NovelToon NovelToon
“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anita Banto

Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19

Amara menghabiskan waktu berjam-jam untuk meredam badai tangis yang melanda Bethany. Berkali-kali ia membisikkan janji yang sama, sebuah sumpah yang ia tanamkan dalam benaknya: Jeremiah, pria bajingan itu, akan segera menerima pembalasan yang setimpal.

​Baru setelah napas Bethany melambat dan wanita malang itu jatuh tertidur dalam kelelahan yang luar biasa, Amara beranjak pergi. Bayangan memar ungu yang kontras dengan kulit pucat Bethany terus menghantuinya, membakar amarah yang kini menekan bahunya seberat batu karang saat ia melangkah pulang.

​Namun, saat ia membuka pintu apartemen, pemandangan di atas sofa seketika membuat napasnya tertahan di tenggorokan.

​"Oh, Tuhan!" Amara memekik tertahan. Refleks, ia memejamkan mata rapat-rapat dan berbalik badan secepat kilat. Wajahnya terasa panas membara, jantungnya berdegup kencang karena rasa canggung yang menyerang mendadak. Ia baru saja menangkap basah Melanie yang tengah bermesraan dengan seorang pria asing yang sama sekali tidak dikenal Amara.

​"Mara? Kamu sudah pulang?" Suara Melanie terdengar gugup di tengah bunyi gesekan kain yang terburu-buru. Ia mendorong pasangannya menjauh—sebuah tindakan yang jelas membuat pria itu mengerang tidak senang. "Bagaimana dengan golfnya? Bukankah seharusnya masih lama?"

​Amara masih terpaku menghadap pintu, meremas tali tasnya dengan tangan yang gemetar. "Aku... uh... selesai lebih awal," gumamnya, masih tak berani menoleh. "Apa aku mengganggu? Aku bisa keluar lagi kalau memang harus—"

​"Tidak, tidak sama sekali," Melanie kembali mendorong pria itu, kali ini dengan kekuatan penuh hingga si pria terpaksa berdiri dari sofa. "Kami baru saja akan selesai." Ia menoleh ke arah teman kencannya dan mengusirnya tanpa ampun. "Sebaiknya kamu pergi sekarang."

​Pria itu tampak keberatan. "Tapi Mel," ia mencoba mengeluh dengan nada rendah.

​"Sudah kukatakan pergi, ya pergi! Kamu tidak lihat temanku sudah pulang? Ayo, keluar sekarang!"

​Mendengar nada suara Melanie yang mulai berubah galak, pria itu tahu tidak ada gunanya membantah. Sambil mengomel pelan, ia menyambar jaket dan sepatunya. Ia sempat melirik tajam ke arah Amara dengan raut wajah kesal saat berjalan melewati pintu.

​"Siapa pria itu, Mel?" tanya Amara setelah suasana sedikit tenang.

​"Hanya salah satu pria yang kupungut di klub. Kenapa memangnya?" sahut Melanie enteng, seolah tidak baru saja tertangkap basah dalam situasi intim.

​Amara tidak langsung menjawab. Ia justru menoleh ke arah pintu yang baru saja tertutup, menatapnya cukup lama. Ada sesuatu yang mengganjal—wajah pria itu terasa begitu familier, seolah tersimpan di sudut ingatannya yang belum terjamah. Namun, setelah beberapa detik berusaha memutar memori tanpa hasil, ia akhirnya menggelengkan kepala.

​"Bukan apa-apa. Aku hanya penasaran," gumam Amara pelan.

​Melanie menyeringai lebar, binar nakal kembali ke matanya. "Penasaran, ya?" Ia mengedipkan mata dengan nada menggoda. Sebelum kata-kata usil lainnya meluncur, Amara segera melemparkan tatapan tajam—sebuah peringatan bisu agar Melanie menyimpan saja lelucon konyol yang sudah ada di ujung lidahnya.

​Tentu saja, Melanie tetap melontarkannya sebelum akhirnya menyerah.

​Amara mendengus, mengambil segelas air dingin untuk menenangkan gejolak emosinya. "Aku menyesal kamu harus melihat pemandangan tadi," ucap Melanie lirih, suaranya kini terdengar tulus.

