NovelToon NovelToon
Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta - Part:2

Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta - Part:2

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Playboy / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Harem
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan asal mula jatuhnya Sang Sultan!

SINOPSIS PART 2: BULAN KUTUKAN & KEBANGKITAN RAJA

Dulu, uang triliunan adalah solusi mutlak bagi Raka Adiyaksa. Namun, bagaimana jika kekayaan itu tak lagi bisa melindunginya?

Sistem menjatuhkan hukuman terberat: "Roda Nasib Buruk". Selama 30 hari, Raka harus bertahan hidup tanpa cheat Sistem di tengah badai musibah.

Mampukah Raka melewati bulan kutukan ini dan merebut kembali takhtanya? Siapa yang akan setia, dan siapa yang akan berkhianat?

Roda nasib telah berputar. Pembalasan dendam baru saja dimulai. Selamat datang di neraka Sang Sultan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembalasan untuk Karyawan Butik dan Kembalinya Sang Asisten

Di tengah hembusan angin sore yang sejuk, Raka memutar sebuah nomor telepon.

"Halo, ini dengan owner butik LV cabang Jalan Sudirman?"

"Benar, maaf dengan Bapak siapa saya bicara?"

"Saya cuma pelanggan biasa yang nggak terkenal. Siang tadi saya belanja di butik Anda dan pelayanan staf Anda sangat buruk. Saya mau mengajukan komplain resmi."

"Oh, begitu ceritanya. Kalau begitu, tolong sebutkan nomor transaksi dan bukti pembayarannya, Pak."

"Nomor transaksinya 8872XXXX. Rincian belanja dan bon fisiknya udah saya fotokan dan kirim ke nomor Anda."

"Baik, Tuan..." Pihak di seberang sana terdiam kaku selama tiga detik. Nada suaranya yang tadi santai mendadak berubah menjadi sangat tegang dan penuh rasa hormat. "M-Mohon maaf, Tuan Besar... Anda ingin kami menindaklanjuti staf yang bermasalah itu dengan cara seperti apa?"

"Hmph!" Raka sudah menebak reaksi ini. Siapa juga pemilik bisnis yang berani menyinggung pelanggan VVIP dewa demi beberapa staf rendahan?

"Gue kasih lo uang tip 500 Juta Rupiah. Pecat mereka semua hari ini juga, dan blacklist nama mereka di seluruh asosiasi industri retail barang mewah! Buat detail kelakuan mereka, lo bisa cek sendiri di CCTV toko lo."

"S-Siap, Tuan! Terima kasih banyak atas dukungan Anda. Kami sangat meminta maaf atas pengalaman tidak menyenangkan yang Anda alami hari ini. Kami akan langsung mengeksekusi perintah Anda dan membersihkan butik kami. Kami sangat menantikan kunjungan Anda selanjutnya!"

Setelah menutup telepon, Raka hanya tertawa sinis.

Namun, Risa (Sekretarisnya) yang berdiri di sampingnya justru tidak terlihat senang. "Bos, emangnya ini beneran perlu ya sampai segitunya?"

Meskipun Risa masih merasa sakit hati karena di-bully dan ditertawakan oleh para pramuniaga itu, tapi membuat mereka kehilangan pekerjaan secara permanen hanya karena masalah ini... rasanya terlalu berlebihan kan?

"Nggak perlu? Ini namanya ngasih pelajaran setimpal pakai cara mereka sendiri," ucap Raka dingin. "Cewek-cewek itu ngetawain lo murni karena mereka ngira lo miskin kan? Mereka itu tipe parasit yang nindas orang lemah tapi ngejilat pantat orang kaya. Ini bayaran yang pantes buat mereka. Duit dan gengsi kosong yang mereka dewakan itu yang akhirnya bikin mereka nyungsep dan kehilangan kerjaan."

"Tapi mereka kan juga cuma pekerja korporat yang cari makan, hidup mereka pasti nggak gampang."

"Terus, lo sendiri emangnya bukan pekerja? Kalau sama-sama cari makan buat hidup, ngapain mereka harus nyusahin dan ngerendahin sesama kuli?"

Kalimat telak Raka itu langsung membuat Risa bungkam tak bisa membalas. Di mata Raka, gadis berhati kelewat soft seperti Risa ini memang terlalu baik, makanya gampang diinjak-injak orang.

