Dia tidak pernah bermimpi untuk menjadi seorang raja.
Namun jiwa seorang pemimpin sudah melekat sejak kecil dalam dirinya. Dan darah seorang raja mengalir dalam tubuhnya.
Carlos, seorang pemuda yang menjadi pewaris dan penerus dari kakek moyangnya Atalarik attar.
Namun tidak semudah seperti apa yang dibayangkan, rintangan demi rintangan harus ia hadapi. Mampukah Carlos menghadapinya?
Penasaran? Baca yuk!
Cerita ini hanya fiksi belaka tidak ada kaitannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Kini mereka sudah berada di dalam hutan. Ada yang membawa panah dan ada yang membawa pancing.
"Kak, kalau mau mancing disitu," tunjuk Sofia. Ada sebuah sungai yang jernih dan mengalir sampai ke dekat tempat tinggal Sofia.
Axelle pun berjalan menuju sungai. Dan benar saja, banyak terdapat ikan kecil-kecil yang sedang berenang.
"Kamu beli berapa buah joran nya?" tanya Diyan.
"Dua, kalau mau ambil didalam tas ransel ku," jawab Axelle.
Mereka berdua pun memancing, sedangkan yang lain menyelusuri hutan untuk berburu hewan.
Tidak berapa lama kakek Bahram memanggil mereka karena perdana menteri kembali datang.
Akhir-akhir ini perdana menteri sering datang. Kali ini ia membawa belanjaan lebih banyak dari biasanya.
"Ada apa kek?" tanya Sofia saat melihat kakek Bahram menyusul mereka.
"Perdana menteri datang, katanya ada perlu dengan mu Nak Carlos," jawab kakek Bahram.
"Baik kek, aku akan segera pulang. Kalian boleh lanjut berburu. Tidak akan tersesat kok," ujar Carlos.
Namun mereka lebih memilih untuk pulang bersama Carlos dan kakek Bahram. Sementara Diyan dan Axelle tidak mereka beritahu karena mereka berdua sedang asyik memancing.
"Paman, tumben sering kemari?" tanya Carlos setelah tiba di rumah gubuk.
"Paman sudah lakukan apa kamu minta. Sekarang paman ikut perintah selanjutnya," jawab perdana menteri.
"Paman ada orang kepercayaan di istana?" tanya Carlos. Perdana menteri mengangguk.
"Apa orang itu tahu dengan apa yang paman lakukan?" tanyanya lagi. Perdana menteri menggeleng.
"Bagus, siapapun tidak boleh tahu. Paman boleh percaya sama orang itu, tapi jangan terlalu mempercayainya. Mengerti apa yang aku maksud?" tanya Carlos.
"Ya, mengerti," jawab perdana menteri.
Kemudian Carlos menanyakan tentang keluarga perdana menteri yang di tahan. Perdana menteri sendiri tidak tahu keberadaan mereka. Hanya yang perdana menteri tahu, keluarga nya di tahan bersama raja Andreas dan istrinya.
Carlos manggut-manggut lalu menanyakan siapa yang sering di perintahkan raja untuk menemui mereka?
Perdana menteri berpikir sejenak. Ada satu orang yang selalu bersama raja. Yaitu penasehat raja. Dan ada satu lagi pengawalnya.
"Bagus, kalau bisa paman gunakan ini. Sebisa mungkin ini mengenai leher orang itu. Dan benda ini akan tertanam langsung ke leher orang itu tanpa meninggalkan bekas luka," kata Carlos.
"Kamu berhasil menciptakan benda itu?" tanya Virendra.
"Iya kak, aku bersama kak Carla yang membuatnya. Tapi aku lupa membawanya saat masuk kedalam istana," jawab Carlos.
Perdana menteri mengamati benda kecil tersebut. Jika ditempelkan pada seseorang, ia akan langsung masuk dengan sendirinya.
"Ini alat pelacak, Paman. Dengan begini, kita bisa mengetahui lokasi keluarga paman ditahan. Kita akan melakukan penyelamatan mereka terlebih dahulu, baru setelah itu kita menyusun rencana untuk menghancurkan kekuasaan raja William," kata Carlos.
"Anak ini, aura dan wibawanya seperti seorang pemimpin. Memang tidak salah jika dia memiliki darah keturunan raja Attar," batin perdana menteri.
Perdana menteri hanya mendengar orang berbicara jika raja Attar adalah raja yang adil dan bijaksana. Namun sayang, karena keserakahan akan kekuasaan, raja Attar harus terkorban ditangan saudara tirinya.
"Baiklah, aku akan segera melaksanakan nya. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu keluargaku. Dan semoga mereka baik-baik saja," ucap perdana menteri.
Setelah perdana menteri mengatakan jika dirinya sudah meletakkan kamera pengintai di tempat-tempat tersembunyi, Carlos pun mengambil laptopnya.
