Banyak Adegan 21+
Yang Masih dibawah umur harap bijak dalam memilih bacaan.
"Mas Aku Hamil" Begitu kata seorang wanita cantik yang usia nya baru menginjak 20 tahun.
"Kamu gak bohong kan ?" tanya Seorang pria yang bekerja sebagai dokter kandungan.
Wanita yang bernama lengkap Alsafa Margareth itu mengangguk.
Dan mulai hari itu dirinya resmi menjadi istri simpanan dari seorang pria yang jarak umurnya terpaut sangat jauh. Namun cinta Safa begitu tulus ia begitu sabar walau statusnya tak pernah menemukan titik ujung. Entah karena suaminya takut meresmikan hubungan mereka atau memang tak ada cinta untuk dirinya ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah R Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Dipasar Desi akan berbelanja bulanan, pertama sekali ia menuju tempat jualan cumi, walaupun masih bingung dengan keinginan sang suami tapi tetap saja Desi akan membuatkan Febri Cumi sambal ijo.
Tak perlu banyak-banyak Desi membeli cumi, cukup untuk sekali masak saja, lagian belum tentu Febri akan benar-benar memakannya.
Setelah membeli cumi Desi mencari sayuran, disana ia bertemu dengan dua ibu-ibu yang menjadi tetangga nya di rumah lama.
"Eh ada Bidan Desi, udah lama ya gak ketemu" ucap Bu Nur basa basi.
Desi membalas dengan senyum penuh keramahan "Iya bu Nur, saya memang sudah lama tidak berkunjung kesana, gak tau kapan" balas Desi.
"Padahal kan ada ponakan suami ibu yang tinggal disana, kenapa gak pernah ibu tengok" sahut Ibu Meri menimpali.
"Hah, ponakaan ?" tanya Desi terkejut.
"Loh bu Bidan gak tau kalau di rumah lama Ibu ada yang menempati ? padahal dia sudah lama disana Bu, udah 2 bulanan."
Desi menggelengkan kepalanya tanda kalau memang ia tak mengerti apapun, degup jantung Desi berdetak kencang.
"Namanya Safa, kami di kenalkan sama dokter Febri langsung kalau dia ponakan dokter Febri. Awalnya kami juga heran soalnya gak pernah lihat ibu datang kesana, malahan yang sering kesana adalah dokter Febri" jelas Bu Nur menggebu-gebu.
"Siapa wanita itu ? kenapa Mas Febri bilang dia ponakannya, dan kenapa Mas Febri gak pernah cerita sama aku masalah ini" batin Desi.
Tanpa mengucapkan apapun lagi Desi langsung pergi sambil menahan air mata yang sudah menggenak di pelupuk matanya.
Cumi yang barusan ia beli Desi buang kesembarang arah, sekarang pikirannya tak karuan. Jalan satu-satunya Desi ingin bertemu dengan Febri dan menanyakan siapa perempuan yang tinggal di rumah lama mereka.
"Kalau sampai kamu menduakan aku, aku gak akan tinggal diam Mas"
-------
Sementara itu Febri baru saja selesai memasak ubi yang di inginkan oleh sang istri, Febri membawa ubi itu kedalam kamar Safa tak lupa sebelum itu Febri mengupasnya supaya Safa langsung siap menyantapnya.
"Fa ini dia ubi rebus yang kamu inginkan" ucap Febri.
Safa yang saat itu sedang tertidur langsung terbangun karena mendengar suara Febri, ia memang tak terlalu terlelap.
"Ayo bangun dulu, sini Mas suapin !" titah Febri
Safa bangun dengan sangat pelan, ia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Makasih Mas"
"Sama-sama, ayo di habisin !! kamu tu harus banyak makan supaya anak kita sehat"
Safa terus membuka mulutnya saat di suapi Febri, perutnya tak terlalu bergejolak seperti tadi.
"Minum Mas"
Febri mengambil segelas air putih di atas meja nakas, kemudian memberikannya pada Safa.
"Pelan-pelan Sayang"
Buuuurr.
Safa menyemburkan air putih yang ada di mulutnya demi sebuah panggilan sayang dari Febri. Entahlah ia merasa panggilan itu begitu membuat jantungnya berdegup kencang.
"Kan apa Mas bilang, pelan-pelan !" Febri mengelap bibir Safa menggunakan tisu.
"Maaf Mas"
"Tidak mengapa Fa, ayo makan lagi"
"Udah Mas aku udah kenyang"
"Dikit lagi !!"
"Gak mau, aku udah kenyang"
"Ya sudah kalau begitu"
Febri meletakkan piring berisi ubi itu keatas meja nakas, tak lupa ia menutupinya dengan piring lain supaya tak di hinggapi lalat.
