"Kau tidak punya pilihan lain selain menikah dengan ku Embun."ucap Alfaro.
Sementara gadis yang kini tengah menundukkan kepalanya itu tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Hanya karena satu peristiwa yang terjadi di malam kelahirannya gadis itu harus terjebak bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Bagaimana bisa ada kesalahan seperti ini, seharusnya anda semua bisa memastikan semuanya sebelum menyampaikan sesuatu yang bersifat penting seperti ini. Bagaimana jika saya memiliki riwayat penyakit jantung."ucap Embun yang tidak terima akan hal itu karena menurutnya semua sudah keterlaluan.
"Maaf kan kami"ujar dokter tersebut.
"Baiklah tapi setelah ini semua harus bisa dipastikan bahwa semua harus benar-benar tepat."ucap Embun yang akhirnya pergi dari ruangan tersebut.
Sesampainya di IGD Embun merasa sedikit lega karena ternyata ada kesalahan teknis yang terjadi pada pemanggilan tersebut.
"Bagaimana hasilnya mam, apa ada yang serius?"ujar Damian.
"Kesalahan teknis."ucap Embun yang menghampiri Dilara.
"Dilara tidak kenapa-kenapa kan mam."ujar Dilara.
"Tidak sayang kamu hanya demam biasa."ucap Embun yang kini mengusap lembut puncak kepala putrinya itu.
"Mam aku ingin pulang disini tidak nyaman ada bau obat."ucap Dilara.
"Sayang tapi dokter belum mengijinkan mu untuk pulang sekarang."ucap Embun dengan lembut.
"Tapi mam..."ucap Dilara yang memang tidak terbiasa dengan suasana rumah sakit karena setiap kali dia sakit tuan Gavin akan meminta dokter pribadi nya untuk merawat Dilara di rumah sampai cucu angkat nya itu sembuh.
"Nona Dilara ada akan dipindahkan ke ruang VVIP atas permintaan daddy anda."ucap sang dokter yang baru saja datang.
Sontak Embun membulatkan matanya begitu juga dengan Damian. Mereka tidak pernah menyangka bahwa pria itu masih peduli dengan mereka saat ini, entah mereka harus senang atau marah dengan hal itu.
Hingga saat seseorang datang menghampiri Embun, dia adalah asisten pribadi Alfaro yang meminta Embun untuk ikut dengan nya.
Awalnya Embun ingin menolak tapi dia melihat keseriusan pria itu jadi tidak tega untuk menolak mengingat pria itu pernah berjasa dalam hidup nya saat Alfaro hampir mencekik nya karena terbakar cemburu saat itu.
Embun pun bilang sama Damian untuk menjaga adiknya sampai urusan Embun selesai.
Sampai saat embun tiba di ruang VVIP dimana disana ada Alfaro dan keluarga nya yang kini menatap lekat kearah wanita cantik yang terlihat berpenampilan rapi dan anggun tersebut.
"Babe masuk lah."ucap Alfaro saat melihat Embun di ambang pintu.
"Maaf tuan, ada perlu apa ya dengan saya?"tanya Embun dengan santainya.
"Babe."lirih Alfaro.
"Embun... tolong maafkan saya, saya punya banyak kesalahan sama kamu dan anak-anak mu, tolong izinkan aku untuk bertemu dengan cucu ku untuk yang terakhir kalinya."ucap nyonya Wijaya.
"Maaf nyonya, siapa yang anda maksud?"tanya Embun yang terlihat datar.
"Babe please tolong lupakan semua yang terjadi di masalalu, mommy sudah menyadari kesalahannya dan dia ingin kita kembali bersama."ucap Embun.
Embun langsung menggelengkan kepalanya karena tidak terima dengan itu, bagaimana bisa setelah membuat anak-anak nya kehilangan kebahagiaan nya, wanita itu seenaknya meminta maaf padanya dan meminta ingin bertemu dengan anak nya yang sudah dia hina habis-habisan.
"Maaf saya tidak bisa."ucap Embun yang kini berbalik dan hendak melangkah pergi tapi Alfaro langsung meraih pergelangan tangan Embun.