Teringat sore ini masih ada jadwal interview asisten baru yang dijanjikan sang Headhunter, Raka tidak membuang waktu lebih lama di luar dan langsung meluncur kembali ke kantor Grup Adiyaksa.

Di dalam ruang kantor CEO yang mewah dan luas, Raka mendengarkan pesan suara dari interkom: "Pak Raka, kandidat asisten baru sudah menunggu cukup lama di departemen HRD. Apakah mau disuruh masuk sekarang?"

"Suruh dia masuk," balas Raka.

Tok! Tok! Tok! Terdengar suara ketukan pintu. Ketukan kali ini berbeda dari yang pagi tadi, terdengar lebih tegas, tajam, dan penuh percaya diri.

"Masuk!" sahut Raka lantang.

Kandidat asisten yang baru masuk ini adalah seorang pemuda tampan berbalut setelan jas mahal yang sangat rapi. Kalau orang luar tidak tahu, pasti mereka mengira pemuda ini adalah CEO muda dari perusahaan startup ternama.

Raka sebelumnya sudah membaca resumenya. Dia adalah lulusan cumlaude dari Worcester Polytechnic Institute, usianya baru 24 tahun, auranya elegan dan berpendidikan. Dia menguasai berbagai bahasa pemrograman seperti Java dan C++, fasih Lima bahasa (Indonesia, China, Inggris, Jepang, dan Rusia), serta punya visi yang tajam soal manajemen perusahaan.

Raka sangat puas.

"Panggil saja Erick? Kamu nggak keberatan kan saya panggil gitu?"

"Tentu saja tidak. Nama hanyalah sebuah kode identifikasi untuk membedakan individu berbeda dalam spesies yang sama. Saya tidak keberatan sama sekali."

"Ehm." Raka sebenarnya kurang paham esensi kalimat nerd barusan, tapi kedengarannya lumayan intelek dan berkelas. "Lalu, ekspektasi gajimu berapa?"

Erick membetulkan letak kacamatanya. "Secara normal, tarif rate saya tidak kurang dari Rp 800.000 per jam. Tapi agen headhunter bilang, beban kerja di posisi ini sangat masif dan menguras energi. Oleh karena itu, saya mengajukan tambahan biaya kompensasi kelelahan mental sebesar Rp 400.000 per jam. Selain itu, saya menolak lembur di atas jam 7 malam, dan perusahaan wajib menanggung makan siang saya dengan standar minimal empat macam lauk dan satu sup bergizi."

Mendengar rincian Erick yang nyerocos tanpa henti itu, dagu Raka nyaris jatuh membentur meja. "Cuma segitu doang?"

"Apakah ada masalah dengan permintaanku, Pak?"

"Sangat, sangat tidak ada masalah."

Raka puas bukan main. Dia langsung mengalokasikan ruang kantor privat untuk Erick tepat di sebelah ruangannya, lalu bersiap menyambut kandidat asisten berikutnya.

"Ck, lo nggak diajarin sopan santun ya? Ketuk pintu dulu kek!"

Raka yang sedang menunduk merapikan dokumen merasa sangat terganggu karena kandidat asisten kedua ini main nyelonong masuk begitu saja.

Namun, saat Raka mendongak dan bersiap menceramahinya, dia malah membeku saking syoknya.

"L-L-Lo... ngapain lo di sini?!" Saking kagetnya, Raka sampai terbata-bata.

"Bos Raka, nyariin lo beneran susah minta ampun ya."

Siapa sangka, kandidat asisten kedua itu adalah mantan asisten pribadinya sendiri: Wahyu!

Agen headhunter sialan itu ternyata mengirimnya kembali ke sini!

Wahyu merentangkan kedua tangannya dengan gaya pasrah. "Terus mau gimana lagi? Di seantero Jakarta ini, udah nggak ada lagi orang yang lebih overqualified dari gue dan masih sudi jadi asisten elo!"

Raka langsung sewot: "Maksud congor lo apa ngomong gitu?!"

"Maksud gue? Udah cepetan, sebutin lo mau ngegaji gue berapa sekarang?!"

Raka tersenyum getir. "Sialan lo. Lo kan udah nempel jadi saudara angkatnya konglomerat nomor satu Jakarta (Albert Kusuma), emang lo masih butuh recehan dari gue?"

