CINTA ITU MANIS
CINTA ITU PAHIT
CINTA ITU HAMBAR
CINTA ITU INGIN TERUS BERJUANG
CINTA ITU TIDAK EGOIS
CINTA ITU INGIN DI MENGERTI
CINTA ITU PENGORBANAN
CINTA ITU HASRAT UNTUK MEMILIKI DAN MENGIKAT
CINTA ITU MELELAHKAN TAPI PENUH CANDU
CINTA ITU SELALU INGIN BAHAGIA
APAKAH SEMUA BISA MAYA DAPATKAN DARI SEORANG PLAYBOY BERNAMA REYNALDI
SIMAK NOVEL INI SAMPAI END
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liontin matahari
"Non Maya silahkan ikut saya, Tuan ingin bertemu dengan Nona," kata Tio asisten Papanya
Maya menatap Tio heran .
"Maya cepat ikut sama Pak Tio," suara Pak Robin .
"Tapi saya kan masih..." kata Maya belum sempat menyelesaikan kata-katanya.
"Sudah saya ijinkan Kamu pulang cepat," sela Pak Robin .
Maya menatap Laras yang tidak enak hati .
"Pulanglah May," kata Laras sambil mengangguk, ada seulas senyum di bibirnya.
Maya lalu mengambil tasnya dan setelah berpamitan pada Laras, Maya berjalan mengikuti Tio menuju parkiran yang berada di basement .
"Saya duduk di depan saja," kata Maya langsung membuka pintu mobil samping sopir .
Mobil berhenti di gedung graha hds yang berlantai 30. Saat keduanya memasuki lobby gedung, hampir setiap mata yang yang bertemu memandang Maya sambil berbisik Maya merasa risih tapi dia berusaha untuk cuek .
Saat memasuki lift Tio menekan tombol 29 tak berapa lama pintu lift terbuka. Di depan lift tampak seorang wanita muda cantik berdiri di belakang meja sekretaris.
"Selamat siang Pak," sapa sang sekretaris dengan hormat, matanya melirik ke arah Maya.
Tio hanya membalas dengan anggukan dan langsung menuju sebuah ruangan yang pintunya tertutup
Tok ....,...,tok .
"Masuk!" terdengar suara dari dalam.
Di ruang kerja Papanya Maya melihat Om Salim sedang berbicara serius dengan papanya .
"Assalamualaikum," sapa Maya mendekat dan menyalami keduanya.
Lalu dia duduk disebelah Papanya. Salim memperhatikan Maya sambil tersenyum.
"Maya tumbuh dengan baik Mas," puji Salim kepada Maya.
Darmawan tersenyum mendengar pujian untuk putrinya , Maya hanya tertunduk malu .
"May mau pesan sesuatu makanan atau minuman?" tanya Papanya .
"Air putih saja Pa, tadi May udah makan," jawab Maya .
"May, Papa menyuruhmu menemui Papa sekarang karena ada beberapa dokumen pribadi yang harus kamu tanda tangani," jelas Papanya sambil menyodorkan map yang berisi beberapa tumpukan kertas.
Maya menatap ayahnya tak mengerti tapi dia tak berani bertanya Darmawan sepertinya tahu kebingungan putrinya .
'Ini cuma dokumen pribadi May salah satunya paspor," kata Om Salim menjelaskan.
Maya mangut-mangut.
"Nah sekarang kamu tandatangani setiap yang ada tanda stripnya," kata Salim menyodorkan pulpen .
Dengan dibantu Om Salim Maya selesai mendatangani semua berkas .
"Oke sudah semua Mas, aku rasa urusanku sudah selesai aku pamit," ucap Salim.
"Urus secepatnya Lim," perintah Darmawan.
"May, Papa akan kirim kamu belajar ke luar negeri," kata Papanya.
Maya menatap Papanya tak mengerti .
"Secepat ini Pa?" tanya Maya merasa keberatan.
"Untuk sementara sambil menunggu musim kuliah tahun depan kamu dalami bahasa Inggris mu. Papa akan carikan akademi yang terbaik di luar negeri, Papa harap kamu tidak menolaknya," pinta Papanya .
"Tapi papa kan sudah setuju memberi waktu Maya," kata Maya .
"Ada hal mendesak," kata Papanya sambil menyodorkan iPad.
Melihat layar iPad yang berisi artikel ada gambar dirinya serta Papanya . Wajah Maya kaget seketika tanpa bisa kata-kata.
"Karena inilah Papa ingin kamu cepat pergi ke luar negeri ,ini untuk kebaikanmu sayang. Papa ingin kamu mulai menyadari statusmu sekarang akan ada banyak orang yang menyorot kehidupan pribadi mu Papa takut kamu bisa down dengar berita-berita seperti ini," kata Papanya menjelaskan .
"Oh ya masalah Mamak Mu nggak usah khawatir papa yang akan mengurus," lanjut Papanya .
