NovelToon NovelToon
Transmigrasi Chantika

Transmigrasi Chantika

Status: tamat
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Transmigrasi / Teen / Tamat
Popularitas:686.8k
Nilai: 4.6
Nama Author: Chryssa_Dike

Chantika Anastasya gadis berusia 17 tahun yang meninggal karena rem mobilnya blong yang menyebabkan ia menabrak truk yang ada di depannya.

Bukannya mencari pertolongan, ia malah tersenyum senang karena ia pikir setelah ini ia akan pergi ke surga dan melepaskan semua beban yang sudah ia pikul selama ini.

"Syurgaa.....I'm coming"

Tapi bukannya ke surga, chantika malah terjebak di tubuh gadis culun yang ternyata memiliki masalah hidup yang cukup berat dan rumit.

Lalu apakah Chantika kuat menjalani kehidupan barunya dengan semua masalah yang ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chryssa_Dike, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Pagi ini, Chaca sudah kembali ke sekolah setelah hampir 1 bulan meliburkan diri. Tapi pagi yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi menjengkelkan karena ia bangun kesiangan dan berakhir membuatnya harus melakukan semua kegiatannya dengan cepat agar tidak sampai telat.

"Marka, kenapa nggak bangunin gue! Kesiangankan jadinya" dumel Chaca sambil berlari ke arah kamar mandi.

Marka yang sedang memakai dasinya hanya menghela nafas mendengkan ocehan pagi istrinya. Sebenarnya ia sendiri juga bangun sedikit kesiangan, makanya ia langsung mandi tanpa membangunkan istrinya.

'Astaga, sabar Mar, itu istri lo'

Setelah mandi secepat kilat, Chaca pun keluar dari kamar mandi lengkap dengan seragam sekolahnya. Ia berjalan menuju meja rias, berniat memoles wajahnya agar tidak terlihat pucat. Namun saat sampai di meja rias, ia ingat Chaca yang asli tidak memiliki alat make up sama sekali.

"Astaga! Masa iya gue ke sekolah dengan muka kucel tanpa make up begini? Mana pucat banget lagi," batin Chantika frustrasi.

"Ahh.... udahlah. Nanti pulang sekolah langsung beli make up sama baju baru aja deh," lanjutnya.

Melihat istrinya mengomel tidak jelas, Marka pun memilih tak terlalu memperdulikannya dan kembali memasukkan semua berkas yang ia butuhkan ke dalam tas kerjanya.

"Mar, ayo buruan berangkat! Gue udah telat!" teriak Chaca sambil menenteng tasnya keluar kamar.

"Ngapain nungguin saya? Sana cepat ke halte. Nanti ketinggalan bus!" ucap Marka.

"Siapa yang mau berangkat pake bus?" balas Chaca santai

"Kamu"

"Dihh! Gue mah ogah berangkat pake bus!"

"Lalu?" tanya Marka bingung.

"Ya lo anterin lah!" ucap Chaca sedikit kesal

"Kamu berangkat sama saya?" tanya Marka bingung.

"Ya iyalah, bego. Lo pikir gue hapal letak sekolahnya?!" sarkas Chaca.

"Your language" ucap Marka sambil menatap Chaca tajam.

Chaca yang ditatap memilih mengacuhkannya, karena ia masih memikirkan apakah ia terlambat datang ke sekolah atau tidak. Jujur saja ia terlalu malas untuk sekedar mendapatkan hukuman.

"Marka, ayo cepetan! Gue udah telat!" seru Chaca sambil menarik tangan sang suami.

Begitu masuk ke dalam mobil, Marka segera menyalakan mesin dan melajukan mobilnya menuju sekolah Chaca. Tangannya dengan mahir menggenggam kemudi, sementara Chaca sibuk merapikan rambutnya di kaca spion.

"Kemana dasimu?" tanya Marka tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.

Chaca mengangkat dasi yang sejak tadi hanya digenggamnya, "Ini"

"Kenapa tidak dipakai?"

"Males. Kalau pake dasi rasanya kayak dicekek. Lagian gue udah lupa cara pasang dasi" ucap Chaca santai.

