil dari kantong dimensinya untuk memperkuat pertahanan tubuh mereka sebelum menghadapi perjamuan berdarah di Istana Obsidian.
Jian Wuyou tahu, pertempuran besok malam akan menentukan apakah mereka bisa tetap tinggal di Jurang Ketiadaan atau harus terus berlari menuju ujung semesta yang lebih kelam.