'GURUKU ISTRIKU, SURGA DUNIAKU, DAN BIDADARI HATIKU.'
***
Dia adalah gurunya, dia adalah muridnya. Sebuah cinta terlarang yang berakar di antara halaman-halaman buku teks dan derap langkah di koridor sekolah. Empat tahun lebih mereka menyembunyikan cinta yang tak seharusnya, berjuang melawan segala rintangan yang ada. Namun, takdir, dengan segala kejutannya, mempertemukan mereka di pelaminan. Apa yang terjadi selanjutnya? Petualangan cinta mereka yang penuh risiko dan janji baru saja dimulai...
--- INI ADALAH SEASON 2 DARI NOVEL GURUKU ADALAH PACARKU ---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Grace caroline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Pearl Hotel
Zora dan Indra merasa lega karena sesampainya mereka di dapur kompor sudah dalam keadaan mati. Entah mereka yang sudah mematikannya sebelum pergi menemui Kaesang dan Tyas atau sudah ada seorang art yang mematikannya.
Mereka duduk di meja makan, mengobrol hangat sampai tertawa-tawa bersama. Mereka menunggu Kaesang dan Tyas datang menghampiri mereka, tapi lama mereka menunggu tidak terlihat keduanya muncul di sana.
"Mas, ini Kaesang sama Tyas kok gak dateng-dateng ya? Apa mereka udah bener-bener kenyang? Sayang banget dong kita udah masak banyak-banyak," kata Zora, lalu menghela nafas kasar.
Tatapannya tertuju pada rentetan makanan yang berjajar di meja makan, hasil masakannya dengan Indra. Semua makanan itu adalah makanan kesukaan Kaesang, tapi tadi Tyas mengatakan jika mereka sudah pergi makan di restoran.
"Mungkin mereka udah kenyang. Tadi kan Tyas bilang kalau mereka udah mampir di restoran buat makan. Nggak papa, makanan ini bisa kita simpan terus panasin buat sarapan besok," balas Indra, sembari tersenyum manis.
"Ya udah deh. Ehm, btw mas, mereka kok nggak turun-turun ya? Apa mereka udah tidur? Tapi ini kan belum malam banget," kata Zora, lalu ia menoleh ke arloji yang melingkar di tangannya.
Indra mengangguk. "Mungkin aja mereka capek, udahlah biarin aja. Tadi kan mereka habis perjalanan jauh, biarin mereka istirahat," balasnya.
Kling...X2
Terdengar ponsel Indra berdering, pertanda pesan masuk. Ia meraihnya, mengetuk dua kali di layar dan layar pun menyala.
Di sana ia melihat satu buah pesan yang terkirim dari nomor Tyas.
(Pa, aku sama Kaesang lagi keluar, jalan-jalan. Mungkin agak malem kita pulangnya. Papa sama mama nggak usah nungguin kita.)
Begitu pesan yang Tyas kirimkan.
Indra lalu menoleh ke Zora, dimana Zora juga sedang sibuk dengan ponselnya.
"Sayang, Kaesang sama Tyas lagi keluar. Jalan-jalan katanya. Ini Tyas baru aja ngasih tau aku," kata Indra.
Zora menoleh, sedikit terkejut. "Ah gitu ya? Kaesang pasti nggak nyaman banget sama kedatangan Mbak Eleonor tadi. Hmm, mas, entah kenapa aku jadi takut deh sama mbak Eleonor. Tadi dia kelihatan marah banget loh setelah tau Kaesang udah menikah.
Aku takut kalau dia bakal nekat dan ngelakuin yang enggak-enggak ke Kaesang sama Tyas. Selama ini kan yang paling semangat dalam merencanakan perjodohan itu kan Mbak Eleonor. Sedangkan suaminya aja kayak acuh tak acuh tuh," kata Zora panjang lebar.
Ketakutan jelas terpancar di wajahnya. Sebelumnya Ia hanya merasa segan dengan Eleonor, tapi setelah Eleonor datang tadi ia menjadi takut dengan wanita yang mungkin seumuran dengannya itu.
"Suaminya tuh bukannya acuh tak acuh tapi dia memberikan semua keputusan ke istrinya, ya Mbak Eleonor itu. Ibarat kayak di sini itu kepala rumah tangga dan yang mengatur segala keputusan itu bukan suaminya tapi Mbak Eleonor sendiri," jelas Indra.
Zora mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ini salah sih Mas. Harusnya kan di dalam rumah tangga yang jadi kepala rumah tangganya itu kan suaminya ya, bukan istrinya? Kok ini malah kebalik?" tanya Zora. Jujur ia tidak tahu apapun tentang Eleonor dan rumah tangganya.
"Adalah ceritanya, aku tau sedikit. Nanti aku ceritain kalau nggak lupa. Kamu makan aja gih, kayaknya kamu udah laper banget tadi," jawab Indra, lalu ia menyuruh Zora untuk makan.
"Tau dari mana kamu Mas kalau aku laper?" tanya Zora.
Indra tersenyum lebar, matanya berbinar-binar saat menatap Zora. "Ya taulah. Tadi di ruang tamu itu aku nggak sengaja denger perut kamu bunyi. Lucu banget tau, aku aja sampai pengen ketawa," katanya sambil terkekeh pelan.
