NovelToon NovelToon
EGO

EGO

Status: sedang berlangsung
Genre:Playboy / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Paksa / Wanita Karir / Keluarga
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: si_orion

Maxwell, Daniel, Edric dan Vernon adalah keempat CEO yang suka menghambur - hamburkan uang demi mendapatkan kesenangan duniawi.

Bagi mereka uang bisa membuat mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan bahkan seorang wanita sekalipun akan bertekuk lutut di hadapan mereka berempat demi mendapatkan beberapa lembar uang.

Sampai suatu hari Maxwell yang bertemu dengan mantan calon istrinya, Daniel yang bertemu dengan dokter hewan, Edric yang bertemu dengan dokter yang bekerja di salah satu rumah sakitnya, dan Vernon yang bertemu dengan adik Maxwell yang seorang pramugari.

Harga diri keempat CEO merasa di rendahkan saat keempat wanita tersebut menolak secara terang terangan perasaan mereka.

Mau tidak mau Maxwell, Daniel, Edric dan Vernon melakukan rencana licik agar wanita incaran mereka masuk ke dalam kehidupan mereka berempat.

Tanpa tahu jika keempat wanita tersebut memang sengaja mendekati dan menargetkan mereka sejak awal, dan membuat keempat CEO tersebut menjadi budak cinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon si_orion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 20

Kedua wanita itu datang ke kafe bukan hanya sekedar untuk duduk bergosip ria berdua saja, akan tetapi ada hal lainnya. Tentu saja Chelsea yang tiba-tiba menjadi mak comblang untuk Pricilla.

Wanita itu mengenalkan salah satu teman masa kuliahnya dulu kepada Pricilla. Ya, semoga saja Pricilla suka dan Zayden bisa menerima pria itu.

"Ya, tapi aku ragu dengan bagaimana Zayden nantinya. Kau tahu kan, anakku itu tak mudah dekat dengan orang asing." jawab Pricilla.

"Eii, Dia tak akan jadi orang asing lagi jika Zayden sering bersama dengan dia. Aku yakin Zayden juga akan bisa menerima dia sebagai Ayahnya, daripada si makhluk blangsakan itu." sahut Chelsea.

"Kau yakin?" tanya Pricilla dengan raut wajah ragu.

Namun Chelsea justru mengangguk yakin. "Tentu saja aku yakin, dia sudah punya anak jadi pasti dia tahu bagaimana caranya mendekatkan diri pada anak - anak."

Pricilla mengangguk ragu pada Chelsea, ya setidaknya dia mau kembali mencoba mencari Ayah 'yang baik' untuk Zayden. Pricilla akan mencoba untuk membuka hati, karena dia pun tak bisa mengandalkan Maxwell mengenai hubungan yang serius.

Pricilla tak mungkin terus bertahan sebagai orangtua tunggal, meskipun nyatanya Maxwell mulai berperan sebagai Ayah. Namun, Pricilla sebagai wanita tentu saja memerlukan seorang suami, meskipun usianya masih terbilang muda, tapi kehadiran Zayden membuat pemikiran Pricilla menjadi dewasa. Dia membutuhkan seorang suami untuk membimbingnya dan Zayden, suami sekaligus Ayah yang akan menjadi kepala keluarga untuknya dan Zayden.

Pricilla tetaplah wanita normal biasa yang menginginkan sebuah keluarga kecil bahagia menyertai dirinya. Pricilla tak hanya ingin berperan sebagai ibu, tapi dia juga ingin berperan sebagai istri.

"Dia datang." bisik Chelsea saat mata kucingnya menangkap presensi pria yang mereka bicarakan tadi.

"maaf aku terlambat." ucap pria itu.

Chelsea dan Pricilla bangkit dari duduknya menyambut pria itu. "Tak papa, kami juga belum terlalu lama kok disini. Oh ya, perkenalkan ini  Ray, dia kakak tingkatku masa kuliah dulu. Dan Kak, ini Pricilla sahabatku."

Chelsea memperkenalkan dua orang yang hendak dia jodohkan itu, tapi sayang momen manis itu gagal ketika Ray hendak berjabat tangan dengan Pricilla, justru malah seorang pria dengan bayi digendongannya yang menjabat tangan Ray.

"Hallo tuan, perkenalkan saya  Maxwell Addison, suami dari wanita bernama Pricilla, juga Ayah dari bayi yang aku gendong ini Zayden." ucap Maxwell tersenyum menunjukkan dimplenya.

Chelsea merotasikan bola matanya geram, apa- apaan makhluk blangsakan itu. Merusak suasana, pakai acara mengaku-ngaku segala.

Ray menaikkan alisnya, menatap tanya pada Chelsea. Chelsea hendak membantah, tapi Maxwell keburu membawa kabur Pricilla.

"perkenalannya sudah, jadi izinkan saya untuk membawa istri saya pulang. Anak kami rewel ingin bersama Mamanya. Ayo sayang." ucap Maxwell dengan tidak tahu malunya langsung menarik Pricilla keluar dari kafe itu, meninggalkan Ray dan Chelsea yang mematung penuh kebingungan.

