NovelToon NovelToon
Who Is My Husband

Who Is My Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: sky tulip

Nella sudah jadi istri, ini ajaib.
Tidak terima dan kecewa adalah kesan pertama tapi, karena ini keputusan keluarganya ia harus terima dengan terpaksa dan siapa suaminya sekarang Nella sama sekali tak kenal.
Kehidupannya berubah drastis saat memilih menerima suaminya menjadi sah untuk dirinya bersamaan dengan rasa kecewa itu.
Selama waktu berjalan Nella akhirnya tahu suami yang menikahi dirinya bahkan seluruh kekurangannya adalah orang yang sama sekali tak pernah Nella bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita masa lalu

Tidur sendirian malam ini tanpa Javier biasanya Javier akan ribut kalo tidak melakukan apapun tidurnya pegangan tangan sekarang hanya ada bantal dan guling di tengah, sudahlah Nella tak ngantuk sekarang mending menonton film.

Sampai jam terus berlalu Nella belum tidur bahkan jam sudah jatuh di pukul satu pagi, bagaimana ini matanya masih segar.

Saat melirik air minum diatas meja dan bergerak mendekat lalu duduk meminumnya, Nella kaget suara guntur yang besar sampai gelasnya pecah di lantai.

"Aduh, pecah lagi." Mengambil alat untuk membersihkan pecahan dan tisu untuk mengelap airnya.

Setelah minum dan merasa perasaannya tak enak Nella menyalakan tv-nya saja dan tidur sambil mendengarkan suara tv.

Di hotel tempat Javier istirahat tiba-tiba didatangi sekelompok orang dan Javier masih berendam di bak kamar mandi karena ia tak bisa tidur, berendam air dingin menurunkan suhu panas tubuhnya dan membantunya santai.

"Periksa!" Seam juga belum tidur ia sibuk dengan dokumen di kamarnya saat mau minum airnya tinggal sedikit keluar ia membawa wadah air minum.

Suara langkah dan suara senjata api terdengar.

Seam segara masuk dan menghubungi semuanya yang berjaga di beberapa kamar dan ruangan bahkan ada yang di balkon.

Javier yang memejamkan mata rileks membuka matanya merasa ada seseorang masuk kamarnya.

Salah satu membuka pintu kamar mandi tanpa di kunci. Tidak melihat siapapun bahkan bak mandi pun air nya tenang hanya banyak busa.

"Tidak ada!"

"Kau bohong!"

"Iyaa... Hanya ada air sabun dan airnya tenang."

"Sini aku tang periksa."

Seketika itu keluar dari bak mandi tanpa memakai apapun hanya di penuhi busa di tubuhnya. Keduanya kaget dan menyerang langsung Javier sebelum mereka menyerang duluan salah satu yang mendekat ke bak mandi di tari dan di banting kepalanya membentur bak mandi, satunya melepas satu tembakan dan Javier dengan cepat mematahkan lengannya dan membenturkan kepalanya ke kaca wastafel.

Seam dan Tio masuk dan Seam berinisiatif mengambil jubah handuk, Tio langsung memeriksa nafas mereka.

"Semua aman Tuan." Jawab Tio.

Javier belum membilas tubuhnya tapi, sudah berkelahi saja.

"Bawa mereka keluar dan aku pinjam kamar mandi mu."

Seam mengangguk dan membantu Javier lewat pintu tembusan ke kamar nya asisten Javier.

Setelah semua berkumpul dan mereka sadar saat itu juga Javier yang masih dengan jubah handuknya dan rambut lembabnya satu tangan kanan menggoyangkan gelas alcohol tangan kirinya memainkan belati besar.

"Apa yang kalian mau lakukan, kalian diminta membawa kepalaku atau membawa nyawa, ah mungkin tangan tidak Hem ehem, sulit mengira kalo kalian pasti membawaku dalam keadaan kepala saja, benar?"

"Tuan..." Seam berniat memberikan telpon dari rumah tapi, di hentikan.Tangan Javier terangkat.

Seam mundur menyimpan kembali ponselnya.

"Katakan, siapa yang meminta kalian sangat repot mengurus ku." Wajah bengis sekaligus senyuman yang sangat-sangat menikmati kondisi dan situasi ini.

Tusukan di paha salah satu dari mereka berlima yang belum terluka parah, teriakan melengking sampai semuanya menunduk hanya Tio dan Seam yang membuang wajah kesamping berlawanan arah.

Di tusuk di putar dan di tekan lebih dalam, darah yang sedikit keluarnya semakin deras padahal pisau masih menancap.

"Katakan sekarang agar kau tidak kehilangan kakimu."

Teriakan keras menahan sakit dan nyeri hebat di pahanya salah satunya menangis sambil buang air kecil di celana dan menjelaskan semuanya secara jelas jika seseorang yang wajahnya tidak jelas itu meminta untuk membunuh Javier jika bisa membawa mayatnya kehadapan orang itu, bayarannya bukan hanya uang tapi, juga segala yang diminta.

