NovelToon NovelToon
Pelacur Metropolitan

Pelacur Metropolitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Arindarast

Pelacur mahal milik Wali Kota. Kisah Rhaelle Lussya, pelacur metropolitan yang menjual jiwa dan raganya dengan harga tertinggi kepada Arlo Pieter William, pengusaha kaya raya dan calon pejabat kota yang penuh ambisi.

Permainan berbahaya dimulai. Asmara yang menari di atas bara api.
Siapakah yang akan terbakar habis lebih dulu? Rahasia tersembunyi, dan taruhannya adalah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arindarast, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keheningan sebelum badai

Udara malam semakin dingin. Embun mulai membasahi rerumputan di halaman depan mansion megah itu. Di bawah cahaya remang lampu taman, Atlas, duduk santai di kursi rotan besar yang diletakkan di dekat taman samping.

Bersama secangkir kopi panas dan rokok elektrik yang sesekali disesapnya, mengeluarkan asap putih tipis yang segera terbawa angin malam.

Atlas tidak sendiri, melainkan bersama Dayana yang menemani. Wanita dengan bajunya yang serba hitam itu, duduk di kursi rotan yang sedikit lebih kecil di sampingnya, tangannya sibuk dengan ponselnya. Keheningan hanya diiringi suara gemerisik daun dan desiran angin.

Setelah beberapa saat terdiam, Atlas memecah keheningan. “Malam yang dingin, ya?” katanya, suaranya lembut, berusaha memulai percakapan.

Dayana mengangkat wajahnya, tersenyum sedikit canggung, memamerkan lesung pipinya. “Iya. Lebih dingin dari biasanya.” Ia kembali menatap layar ponselnya, jari-jari lentiknya dengan cepat mengetik sesuatu.

Atlas melanjutkan, “Saya Atlas, sekretarisnya Pak Arlo. Senang bertemu dengan Anda.” Ia mengulurkan tangannya, berharap Dayana akan membalas sapaannya.

Dayana hanya melirik sekilas tangan Atlas, lalu kembali fokus pada ponselnya. “Senang bertemu juga,” jawabnya singkat, tanpa menatap Atlas. Suaranya terdengar datar, tanpa menunjukkan antusiasme.

Atlas menarik kembali tangannya, sedikit merasa canggung. Ia mencoba lagi, “Malam ini sepi sekali, ya? Biasanya ramai.” Ucapnya sembarangan.

Dayana hanya berdehem kecil, sebagai jawaban. Ia tampak tak peduli, seakan-akan Atlas tidak ada di sana.

Atlas menghela napas pelan. Ia menyadari bahwa usahanya untuk berbincang telah sia-sia. Ia menyesap kopinya, menikmati sisa kehangatan di cangkirnya, sambil mengamati Dayana yang tampak begitu asyik dengan dunianya sendiri.

Malam yang dingin terasa semakin dingin karena sikap dingin Dayana. Ia memutuskan untuk diam, membiarkan Dayana menikmati kesendiriannya. Tiba-tiba, Dayana bertanya, suaranya pelan hampir tak terdengar diantara desiran angin, “Sampai kapan Rhaell akan ditahan oleh Pak Arlo?”

Pertanyaan itu mengejutkan Atlas, akhirnya ada topik juga. Ia menurunkan cangkirnya, menatap Dayana. “Kalau itu aku tidak tahu. Kenapa memangnya? Kamu sudah ingin pulang ya?”

Dayana kembali terdiam, tidak menanggapi pertanyaan Atlas. Sikapnya yang dingin dan menghindari pertanyaan diluar lingkup pekerjaannya, semakin kentara.

Atlas menghela nafas lagi. Ia menyadari bahwa Dayana bukanlah tipe orang yang suka berbagi informasi pribadi, atau terlibat dalam obrolan yang tidak berkaitan dengan tugasnya.

Ia kembali menyesap kopinya, menyadari bahwa malam ini, keheningan akan tetap menjadi teman terbaiknya. Namun, dari kejauhan, sorot lampu mobil yang memasuki pekarangan mansion menarik perhatiannya.

Atlas mengenali mobil itu dengan baik. “Sial! Macan Alaska!” gumamnya, wajahnya berubah panik. Tanpa sepatah kata pun, ia berdiri terburu-buru, meninggalkan kopi dan Dayana, berlari terbirit-birit menuju pintu utama mansion.

Dayana, yang mengamati semua itu, hanya mengangkat sebelah alisnya. Ia tidak bergeming, tetap duduk tenang di kursinya. Namun pikirannya seketika tertuju pada keamanan Rhaell. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaket, lalu berdiri, melangkah dengan tenang mengikuti jejak Atlas.

...****************...

