Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.
Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.
Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.
Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?
Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 17.Ciuman Part 2
Hingga akhirnya langkahnya membawanya ke ruang makan.
Vellano berhenti.
Di sana Alessia sedang menata meja.
Dua piring sudah tersusun rapi. Di salah satunya terdapat steak daging panggang—makanan kesukaannya—lengkap dengan hidangan pendamping. Di sampingnya terdapat segelas wine.
Dan Alessia masih mengenakan apron.
Vellano terdiam.
Ada sesuatu yang hangat menyentuh dadanya.
Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat.
Dia memasak untukku?
Namun begitu Alessia menoleh dan menyadari keberadaannya, Vellano buru-buru menghapus senyum itu.
Wajahnya kembali datar.
“Kau sedang apa?”
Alessia menatapnya bingung.
“Menurutmu?”
Vellano melirik meja.
“Entahlah. Mungkin sedang mengadakan pesta makan malam untuk dirimu sendiri.”
Alessia mendengus. “Aku memasak.”
“Aku bisa melihatnya.”
“Kalau begitu kenapa bertanya?”
Vellano terdiam.
Kena telak.
Alessia kemudian menarik kursi.
“Aku membuat steak. Kalau kau mau makan, duduk.”
Vellano hampir tersenyum lagi.
Namun gengsinya lebih cepat bekerja.
“Kalau aku tidak mau?”
Alessia mengangkat bahu.
“Ya sudah. Aku makan sendiri.”
Vellano langsung menarik kursi dan duduk.
Alessia menatapnya heran.
“Katanya tidak mau?”
“Aku berubah pikiran.”
“Cepat sekali.”
“Aku lapar.”
Alessia menahan tawa.
“Dasar.”
Vellano mengambil garpu, lalu melirik steak di depannya.
Dalam hati, ia merasa jauh lebih senang daripada yang ingin ia akui.
Setelah seharian memikirkan betapa rumitnya perasaannya, ternyata satu piring steak buatan Alessia saja sudah cukup membuat semua pertanyaan itu kembali berantakan.
Dan untuk pertama kalinya, Vellano mulai bertanya-tanya apakah pulang ke rumah sebenarnya mulai menjadi bagian favoritnya.
......................
Setelah makan malam selesai, Alessia dan Vellano akhirnya kembali ke kamar utama. Suasana yang tadi terasa hangat mendadak berubah canggung.
“Siapa yang mandi dulu?” tanya Alessia sambil berdiri di depan kamar mandi.
“Kau.”
“Kenapa aku?”
“Karena kau yang lebih dulu bertanya.”
Alessia memutar mata. “Logika macam apa itu?”
“Logika suamimu.”
“Tidak masuk akal.”
Perdebatan kecil itu berlangsung hampir sepuluh menit sampai akhirnya mereka justru berakhir di dalam bathtub yang sama. Entah bagaimana mereka bisa sampai pada keputusan tersebut pun tidak ada yang mau mengaku.
Air hangat memenuhi bathtub. Alessia duduk di satu sisi, sementara Vellano di sisi lainnya. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak cukup jauh untuk membuat keduanya merasa nyaman.
“Jangan lihat aku,” gumam Alessia.
“Aku tidak melihatmu.”
“Bohong.”
“Aku sedang melihat dinding.”
Alessia melirik ke arah dinding. “Dindingnya bahkan tidak ada di belakangku.”
Vellano terdiam.
Alessia menahan tawa. “Ketahuan.”
Untuk beberapa saat mereka hanya diam. Namun ketika tatapan mereka bertemu, suasana berubah. Tidak ada lagi candaan. Tatapan Vellano tertahan pada mata Alessia, sementara Alessia mendadak lupa bagaimana caranya berpaling.
Entah siapa yang bergerak lebih dulu, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Bibir mereka bertemu.
Awalnya hanya singkat, tetapi tak satu pun segera menjauh. Ciuman itu berlangsung cukup lama, lembut dan penuh keraguan, seolah keduanya sama-sama terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
Jantung Alessia berdegup begitu kencang sampai ia merasa Vellano pasti bisa mendengarnya.
Lima menit kemudian, Vellano akhirnya menarik diri.
Napasnya sedikit berat. Ia menatap Alessia yang wajahnya sudah merah padam.
“Kita keluar sekarang,” katanya tiba-tiba.
Alessia berkedip. “Kenapa?”
“Karena kalau kita tetap di sini, aku takut kehilangan akal sehat.”
Alessia langsung membeku.
Vellano berdiri dan mengambil handuk. “Aku masih punya harga diri.”
“Justru kau yang membuat semuanya jadi aneh!”
“Bagus. Berarti kita sepakat.”
Alessia memelototinya, tetapi diam-diam jantungnya masih berpacu. Malam itu, untuk pertama kalinya, keduanya sama-sama menyadari bahwa hubungan mereka perlahan mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar pernikahan kontrak.
......................
