Kyra Andini resmi menjadi Nona di keluarga Wiratama. Namun, gelar itu tak seindah harapannya. Nyatanya pria yang menjadikannya halal, justru membenci kehadirannya.
Setiap hari perlakuan Kaisang Adipta Wiratama tak pernah baik, selalu dingin dan menganggap Kyra hanya patung pajangan saja.
Karena suatu malam terjadi kesalahan, menjadikan Kyra mengandung anak Kai. Meski begitu, Kai masih tetap berlaku kasar. Bahkan, tanpa sepengetahuan istrinya, Kai berselingkuh dengan sekretarisnya di kantor.
Bagaimanakah kelanjutan kisah rumah tangga Kai dan Kyra? Tetap bertahan, atau bercerai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Veronika dan Zia
Hari-hari yang dilalui Kyra tak ada yang berbeda. Dia memang sering memamerkan senyum, namun tidak dengan hatinya. Meski Kai sudah tidak seburuk dulu dalam memperlakukannya, tetapi rasa sakit yang ditimbulkan pria itu sulit untuk dilupakan. Beberapa kali Kyra melihat Kai bersama Lidia masuk restoran, meski Kyra tahu bahwa mereka tidak mungkin melakukan hubungan terlarang di tempat umum, namun hatinya sungguh sulit untuk menilai baik hubungan Kai dan Lidia.
Dan kini hubungan mereka sangat dingin. Bahkan kebalikan dari awal dulu, kini Kyra yang dingin dan tidak begitu respon dengan Kai. Pria itu pun seolah masih belum mendapat keyakinan, hingga masih dirundung kebimbangan untuk memutuskan mempertahankan atau membiarkan Kyra pergi.
Tak terasa lima bulan telah berlalu. Kaina tumbuh dengan baik, hanya saja, putri dari Kyra dan Kai itu mengalami sedikit kejanggalan. Bila umumnya umur lima bulan sudah mulai menunjukan kemajuan dan umumnya sudah bisa tengkurap, tetapi Kaina masih saja telentang. Kyra hanya mengira Kaina memang belum mampu melakukannya, tanpa berpikir hal lain.
Sempat beberapa kali Hana bertanya tentang itu, tetapi Kyra memberi jawaban yang tenang hingga Hana pun tidak lagi berpikir jauh.
Malam hari, sesudah menidurkan Kaina di dalam box bayi, Kyra berniat ke dapur, tetapi melihat Kai datang. Dia menawari Kai minuman, dan pria itu menyuruh Kyra membuat teh herbal.
Beberapa saat, Kyra sudah menyusul Kai ke kamar dan meletakan teh herbal di depan Kai. Pria itu diam saja, asyik menatapi layar ponsel.
Rumah tangga yang terjalin hampir satu setengah tahun itu berjalan hambar. Tak ada keharmonisan.
Tak lama, Kai menerima panggilan telepon. "Iya, Tante. Kapan datang?"
"Oh, baik. Kapan-kapan Kai akan mengunjungi Tante dan Om."
"Apa? Memperingati hari kematian Revan? Maaf, aku lupa." Menyebut nama Revan, wajah Kai tidak bisa menyembunyikan kesuraman nya.
Kai meletakan ponsel di atas meja. Terdengar embusan napas kasar. Lalu bersandar di sofa dengan mendongaki langit-langit kamar.
"Rasa bersalah lagi?" Kyra berkata. "Lepaskan aku biar kamu tidak dihantui rasa bersalah." Dia duduk di kursi terpisah dengan Kai. "Sampai saat ini aku tidak mengerti, apa yang membuatmu menolak berpisah. Dan, untuk apa hubungan ini berlanjut kalau hanya seperti ini?"
Kai menatapi Kyra. Wanita itu nampak lebih kusam dari sewaktu dia hamil, mungkin karena merawat Kaina hingga tak ada waktu untuk merawat diri.
Kai membuang pandangan, tak sanggup lebih lama menatap Kyra, hingga memilih pergi. Dia masuk ke ruang kerja dan merenung di sana.
•
Siang hari, Kai dan Lidia yang baru selesai bertemu rekan bisnis, mampir sebentar ke restoran Italy.