Mendengar jawaban itu, Marka hanya bisa menghela napas panjang. Ia masih belum terbiasa dengan perubahan sikap istrinya yang begitu drastis. Namun, karena merasa percakapan itu tidak akan membawanya ke mana-mana, ia memilih mengakhirinya dan kembali fokus menyetir.

Tak lama kemudian, mobil keduanya pun berhenti tepat di depan gerbang sekolah Chaca. Chaca dengan segera melepas sabuk pengamannya dan hendak turun. Namun, saat hendak membuka pintu, ia teringat sesuatu.

"Eh...Mar minta duit dong" ucap Chaca sambil menyodorkan tangannya.

"Kenapa meminta uang? Bukankah uang yang saya berikan kemarin masih ada?" tanya Marka.

"Ya kan lo suami gue, Bambang. Wajar lah kalau gue minta uang sama lo. Yang nggak wajar tuh kalau gue minta uang sama selingkuhan lo," balas Chaca santai.

Marka terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bertanya, "Berapa?"

"Terserah, tapi kalau bisa yang banyak"

Tanpa banyak bertanya lagi, Marka mengambil dompetnya. Ia mengeluarkan sepuluh lembar uang seratus ribuan, lalu menyelipkan sebuah kartu hitam di atas tumpukan uang itu sebelum menyerahkannya kepada Chaca.

"Itu kartu saya. Hari ini pakai saja kalau memang perlu, tapi sepulang sekolah kembalikan lagi," jelas Marka.

Mata Chaca langsung berbinar.

"Serius?"

Marka hanya mengangguk pelan.

Tanpa pikir panjang, Chaca langsung memeluk leher suaminya dan mengecup pipinya singkat.

"Makasih!"

Setelah itu, ia buru-buru turun dari mobil sambil melambaikan tangan dengan wajah sangat-sangat sumringah.

"Nanti pulang sekolah gue mampir ke mal dulu ya! Jadi jangan dicariin atau ditelepon. Gue lagi mau quality time."

"Bye-bye, suami tampanku! Semangat kerjanya, ya. Biar makin kaya!" teriak Chaca sambil berlari masuki halaman sekolah.

Marka masih mematung di balik kemudi. Tangannya perlahan menyentuh pipi yang baru saja dicium Chaca. Untuk beberapa detik, pandangannya kosong mengikuti kemana istrinya pergi sambil mencerna apa yang baru saja terjadi.

Tanpa sadar, sudut bibirnya sedikit terangkat.

Setelah Chaca benar-benar menghilang dari pandangan, Marka menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya menuju kantor. Sebentar lagi rapat penting akan dimulai.

Disisi lain, langkah Chaca langsung menjadi pusat perhatian. Hampir setiap pasang mata tertuju kepadanya, seolah-olah sedang menyaksikan kedatangan seorang selebritas.

"Mereka kenapa, sih? Kok ngeliatin gue begitu banget? Apa ada yang salah sama muka gue?" batin Chaca.

Ia sempat menyentuh pipinya sendiri, memastikan tak ada yang salah.

"Ah... bodo amatlah. Yang penting sekarang gue lagi banyak duit."

Dengan santainya, Chaca kembali melangkah tanpa sedikit pun memedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya. Namun belum terlalu jauh ia melangkah, ia mengingat sesuatu.

"Astaga... gue bahkan nggak tau kelas gue dimana"

Ia hanya mengingat satu hal, kalau dirinya berada di kelas 12 IPA 5. Selebihnya ia tak tau lagi.

Chaca mengedarkan pandangan ke sekeliling lorong sekolah yang dipenuhi siswa. Dan pandangannya langsung tertuju pada dua siswi yang sedang berjalan sambil sibuk menatap layar ponsel mereka.

"Permisi, mau tanya dong," ucap Chaca sambil menepuk pelan bahu salah satu dari mereka.

Kedua siswi itu berhenti berjalan. Salah satunya menoleh tanpa mengalihkan pandangan sepenuhnya dari ponsel.

"Iya? Ada apa?"

"Maaf, kelas 12 IPA 5 di mana, ya?"

Mendengar nama kelas itu, keduanya sontak mengangkat kepala. Tatapan mereka langsung tertuju pada wajah Chaca dengan ekspresi sedikit kaget.

"Eh... lo Chaca, kan?" tanya salah seorang dari mereka, seolah tidak percaya.