"Babe please, bukankah ini yang kita inginkan sejak dulu pengakuan dari keluarga ku."ucap Alfaro.
"Sayangnya sekarang tidak lagi, setelah kalian memberi luka yang sulit untuk disembuhkan hingga membuat mereka kehilangan kebahagiaan nya, kalian seenaknya meminta maaf dan ingin bertemu dengan mereka, itu tidak akan pernah terjadi."ucap Embun tegas sambil menghempaskan genggaman tangan Alfaro.
"Babe please aku benar-benar minta maaf, tolong aku sekali ini saja mommy sudah tidak mungkin bertahan lebih lama lagi setidaknya anggap saja kamu sedang menolong ku."ucap Alfaro yang kini berlutut di hadapan Embun.
Ibunya Alfaro pun menangis sesenggukan saat melihat putranya berani merendahkan diri dengan berlutut di hadapan orang lain meskipun Embun adalah mantan istrinya yang merupakan ibu dari anak nya.
Alfaro masih berlutut di hadapan Embun yang kini menatap datar kearahnya."Aku tidak bisa melakukan itu tuan, jika anak-anak bersedia maka lakukanlah sendiri, aku sudah berusaha untuk menyembuhkan luka di hati mereka, dan aku tidak mungkin membuat luka itu kembali terbuka."ucap Embun yang akhirnya melangkah pergi.
Alfaro pun langsung bangkit dan berusaha untuk mengejar Embun yang kini bercucuran air mata karena semua itu mampu membuat luka lama yang hampir sembuh terkoyak kembali.
Embun terduduk di kursi tunggu tepat di lorong rumah sakit dengan tangis tanpa suara, tubuhnya bergetar hebat sampai Alfaro menghampiri nya dan berjongkok di hadapannya memeluk erat Embun dan ikut menangis meminta maaf.
"Maafkan aku babe... maafkan aku, kamu boleh bunuh aku jika itu bisa membuat mu mau memaafkan semua kesalahanku."ucap Alfaro.
"Tolong menjauh dari aku dan anak-anak, aku kembali kesini demi mereka yang sedang mengurus semua bisnis nya."ucap Embun.
Alfaro terdiam, dia sudah berusaha menguatkan diri untuk tidak menemui mereka bertiga demi mengikuti keinginan sang mommy yang kini tengah menunggu ajal tiba.
"Mam Dilara muntah-muntah."ucap Damian yang kini terlihat sangat panik sambil berlari menghampiri Embun.
Sontak wanita itu beranjak dan berlari dengan tangisnya diikuti oleh Alfaro dan Damian yang kini mengikuti dia dari belakang.
Alfaro pun bertanya."Sakit apa adik mu Boy."ucap nya yang membuat Damian menghentikan langkahnya.
"Apa peduli anda tuan, saya harap anda tidak usah lagi menemui ibu saya karena diantara kalian saat ini sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi."ucap Damian yang membuat langkah Alfaro terhenti karena hatinya begitu tersayat.
"Boy daddy minta maaf."ujar Alfaro lirih yang kini menghentikan langkah Damian.
"Setelah dua puluh tahun lamanya anda baru meminta maaf saat ini, mungkin ini terdengar kejam tapi hewan buas saja tidak akan pernah menelantarkan anaknya meski untuk beberapa saat kecuali saat bertarung dengan musuh. Tapi anda bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan hewan tersebut."ucap Damian yang kini berbalik pergi.
Alfaro terduduk di lantai dengan tangis nya, tubuhnya bergetar hebat dia tidak marah pada Damian karena semua yang putranya katakan itu adalah sebuah fakta, dia bahkan lebih rendah dari hewan.
Sampai saat seseorang mengulurkan tangannya."Aku bisa membantu mu mendapatkan mereka kembali tapi aku memiliki syarat untuk kau penuhi."ucap wanita yang tidak lain adalah istri dari Alfaro sendiri.
"Apa kau pikir aku akan percaya pada pengkhianat seperti dirimu."ucap Alfaro.
"Mereka sudah memiliki segalanya apa kau pikir mereka masih membutuhkan mu."ucap wanita itu lagi.
