Kiran adalah seorang gadis berusia 34 tahun yang sudah menyandang gelar perawan tua dihadapkan pada 2 pilihan, menikah dengan Aslan yang sudah memiliki istri atau tetap menjadi simpanan mantan kekasihnya yang sudah lebih dulu menikah.
Antara cinta dan hidupnya sendiri, mana yang akan Kiran perjuangkan?
✍🏻 revisi typo dan pemberian judul bab 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Setelah mengetuk pintu, akhirnya Kiran dan Maya masuk ke dalam ruang kerja Aslan.
Aslan yang sudah menunggu langsung menoleh pada kedua istrinya itu. Tersenyum pada keduanya dan meminta mereka untuk duduk.
Aslan tetap duduk di kursi kerjanya, sementara Kiran dan Maya duduk siseberang meja.
"Maya, sepertinya kamu bahagia sekali?" tanya Aslan dan Kiran menoleh, ikut memperhatikan raut wajah Maya. Dan benar saja, hanya dengan melihatnyapun kita bisa tahu jika Maya sedang dipenuhi kebahagiaan.
"Tidak Mas, em, maksudku iya. Aku bahagia karena sekarang Mbak Kiran sudah tinggal bersama kita." jawab Maya gugup, ia berusaha menormalkan kembali emosinya, agar tidak terlalu ketara.
Kiran hanya tersenyum, Maya benar-bebar wanita kuat, Pikirnya. Karena semudah itu meminta Aslan untuk menikahi wanita lain, bahkan membawa wanita itu tinggal di rumah yang sama.
Ah, tidak! Kiran menggeleng kecil. Tidak ingin banyak menduga-duga tentang Maya. Karena setiap orang pasti memiliki masalah sendiri-sendiri, dengan kadar yang berbeda pula.
Bisa jadi kita menganggap masalah orang lain itu gampang, tapi bagi yang menjalaninya itu begitu berat.
"Ran, apa kamu tidak keberatan tinggal disini?" kini giliran Aslan bertanya pada Kiran.
Kiran tak langsung menjawab, ia nampak berpikir. Jika boleh jujur, ia ingin tinggal terpisah. Mengontrak pun tak apa, asal tidak tinggal bersama istri pertama. Rasanya ia tak bisa leluasa.
"Ran?" panggil Aslan lagi.
"Sebenarnya aku ingin tinggal terpisah dari Maya, Mas. Rasanya kalau tinggal bersama buat aku dan Maya sama-sama tak nyaman." Jawab Kiran jujur.
Maya yang mendengar itu mengulum senyumnya.
"Apa iya seperti itu May? apa kamu tidak nyaman tinggal bersama Kiran?" tanya Aslan pada Maya.
"Tidak Mas, aku baik-baik saja tinggal bersama Mbak Kiran. Kita bisa membuat jadwal untuk mengurus mas Aslan secara bergantian, jadi tidak ada lagi istilah canggung." jelas Maya bohong, ia hanya ingin mencari simpati sang suami. Dan itu berhasil.
"Benar kata Maya, Ran. Sebaiknya kita sama-sama tinggal disini. Minggu pertama dan minggu kedua aku akan bersamamu, sementara minggu ketiga dan keempat aku akan bersama Maya. Bagaimana?"
Tolak lah Mbak, tunjukan sifat keras kepalamu, tunjukkan sifat membangkangmu. Batin Maya, ia ikut menatap sang madu yang duduk disamping.
"Baiklah Mas, aku ikut saja. Tapi jika nanti Maya merasa keberatan aku tinggal disini. Aku tidak masalah untuk keluar." jawab Kiran yakin. Ia ingat pesan Fahmi sebelum ia diantar ke rumah ini.
Kini Aslan adalah imammu, kalau dia sujud kamu ikut sujud, kalau dia berdiri kamu ikut berdiri. Begitulah rumah tangga. Jadi patuhilah suamimu, jika ingin rumah tanggamu selalu rukun.
Maya tersentak. Sumpah dia sangat kecewa. Ia pun ingin Kiran segera keluar dari rumah ini. Sebelum Kiran mengambil hati kedua orang mertuanya.
"Kita coba dulu 1 bulan, nanti kita bicarakan lagi, ya?" ucap Aslan mengambil jalan tengah.
Kiran langsung tersenyum gembira seraya mengangguk cepat. Sementara Maya hanya tersenyum kaku dan mengangguk kecil.
Saat ini masih minggu kedua, berarti Aslan masih bersama Kiran.
Setelah perbincangan itu, Maya dan Kiran keluar, sedangkan Aslan masih berada di ruang kerja. Sedikit menyelesaikan beberapa pekerjaan yang kemarin ia tinggal.
Kenapa Mas Aslan tidak mempermasalahkan baju mbak Kiran? padahal dulu aku langsung ditegurnya. Batin Maya yang lagi-lagi kecewa.
"May, kenapa masih disitu? kamu belum mau pergi?" tanya Kiran karena Maya hanya melamun didepan pintu ruang kerja sang suami.
Maya tersentak, sadar.
"Ah iya Mbak, ini aku mau kee kamar." jawab Maya gugup.
"Ya sudah, aku duluan ya."
Maya mengangguk dan memperhatikan jalan Kiran yang semakin lama semakin menjauh, terus dilihatnya hingga Kiran benar-benar masuk ke dalam kamar.