Ia memprogram laptopnya agar bisa terhubung ke kamera pengintai. Dengan jari-jarinya yang lincah membuat perdana menteri seperti orang latah. Kepalanya mengikuti gerakan jari Carlos.
Kakek Bahram, Sofia dan perdana menteri begitu takjub melihatnya. Tidak butuh waktu lama, Carlos sudah berhasil dan merekapun bisa melihat didalam istana.
Kakek Bahram dan perdana menteri saling pandang. Terlihat jelas para pengawal dan pelayan. Kemudian Carlos memutar yang lain yang memperlihatkan raja William sedang berbicara dengan penasehat istana dan pengawalnya.
Carlos menyetel volume, sehingga suara mereka jelas terdengar. Terdengar raja William memerintahkan untuk memindahkan raja Andreas dan keluarga perdana menteri malam ini juga.
"Paman, Paman harus bergerak cepat. Nanti hubungi aku setelah berhasil. Aku akan melacak keberadaan mereka," pinta Carlos.
Carlos pun memberikan nomor teleponnya kepada perdana menteri. Dan perdana menteri pun segera kembali ke istana sebelum semuanya terlambat.
"Sepertinya kita harus secepatnya bertindak," kata Carlos.
"Kalau begitu kami tidak jadi pulang, kami akan hubungi keluarga kita dan Om Zio," kata Virendra.
"Usulan yang bagus, nanti jika kita sudah mengetahui lokasi raja Andreas di tahan, aksi penyelamatan pun segera akan dilakukan," ujar Carlos.
Kakek Bahram tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia benar-benar takjub dengan kehebatan Carlos dan taktik Carlos dalam mengatur strategi.
"Luar biasa anak-anak ini," batin kakek Bahram.
Sofia juga terdiam, ia mengagumi Carlos, namun ia sadar diri jika dirinya tidak akan layak.
Carla segera menghubungi Zio, sementara yang lain menghubungi keluarganya. Hanya tinggal mereka yang menentukan siapa-siapa saja yang akan ikut membantu.
"Bagaimana?" tanya Carlos.
"Siap, Om Zio akan mengerahkan orang-orang terpilihnya untuk datang kemari. Karena tidak bisa terlalu ramai yang bisa datang," jawab Carla.
Virendra dan Keenan juga sudah selesai menelepon keluarganya. Sudah pasti berita ini akan cepat menyebar.
"Axelle dan Diyan kemana?" tanya Carlos yang baru ngeh jika mereka tidak ada.
"Tadi katanya mau memancing," jawab Sofia yang sejak tadi diam.
"Sebaiknya kalian susul, takutnya tersesat dan bertemu hewan buas," kata kakek Bahram.
Merekapun semua pun menyusul kecuali kakek Bahram. Mereka menuju sungai tempat Axelle dan Diyan memancing.
Saat mereka tiba, ternyata hasil pancingan mereka lumayan dan besar-besar. Jadi merekapun berencana untuk memanggang ikan.
"Sudah lumayan nih," ucap Carla.
"Sebentar lagi, sepertinya disini tidak ada yang memancing ikan. Sehingga ikannya kelaparan," ujar Axelle.
"Sepertinya rencana kita berubah, kita tidak jadi pulang. Dan kami sudah meminta keluarga kita yang datang kemari," kata Virendra memberitahu.
"Bagus dong, aku lebih senang disini," ujar Axelle.
"Aku ambil buah disana dulu ya," kata Sofia.
"Aku antar, takut nanti tersesat di hutan ini," ujar Carlos.
"Modus...!" Pekik mereka serentak.
Carlos tidak perduli, yang penting dia bisa menemani Sofia. Carla dan yang lainnya pun melanjutkan memancing.
Carlos memanggil jaguar, tidak berapa lama jaguar datang dengan berlari cepat kearah mereka.
Jaguar langsung berdiri saat dekat dengan Carlos. Carlos pun menyambutnya dan memeluknya.
"Sudah cukup," ucap Carlos lalu menepuk leher jaguar. Jaguar dengan patuhnya langsung turun.
"Sepertinya dia lebih jinak denganmu daripada aku," kata Sofia.
"Mungkin karena aku tampan, jadi dia ... eh jaguar 'kan jantan, aku lupa," ujar Carlos.
Sofia tertawa mendengarnya, menurutnya Carlos lucu dan juga imut. Kadang Sofia juga gemas apalagi saat Carlos tersenyum ataupun tertawa.
Akhirnya merekapun tiba disebuah pohon buah yang kebetulan sedang berbuah lebat. Sofia juga tidak tahu nama buah itu. Yang penting ada hewan lain yang memakannya, berarti buahnya tidak beracun.
mending perang apa bunuh²an aja .. wkkwkw