NovelToon NovelToon
Memeluk Bayangan

Memeluk Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Penyesalan Suami
Popularitas:896
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Abimana Rahardjo adalah putra pemilik sebuah pesantren dan merupakan penerus dari pondok pesantren milik keluarganya karena dia merupakan putra satu-satunya keluarga tersebut.

Sejak kecil dia telah di jodohkan dengan seorang gadis yang merupakan putri asuh keluarga Rahardjo yakni Kemala Putri Dewi yang merupakan putri sahabat kedua orangtuanya.

Kemala yang telah lama jadi yatim piatu sejak usia 10 tahun harus merelakan cita-citanya yang ingin jadi dokter karena sebuah balas budi.

Pernikahan karena dijodohkan itu benar-benar mencekik Kemala dikarenakan sang suami yang rupanya memilih poligami dengan perempuan yang telah lama ada dihati Abimana.

Hati Kemala hancur karena cinta suami yang tak kunjung dia dapatkan dan karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.

Hingga suatu hari, seorang pemuda mampu menggoyahkan hati Kemala.

Laki-laki yang dianggap urakan dan bertato layaknya preman.

simak kisahnya di Memeluk Bayangan...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

seperti preman

"Kemala... Tolong ke ruangan Abah, berikan ini padanya ya... Kaki Ummi sedikit nyeri dan agak kaku dibawa berjalan..." pinta Ummi Dewanti menyerahkan sebuah paper bag berwarna coklat pada Kemala.

Kemala mendekati Ummi dengan wajah cemas.

"Rematik Ummi kambuh lagi? Apa sudah minum obat" tanyanya khawatir, meraba kaki mertuanya.

Ummi tersenyum hangat. "Ummi sudah minum obat. Tapikan efeknya tidak langsung terasa... Tolong ya..."

"Baiklah... Tapi Ummi harus istirahat, jangan banyak jalan dulu..."

"Ummi... Ummi kenapa? Kenapa wajah Ummi nampak pucat?" seru Kirana yang baru saja sampai dan langsung menghampiri Ummi yang duduk di sofa ruangannya.

"Ummi tidak apa-apa. Kalian jangan khawatir..." sahut Ummi pada kedua menantunya. "Kemala, cepatlah... " lagi, Ummi mengingatkan Kemala akan tugasnya.

Kemala beranjak pamit dan bergegas melaksanakannya.

Kirana melirik Kemala yang melangkah keluar dari ruangan majelis. "Kemala mau kemana Ummi?" tanyanya.

"Ummi minta Kemala untuk mengantar beberapa barang Abah yang ketinggalan..." sahut Ummi yang masih menunduk, memijit kakinya.

Ada kilatan tak terbaca dari tatapan Kirana.

Tatapan tidak suka.

"Kamu, apa sudah selesai mengajar?" tanya Ummi hingga membuat Kirana menoleh cepat pada mertuanya.

Matanya menyipit, tanda dirinya tersenyum dibalik cadarnya. "Sudah selesai jam pertama, Ummi... Dan ini mau masuk jam berikutnya..." sahutnya.

Kirana berdiri, dan merapikan gamisnya.

"Kalau begitu, Kirana pamit mau kekelas lagi... Ummi istirahat ya... Assalamualaikum.." ucapnya pamit.

"Waalaikum sallam...." sahut Ummi pelan.

"Mungkin hanya perasaan ku saja...." gumam Ummi menyangkal sebuah pikiran yang terlintas dalam benaknya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Suasana di ruang kantor guru bagian santri laki-laki itu hening, hanya terdengar suara halus kertas yang disusun di meja.

"Assalamualaikum,.." sapa Kemala pada seseorang yang duduk di meja tamu, di lobi kantor.

"Waalaikum sallam... Eh.. Mbak Kemala... Ada perlu sama Gus Abimana ya..." sapa laki-laki seusia Abimana yang merupakan suami dari Lastri.

"Tidak, ustadz Hadi... Saya mau keruangan Abah.. Apa beliau ada?"