​"Itu bukan salahmu," sahut Amara berusaha meyakinkan. Ia menyesap airnya, lalu menarik napas panjang. "Tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya aku sudah terlalu lama menumpang di sini, Mel. Kamu sudah menampungku hampir dua bulan dan aku tidak ingin terus-menerus merepotkanmu. Mungkin... sudah waktunya aku mencari tempat tinggal sendiri."

​"Apa? Tidak, jangan bicara begitu!" Melanie menyela dengan nada panik. "Pertama, kamu sama sekali tidak merepotkan. Kamu ikut membayar tagihan dan sangat membantuku mengurus rumah. Kalau masalahnya adalah si berengsek tadi, aku berjanji akan berhenti membawa pria ke sini. Kita bisa tinggal berdua saja, seperti dulu."

​Melanie bangkit dari kursinya, menghampiri Amara ke dapur, lalu menggenggam tangan sahabatnya itu dengan erat. "Kamu jauh lebih penting daripada pria mana pun, Amara."

​Melanie bersungguh-sungguh. Bukan karena ia bosan dengan hubungan asmaranya yang selalu kandas—diselingkuhi, dimanfaatkan, atau diputuskan tanpa alasan yang jelas. Ia sadar bahwa di saat dunianya runtuh, hanya Amara yang benar-benar berdiri dengan tangan terbuka.

​Bagi Melanie, Amara adalah satu-satunya keluarga sejati. Secara biologis, ia memang punya ayah yang alkoholik dan kakak laki-laki yang parasit. Namun, mereka tak lebih dari orang asing yang menyebalkan. Ibunya? Wanita itu telah memberikan pelajaran paling berharga sekaligus pahit: bahwa menyerahkan seluruh hidupmu kepada seorang pria adalah jalan pintas menuju kehancuran. Melanie pernah menyaksikan ibunya dipukuli lebih sering daripada seorang atlet profesional.

​Itulah sebabnya, bagi Melanie, menaruh hatinya pada persahabatan dengan Amara terasa jauh lebih aman daripada menyerahkannya pada pria mana pun yang hanya akan menusuknya dari belakang begitu melihat wanita lain dengan rok yang lebih pendek.

​"Jadi, tetaplah di sini, ya?" Melanie menatap dengan mata yang memohon, membuat Amara hanya bisa terkekeh pelan meski hatinya terasa berat.

​"Aku tahu kamu suka aku ada di sini, Mel. Aku juga sama. Tapi..." Amara menggantung kalimatnya, lalu dengan lembut menyentuh pipi Melanie.

​"Kamu mengerti aku, kan, Mara?" desak Melanie, seolah butuh validasi.

​Amara terdiam sejenak. Pikirannya melayang mundur, terseret kembali ke dalam memori kelam pernikahannya dengan Tobias. Ia ingat dinginnya pengabaian pria itu, kekejaman ibu dan adik Tobias yang meninggalkan bekas luka fisik dan batin yang masih sering berdenyut nyeri. Ia mengingat setiap penghinaan yang ia telan bulat-bulat demi cinta yang bertepuk sebelah tangan.

​"Tentu saja," Amara akhirnya bersuara, suaranya nyaris menyerupai bisikan yang tertahan. "Tapi," lanjutnya pelan, "kamu tidak boleh menyerah pada harapan secepat itu. Dunia ini terlalu luas, Mel. Siapa tahu, kebahagiaanmu sedang menanti di sudut jalan berikutnya."

​Melanie bersandar pada sentuhan tangan Amara, lalu menggelengkan kepala sambil tertawa sinis. "Dunia tidak bekerja seindah itu, Mara. Hidup kita bukan drama remaja yang berakhir bahagia. Aku jelas bukan pemeran utama wanita yang malang."

​Melanie membuka matanya, dan keputusasaan yang membayang di sana seketika mengingatkan Amara pada kehancuran sahabatnya itu setahun yang lalu. Saat tunangannya tidak hanya berselingkuh, tetapi juga mengeruk harta Melanie hingga ludes sebelum menghilang tanpa jejak.

​"Bisakah kita tidak membicarakan ini lebih jauh?" pinta Melanie dengan suara yang retak. Ia hanya ingin berhenti berharap, agar ia tidak perlu lagi merasakan perihnya patah hati yang sama.

1
S
bodoh.jk.mau di lindungi seolah bs mengatasi segalanya tp begitu bahaya.mrngancam baru panik
S
aku yaki tawa dan dansamu hanya utk menghibur diri tak mungkin rasamu hilang tiba tiba mara.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!