NovelToon NovelToon
Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: MamGemoy

Bertemu setelah berpisah selama bertahun-tahun. Sahabat yang pernah mengisi ruang di hatinya. Pertemuan yang tak di sangka akan membuat jalan baru dalam kehidupannya yang kelam.

Sosok pria inilah yang dulunya membuat Rindu Nyaman.

Setelah mereka bertemu lagi, kini Ardian ingin mendapatkan Cinta Rindu secara utuh. Setelah dia terlambat menyadari cinta itu. Ardian berusaha untuk membuat Rindu kembali jatuh cinta padanya.

Status dan masalah yang berat, membuat Rindu ragu untuk membuka hatinya kembali.

Akankah persahabatan mereka berubah menjadi hubungan Asmara yang indah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MamGemoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berbaikan

***

"Kamu janjian di mana Dim, sama Teo?" tanya Rindu saat telah duduk di jok belakang mobil Dimas. Lalu menyapa Dian di kursi depan penumpang.

"Di studio kakaknya Teo," jawab Dimas.

"Oo … ok. Oya, semalam Ardian datang ke rumah, dia tadinya mau ngajak aku keluar hari ini, ketemu ceweknya buat konfirmasi kalau kita nggak pacaran."

Dimas dan Dian saling pandang dengan raut wajah kesal. Dian yang mengerti situasi sebenarnya melirik Rindu, dia tahu hati sahabatnya itu pasti sakit. Tatapan mata Dian seolah bicara pada Rindu. "Sabar ya, Rin, ini pasti sulit buat kamu."

"Lalu kamu bilang apa, Rin?" tanya Dimas kemudian.

"Aku bilang nggak bisa lah."

Ekspresi Dian mulai masam. "Jalan, Dim. Gue lagi malas ngebahas si kunyuk itu."

Dimas yang mengerti tabiat Dian, patuh lalu melajukan mobilnya. Rindu menatap temannya bergantian. Rindu harus mencari cara supaya mereka berhenti marah. Rindu pun mengeluarkan ponsel dari tas, lalu menghubungkan ke audio mobil Dimas. Lagu 'Best day of my life - American authors' dipilihnya. Rindu menepuk bahu kedua temannya, mencoba mencairkan suasana tegang saat ini. Dimas dan Dian tersenyum saling pandang. Mengerti akan jalan pikiran Rindu.

"Yeah … lagu ini gue suka ... huuuu!"

Dimas mulai menggerakkan tubuhnya. Disusul Dian dan Rindu bersorak, melupakan kekesalan sejenak. Mereka mengikuti lirik bernyanyi penuh semangat. Gelak tawa kembali menceriakan suasana dalam mobil.

Rindu, Dian dan Dimas menyanyikan lagu bersama. Mereka bersorak penuh semangat. Seperti makna lagu yang membangkitkan jiwa muda mereka. Dan Rindu mengakhiri bagian terakhir. Dian bertepuk tangan, dan Dimas berseru.

Kepekaan Rindu seperti ini yang membuat Sahabatnya selalu sayang padanya. Mampu memberi solusi tanpa emosi. Mampu mengubah suasana hati tanpa banyak kata. Dari yang sedih menjadi senang. Dari yang tidak bertenaga menjadi bersemangat. Rindu adalah penguat bagi teman-temannya. Rindu juga adalah obat bagi mereka. Rindu tempat mereka berkeluh kesah, membuat mereka nyaman berada di dekatnya.

"Dian, Dimas ... Ardian WA aku nih." Rindu menunjukkan pesan dari Ardian.

"Balas aja, Rin," ucap Dimas santai.

"Ardian minta share lokasi studionya, dikasih nggak nih."

"Nanti aja, pas nyampe sana ... biarin dia nunggu, biar kapok," kata Dimas.

Dian pun tersenyum jahil. Kapan lagi bisa mengerjai si Ardian, biar tau bagaimana rasanya diabaikan.

