Gadis dan Dara adalah sepasang gadis kembar yang tidak mengetahui keberadaan satu sama lain.
Hingga Dara mengetahui bahwa ia punya saudara kembar yang terbunuh. Gadis mengirimkan paket berisi video tentang dirinya dan permintaan tolong untuk menyelidiki kematiannya.
Akankah Dara menyelidiki kematian saudaranya? Bagaimana Dara masuk ke keluarga Gadis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Freya Alana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengejar
Seorang wanita paruh baya bertubuh kurus dan berwajah letih turun dari angkot. Langkahnya pelan masuk ke sebuah rumah sakit umum.
Di tangannya ada rantang berisi sayur kangkung, tempe goreng, dan urapan.
Ia terus melangkah menelusuri koridor, naik ke lantai lima dan masuk ke bangsal kelas tiga.
“Assalamualaykum, Nak. Ibu bawa makanan.”
Yang disapa membuka matanya lalu terpejam lagi. Indah, putri sulung Pak Karyo yang sudah lama sakit infeksi paru akut kembali terlelap. Di hidungnya ada selang oksigen.
“Bangun dulu yuk. Ni, ibu bawakan makanan kesukaan kamu. Urapan. Sayang, bangun, yuk.”
Indah susah payah membuka matanya. Tersenyum pada wajah yang setia menemaninya.
“Ba … pak ma… na?” Matanya mencari sosok cinta pertamanya.
“Bapak lagi kerja. Mungkin lama baru bisa ke sini.”
“In … dah … ka ..nge ..n.” Indah berkata terbata-bata.
Bu Karyo buru-buru berdiri dan menyiapkan makanan agar Indah tidak melihat air mata yang mulai merebak.
“Bapak lagi ada proyek, duitnya lumayan jadi bisa buat biaya pengobatan. Indah harus sembuh, ya.”
Indah, putri pertama dari bayi didiagnosis dengan kelainan di organ pernapasan sehingga rentan terkena infeksi paru. Ditambah pengobatan dan gizi seadanya, penyakit Indah semakin parah seiring berjalannya waktu.
“Makan, yuk. Ibu masakin sayur kangkung juga. Seger. Tapi bayemnya jelek-jelek. Besok ya, Ibu bikinin sayur bayam.”
Indah dengan lemah berusaha bangun dan langsung tersengal. Napasnya sesak.
Wajahnya panik.
“I.. bu …” Tangannya mencari tangan ibunya.
“Sssh, Indah atur napas, pelan, jangan panik. Ambil napas dalam … buang.”
Indah meringis. Ibunya berusaha tenang walau hatinya menjerit ketika melihat putrinya kesakitan saat bernapas.
“Ssssh, dalam hati istighfar, yuk, Nak.” Suara Bu Karyo menenangkan.
Setelah beberapa saat, Indah mulai bisa bernapas normal. Setelah tenang, Bu Karyo memberinya minum air hangat lalu mulai menyuapi putrinya.
Dari luar bangsal, Irsad mengamati ibu dan anak yang sedang berjuang menjalani takdir.
Sementara itu di kantor polisi Karyo tetap pada jawabannya bahwa dirinyalah penembak Riza Anantara. Bahwa hidupnya tidak tenang terlebih saat berita kematian Riza viral.
Menunduk, laki-laki itu pasrah terhadap nasibnya.
“Biarlah Bapak dipenjara, yang penting kamu harus sembuh, Nak,” batinnya.
Riko bertanya, “Lalu abis nembak senjatanya dikemanai?”
“Buang di sungai, Pak.”
“Terus mayatnya diapain?”
“Saya tinggal, Pak.”
“Oya, Pak, coba jelasin ke saya cara nembak gimana?”
Karyo menatap lurus ke mata Riko.
“Saya sudah lupa, Pak. Tapi dulu saya berlatih.”
“Menembak dalam jarak dekat butuh keberanian luar biasa.”
“Saya cemburu buta.”
“Pertanyaan saya terakhir. Apakah Bapak ingin mengubah pengakuan?”
“Tidak, Pak. Saya sudah membunuh Riza Anantara karena cemburu,” jawab Karyo tanpa ragu sedikit pun.
Riko terus menatap laki-laki yang dia tahu rela mengorbankan hidupnya agar putri sulungnya mendapat pengobatan.
“Saya nggak punya pilihan lain. Berkas ini akan masuk ke kejaksaan dan Bapak akan masuk sidang.”
“Siap! Saya siap mempertanggungjawabkan perbuatan saya.”
Riko bangkit dari kursinya lalu pergi ke ruang sebelah. Menatap Karyo dari kaca satu arah yang kini duduk tertunduk lesu.
Irsad masuk.
“Nggak goyang?”
“Nope!”
“Besok gue kejar anaknya yang nomor dua deh.”
“Anak itu senjata paling ampuh buat bikin orang tua bertekuk lutut.”
“Tapi udah jelas ada orang yang supply dana ke Pak Karyo buat anaknya dirawat sebagai kompensasi dia ngaku udah bunuh Riza Anantara.”
***
Malam di Penang, Darius duduk menghadap kaca di lantai penthouse. Dara menginap di rumah sakit.
