Dijodohkan dengan putra seorang bos mafia? Fiorella Ferraz, delapan belas tahun, sudah bertekad menolak. Dia diseret dari Berlin ke Sydney untuk pesta pertunangan yang tidak pernah dia inginkan, dan di depan semua orang dia berani berkata: aku tidak mau menikah.
Satu orang tidak terima dibantah. Argo Romanov, bos mafia Australia sekaligus calon mertuanya, pria dingin yang tak pernah ditentang siapa pun. Gadis keras kepala itu langsung dia tahan di rumahnya, "sampai tahu aturan".
Namun semakin sering mereka bertengkar, semakin sulit Fiorella menjelaskan kenapa tubuhnya bereaksi setiap kali pria itu mendekat. Dan semakin keras Argo berusaha menjauh, semakin ia kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Di tengah peperangan antar mafia, kontrak pernikahan yang membelenggu dua keluarga, dan rahasia yang menunggu terbongkar, siapa yang sebenarnya sedang menaklukkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larissa Marcelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 - Sang Putri Ketahuan
...FIORELLA FERRAZ...
Sambil menghindari orang-orang, aku berusaha sampai ke bar. Di sana lebih tenang dan musiknya tidak seberisik di lantai dansa. Ada beberapa cowok dan cewek mengobrol di dekat situ. Kupanggil bartender dan minta sesuatu untuk diminum.
"Kamu baru di sini?"
"Iya."
"Tunggu sebentar." Dia pergi, lalu kembali beberapa menit kemudian. "Ini gratis dari kami." Dia menyodorkan gelas bertangkai dengan seiris lemon terselip di pinggirnya.
"Ini apa?"
"Martini." Aku mendekatkan gelas ke mulut. "Pelan-pelan." Dia menahanku. "Jangan buru-buru, Nona."
Ada rasa asin, tapi minumannya enak, terasa segar dan keras.
"Terima kasih."
"Kamu bukan orang sini, ya? Bukan orang Australia?"
"Aku orang Jerman."
"Wah... selamat datang."
"Terima kasih."
Dia tersenyum lalu pergi melayani pelanggan lain. Aku memandang sekeliling. Sekarang aku harus apa, berdansa? Aku malu setengah mati untuk itu. Kulihat beberapa cewek yang tampak seumuran denganku, jadi aku menghampiri mereka untuk mengobrol.
"Hai!" Mereka memandangiku dari ujung kaki sampai kepala lalu pergi begitu saja. Dasar jalang.
"Orang Jerman? Maaf, aku dengar kamu ngobrol dengan bartender, aksenmu bagus sekali." Aku menoleh ke arah suara itu dan mendapati cowok yang gan-teng banget. "Dan matamu itu." Dia memujiku.
Aku tersenyum tanpa tahu mau bilang apa. Ya Tuhan, dia tampan. Umurnya kira-kira 25, tinggi, rambut hitam, rahang persegi, wajah laki-laki sejati. Dia tersenyum dan aku tersadar.
"Iya, aku... baru beberapa hari di negara ini."
"Suka?"
"Kayaknya suka, ini pertama kalinya aku ke tempat seperti ini."
"Boleh aku jadi tuan rumahmu?" tanyanya, berusaha mengalahkan musik yang keras.
Boleh banget, ganteng. Boleh juga jadi yang pertama buatku, mau?
"Boleh."
"Apa?" Dia mendekatkan wajahnya untuk mendengar.
"Boleh, kataku." Aku mengulang, sambil mencium wangi parfumnya.
"Fiuh." Dia memegang dada, lega. "Namaku Andrew."
"Aku Fiorella."
"Nama yang sempurna, cocok denganmu, Fiorella. Bahasa Inggrismu bagus sekali. Kamu sendirian?"
"Aku baru beberapa hari di sini, tidak kenal siapa-siapa."
"Datang tanpa teman?"
"Iya."
"Jangan ke mana-mana." Dia menghilang di tengah kerumunan.
Aku masih terkejut, beruntung sekali bertemu cowok sebaik dan seganteng ini di hari pertama. Dia kembali sambil menggandeng tangan seorang cewek. Dadaku mencelos begitu melihat pemandangan itu.
"Fiorella, ini Ava, adikku."
"Hai, Ava."
"Fiorella, kamu cantik banget."
"Kamu juga, Ava."
"Aksen apa itu?"
"Dia orang Jerman." Andrew menyela.
"Sialan, keren banget. Orang Jerman?" Aku mengangguk.
Tak lama datang dua cowok lagi, kelihatannya teman Andrew dan Ava. Ava duduk di sebelahku di kursi dekat bar. Aku memesan minuman lagi untuk kami semua, mataku tidak lepas dari Andrew. Dia berdiri agak ke depan mengobrol dengan teman-temannya, tapi tidak berhenti menatapku. Aku senang dengan situasi ini, tapi juga waswas. Tujuanku datang ke sini memang untuk bersenang-senang dan berkenalan dengan orang baru, aku juga ingin kehilangan keperawanan, sebenarnya itu alasan utamanya.
Aku tidak mau kehilangannya dengan sembarang cowok, tapi dengan seseorang yang bisa menggetarkanku. Aku ingin merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan pada pria pemarah itu, dan Andrew sepertinya orangnya. Aku tertarik padanya, kurasa begitulah cara perempuan melakukannya, merasa tertarik, lalu bercinta.
"Kakakku naksir berat sama kamu."
"Sama aku?"
"Bukan cuma dia." Kulihat teman yang satunya juga menatapku.