"Ok ... aku nggak balas lagi."

***

Sementara di sisi lain. Ardian dengan sabar menunggu balasan pesan itu. Sekarang dia ada di depan rumah Rindu. Mama Dahlia mengatakan kalau Rindu baru saja pergi dan Ardian berniat menyusul.

"Di read doang? Ya ampun Rindu, balas cepat," guman Ardian. Lima belas menit menunggu, dia mulai gusar dan akhirnya menelpon.

"Halo ... Rindu, kamu dimana?"

"Masih di jalan." Rindu menjawab dari seberang panggilan.

"Kamu sama Dimas, Dian? Share Lokasinya."

Rindu terdiam sejenak. "Ntar aja lah. Tunggu nyampe lokasi."

Pria itu pun berdecak. "Kelamaan lah ... udah, kamu tanya Dimas aja, nama studionya apa? Aku nyusul ke sana," pinta Ardian akhirnya dan Rindu memberitahu. "Ok... Aku ke sana sekarang, bye."

Ardian menyalakan mesin lalu segera menyusul ke sana. Perjalan sekitar tiga puluh menit dengan motor. Tak lama Ardian pun sampai di gedung dua lantai—studio musik kakaknya Teo. Beberapa penyanyi dari kelas bawah hingga kelas atas pernah merekaman suara mereka di sana. Studio itu adalah bisnis keluarga Teo yang juga menjalin kerjasama dengan papanya Ardian.

Pintu masuk studio itu di bukanya. Mata Ardian beredar mencari keberadaan Rindu Dimas dan Dian. Masih di lobby, dia melihat Rindu sedang bersalaman dengan Teo dan Bram. Tatapannya menjurus pada mata Teo yang tidak lepas dari Rindu. Sejenis tatapan kagum yang setiap laki-laki bisa mengartikan itu sebagai tanda suka. Entah kenapa Ardian jadi marah.

Ardian mengerang kecil. "Rindu kamu senyum-senyum gitu mau tebar pesona?" Tiba-tiba dia merasa tidak suka, entah kenapa.

"RINDU!" panggil Ardian lantang.

Semua orang di lobby beralih pandang, terkejut dan heran ke arahnya. Termasuk Teo yang melihat Ardian tiba-tiba berteriak tepat saat dia bersalaman dengan Rindu.

Rindu yang kebingungan tidak mengerti kenapa Ardian berteriak, langsung berlari menghampiri. Dian dan Dimas melihat penuh tanya. Kenapa Ardian marah?

"Ardi ... kenapa kamu harus teriak gitu ... sini!" bisik Rindu menahan rasa malunya. Rindu mengajak Ardian untuk bergabung dengan yang lain. Pria itu pun juga kebingungan kenapa tadi dia berteriak, kini hanya terdiam.

***

Di dalam ruangan latihan.

Ruangan yang sudah dipersiapkan secara khusus oleh kakak Teo untuk mereka. Teo yang anak kesayangan mendapat dukungan dari keluarganya. Alat-alat musik lengkap semua. Mereka bisa berlatih kapanpun mereka mau. Rindu, Dian, Dimas, Teo dan Bram.

"Jadi kita sepakat ya. Genre musik Band kita Hindi. Soal Namanya gimana?" tanya Teo pada semua anggota.

Mereka kini mulia mendiskusikan nama band yang dibentuk. Kekompakan itu dapat terbentuk dalam waktu singkat. Padahal Rindu tak begitu dekat dengan Bram dan Teo sebelumnya. Dengan begini, hubungan pertemanan mereka akan sangat baik.

Ardian yang hanya sekedar ikut melihat mereka berdiskusi, lebih banyak diam. Pandangannya selalu tertuju pada Rindu dan Teo. Entah kenapa hatinya panas melihat kedekatan mereka. Rindu yang terlihat dekat dengan orang lain selain dirinya, membuat Ardian panas. Dalam pikiran Ardian, hanya dia yang boleh jadi sahabat baik Rindu. Egois bukan?