Sejak tahu bahwa Riza mengenal penembak, Darius memperketat pengawalan untuk cucunya.
Diabaikan protes keras dari Dara yang akhirnya mengalah karena desakan Arum yang khawatir.
“Opa nggak mau kecolongan terus menerus.”
Darius kini memikirkan orang yang mungkin membunuh putra kandungnya.
“Anwar dan Adrian adalah orang yang dekat denganku saat itu. Mereka mengenal baik Riza. Mereka nggak akan tega. Adrian memang ambisius tapi dia bukan tipe orang yang tega. Anwar adalah orang terbaik yang pernah kukenal. Family man. Dia tak mungkin tega menyakiti anakku.”
Terus menelusuri, Darius mengingar lawan-lawan bisnisnya.
“Lawan bisnis terkuat adalah Syailendra. Mike tak mungkin karena dia belum bergabung di bisnis keluarganya. Kala itu dia masih sekolah. Apakah Dimas, ayahnya yang sudah meninggal. Pertarunganku cukup sengit dengan orang tua licik itu.”
Darius membuka dompetnya. Dikeluarkan foto bertiga dengan Diandra dan Riza. Foto terakhir sebelum Diandra meninggal karena kecelakaan pesawat.
“Kenapa orang-orang di sekitarku meninggal tragis? Apakah dosa yang kulakukan hingga aku dibalas melalui orang-orang di sekelilingku?”
***
Irsad memakai seragam pabrik.
“Kamu tugas di bagian packing.”
“Siap, Pak.”
Irsad menuju ke bagian yang dituju. Tidak ada yang mengenali pria lusuh dengan jenggot yang berjalan perlahan. Menyamar, itulah keahlian Irsad. Ia bisa menjadi rupa apapun yang diinginkan.
Di bagian packing ia melihat pemuda yang disasar. Radit, anak kedua dari Pak Karyo. Irsad harus mencari tahu siapa yang membiayai pengobatan Indah.
“Pagi, saya ditugaskan di sini.”
Radit hanya mengangkar alis. “Bapaknya bisa kerja di sana. Jam sepuluh harus sudah selesai setengah tumpuk.”
“Baik.”
Irsad mulai dengan tekun mengerjakan bagiannya. Begitulah selama beberapa hari. Dengan penuh kesabaran Irsad menjalankan perannya sebagai pekerja pabrik.
Hingga suatu saat ia berjalan pulang, mengambil rute yang ditempuh Radit. Kini ia bergaya jamet. Rambut gondrong, kaos hitam, jeans ketat, dan jaket. Di sebuah warung Radit berhenti. Begitu turun dari motornya seorang pria mendekat, tak banyak cakap, Radit hanya menunduk lalu menerima amplop.
Irsad mengamati dari jauh, tubuhnya menegang ketika laki-laki itu berjalan ke motornya.
“Ya Allah, itu laki-laki yang dilihat Dara saat halusinasi.”
***
Irsad memainkan stylus untuk meneruskan sketsa yang dibuat untuk Dara.
Kini ia sudah mengetahui paras laki-laki dengan mata berbentuk almond dan bekas luka di pipi kirinya. Irsad mengirimkan sketsa ke Riko.
Dirinya hendak masuk ke kamar kost-nya ketika sebuah benda keras menghantam belakang kepalanya.
***
Dengan kepala berdenyut, Irsad terbangun di lantai semen yang dingin dan keras.
Sepasang mata menatapnya lekat.
”Haish, gue pikir gue udah mati.”
”Nggak segampang itu. Aku tadi datang tepat saat orang itu mau angkut Abang ke mobilnya.”
“Kita dimana? Arifin, nggak bisa apa gue dibawa ke hotel gitu. Harus banget dibawa kw rumah aman modelan gubug gini.”
Arifin membantu abangnya bangun. Irsad mendengus karena kepalanya masih berat.
”Yang Abang hadapin kaliber berat. Dia bisa nangkep Abang. Riko lagi cek ke data base. Orang itu nggak ada di sana. Kita berhadapan dengan hantu.”
Irsad menggosong tengkuknya yang kebas.
”Ada siapa di depan?”
”Anak buah. Kami habis mengantar saksi sebelum ke tempat Abang.”
“Tablet gue mana?”
”Diambil, Bang. Maaf. Tadi anak buahku mengejar tapi mobilnya keburu hilang. Dia naik mobil Avan item.”
“Mobil sejuta umat. Platnya palsu?”
“Pastinya.”
Irsad menggosok wajahnya dengan kasar. Tadi orang itu yang mukul Abang? Brengsek.”
”Anak buahnya. Dia nunggu di mobil. Keliatan dari CCTV.”
”Hmmm, hantu ya? Kita liat seberapa lama kamu bisa menyembunyikan identitasmu.”
***
👍👍👍👍
❤❤❤❤
semoga mbak Authornya sehat selalu, sukses dan berkah, makasih mbak Author
❤❤❤❤
karyamu keren thor. good job
makasih yah kak
karyanya bagus
semoga nanti Makin banyak yang baca,Makin banyak yang suka
sukses selalu ❤️