Keempat temannya menyumpahinya padahal, mereka sudah terluka tak bicara malah salah taunya membuka rahasia mereka dan seketika itu Javier menembak bahu dan lengannya yang menjelaskan alasannya, lantai di tengah dekat barangnya yang bolong akibat peluru bukan barangnya.

"Ups! Meleset..."

"Kalian hanya tau kerja tanpa memikirkan keselamatan kalian dan rekan kalian... Lucu sekali." Sambil terkekeh Javier melakukan garukan didahinya dengan pistol yang di gunakan menembak orang tadi tapi, meleset.

"Kami minta maaf!"

"Diam lah sialan!" Teriak mereka berempat pada temannya.

Javier tersenyum. Mereka lucu sekali.

"Kalian masih mau hidup, jika iya aku akan memberi lebih..."

"Kami tidak percaya pada anda!"

Javier mengedikkan bahunya.

"Terserah kalian, dari kalian pasti punya adik yang sakit keras dan butuh pengobatan?" Lirikan Javier pada seorang yang dahinya berdarah karena membentur bak mandi.

"Lalu ada ibu yang koma dan harus mendapatkan obat terbaik tapi, harganya sangat mahal bahkan butuh biaya?" Melirik dia yang terus menunduk dengan wajah penuh darah akibat membentur wastafel.

"Seam kau lakukan sisanya jika mereka tak mau habisi saja, Akh sial aku harus mandi lagi, keparat!"

Langkah Seam mendekat ke mereka di belakang Javier. Berbalik Javier memberikan pistol dan mengambil ponsel darinya.

"Iya.."

"Aku pulang Sayang..."

"Baiklah ayo.."

Javier segera membersihkan dirinya di kamar mandi dan tak lupa memakai celana panjang tanpa atasan.

"Kenapa gak pake baju kan AC dingin, aneh banget!" Panggilan vidio terbuka penampakan yang Nella lihat di layar tabletnya adalah Javier, Nella mengambil tablet di ruang kerja Javier tadi karena tak bisa tidur dan malas pakai ponselnya.

Terkekeh Javier.

"Gerah aku mandi tadi trus gak bisa tidur olah raga sebentar."

"Boong, gak ada olah raga, kena cairan merah.."

Javier mengusap wajahnya.

"Ini cat... Tadi liat lokasi yang mau di cat trus mandi ku kurang bersih kayaknya, aku cuci muka sebentar.."

"Kamu mau denger cerita aku tadi ke museum gak..." Javier melihat kearah jam dinding. Matanya menatap lembut Nella sambil menghela nafasnya.

"Ini hampir pagi sayang kamu gak ngantuk?"

"Sedikit sebentar janji..." Wajah Nella terlihat takut di panggilan vidio

"Iyaa apa.." Nella terlihat gugup dan menarik nafasnya.

Perlahan Nella menjelaskan kalo dulu pernah ada yang mengajaknya menikah dan sama-sama masih sekolah menengah atas tak mungkin untuk menerimanya akhirnya hanya teman dekat, bukan pacaran karena tidak ada panggilan khusus dan perhatian sekedarnya.

Lalu orang tua temannya marah tahu kalo Nella yang jadi teman putranya.

"Temen kamu cowok, ganteng? Kaya? Atau pinter, anak pejabat atau..."

"Ih gimana sih dengerin dulu... Biar cepet selesai."

"Hehe ok ok." Javier terlihat salah tingkah karena memotong cerita Nella

Lalu keluarga nya dan temennya pergi keluar negeri dan kabar bilang kalo temennya sakit trus meninggal juga orang tuanya meninggal, jadi Nella sama sekali tak terlalu sedih karena tak memberikan perhatian berlebih karena teman tapi, hampir sebulan pikirannya kacau sampai peringkat kelas sepuluh besar turun drastis.

"Sebenarnya di museum tadi ada yang mirip sama dia tapi, dia manggil namaku, aku kaget... Aku di tarik Shinta pergi... Aku pikir itu cuman orang iseng aja, masalahnya dia punya pengawal banyak dan Shinta manggil dia pangeran... Aku gak berharap dia temen aku yang dulu di kira meninggal tapi, aku mau nangis rasanya karena aku ngerasa ini salahku dia meninggal."

Berakhir Nella menangis didepan layar.

Javier menghela nafasnya.

Panggilan vidio di matikan Javier dan langit-langit menjadi pelampiasan tatapan amarah Javier.

"Seam bereskan semua, kita pulang!"

Seam yang baru saja akan meminum tehnya setelah mandi karena ini sudah hampir pukul empat pagi.

"Tapi, Tuan Matthew mengundang kita sarapan karena tahunkita ada di kota ini."

Javier berbalik.

"Iyaa Tuan.." Segera Seam mempersiapkan semuanya dan keluar hotel pagi ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!