Di dunia yang dipenuhi para ahli bela diri dan kultivator kuat, Goo Yoon hanyalah seorang pemuda biasa yang bahkan tidak mampu mengalahkan murid terlemah di sekte.
Namun Goo Yoon memiliki satu hal yang tidak dimiliki orang lain—tekad yang tidak pernah patah.
Setelah terus dipermalukan dan diremehkan, suatu hari ia menemukan sebuah seni bela diri kuno yang telah lama hilang. Seni tersebut dikenal sebagai Teknik Pedang Dewa Gila, sebuah kekuatan yang bahkan para master legendaris tak mampu kuasai.
Dengan latihan yang penuh darah, rasa sakit, dan kegagalan, Goo Yoon perlahan berubah.
Dari seorang pemuda lemah…
Menjadi legenda yang ditakuti seluruh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jenih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Aula Batu Hitam
Malam perlahan turun di Sekte Cheonma.
Langit dipenuhi bintang, sementara cahaya bulan menyinari halaman sekte yang luas. Sebagian besar murid sudah kembali ke asrama mereka setelah ujian yang melelahkan.
Namun Goo Yoon masih terjaga.
Ia duduk di tepi tempat tidurnya, menatap jendela kayu yang sedikit terbuka. Angin malam masuk perlahan, membawa udara dingin dari pegunungan.
Pikirannya terus mengingat satu hal.
Aula Batu Hitam.
Pria berjubah hitam itu mengatakan tempat itu biasanya tidak boleh dimasuki murid biasa.
Jika itu benar… kenapa ia justru disuruh datang?
“Apakah ini jebakan…?” gumam Goo Yoon pelan.
Namun setelah beberapa saat berpikir, ia berdiri.
“Kalau aku ingin menjadi kuat… aku tidak boleh takut.”
Ia mengambil tongkat kayunya, lalu keluar dari asrama.
Halaman sekte malam itu sunyi.
Lampu-lampu lentera menggantung di beberapa sudut, menciptakan bayangan panjang di tanah.
Goo Yoon berjalan perlahan menuju bagian belakang sekte.
Semakin jauh ia berjalan, semakin sepi tempat itu.
Bangunan mulai jarang.
Pepohonan semakin rapat.
Akhirnya, setelah berjalan beberapa menit, Goo Yoon melihat sebuah bangunan besar berdiri sendirian di antara batu-batu hitam besar.
Bangunan itu tampak tua.
Dindingnya terbuat dari batu gelap, dan pintunya sangat besar.
Di atas pintu tertulis tiga huruf besar:
Aula Batu Hitam.
Goo Yoon berhenti beberapa langkah di depan pintu itu.
Aura tempat ini terasa berat.
Seperti ada sesuatu yang tersembunyi di dalamnya.
Namun ia tetap melangkah maju.
Tangannya mendorong pintu perlahan.
GREEEKKK…
Pintu besar itu terbuka.
Di dalamnya gelap.
Hanya beberapa obor kecil yang menyala di dinding.
Ruangan itu luas, hampir seperti aula latihan raksasa.
Namun yang membuat Goo Yoon terkejut adalah…
dindingnya dipenuhi ukiran.
Ukiran manusia yang sedang bertarung.
Ukiran gerakan bela diri.
Puluhan… bahkan ratusan teknik.
“Ini…”
Goo Yoon mendekat perlahan.
Matanya mengikuti setiap ukiran.
Gerakan tangan.
Posisi kaki.
Arah serangan.
Semua terlihat seperti teknik bela diri kuno.
“Tempat ini…”
“Tentu saja istimewa.”
Suara yang familiar terdengar dari belakangnya.
Goo Yoon langsung berbalik.
Pria berjubah hitam itu berdiri di dekat pintu.
Seperti sebelumnya, ia muncul tanpa suara.
“Anda…”
Pria itu berjalan masuk ke aula.
“Ini adalah tempat penyimpanan teknik kuno sekte kami.”
Goo Yoon menatap dinding-dinding itu lagi dengan kagum.
“Kenapa saya dibawa ke sini?”
Pria itu berhenti di tengah ruangan.
“Karena aku melihat sesuatu dalam dirimu.”
Tatapannya menjadi tajam.
“Ketekunan.”
Ia menunjuk salah satu ukiran di dinding.
“Itu adalah teknik dasar yang pernah digunakan oleh pendiri sekte ini.”
Goo Yoon melihat ukiran itu.
Gerakannya terlihat sederhana.
Namun entah kenapa terasa sangat dalam.
“Namanya…”
Teknik Langkah Bayangan.
Pria itu melanjutkan,
“Sebagian besar murid mengabaikan teknik ini karena terlihat terlalu sederhana.”
Ia menatap Goo Yoon.
“Namun orang yang benar-benar menguasainya bisa bergerak secepat bayangan.”
Jantung Goo Yoon berdegup lebih cepat.
“Kenapa Anda memberi tahu saya semua ini?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Karena sekte ini membutuhkan seseorang yang bisa melampaui batas.”
Ia berjalan mendekat sampai hanya beberapa langkah dari Goo Yoon.
“Aku ingin melihat… sejauh mana kamu bisa berkembang.”
Suasana menjadi hening.
Api obor bergoyang pelan.
Akhirnya Goo Yoon berkata,
“Apa yang harus saya lakukan?”
Pria berjubah hitam menunjuk ukiran teknik itu.
“Latih itu.”
“Seribu kali setiap malam.”
“Tanpa berhenti selama satu bulan.”
Goo Yoon terdiam.
Seribu kali setiap malam?
Itu terdengar gila.
Namun pria itu melanjutkan dengan nada serius.
“Jika kamu berhasil… aku akan mengajarkanmu sesuatu yang jauh lebih kuat.”
Matanya bersinar tajam.
“Sesuatu yang bahkan para tetua sekte tidak memilikinya.”
Goo Yoon menatap ukiran teknik itu lagi.
Lalu perlahan mengangguk.
“Saya akan melakukannya.”
Pria berjubah hitam tersenyum.
“Bagus.”
Ia berbalik menuju pintu.
Sebelum pergi, ia berkata satu kalimat terakhir.
“Mulai malam ini… perjalananmu menjadi kuat benar-benar dimulai.”
Pintu aula perlahan tertutup.
Goo Yoon kini sendirian.
Ia berdiri di depan ukiran Teknik Langkah Bayangan.
Lalu mengambil posisi latihan.
Langkah pertama.
Langkah kedua.
Dan latihan tanpa henti pun dimulai.
Tanpa ia sadari…
Di luar aula, seseorang sedang mengawasinya dari kejauhan.
Seorang murid dengan tatapan dingin.
Ia mengepalkan tangannya.
“Jadi dia yang dipilih…”
Tatapannya dipenuhi rasa iri.
“Goo Yoon… aku akan mengalahkanmu.”
yg bner mn nih?
Hubungannya dengan gurunya membuat aku nostalgia sama guruku /Determined/