Atlas berlari menyusuri koridor mansion, mencari tuannya. Detak jantung berdebar kencang saat ia sampai di dapur, dan pemandangan di sana membuatnya terhenti.

Edgar, dengan apronnya yang belepotan saus, sedang sibuk mengaduk pasta di atas kompor. Di kursi kitchen island, Arlo dan Rhaell duduk berdekatan, suasana di antara mereka tampak akrab, bahkan intim.

Arlo mengusap pipi Rhaell, sementara Rhaell menatap dalam netra Arlo. Atlas merasakan sebuah ketegangan yang baru. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba untuk tetap tenang. Dengan suara yang serak, ia berkata, “Ibumu... ada di sini.”

Ketiga orang di dapur itu serentak menoleh. Edgar menghentikan pengadukannya, sementara Arlo dan Rhaell saling bertukar pandang, ekspresi mereka berubah waspada.

Namun, sebelum siapa pun dapat merespon, seorang wanita paruh baya dengan kalung berlian yang menyilaukan, muncul dari balik Atlas, langkahnya tenang namun aura yang dipancarkannya kuat dan mengancam.

“Hai anakku, bagaimana wawancaranya tadi?” Wanita itu menatap Arlo dengan tatapan berbinar, “Eh, lagi ada tamu… siapa ini?” Pertanyaannya membuat suasana tegang di dapur semakin mencekam.

Nyonya besar, dengan gaun malam elegannya, mengamati wanita yang berdiri di samping anaknya, dari atas ke bawah. Tatapannya tajam, menilai. Rhaell dengan kaos oblong kebesaran milik Arlo, sangat kontras dengan penampilan sang konglomerat.

Ibu Arlo mengerutkan kening. “Arlo, siapa gadis ini?” tanyanya sekali lagi, suaranya dingin dan formal, tanpa sedikit pun menunjukkan keramahan. Nada suaranya menunjukkan ketidaksukaannya terhadap kehadiran Rhaell.

Marco yang entah muncul dari mana, dengan langkah cepat, menarik tangan Rhaell. “Dia temanku. Ibu tidak perlu memperdulikannya,” katanya, suaranya sedikit keras, berusaha untuk melindungi Rhaell dari amukan ibunya. Ia menarik Rhaell menjauh dari situasi neraka tersebut.

Namun, sebelum Rhaell dan Marco berhasil melangkah jauh, Arlo dengan cepat menahan tangan Rhaell. Tangannya menggenggam erat tangan Rhaell. Ia menatap ibunya dengan tatapan serius, suaranya lantang dan penuh keyakinan.

“Rhaell calon istriku.” ucap Arlo, menyatakannya dengan tegas dan jelas. Pernyataan itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang lebih mencekam daripada sebelumnya. Semua orang di dapur terpaku, termasuk Edgar yang masih memegang pengaduk pasta.

Bersambung…

1
Grace
aku baca ini sambil makan 2 bungkus indomie, /Smile/
auralintang___-
marco, lu bisa minggir dlu gx? INI AREA ARLO DAN CIA OMEJII ngapa elu ngikut" sih ah elah ah elaaaah🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️🤾🏻‍♀️
Galih
seru batt gilak
Mrlyn
jgn2 Cia udh diincer mau dijadiin ibunya Sienna 😅🤌🏻
Mrlyn
lanjutannya jgn lama2 ya thoorrr
Mrlyn
kira2 kenapa ya Arlo sedih 🤔
Mrlyn
Wangi manis 🌼🌼🌼🌼🌼 bayi mongmong bayi😌🫶🏻
Mrlyn
Tuh kan kepincut juga 🤣🤣🤣
Mrlyn
❤️❤️❤️❤️❤️
Mrlyn
Kasian Cia🤧 tp gpp nanti juga ada hikmahnya. sabar ya nduk
Mrlyn
wkwkwk makanya jgn macem2 sama Miss Lily🤣🔥
Mrlyn
makin menarik alurnya 😍🔥
Mrlyn
waduh udh mulai main apa🙈 awas loh kebakaran😌
Mrlyn
Nah ngejob begini aja Cia, kali ketemu jodoh 🙈
Mrlyn
Panjangin lagi babnya thorrrrrr, lagi asik baca tau2 abis🤧
Mrlyn
nungguin Arlo sama Cia interaksi lagi😍🔥
Mrlyn
Awas Lo Arlo ditandain Cia tr kepincut lagi🤣
Elok Senja
up dunk thorr....pliiisss 🤗🙏🥰
Elok Senja
ada typo kecil,
tu kan mo arah ke ❤❤ gituu 😅🤗
Elok Senja
jadi tertarik dg merek parfum nya Thor 🤣🤣😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!