Kakiku merinding. Ini agak aneh, harusnya aku senang, toh ini yang kuinginkan, tapi melihat mereka menatapku seperti itu, aku merasa cuma sepotong daging, yang paling juicy. Mungkin itu sebabnya Papa dulu menjagaku begitu ketat.
Kuusir pikiran itu dari kepalaku.
"Ayo dansa?" Kugenggam tangan Ava, aku suka sekali dia.
Kami berdansa, lalu teman-temannya datang membawa minuman lagi.
"Kamu jago minum, Fiorella?" tanya salah satunya.
"Pasti dong." Kutenggak habis minumanku sampai meringis di akhir.
"Yang ini memang jago minum." Suara Andrew di belakangku membuat tulang punggungku merinding. Dia memegang pinggangku dan memutar tubuhku menghadapnya.
Ada laki-laki yang menyentuhku, dan laki-laki itu bukan si mafia galak brengsek, Argo Romanov. Pikiran itu menyerbu kepalaku. Meski aku tertarik secara fisik pada Andrew, apa ciuman pertamaku akan jadi dengannya?
Sambil berdansa, Andrew memegang tanganku dan mengangkatnya.
"Cincin apa ini?" tanyanya ketika melihat cincin pertunanganku.
"Ini..."
"Tunangan?"
"Iya, aku sudah bertunangan." Aku mengaku.
"Sudah kuduga! Orang Jerman secantik ini, masa jomblo? Mana tunanganmu?"
"Dia mengantarku lalu pulang." Dia tertawa agak canggung, mungkin tidak percaya sama sekali.
"Kita lanjut dansa, setidaknya boleh?" Tangannya turun, dan dengan ragu-ragu mendarat di atas bokongku.
Aku sangat menginginkan ini, tapi kenapa aku mulai panik? Rasanya aku mau muntah. Cewek-cewek di sebelah kami menari dan tertawa, sementara aku takut melakukan hal yang begitu kuinginkan.
"Duduk di sana yuk?" bisiknya di telingaku, dan itu membuatku merinding.
"Ayo."
Dia menarik tanganku dan kami duduk di tempat yang lebih sepi. Aku menyilangkan kaki supaya dia tidak melihat gemetarku.
"Kamu gugup?" Sia-sia, dia menyadarinya.
"Seperti kubilang, ini pertama kalinya aku ke tempat seperti ini, jadi..."
"Tenang, aku tidak akan melakukan apa pun yang tidak kamu mau. Apalagi kamu sudah bertunangan."
"Kamu pikir aku bohong?"
"Kurasa tunanganmu orang beruntung, andai aku yang jadi dia."
Aku terdiam, tidak tahu harus bilang apa. Dia menaruh satu tangan di pinggangku dan meremasnya, tubuhku bereaksi pada cowok ini. Aku tertarik pada Andrew, tapi tidak pada Jared, tunanganku sendiri. Sial!
"Andrew, aku ke toilet sebentar, boleh?"
"Aku tunggu." Dia mengedipkan mata padaku, sialan.
Sampai di toilet, aku harus menarik napas. Takut dan girang, itu yang kurasakan. Aku mau mencium cowok ini, malam ini atau tidak sama sekali, aku tidak boleh mundur.
"Fiorella." Ava masuk ke toilet bersama teman-temannya. "Kamu baik-baik saja? Kukira kamu muntah."
"Aku baik-baik saja, cuma mau memperbaiki lipstik."
"Kamu kelihatannya asyik, Fiorella. Aku pengin banget minta nomormu, boleh?" Sambil bicara, dia sudah mengeluarkan ponsel dari tas.
Ide bagus, jadi aku bisa bertemu Andrew lagi kalau malam ini tidak terjadi apa-apa. Aku mengeluarkan ponselku dari tas.
"Aku lihat dulu, nomornya masih baru, aku belum hafal." Kuberikan nomorku padanya dan kulihat ada banyak panggilan tak terjawab dari Loretha. Tidak akan kuhubungi balik, aku akan pura-pura sudah tidur.
Kami masih sekitar lima menit lagi di toilet, ngobrol sana-sini. Hampir keluar, kudengar ponselku berbunyi di dalam tas.
"Kalian duluan saja, aku menyusul." Aku kembali ke dalam toilet, jantungku berdebar kencang. Kalau itu Papa atau Loretha, aku tidak akan mengangkatnya.
Ternyata pesan, dari Argo Romanov. Ya Tuhan! Dia tahu! Aku duduk di bangku supaya tidak pingsan.
📱 Kamu punya 5 menit untuk keluar dari sana.
Tolong! Bagaimana dia bisa tahu? Semoga Jared tidak membocorkan, mustahil dia tahu aku di mana.
📱 Aku tidak melakukan apa-apa, sebentar lagi aku pulang.
Setelah kukirim, dia langsung meneleponku. Jantungku berdebar begitu kencang sampai aku mual.
"Apa!"
"Keluar dari klub itu sekarang, aku tidak main-main."
"Kamu kayak Papaku saja."
"Kamu punya 2 menit, Nona."
"Jemput aku keluar."
"Aku tidak bisa masuk, bocah!"
"Kenapa tidak?"
"Itu aturan, kami tidak boleh berada di tempat umum."
"Kalau begitu aku minta maaf."
"Kalau dalam 2 menit kamu tidak keluar, kamu akan menyesal."
"Aku yang menyesal kalau keluar, Tuan Argo, cuma buat menuruti kemauanmu. Sudah kubilang aku tidak melakukan apa-apa, cuma berdansa."
"Fiore..." Kumatikan teleponnya, memotong ucapannya.