"Iya. Kenapa ya?"

Kedua siswi itu saling berpandangan sejenak sebelum kembali menatap Chaca.

"Kalau emang lo Chaca, kenapa pake nanya kelas sendiri?"

Chaca tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya.

"Ah...maaf, sebenarnya aku mengalami amnesia karena jatuh dari tangga beberapa minggu lalu. Jadi aku lupa hampir dengan semua hal"

Mendengar penjelasan itu, Yeshya dan Jessica langsung saling berpandangan. Keduanya tampak sama-sama terkejut dengan penuturan Chaca.

"Ah... serius? Jadi itu alasan lo nggak masuk sekolah selama beberapa minggu ini?" tanya Jessica hati-hati.

Chaca hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.

"Apa dulu kita dekat?" tanya Chaca lagi.

"Nggak terlalu," jawab Yeshya sambil menggeleng. "Kita cuma teman sekelas."

"Oh..."

Yeshya kemudian tersenyum tipis. "Ya udah, mumpung lo lagi amnesia, kita kenalan lagi aja. Gue Yeshya."

"Dan gue Jessica," sambung gadis di sebelahnya.

"Sejujurnya kita emang nggak terlalu akrab sama lo. Paling cuma ngobrol seperlunya di kelas."

"Oh... gitu ya. Makasih penjelasannya"

Jessica tersenyum kecil.

"Tadi lo mau ke kelas, kan? Kebetulan kita juga mau ke sana. Yuk, bareng aja."

"Boleh. Gue ikut kalian aja."

Ucapan yang baru saja keluar dari mulut Chaca sontak membuat langkah Yeshya dan Jessica terhenti sesaat. Keduanya saling melirik dengan ekspresi bingung.

'Barusan... Chaca ngomong 'lo-gue'?'

Bukannya mereka mempermasalahkan cara bicara itu. Hanya saja, Chaca yang mereka kenal selama ini adalah sosok yang pendiam, lembut, dan selalu berbicara dengan sopan. Hampir tidak pernah terdengar menggunakan bahasa gaul seperti sekarang.

Bukan hanya cara bicaranya saja yang berubah. Tatapan Chaca kini terlihat jauh lebih tajam. Wajahnya memang masih sama, tetapi auranya terasa berbeda. Jika dulu Chaca memancarkan kesan rapuh dan mudah ditindas, sekarang justru ada ketenangan yang membuat orang lain enggan meremehkannya.

Tanpa sadar, Jessica menelan ludah, 'Kenapa tiba-tiba gue merinding ya?'

Tak jauh beda dengan Jessica, Yeshya diam-diam menyeringai, 'Kalau Chaca beneran berubah...'

'Kayaknya Mina bakal nemu lawan yang sepadan'

'Jadi nggak sabar pengen liat gebrakan baru'

1
It's emma
.
It's emma
Suka sama ceritanya😍
DemnRed
Jalan ceritanya seru!!!
Rani Jan
lebayy
Dewiendahsetiowati
terima kasih untuk ceritanya dan ditunggu karya selanjutnya
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Arhieva Jimshoneysruwen
ga suka sama tata bahasanya
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
tadi pulang sekolah kerja trus bab selanjutnya akhirnya masuk sekolah lagi thor
Rahma Waty
lah ortu macam apa .nyiksa banget
white lily
jangan di bikin cepet sadarnya napa, 5th kel
white lily
karakter caca yg lembek, mencla mencle bikin gregetan
Ina Karlina
Caca jadi aneh ga sih masa jadi manja gitu..kan pertama karakter nya cuek
Ina Karlina
jangan lupa ca balas perlakuan si Marsel ke kamu tempo hari biar nyaho dia
Ina Karlina
seruuu..ayo lawan saja si Marka biar pusing 7 keliling dia..jangan lupa porotin duit nya dari pada di habiskan oleh pacarnya 😁😁😁
Ina Karlina
semoga perselingkuhan si Marka terciduk oleh ke 2 keluarganya...biar mampus..
Ina Karlina
ko bisa ya ada guru model si Marsel..
Note 2
mommy drpd mae
Nur Keyla
Luar biasa
Lestari
gokil abiss
Onzha Aloych
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!