"Halo, Tan, apa kabar?" Kai duduk di kursi depan wanita paruh baya yang masih terlihat sisa kecantikannya. Wanita itu menyambut kedatangan Kai dengan senyuman.
"Kai, kamu tidak menyapaku?" Suara seseorang membuat Kai menoleh.
"Zia ...." Kai menyapa.
Wanita bernama Zia itu duduk di depan meja Langit. Melirik ke arah Lidia. "Awet aja sama sekretaris ini," ucapnya.
'Awet dong. Kamu gak tahu aja kalau gak ada yang bisa menaklukkan naf su Kai selain aku,' batin Lidia.
"Dia sudah lama menjadi sekretarisku, sudah tahu banyak tentangku, kalau merekrut sekretaris baru, bakal lama lagi buat adaptasi. Lidia juga sangat berkompeten." Secara tidak langsung Kai memuji Lidia, hingga wanita itu merasa terbang dan besar kepala. Namun, apa yang diucapkan Kai sebenarnya tidak sungguh-sungguh.
"Sekaligus tahu tentang pribadi kamu," sambung Zia.
"Zi, tidak perlu di perpanjang. Itu urusan pribadi Kai," sela Veronika, ibunya Revan. Zia mengangguk.
"Kapan Tanten datang?" tanya Kai berbasa-basi.
"Kemarin. Tante bermalam di hotel Cempaka. Kalau gak sibuk, kamu bisa datang, Kai. Kami akan di sini selama satu minggu."
"Lain waktu Kai pasti datang."
"Apa kamu tidak pernah mengunjungi apartemen Revan?"
"Tidak pernah. Akan mengingatkan aku dengannya." Mata Kai bergerak ke sana kemari. Tidak ingin menunjukan kesedihan.
"Sampai sekarang masih belum terkuak tentang Revan mengakhiri hidupnya." Veronika berubah sendu.
"Apa Tante masih mencari sebabnya?"
"Tentu saja."
"Lalu, yang waktu itu? Tentang pemberitaan media kalau pihak keluarga sudah menutup kasusnya?" Kai menunjukan kebingungan. Selama ini Kai dan kedua orang tua Revan jarang berkomunikasi karena kesibukan masing-masing. Veronika menyempatkan waktu datang ke Indonesia karena sudah lama tidak mengunjungi rumah terakhir anaknya.
Akhir-akhir ini Veronika sering bermimpi bertemu anaknya, hingga beranggapan bahwa mungkin Revan ingin dikunjungi. Maka dari itu, dia dan sang suami menyempatkan waktu ke Indonesia untuk mengunjungi makam Revan sekaligus mengecek kantor anak cabang di ibu kota. Tak lupa, Zia si adik angkat Revan juga turut ikut.
Veronika tersenyum simpul. "Kami tidak ingin kasus Revan semakin heboh memenuhi pemberitaan media. Kami ingin dia tenang, untuk itu mengatakan menutup kasusnya. Tante dan Om hanya menyewa orang tertentu untuk tetap menyelidiki."
Zia menoleh ke kanan ke kiri, wanita itu meminum jus yang sudah di pesan lebih dulu, lalu menatap sedikit gusar. Kai melirik sekilas, menyembunyikan keanehan pada Zia, dengan sikapnya yang seolah tidak nyaman.
"Kalau Kai tahu dari kemarin-kemarin, aku akan bantu, Tan."
"Kamu sendiri sudah sibuk dengan urusanmu, Kai."
"Andai ada sedikit bukti alasan apa yang membuat Revan memilih mengakhiri hidupnya, aku pasti akan mengusutnya sampai tuntas, Kai. Apa mungkin ada kaitannya dengan asmara?"
"Hah?" Kai mendongak. Jantungnya berdebar tak karuan. Dia teringat akan surat yang di tinggalkan Revan, bila Veronika tahu, wanita itu akan memperkarakannya.
"Kamu dulu sangat dekat dengan Revan, mungkin kamu tahu Revan dekat dengan siapa? Atau, pernah curhat ke kamu?" Veronika sudah menanyakan ini, tetapi entah mengapa ditanyakan lagi.