Anila mencoba meraba disekitarnya hingga dia merasakan ada dinding di sebelah kirinya. Dia berjalan melangkah ke depan.
Tapi dia tersandung oleh sesuatu membuat dia jatuh ke tanah.”Ini dimana sih kenapa semua gelap. Seharusnya ini masih siang. Kenapa gelap sekali,”ucap Anila dengan wajah binggung. Tapi dimana saat itu Anila berada akan dia bisa keluar dari kegelapan itu dan kembali ke tempat asalnya. Anila akan bisa menemukan teka-teki yang dia dapatkan?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
“Kalian sedang membicarakan apa?,”tanya Anila ke arah Bani dan yang lain.
“Tidak ada,”jawab Bani dengan santainya.
Anila yang tidak perduli melihat ke arah Hanan yang melihat ke arah Baki. Karena tidak ada yang salah Anila hanya bisa kembali fokus melihat api unggun yang dibuat Harits. Anil a kemudian berdiri hendak ingin melihat situasi di sekitarnya. Anila yang tidak bertanya hanya bisa diam dan mengelurkan catatan untuk dia menulis.
Babon yang juga melihat Anila bertanya,”Apa yang kamu tulis Anila?.”
Anila melihat ke depan dimana Babon duduk. Wajah yang ramah dan tidak ada yang aneh.Anila menjawab dengan santai,”Aku hanya menulis pengalaman perjalanaku untuk dijadikan novel saja.”
“Anda seorang penulis?,”tanya Babon.
“Bisa dikatakan seperti itu. Tapi masih baru, jadi belum terlalu terkenal untuk menambah uang saku saja,”ucap Anila dengan wajah tersenyum.
“Itu sangat hebat. Tapi kenapa anda ingin pergi ke hutan seperti ini. Apa anda sedang mencari refensi untuk ide novel anda,”ucap Babon. Anila menggelengkan kepalanya saja.
“Jika tidak lalu untuk apa?,”tanya Babon lagi.
“Hanya ingin tahu sesuatu saja,”ucap Anila tidak memberitahuka tujuan dia pergi ke hutan Tratam. Harits yang melihat dar jauh Anila sedikit tidak senang dengan Babon yang bertanya kepada Anila. Tapi perasaan itu dirasakan oleh Anila.
“Kak Harits ada apa?,”kata Anila. Harits tidak menjawab Anila hanya bisa melihat sekitarnya.
“Biarkan saja dia Anila,”jawab Bani.
“Ohhh iya kak menurut kamu semut berwarna itu tinggal dimana?,”tanya Anila yang tadi merasa penasaran.
“Untuk apa kamu ingin tahu. Kamu takut kalau disini ada semut berwarna,”jawab Hanan dengan cetus.
“Aku hanya bertanya saja, kenapa kak Hanan melihat aku seperti itu,”ucap Anila balik membalas.
“Itu bukan urusan kamu,”kata Hanan dengan wajah cemberut. Baki melihat Hanan hanya bisa menggelengkan kepalanya saja dengan helaan nafas pendek.
“Hanan kenapa kamu seperti itu. Anila hanya bertanya saja kenapa kamu merasa kesal. Apa ada yang salah dengan pertanyaan Anila barusan,”ucap Bani membantu Anila.
“Tidak sih. Tapi aku merasa dia itu pengganggu saja,”jawab Hanan dengan jujur. Anila mendengar itu sedikit memiringkan kepalanya karena bingung.
“Jangan di pikirkan Anila,”ucap Baki.
“Kalau begitu aku akan katakan kepada kamu. Semut berwarna berwarna tinggal di tanah yang berlimpah dengan kondisi yang baik. Jadi tidak mungkin untuk tinggal di hutan seperti ini. Tapi itu bisa dikecualikan karena ucapan Babon kalau ada semuat berwarna disini,”kata Hanan dengan berat hati menjawab pertanyaan Anila.
“Bagaimana kalau semut berwarna membuat sarang di hutan atau di atas pohon bukan di tanah. Apa yang akan terjadi?,”tanya Anila dengan pertanyaan lain.
Hanan tertawa dengan pertanyaan dari Anila sehingga dia berkata,”Itu tidak mungkin karena itu ciri khas dari semut berwarna.”
“Sudah cukup untuk membahas semut berwarna. Kita harus melanjutkan perjalanan kita,”kata Babon. Mereka mulai membereskan semuanya barang dan mulai melangkah ke tempat selanjutnya.
Di perjalanan Anila melihat ke atas pohon dan beberapa tanah di hutan saat mereka lewat. Tapi saat mereka sudah jauh dari lokasi mereka beristirahat Anila merasakan ada yang salah dengan hutannya. Anila melihat ke atas pohon dia seperti melihat sesuatu. Anila menujukan ke arah atas sambil berkata,”Apa itu disana?.”