Setelah keluar dari kamar mandi, suasana di kamar utama terasa aneh. Terlalu sunyi. Terlalu canggung.
Alessia sibuk mengeringkan rambutnya, sementara Vellano berdiri di depan lemari seolah-olah sedang mencari sesuatu yang sangat penting.
Padahal kaus yang dicarinya sudah jelas berada tepat di tangannya.
Alessia melirik. “Kau mencari apa?”
“Baju.”
“Itu sudah di tanganmu.”
Vellano menatap tangannya sendiri, lalu berdeham. “Aku tahu.”
Alessia menahan tawa. “Kau aneh.”
“Kau juga.”
Hening kembali.
Namun pikiran keduanya justru dipenuhi kejadian beberapa menit lalu. Ciuman di bathtub itu. Dan lebih jauh lagi, ciuman yang pernah terjadi di balkon. Dua kali.
Tanpa mereka sadari, sebenarnya kontrak pernikahan mereka telah lama kehilangan maknanya. Mereka sudah melewati batas yang dulu mereka sepakati sendiri—bukan karena kewajiban, melainkan karena perasaan yang perlahan tumbuh.
Ironisnya, dua orang yang jelas-jelas mulai jatuh cinta justru masih sibuk menyangkalnya.
Alessia berbaring membelakangi Vellano.
“Jangan berpikir macam-macam,” katanya tiba-tiba.
“Aku tidak berpikir apa-apa.”
“Bagus.”
Beberapa detik kemudian Vellano bertanya, “Kau masih memikirkan ciuman tadi?”
Alessia langsung menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
“Tidak!”
Vellano tersenyum kecil.
Dari balik selimut terdengar gumaman kesal.
“Dan jangan senyum!”
“Aku tidak senyum.”
“Kau pasti senyum!”
Untuk pertama kalinya malam itu, Vellano tertawa pelan.
Mereka belum menyadarinya, tetapi kontrak itu sebenarnya sudah kalah jauh dari hati mereka sendiri.
Alessia yang masih bersembunyi di balik selimut akhirnya mengangkat kepalanya.
“Vellano.”
“Hm?”
“Kita tetap tidak boleh tidur satu ranjang.”
Vellano yang sedang merapikan bantal menoleh santai. “Aku tahu.”
“Biasanya kau tidur di sofa.”
“Aku juga tahu.”
“Jadi, malam ini kau tidur di sofa.”
Vellano menatapnya beberapa detik, lalu berjalan menuju jendela. Di luar, hujan tiba-tiba turun semakin deras. Kilatan petir menyambar disusul suara guntur yang menggelegar.
Alessia langsung terdiam.
Vellano menoleh perlahan. “Masih yakin aku harus tidur di sofa?”
“Aku tidak takut.”
Guntur kembali menggelegar.
Alessia tersentak sampai hampir menjatuhkan bantal.
Vellano mengangkat alis.
“Aku cuma kaget,” katanya cepat.
“Tentu.”
“Aku benar-benar tidak takut.”
“Beberapa minggu lalu kau sampai demam karena ketakutan saat hujan petir.”
“Itu kebetulan.”
“Dan kau bersembunyi di bawah selimut sambil memeluk bantal.”
“Itu strategi pertahanan.”
Vellano hampir tertawa. “Baiklah, Nona Strategi Pertahanan.”
Petir kembali menyambar. Alessia langsung menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
Vellano tersenyum kecil. “Tidurlah di ranjang. Aku tidak akan macam-macam.”
“Aku tetap tidak mau.”
“Baik. Aku tidur di sofa.”
Alessia mengintip dari balik selimut. “Benarkah?”
Vellano mengambil bantal dan hendak berjalan keluar.
Guntur menggelegar sekali lagi.
Alessia langsung bangkit. “Tunggu!”
Vellano berhenti.
“Kalau… kalau kau memang mau tidur di sini, ya sudah.”
“Bukankah tadi kau melarang?”
“Aku berubah pikiran.”
Vellano menahan senyum. “Tentu saja.”
Akhirnya mereka berbaring berjauhan di ranjang yang sama, masing-masing menghadap arah berlawanan.
Namun setelah beberapa menit, Alessia diam-diam menarik selimut sedikit lebih dekat ke sisi Vellano.
Vellano pura-pura tidak menyadarinya.
Malam itu, untuk pertama kalinya, sofa benar-benar tidak terpakai.
......................
Pagi perlahan menyusup melalui celah tirai. Hujan semalam telah berhenti, menyisakan udara dingin dan aroma tanah basah yang masuk dari balkon.
Alessia membuka matanya perlahan.
Aneh.....
...****************...
Jujur agak ngakak nulis ini wkwkwk,lucu kali mereka udah jatuh cinta tapi gengsi.
Ikuti terus keseruannya ya.Stay tune.
Terimakasih untuk yang sudah mampir, jangan lupa untuk tinggalkan jejak.
See you semuanya 🫶🏽🥰