"Oh ada... Kyai sedang zoom meeting dengan salah satu donatur pondok... Silahkan masuk saja mbak,..."

Kemala pamit, dan segera berjalan menuju ruangan Abah yang berada di sebelah timur pintu masuk.

Usai mengantar titipan Ummi, Kemala bergegas pergi karena agak sungkan rasanya berlama-lama di area santri laki-laki.

Namun ketika Kemala menyusuri jalan pintas menuju area perempuan, matanya menangkap siluet orang yang berjalan mengendap-endap dengan ransel dibahunya seperti seorang pencuri.

Sosok itu melintas cepat, berjalan terburu-buru, menoleh ke kiri dan kanan seakan takut tertangkap. Langkah kakinya terhenti mendadak saat pandangan mereka bertemu.

Sean Wijayakusuma.

Wajah laki-laki itu tampak tegang, napasnya sedikit memburu. Tas ransel tersampir di satu bahu, pakaiannya rapi namun terlihat tergesa.

"Kamu...?" Kemala mengerjap "Apa yang kamu lakukan? Orang luar tidak boleh sembarangan masuk. Kamu mau mencuri ya...?" tudingnya, apalagi ketika Kemala sempat memindai penampilan Sean yang layaknya seperti tukang pukul di pasar induk.

Sean menelan ludah.

Matanya tak berkedip kala mengenali perempuan yang berdiri dihadapannya saat ini.

Perempuan yang sempat masuk kedalam list incarannya.

Merasa diabaikan, Kemala mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah Sean.

"Oi... Ngapain bengong?" hardik Kemala.

Sean berdehem, mengembalikan sorot mata dinginnya seperti semula.

"Kamu siapa? Dan ngapain di area santri laki-laki? Jangan-jangan, kamu mau ketemu pacarmu ya...? Hayo ngaku saja! Saya akan tutup mulut, jadi kita impas..." Sean menggerakan tangan di depan bibirnya seperti mengunci sambil memainkan kedua alisnya naik turun.

Kemala tanpa sadar mendengus. "Jangan asal kamu... Lagipula, ngapain saya harus diam-diam mengendap ke area laki-laki hanya untuk pacaran... Saya sudah nikah...." Kemala mengangkat telapak tangannya dan memperlihatkan sebuah cincin di jari manisnya.

Wajah Sean berubah sendu, tapi tetap memasang wajah dingin.

"Oh... Sudah nikah rupanya... Baguslah... " ucapnya lalu berbalik badan hendak pergi.

Kemala mengerutkan dahi. Agak kesal pada sikap laki-laki yang baru dia temui ini.

"Dasar aneh..!" gumamnya ikut pergi.

Di ujung sana, tepatnya dibalik pilar tinggi dekat mesjid, ada seseorang dengan seringai tipis di bibirnya.

Dia seperti mendapat sebuah jack pout dalam sebuah undian.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Malam hari, pintu rumah Kemala di ketuk sedikit keras dari biasanya.

Kemala yang baru saja selesai mandi bergegas menuju jendela dan mengintip siapa yang datang.

"Mas Abimana?" bisiknya.

"Kemala! Buka pintunya!" suara Abimana berteriak frustasi.

Kemala memutar kunci dan menekan gagang pintu agar terbuka.

Begitu melihat celah kecil terbuka, Abimana mendorong pintu agak kasar hingga tanpa sengaja membentur kening Kemala.

Kemala mengusap keningnya yang perih.

"Mas... Bisa lembut sedikit tidak... Kasar banget?" omel Kemala kesal.

Abimana yang kadung emosi mengabaikan omelan istrinya.

Amarahnya sudah sampai di ubun-ubun.

Tadi sore, dirinya mendapat laporan jika melihat Kemala di area santri laki-laki dan sedang berbincang dengan Sean, si tukang onar. Sebuah julukan yang disematkan oleh para pengajar di pondok.