Zora tersentak kaget. Pipinya langsung bersemu merah, malu bukan main. Matanya berkedip-kedip, lalu dengan cepat ia menepuk tangan Indra yang tergeletak di meja. "Ish, Mas!" protesnya.
Indra masih tertawa. "kamu lucu banget sih, kayak anak ABG aja!" balasnya.
"Mas! Please deh jangan bikin aku malu. Perasaan tadi suaranya lirih banget loh, Kok kamu bisa denger sih?" tanya Zora, heran.
Indra menggeleng, tawanya masih tersisa. "Ya bisalah kan aku punya telinga Sayang. Ada-ada aja deh kamu," katanya sambil tersenyum.
"Udah udah, kamu makan aja. Nggak usah nungguin Kaesang sama Tyas. Mereka lagi keluar," lanjut Indra.
Wajah Zora langsung berubah murung. "kamu nggak makan?" tanyanya.
Indra menggeleng. "tadi sebelum pulang ke rumah aku kan udah sempet mampir di restoran buat makan. Jadi aku masih kenyang," katanya.
Zora semakin bertambah sedih. Makanan yang sebanyak ini di meja makan, hasil masakannya dengan Indra, terpaksa dingin begitu saja. Hanya ia sendiri yang memakannya.
"Sayang banget sih Mas. Masakan kita loh banyak banget ini, kok malah aku aja sih yang makan? Kamu ikut makan lah dikit-dikit," pinta Zora dengan wajah memelas, berharap Indra mau menemaninya makan.
Indra menghela napas panjang. "Oke aku makan. Tapi aku cuma makan dikit ya, soalnya aku masih kenyang," katanya, akhirnya mengalah.
Zora tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. "Nah gitu kan enak. Ya udah yuk kita makan. Aku ambilin ya?" tawarnya ramah.
Indra mengangguk, membiarkan Zora mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk mereka berdua. Setelah piring mereka terisi penuh, mereka langsung memakan makanan mereka masing-masing. Suasana makan malam begitu tenang dan nyaman, hingga akhirnya piring mereka bersih tak bersisa.
**********
Setelah beberapa saat lamanya hanya mengitari jalanan tanpa tujuan yang jelas, Kaesang menghentikan mobilnya di alun-alun kota yang saat itu terlihat ramai.
Ia dan Tyas melepas sabuk pengaman masing-masing lalu turun dari mobil.
Tyas menghampiri Kaesang, lalu mengapit lengannya. "Yang, rame banget ya," ucapnya.
Kaesang mengangguk, menatap ke keramaian di sekitarnya. "Alun-alun kota kan emang kayak begini kalau malam. Rame, banyak anak muda kayak kita yang lagi asyik nongkrong di sini," katanya.
"Tapi nggak banyak juga yang pacaran tuh," sela Tyas.
Dari mereka memasuki kawasan alun-alun kota hingga mobil mereka berhenti dan keluar dari mobil, Tyas tidak jarang melihat anak-anak muda yang sedang bermesraan di tempat ini. Ada yang hanya berpegangan tangan, mengobrol dengan hangat, atau bahkan sampai pelukan dan ciuman.
Para anak muda itu sama sekali tidak malu mengumbar kemesraan di muka umum. Tyas menggelengkan kepalanya melihat itu.
"Mereka mah anak-anak yang bebas Dear. Masa iya mesra-mesraan kayak gitu di muka umum gak malu? Kalau aku sih pasti malu banget ya ngelakuin itu dan ditonton banyak orang," kata Kaesang, mengikuti arah pandang Tyas.
Tyas masih memperhatikan dua pasangan muda yang sedang berciuman di kursi mereka. Tanpa ragu atau sungkan. Di sekitar mereka, banyak orang yang melihat, termasuk Tyas dan Kaesang.
Tangan kanan Kaesang langsung terangkat, menutupi mata Tyas.
"Nggak baik nontonin kayak gitu. Kalau pengen kita juga bisa lakuin Dear," kata Kaesang, sambil tersenyum miring.
Tyas meraih tangan Kaesang yang menutup matanya. Bibirnya mengerucut, matanya melotot tajam ke arah Kaesang. "Kamu apa-apaan sih?!" tanyanya, sedikit kesal.
Tapi Kaesang hanya diam, tidak menjawab. Ia lalu meraih tangan Tyas, menggenggamnya lembut, lalu menuntunnya kembali ke mobil. Kaesang membuka pintu mobil dan Tyas masuk dengan wajah penuh tanda tanya. Kaesang mengelilingi mobil, masuk ke kursi pengemudi, dan duduk di balik kemudi.
Keduanya memasang sabuk pengaman. Mesin mobil menyala, dan Kaesang melajukan mobilnya menuju tempat yang tidak di ketahui.
"Sebenarnya kita mau ke mana sih Yang?" tanya Tyas, matanya masih tertuju pada jalanan di depan.
Kaesang fokus menyetir. "Udah kamu ikut aja. Bentar lagi nyampe kok," jawabnya singkat.
Setelah itu suasana hening, tidak ada pembicaraan apapun diantara mereka. Sampai akhirnya mobil Kaesang berbelok, memasuki area Pearl Hotel—hotel mewah nan besar yang namanya terpampang jelas di depan.
"Yang, kok..." Tyas menggantung kalimatnya, pandangannya beralih pada Kaesang. Kaesang menatapnya dengan serius, tatapannya seperti menyimpan teka-teki. Tapi tak lama kemudian...
Bersambung...