"Cahaya di Tengah Hujan"
Rini, seorang ibu yang ditinggalkan suaminya demi wanita lain, berjuang sendirian menghidupi dua anaknya yang masih kecil. Dengan cinta yang besar dan tekad yang kuat, ia menghadapi kerasnya hidup di tengah pengkhianatan dan kesulitan ekonomi.
Di balik luka dan air mata, Rini menemukan kekuatan yang tak pernah ia duga. Apakah ia mampu bangkit dan memberi kehidupan yang layak bagi anak-anaknya?
Sebuah kisah tentang cinta seorang ibu, perjuangan, dan harapan di tengah badai kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1337Creation's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan di tengah keputusasaan
Bab 20: Harapan di Tengah Keputusasaan
Ruangan rumah sakit terasa sunyi. Hanya suara alat monitor dan tarikan napas lemah Nayla yang terdengar. Aditya duduk di samping ranjang adiknya, menggenggam tangan kecil itu erat. Wajahnya penuh kekhawatiran, matanya bengkak karena menangis semalaman.
Di sisi lain, Rini berdiri gelisah. Pandangannya terus tertuju ke arah pintu, menunggu dokter masuk dengan hasil pemeriksaan Nayla. Setiap detik terasa begitu lama, seolah waktu berjalan sangat lambat.
Tak lama, pintu terbuka. Seorang dokter dengan jas putih dan stetoskop di lehernya masuk. Wajahnya tampak serius. Di belakangnya, seorang perawat mengikuti, membawa sebuah map berisi hasil diagnosa.
“Bu Rini?” panggil dokter itu dengan nada tenang.
Rini mengangguk cepat, langkahnya maju mendekati dokter. “Iya, saya, Pak Dokter. Bagaimana kondisi anak saya?”
Dokter itu menarik napas panjang sebelum menjawab. “Kami telah melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap Nayla, termasuk rontgen dan tes darah.”
Rini menggenggam ujung bajunya erat. “Dan hasilnya, Dok?”
Dokter membuka map dan membaca hasilnya dengan cermat. Lalu, dengan suara hati-hati, dia berkata:
“Nayla terkena infeksi jamur pada paru-parunya.”
Rini terhenyak. Jantungnya berdegup kencang. “I-infeksi jamur?”
Dokter mengangguk. “Ya. Infeksi ini cukup serius dan berbahaya, terutama pada anak-anak dengan daya tahan tubuh lemah. Penyakit ini bisa menyebabkan kerusakan paru-paru yang fatal jika tidak ditangani dengan baik.”
Rini merasa tubuhnya melemas. Tangannya bergetar, air mata menggenang di matanya.
“T-tapi, Nayla masih bisa disembuhkan, kan, Dok?” suaranya penuh harapan, namun juga ketakutan.
Dokter menatap Rini dengan serius. “Ya, masih bisa. Tetapi… rumah sakit kami tidak memiliki peralatan dan fasilitas yang cukup untuk menangani kondisi ini.”
Rini semakin panik. “Lalu bagaimana, Dok? Tolong selamatkan anak saya!”
Dokter menghela napas, lalu berkata:
“Nayla harus dirujuk ke rumah sakit di Jakarta untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif.”
Rini terdiam. Jakarta?
Bagaimana bisa? Dia bahkan tidak punya cukup uang untuk makan sehari-hari, apalagi untuk pergi ke Jakarta dan membayar pengobatan Nayla.
“B-bagaimana caranya, Dok?” suara Rini gemetar. “Saya… saya tidak punya uang…”
Dokter menatapnya dengan penuh simpati. “Saya mengerti, Bu. Pengobatan ini memang tidak murah. Tapi kita harus segera bertindak sebelum kondisinya semakin buruk.”
Rini merasa dunia seakan runtuh. Dadanya sesak, air mata tak bisa ia tahan lagi.
“Saya tidak punya uang, Dok…” isaknya pelan. “Saya hanya seorang buruh. Bahkan untuk makan sehari-hari pun saya harus berjuang. Saya harus bagaimana…?”
Aditya yang sedari tadi diam, kini ikut menangis. Dia menggenggam tangan ibunya dengan erat, seolah ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Namun, dalam hati kecilnya, Aditya tahu bahwa ibunya juga tidak tahu harus berbuat apa.
Sebuah Keajaiban
Saat keheningan menyelimuti ruangan, tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari luar. Bu Lastri masuk dengan wajah serius.
“Saya yang akan membiayainya,” kata Bu Lastri tiba-tiba.
Rini terkejut. Dia menoleh ke arah majikannya dengan mata penuh air mata. “Bu…?”
Bu Lastri melangkah mendekat dan memegang bahu Rini. “Dengar, Rini. Aku tidak akan membiarkan Nayla menderita. Aku akan menanggung semua biayanya.”
Rini menggeleng cepat, masih tidak percaya. “T-tapi, Bu… itu pasti mahal sekali…”
Bu Lastri tersenyum tipis. “Memang. Tapi aku mampu.”
Rini menatap Bu Lastri penuh kebingungan. “B-bagaimana Ibu bisa…?”
Bu Lastri tertawa kecil. “Rini, anak-anakku sudah besar. Mereka semua sukses. Setiap bulan, mereka mengirim uang untukku… dan bulan ini, aku bahkan mendapat 15 juta dari anakku sebagai hadiah Hari Ibu.”
Rini terdiam.
“Jadi jangan khawatir,” lanjut Bu Lastri. “Aku punya cukup uang untuk membantu Nayla.”
Air mata Rini kembali jatuh, kali ini bukan karena kesedihan, tetapi karena haru. Dia tidak pernah menyangka bahwa di tengah keputusasaannya, masih ada orang yang peduli dan mau menolongnya.
Dengan suara bergetar, dia berkata, “B-Bu Lastri… saya tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan Ibu…”
Bu Lastri tersenyum lembut. “Tidak perlu membalas apa-apa, Rini. Yang penting Nayla bisa sembuh. Aku akan menemani kalian ke Jakarta. Kita akan berangkat secepatnya.”
Rini langsung memeluk Bu Lastri, menangis tersedu-sedu di pundaknya.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia merasakan harapan kembali hadir dalam hidupnya.
---
Apakah Nayla akan berhasil mendapatkan perawatan yang tepat di Jakarta? Akankah dia bisa sembuh sepenuhnya?
Perjalanan panjang mereka baru saja dimulai…