"Oh, jadi itu alesan logis lo buat ngebiarin gue meres tenaga tanpa digaji kemaren?!"

"Woy, kalau ngomong pake logika dong! Siapa yang meres lo?! Di perusahaan ini, lo bahkan belom resmi gue rekrut jadi pegawai tau nggak!" Raka merasa Wahyu ini bener-bener jago memutarbalikkan fakta.

"So? Bos Raka sayang, nyari lo itu beneran nguras umur tau nggak!" Wahyu langsung mendaratkan bokongnya di kursi depan Raka. "Lo tau nggak seberapa menderitanya gue nyariin lo kemana-mana sampe mau gila?!"

Semenjak Raka menghilang kabur membawa Bella dari rumah sakit tempo hari, Wahyu sudah mengacak-acak semua tempat yang mungkin dikunjungi bosnya itu. Satu-satunya tempat yang tidak dia cek cuma kantor ini. Bener-bener di luar nalar!

"Siang tadi pas orang headhunter nelepon gue, gue sempet plonga-plongo bentar. Gue mikir, 'Grup Adiyaksa ini ganti CEO apa gimana kok tiba-tiba nyari asisten utama lagi?'" Wahyu mulai mengomel meluapkan uneg-unegnya. "Nggak taunya elo pelakunya! Lo mau mecat gue diem-diem tanpa ngasih notifikasi hah?!"

Raka buru-buru membela diri. "K-Kagak anjir! Siapa yang mau mecat lo?! Gaji lo tetep jalan kok! Gue cuma... gue cuma nggak mau lo kecapekan ngurusin gue terus."

"Cih, Public Relations krisis yang klise banget. Dulu pas lo nyuruh gue kerja rodi 24 jam kok lo nggak pernah nanya gue capek apa kagak?!"

Raka tidak bisa menjawab. Dia akhirnya menyerah dan jujur: "Menurut gue... sekarang lo udah jadi orang kaya, lo juga udah punya bisnis Sanatorium sendiri. Jabatan 'Asisten Presdir' ini bener-bener udah nggak pantes dan nggak level buat lo, Yu."

"Prett, nggak usah alesan. Kualifikasi rekrutmen asisten nggak ngotak yang lo kasih ke HRD itu... bukannya itu secara teknis nyebutin profil gue plek-ketiplek?!"

Wahyu memang lulusan universitas elit luar negeri, menguasai banyak bahasa, dan otaknya sangat encer. Dia mampu mengeksekusi nyaris semua perintah mustahil dari Raka dengan sempurna, bahkan kapasitasnya sudah cukup untuk menggantikan Raka memimpin perusahaan secara mandiri.

"Tapi... kalau lo balik lagi jadi asisten gue, nasib Sanatorium gimana?" Raka merasa khawatir. Wahyu baru saja memulai bisnis pertamanya dengan modal belasan miliar, kalau sampai hancur berantakan, Albert Kusuma juga bakal kehilangan muka.

Memikirkan hal itu, Raka tertawa merutuki dirinya sendiri. Ngapain juga gue repot-repot peduli sama reputasinya si Albert?

"Yaelah, emang lo doang yang boleh punya asisten? Gue nggak boleh punya asisten?!" Wahyu memutar bola matanya.

Rupanya Wahyu juga sudah merekrut asisten pribadi untuk mengurus operasional rumah sakitnya.

Omong-omong, apakah sekarang ini emang lagi ngetren ya; mempekerjakan asisten buat gantiin posisinya sebagai Bos, terus si Bos aslinya malah asyik pergi ngelamar jadi asisten buat Bos lain?

"Bener-bener gila lo, Yu!"

Entah kalimat Raka barusan itu niatnya memuji atau menyindir secara sarkas.

1
Jaka
harus kuat💪💪
Oppie Abdurahman
raka² hanya bisa menghindari masalah, bukannya dihadapin satu² sama fakta yang ada, padahal masalah akan membuatmu semakin kuat mentalnya.
Oppie Abdurahman
yahh plot wist kecelakaan disini
Lilia_safira
aku udah nungguin sampe nge cek berkali kali dan akhirnya 😄😄
Lilia_safira
jadwalin dong update kapan 😄!!
Oppie Abdurahman
akhirnya rilis
Oppie Abdurahman
mungkin bagi pecinta fiksi ini lumayan menarik, tapi tergantung selera juga sih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!