"Aku daddy mereka dan aku yakin mereka akan menerima ku cepat atau lambat."ucap Alfaro.
"Jika itu terjadi maka aku akan dengan senang hati mengundurkan diri rumah tangga kita."ucap nya.
"Pegang kata-kata mu itu."ucap Alfaro.
"Ah masih saja sombong dan angkuh seperti nenek tua yang sebentar lagi akan bertemu malaikat maut itu."ucap wanita yang kini masih berdiri di tempat nya.
...🪵🪵🪵...
Sementara itu di ruang rawat inap Dilara baru saja selesai ditangani setelah muntah-muntah, gadis cantik itu terkena infeksi lambung mungkin karena makanan yang tidak biasa mereka makan selama ini masuk kedalam perut nya.
Dilara pun sudah berbaring kembali diatas hospital bed yang ia tempati, sementara dan Embun duduk di samping nya mengelus puncak kepala putrinya sambil menggenggam tangan Dilara.
Alfaro sendiri kini menerobos masuk kedalam dan langsung menghampiri keduanya yang tidak menghiraukan Alfaro.
"Babe bagaimana keadaan putri kita?"ucap Alfaro.
"Hmm...."lirih Embun seakan enggan untuk bicara.
"Apa perlu dokter spesialis untuk menangani nya babe?"tanya Alfaro.
"Tidak usah repot-repot dia sudah ditangani oleh dokter."ucap Embun.
"Babe, aku tau aku bukan daddy yang baik untuk mereka. Tapi sekali lagi saja tolong berikan aku kesempatan untuk menebus semua dosa-dosa ku terhadap kalian semua."ucap Alfaro.
"Jangan lagi mengulangi kesalahan yang sama, kau sudah bahagia dengan hidupmu selama ini untuk apa lagi kau datang padaku tuan."ucap Alfaro.
Alfaro menatap sendu pada wanita yang sangat ia cintai itu."Babe aku berani bersumpah jika bukan karena mommy aku tidak akan pernah meninggalkan kalian semua, aku hanya tidak ingin menjadi anak durhaka dan sekarang dia sedang tidak baik-baik saja aku mohon tolong maa"
"Tuan nyonya besar kritis."ucap asisten pribadi Alfaro yang terlihat ngos-ngosan karena berlarian mencari keberadaan Alfaro.
Alfaro pun langsung berlari dengan kencang dengan air mata yang terus menetes saat ini, dia benar-benar putus asa karena tidak bisa mengabulkan keinginan ibunya untuk terakhir kalinya yaitu bertemu dengan kedua cucunya itu.
Alfaro yang baru saja tiba di ruang rawat inap sang mommy dia langsung berteriak."Mommy!!"teriak Alfaro saat melihat sang mommy sudah tak lagi bernyawa.
"Mommy bangun mommy maafkan kesalahan Alfaro."ucap Alfaro dengan tangis pilunya.
Alfaro masih menangisi kepergian ibunya bersamaan dengan keluarga lainnya, disaat itu tidak ada yang tau salah satu adik perempuan nyonya Wijaya justru terlihat biasa saja.
Wanita itu bahkan terlihat cuek dan tidak menitikkan air mata sedikitpun. Mungkin jika selama ini nyonya Wijaya berpikir dia tidak memiliki saingan cinta di luar sana. dan tanpa disadari nya ternyata orang terdekat nya lah yang menjadi saingan tersebut.
Ya, tuan Wijaya bahkan memiliki dua simpanan yang selama ini tertutup rapat, dan itulah kenapa dia tidak pernah ikut campur dalam urusan Alfaro saat istri pertamanya itu menentang keras hubungan antara Alfaro dan Embun.
Dia hanya mengiyakan permintaan istrinya itu tidak curiga dengan perbuatan nya selama ini.
Nyonya Alfaro yang kini tengah dimandikan di rumah duka, tidak lagi bisa melihat kelicikan adik kandung nya yang justru tengah duduk di pangkuan tuan Wijaya yang sedari tadi berada di dalam kamar karena alasan duka.