"Siapa juga yang mau ke kamar? jam sore begini harusnya kamu ke dapur, bantu Umi menyiapkan makan malam." gerutu Maya tak suka, kakinya berjalan menuju tangga yang akan membawanya turun ke dapur.
Ia masih begitu kesal jika mengingat Aslan yang tak menegur Kiran sedikitpun tentang baju itu. Padahal Kiran hanya menggunakan dres lengan pendek, bahkan panjang dres itu tak sampai menutupi lutut.
"Untuk apa dia memakai baju seperti itu? ingin menggoda mas Aslan? cih!" gerutunya lagi tak habis-habis. Sampai saat ia tiba didapur barulah ia berheti menggerutu.
Dilihatnya Yuli yang sudah berkutat disana. Meski di rumah ini sudah ada 3 asisten rumah tangga, tapi untuk urusan dapur Yuli tetap mengambil alih.
"Umi." Sapa Maya ramah, seraya mendekat kepada sang mertua yanh sudah seperti ibunya sendiri.
"May, sudah selesai urusanmu? dimana Kiran?" tanya Umi, ia menoleh sekilas lalu kembali sibuk dengan sayur-sayuran.
"Mbak Kiran kembali ke kamar Umi, mas Aslan masih di ruang kerja." jelas Maya apa adanya.
"Sini Umi, biar aku bantu." ucap Maya lagi dan Yuli tersenyum, menerima niat baik sang menantu.
Keduanya memasak untuk makan malam kelak, dibantu juga oleh Idah, ART yang bertugas di dapur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam kamar, Kiran juga melakukan hal yang sama seperti Aslan. Memeriksa beberapa laporan harian yang dikirimkan oleh Agung melalui Gmial.
Sebagai sales supervisor sebuah dealer mobil, tiap bulannya Kiran mempunya target untuk menjual 20 unit mobil. Jika Target itu tidak dapat terpenuhi maka ia tidak akan mendapatkan bonus penuh. Sementara bekerja ditempat seperti itu yang besar adalah bonusnya, bukan gaji pokoknya.
Seminggu ini ia sudah libur, para anak buahnya hanya mampu menjual 4 unit mobil. Sementara minggu pertama kemarin ia sudah menjual 6 mobil. Itu artinya 2 minggu ke depan ia harus menjual 10 mobil untuk mendapatkan bonus penuh.
Kiran yang sedang sibuk berbalas e-mail dengan Agung sampai tak menyadari jika suaminya sedari tadi memperhatikan.
Kiran tengkurap diatas ranjang dengan kedua siku sebagai tumpuan. Ia juga melipat kedua kakinya keatas sambil di goyang-goyangkan naik turun.
"Ran," panggil Aslan seraya duduk disisi ranjang.
"Astagfirulahalazim." Kiran tersentak, ponselnya jatuh begitu saja diatas ranjang.
"Mas, kenapa tidak bersuara kalau masuk?" tanya Kiran, matanya mendelik menatap tak suka. Kan dia jadi kaget.
"Tadi pintunya sedikit terbuka, karena itulah aku langsung masuk."
"Harusnya ketuk dulu, kalau aku sedang tidak pakai baju bagaimana?"
"Ya bagus, berarti bisa langsung." jawab Aslan yakin dan Kiran langsung mencebik.
Aslan terkekeh, lalu mengusap perlahan pucuk kepala Kiran.
"Apa yang kamu kerjakan?" tanya Aslan lagi.
"Kirim email ke Agung, besok kan aku sudah mulai bekerja. Jadi ada beberapa laporan yang harus ku baca."
Aslan mengangguk-anggukan kepalanya.
Dia sudah tahu tentang pekerjaan Kiran. Pekerjaan yang mengharuskannya menggunakan pakaian terbuka.
Kiran adalah wanita mandiri, pasti sedikit susah jika diperintah secara langsung. Karena itulah Aslan ingin merubah sang istri secara perlahan, dengan caranya sendiri.
"Kenapa memakai baju seperti itu? apa ingin menggodaku?" tanya Aslan dengan tersenyum menggoda.
Baju Kiran tersingkap hingga nyaris membuka semua bagian pahanya. Tidur seperti itupun membuat baju bagian kerahnya turun hingga terlihat jelas belahan dada.
Sadar jika membangunkan sang singa, Kiran buru-buru duduk dan membenahi baju itu.
"Mas, kan semalam sudah. Masa setiap hari seperti itu terus, memangnya tidak capek?" tanya Kiran memelas, ia menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
Aslan tak menjawab, malah menyeringai mencurigakan.
Kiran tak bisa berkutik apalagi saat melihat mata itu menatapnya lekat, seperti terhipnotis, ia hanya pasrah dan mendesah kala sang suami menyesapi semua inci tubuhnya. Bahkan kakinya tak lepas dari gigitan si singa lapar.
Hingga seluruh tubuh Kiran penuh dengan tanda kemerahan.
"Mas, kenapa tubuhku jadi merah semua?" keluh Kiran.
"Salah siapa, semua tubuhmu lembut seperti bayi, aku tidak bisa berhenti."
Aslan tersenyum puas, sementara Kiran cemberut kusut. Terpaksalah 5 hari kedepan ia harus menggunakan baju tertutup. Agar tanda-tanda merah ini tak terlihat oleh orang lain.
"Mas, jahat." Keluh Kiran.
Aslan tak mengindahkan, ia malah menarik tubuh polos sang istri untuk mendekat. Dipeluknya erat.