Blurb :
Seorang dokter muda, tanpa sengaja bertemu dengan gadis SMA.
Gadis tanpa orang tua itu diam-diam mengidap satu gejala penyakit yang berbahaya jika terlambat ditanganinya.
Mereka kembali dipertemukan sebagai pemilik dan penyewa rumah yang akhirnya terpaksa harus tinggal bersama.
Bukan hanya cerita tentang Dokter dan pasien-nya, melainkan ada kisah cinta di antara dua manusia yang berbeda usia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Welcome Open Minded
Setelah mengantar Sita sampai halaman, Shasha kembali ke dapur karena harus membereskan meja makan yang masih berantakan, tetapi tiba-tiba terdengar suara panggilan telepon, Shasha segera meraih ponsel yang tergeletak di meja makan lalu ia duduk sambil menerima panggilan tersebut. Luthfie pun sudah berada di sana, tengah melahap makan siangnya saat itu.
"Assalamualaikum... Kak."
Zidan hanya ingin menanyakan kabar Shasha, dengan menyesal dia bilang masih belum bisa pulang ke Bandung.
"Gak usah dipikirin, Kak. Fokus kerja aja. Jagain Teh Anita sama calon ponakan aku juga yang penting."
Sementara Luthfie yang sedari tadi menyimak sambil makan di hadapan Shasha, dia terus memberikan kode dengan gerakan mata dan tangannya. Dia ingin sekali bicara dengan sahabatnya itu. Shasha mengangguk menyetujuinya.
"Kak... ada seseorang yang mau bicara sama Kakak. Aku kasih ponselnya ya, biar kalian bisa ngobrol," pungkasnya, lalu menyerahkan ponsel itu pada Luthfie. Sementara itu, dia kembali sibuk membereskan dapur.
"Assalamualaikum...."
"Masih inget suara gue gak, Dan?"
"Waalaikumsalam." Zidan masih berusaha mengingat-ingat.
"Siapa, ya?"
"Wahh... kebangetan. Udah ngilang, lupa pula."
"Kalo gak bilang, ya gue gak inget lah?"
"Sama temen kuliah lo, yang paling populer di kampus, bisa lupa juga?"
"Jono? Paijo? Darwis? Juned? Alex? Dadang? Yang mana? Temen gue kan banyak Bro. Kalau yang paling populer di kampus kan gue salah satunya."
"Tapi yang paling keren mah cuma gue. Dodol!"
Karena pembicaraan di telepon mode loudspeaker, Shasha bisa mendengar semuanya sampe ia gatal ingin nimbrung.
"Kak udah dulu Kak, dah mulai banyak pasien yang nunggu di depan tuh," potongnya. "Udah mau jam empat sore, mending salat dulu gih!" Sambil meminta kembali ponsel dari tangan Luthfie.
"Ya udah Bro, nanti kita sambung lagi kalau kerjaan dah selesai."
Shasha pun mengambil alih ponselnya dan melanjutkan pembicaraan.
"Dia beneran temen Kakak bukan, sih? Jangan-jangan cuma ngaku-ngaku." Zidan yang langsung ingat semua saat dia tau orang yang berbicara dengannya di telpon adalah seorang dokter.
"Dia dokter? Kakak inget sekarang, Sha. Pasti Luthfie 'kan?"
"Akhirnya inget juga."
"Temen kakak yang fakultas kedokteran kan cuma dia, by the way kalian kenal di mna?"
"Ceritanya panjang Kak, gak bisa cerita sekarang. Ntar aja, ya, Kak, Shasha mau salat Ashar dulu."
Setelah telepon ditutup, Zidan masih duduk berpikir sekaligus penasaran tentang sahabatnya yang cukup lama menghilang, tiba-tiba ada bersama Shasha di Bandung.
Kalian berdua bisa bikin aku gak tidur karena penasaran. Gimana caranya supaya bisa cepat menemui mereka dalam waktu dekat ini? Hatinya dibuat tak tenang sejak hari itu.
Selesai salat Ashar, Shasha kembali turun dengan membawa buku di tangannya. Dia penat jika harus duduk terkurung di dalam kamar hanya ditemani tumpukan buku pelajaran.
Namun, dia belum melihat Luthfie keluar dari kamarnya, segera iya sapa pasien yang sudah mengantri di ruang tunggu.
"Bapa... Ibu... mohon tunggu sebentar lagi ya, Pak Dokter sedang bersiap-siap di dalam," ucapnya sambil tersenyum ramah lalu ia menuju ke kamar Pak Wahyu yang saat ini sepertinya suasana di sana sedikit ramai. Ternyata saat ini bukan hanya istrinya yang sedang menunggu, tapi ada anak, menantu sama cucunya juga yang turut berkunjung.
Dia mengetuk pintu, seraya meminta izin untuk masuk.
"Silakan masuk Neng," ucap istri Pak Wahyu.
Shasha menatap seisi kamar, selain ada sepasang suami istri--anak dan menantu Pak Wahyu, juga anak lelaki berusia lima tahun yang tersenyum padanya.
"Sepertinya Pak Wahyu sedang ada pengunjung lagi ya hari ini." Pandangan Shasha beralih pada anak kecil yang lucu itu.
"Kalau boleh tau, siapa cowok keren ini? Lucu banget," ucapnya sambil mencubit pipi cucu Pak Wahyu.
Setelah berkenalan dan bersenda gurau, Shasha tidak menyangka bisa berbaur sehangat ini dengan orang yang baru dikenalnya. Shasha yang dulu sangat dingin dan tertutup karena dia khawatir, jika orang lain akan mengetahui perasaan yang disembunyikannya. Dia sedikit skeptis dan tak begitu suka bergaul di keramaian.
Namun, entah sejak kapan Shasha berubah menjadi pribadi yang hangat dan lebih open minded.
°
°
°
BERSAMBUNG.