"Jelaskan pada saya, apa yang kamu lakukan di area santri laki-laki tadi siang?!"

Kemala berpikir sejenak, "Hanya memberikan berkas pada Abah, titipan dari Ummi" sahut Kemala jujur.

"Bohong! Katakan yang jujur Kemala! Jangan buat saya marah!" hardik Abimana tersulut emosi.

"Terserah jika kamu tak percaya mas... Tapi memang itulah yang terjadi. Tanya saja pada Ummi..." balas Kemala lebih keras.

"Jangan mentang-mentang kamu selama beberapa hari ini saya diamkan, lantas bisa membenarkan sikap kamu yang bebas berbicara pada sembarang laki-laki... Apalagi pada si brandalan kecil seperti Sean! Jauhi dia, dan jika saya lihat kamu berbicara dengannya lagi, maka saya tidak akan segan-segan menghukum mu, Kemala"

Kemala terperangah.

Ini pertama kali dirinya melihat kemarahan Abimana.

"Kamu aneh mas... Setelah lama tidak datang, dan sekalinya datang justru marah-marah tak jelas... Egois..."

Kemala berlalu dari hadapan Abimana namun laki-laki itu mencekal pergelangan tangan Kemala hingga membuatnya tersentak.

Handuk yang masih membungkus rambut panjang Kemala jatuh seketika dan teronggok dilantai keramik yang dingin.

"Jangan mengabaikanku Kemala...!" desisnya kasar. Ia melangkah mendekat, napasnya memburu. "Kamu sengaja membiarkan dia menyapamu bukan? Di saat saya tidak ada? Apa kamu begitu tidak sabar mencari perhatian laki-laki lain?"

"Mas Abimana! Jangan menghinaku seolah-oleh kamu tahu semua tentangku"

"Diam!" sentak Abimana tepat didepan wajah Kemala.

Bahu Kemala mengerucut karena hardikan suaminya.

Ego Abimana kali ini membakar akal sehat. Ia semakin menekan pergelangan tangan istrinya dengan kasar, menariknya ke arah kamar. "Kamu adalah istriku. Tubuhmu, waktumu, semuanya milikku. Tidak ada yang boleh melihatmu, tidak ada yang boleh mendekatimu selain saya!"

"Mas, sakit... lepaskan..." rintih Kemala, mencoba melepaskan diri, namun cengkeraman suaminya begitu kuat. Rengekan itu bahkan tidak didengar oleh Abimana.

Malam itu, bukan kehangatan yang didapat Kemala. Abimana menarik paksa piyama Kemala hingga kancing-kancingnya berlebaran kemana-mana.

Laki-laki itu menggaulinya bukan dengan kasih, melainkan dengan kemarahan yang buta.

Ia melampiaskan semua emosinya dan harga diri yang terasa terinjak lewat sentuhan yang kasar, tanpa peduli pada rintihan istrinya yang memohon. Ia tak menyadari bahwa setiap sentuhannya bukan menyatukan, melainkan merobek hati wanita itu berkali-kali lipat.

Ketika semuanya usai, Abimana berbalik memunggungi istrinya, masih bergumam dengan nada dingin, "Itulah akibatnya jika kamu bermain api."

Sementara Kemala terbaring diam di tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang remang.

Tubuhnya terasa perih, namun jauh lebih perih hatinya. Di keheningan malam itu, ia menyadari satu hal pahit, luka yang ditorehkan orang yang dicintai, tak akan pernah sembuh hanya dengan kata maaf.

bersambung....

1
Mundri Astuti
ni ga kebongkar juga yak...kasihan di fitnah terus si kemala...he abi..koreksi diri dong...kamu pernah hidup bareng Kemala sebagai kakak angkatnya..masa ga tau sifat Kemala gimana
falea sezi
moga abis ne kebongkar borok istri sok alim elu🤣🤣 nunggu elu nangis darah trs kemala dpet jodoh cogan bujang kaya raya👍
Mundri Astuti
belum kebongkar juga ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!