"Heii guys ... kalian nggak lapar? Gue laper banget nih?" rengek Dian dengan siasat melirik Dimas. Dimas yang langsung paham tersenyum menyeringai.

"Gue juga lapar, udah waktunya makan siang ini," ucap meluruskan pandangan pad jam tangannya. "Ardi." Lalu menoleh pada Ardian menunjuk jam tangan dan kantong celana Ardian. Itu sebuah kode meminta traktiran. Saatnya untuk membalas si Ardian, yang tidak memperdulikan mereka beberapa hari ini. Itu pikiran Dimas dan Dian kompak.

"Kalian pesan makanan apa aja, Gue yang traktir hari ini." Ardian si dompet tebal pun paham. Kesempatan yang baik juga dia bisa berbaikan dengan kedua sahabatnya itu.

"Wooaahhh ... untung bendahara kita ada di sini, bisa makan enak kita nih," ucap Dimas berseru.

"Yuhuu, ayo pesan makan! Pakai aplikasi gue aja." Dian pun membuka aplikasi delivery pada ponsel-nya. "Kalian mau makan apa? Mumpung Bos ada disini, pesan yang banyak!" Semuanya bersorak kegirangan.

Ardian menggeleng lalu tersenyum. Cara jitu berbaikan, menyuap teman-temannya dengan makanan, seperti biasa. Dimas dan Dian selalu mendapatkan waktu yang tepat untuk menguras dompetnya. Begitu pun Ardian tidak pernah pelit berbagi. Membuat teman-temannya senang juga kesenangan bagi Ardian.

Terutama melihat senyuman di wajah Rindu. Senyuman yang selalu membuat Ardian betah memandangi wajah cantik itu. Setiap apapun ekspresi Rindu, Ardian menyukainya. Seolah dia tak pernah bosan, dan selalu ingin melihat keceriaan, kebersamaan bersama.

***

1
Lina Handayani
Semangat, Mamy. Setiap kata dan cara penyampaiannya sangat bagus 😍, pantas diacungkan jempol 👍😅🙂.
Lina Handayani
Untaian kata-katanya rapih, bagus dan sangat mendalam. Mamy, aku suka ceritanya 😅😘.
Lina Handayani
Shownya, bagus, Mam😍😘.
Wiwin Almuid77
tetap semangat dalam menulis Thor .
aku tunggu kelanjutannya....
☺️
Wiwin Almuid77
aku suka alur ceritanya...
Bagus.. mudah di pahami...
juga menyentuh...
. selalu semangat untuk kakak author....
semoga karyamu semakin berjaya,...
💪💪💪💪☺️☺️
Wiwin Almuid77
aku suka alur ceritanya....
..
El_Tien
cerita menarik wajib baca!
Rizki Al-Mubarok
Biasa, cari reverensi 😅
Rizki Al-Mubarok
Aku dapet referensi
rinny aphrystanti
lanjut ...bikin ikutan deg deg an....
El_Tien
kenapa aku jadi ingat Ardian dan rindunya 🤣🤣🤣
MamGemoy: 👀 emm
total 1 replies
rinny aphrystanti
lanjutkan thorrtt...
Ayuk Noy
aku mampir kak🥰
Lina Handayani
Semangat, Mamy.💪💪
Siti Afifah
ikut nderekdek
Lina Handayani
Rindu, wanita yang dirindukan.😅
White Snake
"kau cinta pertama dan terakhirku" Kaya lirik sebuah lagu.
Siti Afifah
ya alloh calon ayah yg sigap
Lina Handayani
Aku datang lagi Mam😉🤗. Semangat yah, aku suka ceritanya. Sampai-sampai, aku bisa merasakan dan membayangkan isi ceritanya 😍
Siti Afifah
rindu takut ancaman mntan suami
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!