"Memanfaatkan keadaan untuk menjalang, sementara anakmu menangis ingin menyusu." sindir Maxwell, dia tak henti-hentinya mengoceh saat mereka sudah dalam mobil Maxwell.

"Setidaknya aku menjalang kepada pria kaya." jawab Pricilla enteng, wanita itu kini sedang menyusui anaknya yang rewel minta ASI.

"Jadi selama ini kau menghidupi anakku dengan uang hasil menjalang, huh?!"

"Itu jauh lebih baik daripada aku tak membiayai anakku sama sekali." balas Pricilla.

"Kenapa kau tak mengatakannya sejak awal?!" tanya Maxwell frustrasi. Rasa sesal terus menggerogotinya ketika mengingat bagaimana perlakuannya dulu pada Zayden, darah dagingnya sendiri.

"Aku sudah membawa Zayden padamu, tapi kau malah menuduhku yang tidak - tidak." jawab Pricilla.

"Kenapa kau tak mengatakannya saat kau hamil?"

"Membawa Zayden yang sudah lahir pun kau tak mau mengakuinya, apalagi saat aku masih hamil, kau mungkin akan berbuat lebih gila daripada sekedar mencabut rambut Zayden. Kau mungkin akan menyuruhku untuk menggugurkannya, atau mungkin kau tak akan pernah mau mengakuinya." jawab Pricilla lagi.

"Kau pikir aku segila itu?! Mana mungkin aku berbuat gila jika kau memberikan buktinya padaku secara langsung."

"Seharusnya kau mampu membuktikannya dengan cara yang baik, bukan malah menyakiti anakku."

"Aku tidak menyakiti Zayden."

"Mencabut satu helai rambut Zayden secara paksa dan membuat dia menangis kencang bahkan hingga tak bersuara, menurutmu itu tidak menyakitinya?!" seru Pricilla.

Maxwell terdiam, tak menjawab ucapan Pricilla. Dia mengertakkan giginya, dia kalah berdebat dengan Pricilla. Apa Pricilla tak sadar bahwa kini Maxwell sudah mulai luluh? Kenapa wanita itu tak bisa menerima kehadirannya? Pricilla hanya menerima Maxwell untuk Zayden.

Maxwell memang pria brengsek dan gila, tapi ketika dia melihat Zayden dan tahu bahwa bayi itu adalah anaknya, hati Maxwell mencair. Kehadiran Zayden menjadi pendorong Maxwell untuk memulai sebuah hubungan. Dan hubungan itu dia ingin bangun dengan Pricilla, bersama Zayden.

Terdengar gila memang saat dulu Maxwell dengan keras kepala menyanggah, tapi kini justru dia yang terbuai. Tapi semenjak dia membuka mata kala itu, dan didepannya adalah Pricilla dan Zayden yang sedang tertidur. Semenjak dia menyadari mereka tidur bertiga dalam satu ranjang, ada suatu keinginan dalam diri Maxwell untuk bisa seperti itu setiap hari, setiap dia membuka mata dia ingin pemandangan itu yang pertama kali dia lihat.

Maxwell merebut Zayden dari gendongan Pricilla begitu mereka sampai diparkiran apartemen. Bayi itu sudah lelap tertidur setelah kenyang menyusu.

Maxwell menidurkan Zayden dikamarnya, setelah dia menyeret Pricilla masuk ke dalam kamar tamu.

"A-apa yang kau lakukan?" tanya Pricilla gugup ketika Maxwell melemparnya ke ranjang.

"Ayo kita reka ulang kejadian 2 tahun yang lalu." ucap Maxwell melepas jaketnya lalu melepas kaosnya dan melemparnya sembarang.

Pricilla menelan ludahnya melihat tubuh shirtless Maxwell. "Apa maksudmu?"

"Reka ulang kejadian 2 tahun yang lalu. Aku akan menghamilimu 'lagi' dan setelah itu datanglah padaku. Aku akan membuktikan bahwa aku akan bertanggungjawab atas apa yang telah aku lakukan." jawab Maxwell menarik pinggang Pricilla dan menindihnya.

"Ayo buat adik untuk Zayden." bisik Maxwell sebelum pada akhirnya dia menyentuh Pricilla 'lagi'.

Pengalaman bercinta kedua Pricilla setelah sekian lama, bersama dengan pria yang sudah dengan brengseknya merenggut keperawanannya dan membuatnya menjadi seorang Ibu muda.

Maxwell memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada tubuh Pricilla, tapi wanita itu tak memberikan ekspresi apapun. Wajah cantik itu terlihat datar bahkan saat Maxwell menyentuh tubuhnya.

"Jangan menahannya. Kau bisa mendesah hebat seperti saat pertama kali aku menyentuhmu."

Pricilla diam tak menjawab, dia hanya berharap Zayden akan bangun dan menangis untuk menyelamatkan Ibunya. Namun sayangnya, Zayden sepertinya lebih berpihak pada sang Ayah. Sebab bahkan ketika mereka memasuki ronde kedua, Zayden masih tidur dengan tenang di kamar sebelah. Zayden mungkin membiarkan kedua orangtuanya supaya dia mendapatkan adik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!