Semua melihat ke atas yang di tunjuk oleh Anila. Mereka melihat sebuah sarang semut dia atas sana membuat mereka terkejut.Apa lagi untuk Hanan melihat itu sangat terkejut dengan apa yag di tunjukan oleh Anila.”Itu bagaimana bisa ada semuat berwarna diatas pohon?,”ucap Hanan karena tidak tahu harus berbuat apa.
“Semua tetap waspada jangan membuat keributan agar mereka tidak sadar kalau kita ada disini,”kata Harits. Karena belum ada pergerakan mereka segera menjauh dari lokasi pohon. Tapi saat mereka menjauh malah bertemu sarang yang lebih besar.
Anila tersenyum dan berkata,”Bagaiman sekarang kita, pergi ke depan?.”
Hanan segera mengeluarkan obatnya untuk berjaga. Tapi saat dia hendak mengelurkan obatnya semut sudah mulai bergerak dan merayap ke tubuh mereka semua. Semua segera bergegas menghindar dan membersihkan semut yang datang dari kaki mereka. Berlari menjauh dari sarang semut berwarna. Setelah sudah agak jauh dari sarang semut berwarna mereka melihat aliran sungai yang kecil. Mereka menuju aliran sungai kecil untuk menghindari semut yang sudah mengejar mereka dari sarangnya dengan jumlah yang banyak.
“Apa kita sudah aman,”ucap Bani dengan wajah terengah-engah karena berlari.
“Kurasa sudah, mereka tidak akan datang ke sisi kita karena air ini,”ucap Hanan menjawab dengan wajah lelah karena berlari. Para semuat yang tadi mengejar secara berkelompok mulai menjauh dari mereka. Karena para semut tahu kalau wilayah dekat sungai kecil bukan wilayah mereka.
“Akhirnya mereka pergi juga,”ucap Baki. Tapi Anila masih waspada melihat sekitarnya dengan wajah sedikit perasaan gelisah. Harits yang menyadari itu bertanya,”Mereka sudah pergi.”
“Aku tahu mereka sudah pergi. Tapi ini sangat aneh bukan,”kata Anila. Semua segera berpikir dengan kata Anila berbeda dengan Hanan yang sama sekali tidak perduli dengan bahaya lain.
“Apa yang kamu kamu khawatirkan semut tidak akan datang ke sini. Kita hanya perlu menjauh lewat rute air ini saja biar aman,”ucap Hanan.
“Kamu benar, tapi apa benar itu aman. Babon?,”tanya Anila. Babon yang dengan wajah sedikit cemas berkata,”Kita harus pergi dari aliran sungai ini dengan cepat?.”
“Ada apa Babon, kenapa kamu tampak gelisah,”kata Baki.
Harits yang sadar berkata,”Cepat pergi dari sini ada yang datang dengan cepat.”
Semua menoleh ke arah Harits. Tapi tidak untuk Anila dia juga bisa merasakan bahaya yang datang segera berlari. Semua melihat Anila segera mengikutinya dengan wajah cemas. Babon yang juga berlari disusul dengan Hanan. Baki dan Bani yang terakhir adalah Harits untuk melihat kalau mereka semua sudah ada didepan dia.
Mereka kembali berlari hingga cibratan air dari sungai mengenai mereka. “Kita pergi kemana sekarang,”ucap Hanan.
“Lari saja terus,”ucap Baki. Tepat mereka sudah lari jauh satu persatu mulai berhanti. Tapi Anila berkata,”Kenapa berhenti, cepat pergi dari sini.”
“Kamu tidak lelah Anila. Kita lari dari tadi. Sebenarnya bahaya apa yang kalian khawatirkan sebenarnya,”ucap Hanan dengan wajah berkeringat.
Di belakang dari dalam air ada yang datang mendekat ke arah mereka. Harits yang siap menghempaskan pedangnya untuk menghentika bahaya didalam air. Mata melihat ke arah Harits yang sudah menghenduskan pedagnya hingga tampak seperti ular yang jernih. Hanan yang tahu segera berkata,”Lari.”
Semua mulai berlari lagi hingga mereka melihat daratan. Mereka terus berlari hingga sampai didaratan. Harits yang masih ada di belakang melawan ular jernih itu. “Bagaimana kondisi kamu kak Harits,”ucap Anila melihat Harits sudah kembali. Harits hanya diam saja dengan wajah sedikit tersenyum untuk jawabanya. Anila melihat wajah Harits yang tersenyum segera paham kalau dia baik saja.Tapi sebenarnya ular apa itu kenapa mereka berlari?.