Pikiran Maya tak karuan berat menerima tapi juga tidak bisa menolak .
"Ini untuk kamu sayang, bukalah," kata Darmawan menyodorkan kado kecil yang dibungkus rapi.
Maya membukanya ada sebuah kalung mas putih dengan liontin berbentuk matahari yang bergaris di tengahnya. Maya menatap wajah ayahnya lalu Darmawan mengambil kalung itu dan memakaikannya di leher Maya .
"Ingat Maya apapun yang terjadi jangan pernah kamu hilangkan atau lepaskan kalung ini, jaga baik-baik?" ucap Papanya seperti perintah.
Maya menatap Papanya digenggamnya tangan putrinya
"Ingat May jangan mempercayai siapapun, cukup kamu percaya sama papa, mengerti?" kata Papanya.
Maya mengangguk .
...--------------...
Maya menatap liontin kalung pemberian Papanya ada sesuatu yang mengganjal perasaannya tapi entahlah perasaannya menjadi sedikit gusar .
tok ....tok
ceklek
pintu terbuka terlihat kepala Aldo menyembul .
"Boleh kakak masuk May," pinta Aldo
Maya mengangguk sambil tersenyum tipis. Aldo memperhatikan wajah Maya yang kelihatan sedang galau
"Ada apa May?" tanya Aldo penasaran.
Maya menunduk sepertinya Kakaknya tahu kalau Dia sedang galau.
"Kakak baca berita di artikel?" tanya Maya menatap Aldo
"Berita sampah itu? sudah May jangan di pikirkan hanya akan menyiksa diri sendiri," ucap Aldo memberinya semangat
"Daripada kita bete di rumah mikirin hal-hal seperti itu lebih baik kita keluar," ajak Aldo .
"keluar?" tanya Maya, sambil menatap Kakaknya bingung.
"udah jangan bingung gitu. Sana ganti baju sekarang kakak tunggu di bawah ya 5 menit lagi," perintah Aldo sambil keluar kamar Maya.
"Kita akan kemana Kak?" tanya Maya saat mereka berdua sudah di dalam mobil. Aldo menengok menatap Maya sambil tersenyum tanpa menjawab pandangannya kembali ke depan.
"Aneh di tanya diam aja," gerutu Maya sambil membuang pandangannya ke luar jendela.
"Makan malam sama Keysha dan Reynaldi puas!" bentak Aldo dia sepertinya suka membuat Maya kesal dan merajuk.
Mobil memasuki sebuah hotel terkenal Maya terlihat bingung.
"Restorannya ada di dalam hotel ini May," jelas Aldo saat melihat kebingungan Maya.
Maya merasa malu dirinya benar-benar kampungan sudah berpikir yang tidak-tidak .
Beberapa pasang mata menatap kearah mereka, Aldo menghentikan langkahnya lalu memperhatikan Maya. Dia menarik napas panjang lalu Aldo menggenggam tangan Maya dan menariknya masuk ke sebuah butik yang ada di hotel itu.
"Ganti bajumu!" perintah Aldo .
Maya dibuat bingung lagi dengan sikap Aldo .
"Emangnya baju May kenapa kak?" tanya
Maya.
Aldo tidak menghiraukannya , dia memilih baju yang ada di kapstok. Dia mengambil sebuah gaun dengan lengan pendek warna biru tosca berleher v.
"Pakai ini May!" perintah Aldo .
Maya melihat gaun yang tidak sesuai dengan seleranya .
"Ayo kamu coba," suruh Aldo.
Maya ingin menolak Tapi dia tidak berani dengan berat hati Maya pergi ke kamar pas
"perfect," puji Aldo puas saat Maya keluar mengenakan gaun pilihannya.
Maya merasa risih karena gaun ini terlalu pendek dengan kerah yang rendah ia berusaha menutup dadanya dan pahanya yang sebagian terbuka.
"Kak ganti saja May nggak mau pakai ini," pinta Maya risih.
"Nggak usah itu bagus," kata kakaknya.
"Nggak mau ah," tolak Maya.
"Mbak saya ambil yang ini," kata Aldo kepada SPG counter itu sambil menyodorkan kartu kreditnya
"Jangan mbak aku nggak mau pakai ini," ujar Maya .
"May .. " kata Aldo .
"Kalau kakak maksa May pulang aja," ancam Maya .
"Oke sekarang kamu pilih sendiri," kata Aldo menyerah .
Maya mulai memilih baju yang tergantung di T-stand . Aldo mendesah Dia memperhatikan Maya yang sedang memilih baju . Dalam balutan gaun pilihannya Maya terlihat seksi .
"Sayang,' gumamnya pelan .
"Oh my God kenapa otak gue. Dia itu kan adik gue," umpatnya pada diri sendiri.
Sepertinya Maya sudah menemukan baju pilihannya.
Uda mulai muncul benih " asmara nih 🤭
Rey datang buat nyelametin maya