"Mas akan berangkat kerja !! tuh Ubinya masih banyak kalau nanti kamu mau lagi. Mas juga sudah masak nasi dan membeli sayur mateng tadi supaya kamu gak perlu repot-repot masak lagi. Susu kamu ada di dalam lemari bawa dekat kulkas jangan lupa di minum" ucap Febri panjang lebar.
"Iya mas makasih semuanya"
"Kalau ada apa-apa langsung kabari Mas, dan kalau menginginkan makanan lain pesan saja di aplikasi"
Safa kembali menganggukan kepalanya sembari tersenyum, tidak lama kemudian Febri mengeluarkan uang kes dan sebuah kartu bank lalu memberikannya pada Safa.
"Pegang ini ! beli apapun yang kamu mau !"
"Gak perlu Mas, Safa masih ada uang kok"
"Itu uang mu Fa, dan ini bukti nafka dari Mas, sekarang kamu adalah istri Mas jadi Mas punya kewajiban menafkahi kamu"
Safa tertegun, begini rasanya menjadi seorang istri karena ada yang menafkahi.
Akhirnya mau tak mau Safa mengambil uang dan kartu bank itu, ia juga tak ingin Febri marah kalau ia terus menolak.
"Ya sudah Mas berangkat ya ! kamu baik-baik di rumah !" seperti biasa sebelum pergi Febri akan mencium kening Safa dengan lembut.
Dan seperti biasa juga perasaan Safa menjadi tak karuan jika di perlakukan seperti itu oleh Febri.
Setelah kepergian Febri. Safa beranjak dan menyimpan uang dan kartu yang di berikan Febri kedalam lemari, ia akan menjaga semua itu dengan baik. Safa hanya akan memakai uang Febri jika akan membeli kebutuhan anaknya.
-------
Baru setengah perjalan ponsel Febri berdering, dengan cepat laki-laki itu melihat siapa yang menelpon dan ternyata itu adalah Desi.
"Halo sayang ada apa ?" tanya Febri
"Kamu pulang sekarang Mas !! aku ingin kamu menjelaskan sesuatu padaku !"
Kening Febri mengkerut, ada apa dengan istri pertamanya itu. Apalagi Febri mendengar suara Desi yang sesegukan seperti sedang menangis.
"Iya nanti sore Mas pulang sayang, ada apa ? coba cerita pelan-pelan sama Mas kamu kenapa ?"
"Pokoknya aku mau sekarang Mas, aku mau kamu pulang saat ini juga"
"Iya sudah mas pulang sekarang".
Mau tak mau akhirnya Febri putar balik walaupun ia akan sampai ke klinik sebentar lagi, ia juga khawatir dengan istrinya takut terjadi apa-apa sama Desi.
Karena walau bagaimana pun rasa cinta nya pada Desi masih begitu besar.
Tak berapa lama Febri sudah tiba di rumahnya, ia langsung turun dari mobil dan melangkah dengan buru-buru.
"Assalamualaikum, Sayang kamu kena...."
Plaaaakkkk
Sebuah tamparan yang teramat keras di berikan Desi pada Febri, sebelum laki-laki itu menyelesaikan pertanyaannya.
"Des kamu nampar Mas ? ada apa ?"
"Iya aku nampar kamu Mas, kamu mau tau kenapa ? karena kamu pantas mendapatkan semua itu. Hiks--hiks--hiks"
"Memangnya Mas kenapa ? apa yang telah Man lakukan ?"
Desi mendudukan diri di sofa dengan isak tangis yang semakin menjadi, Febri mendekati istrinya ia mengelus punggung Desi dengan lembut namun dengan cepat Desi menghindar.
"Siapa perempuan yang kamu sembunyikan di rumah lama kita Mas ?"
Deegggg.
Jantung Febri berdegup kencang, bagaimana Desi bisa tau keberadaan Safa ? siapa yang bercerita pada Desi.
Apa kedua sahabatnya yang melakukan itu ? tapi bukankah Yohan dan Ardi sudah berjanji pada Febri untuk menjaga rahasia ini dengan baik.
"Kenapa diam ? siapa perempuan itu ? dan apa benar kalau dia ponakan kamu ?" teriak Desi lagi.
----
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...
...KASIH HADIA (BUNGA/KOPI)...
Klo kejadian kaya Safa harusnya Febri jujur sama istrinya klo dia sudah niduri perempuan lain walau karena kecelakaan. Istrinya mo terima apa gak itu sudah jg resiko Febri dan tanggungjawab sudah merusak kehormatan perempuan lain. Ini malah berbohong dan bohong terus lebih baik Safa pergi deh tinggalin Febri daripada tersakiti , lebih baik hidup bahagia bersama anakmu. Soal rezeki dan jodoh kan dah ada yg atur. Upps lupa deh ini kan novel 😄😄😄 jelas yg atur author donk. Safa selamat berjuang aja ya.