Hanya Alfaro dan orang-orang kepercayaannya yang saat ini mengurus semuanya, semua keperluan almarhum sampai proses pemakaman itu berlangsung.
Secepatnya jasad dipendam karna tak lagi dibutuhkan, diri yang semula dipuja kini bangkai tak bernyawa. Itu lah manusia semua tidak ada yang abadi didunia ini.
Jika dulu nyonya Wijaya selalu membanggakan diri sendiri, dan selalu memastikan semua berjalan sesuai dengan kemauan nya. Tapi sekarang semua telah berakhir puncak kekuasaannya sudah berakhir bahkan orang-orang yang bersikap baik terhadap dirinya selama ini kini bahkan tidak sedikitpun peduli padanya.
Bahkan suami yang seharusnya mendampingi nya hingga peristirahatan terakhir nya, dia justru sibuk bercinta dengan wanita yang tidak lain adalah adik iparnya sendiri. Sungguh miris.
Alfaro tidak menyadari hal itu, dia hanya berfikir ayahnya tidak sanggup untuk melihat pemakaman tersebut saat ini. Dia pun bisa memaklumi hal itu.
Sementara Embun sendiri kini berada di kejauhan menatap lekat kearah orang-orang yang kini mulai bubar dari pemakaman.
Dia tidak melanjutkan langkahnya saat melihat Alfaro menatap kearah nya, Embun langsung bergegas pergi meninggalkan pemakaman tersebut hingga berlalu pergi dengan mobilnya.
Embun sendiri tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada nya yang tiba-tiba pergi kesana.
Alfaro hendak mengejarnya namun dia melihat Embun sudah berlalu dengan mobil nya. Setidaknya Alfaro tau bahwa Embun masih memiliki kepedulian terhadap dirinya.
Meskipun saat ini Embun pergi, Alfaro tau wanita yang dulu ia campakkan karena restu orang tua itu masih memiliki cinta yang sama dengan nya.
Alfaro pun kembali memiliki kekuatan untuk bertahan hidup dan berjuang untuk mendapatkan kembali apa yang telah hilang darinya selama dua puluh tahun lebih itu.
Alfaro yang kini bangkit setelah mengusap lembut batu nisan yang bertuliskan nama sang mommy dengan lembut.
"Al pulang mom, maafkan Al yang tidak pernah bisa mengabulkan permintaan mommy untuk terakhir kalinya. Tapi Al janji akan membawa mereka pulang ke rumah kita seperti yang mommy inginkan selama ini."ucap Alfaro lirih.
Alfaro berjalan berdampingan dengan asisten pribadinya yang kini memayungi dirinya, langkah Alfaro masih terlihat gontai hingga dia tiba di dalam mobilnya, dia tidak langsung pulang ke rumah melainkan pergi menuju rumah sakit dimana putrinya tengah dirawat saat ini.
Alfaro berharap Embun mau kembali bersama dengan nya meskipun itu adalah hal yang mustahil untuk saat ini, tapi dia akan terus berjuang seperti janjinya dulu dia akan kembali setelah beban berat dalam hidupnya sudah tidak ada lagi di sisinya.
Alfaro tidak pernah membenci ibunya meskipun nyonya Wijaya selalu mengekang hidup nya. Alfaro bahkan sudah berusaha untuk menjadi anak yang berbakti meskipun dia harus kehilangan seluruh harta berharga nya yang tidak lain adalah istri dan anaknya.
Beban yang dimaksud oleh Alfaro adalah tanggung jawab nya sebagai anak yang harus berbakti pada kedua orang tuanya yang kini sudah tidak ada lagi di dunia ini kecuali sang daddy yang selama ini tidak terlalu ikut campur dalam urusan nya.
"Babe."lirih Alfaro saat melihat kedua anak nya terlelap dalam tidurnya dan Embun masih setia duduk di samping bed pasien untuk menjaga putrinya itu.
"Ini sudah larut dan anda sedang berduka kenapa justru malah pergi kemari."ucap Embun lirih.
"Babe aku sudah menyelesaikan tugas ku sebagai seorang anak dari ibuku, sekarang aku kembali padamu."ucap Alfaro.
ajaran dari mana itu ????????