Vian dan Putri terlibat pernikahan kontrak yang konyol. Keduanya saling cuek satu sama lain, bahkan memiliki pujaan hati masing-masing. Seiring berjalannya waktu, Sifat sombong Vian pun terkikis oleh sikap jutek tapi perhatian dari Putri.
Nah lo, jadi, apakah Putri juga punya perasaan yang sama pada Vian? Penasaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Asmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Sesuai janji, Vian menemui Vanessa ke tempat mereka biasa bertemu. Dia tidak ingin kekasihnya itu salah paham. Urusan Putri pun sudah selesai, luka lebam gadis itu sudah lumayan membaik. Ia tinggal menyiapkan alasan untuk menjawab pertanyaan neneknya kalau beliau sampai tahu keadaan pipi
Putri yang lebam.
Saat Vian datang, Vanessa masih menangis. Matanya tampak membengkak, ia sangat takut kalau sampai kehilangan Vian. Ia tidak bisa menampik, meskipun Putri tidak sebanding dengannya yang berprofesi sebagai model tetapi, kecantikan Putri terpancar secara alami dan itu bisa saja menarik perhatian Vian.
“Sayang, maaf. Aku tadi bentak kamu. Aku tidak bermaksud nyakitin kamu, hanya saja, aku tidak bisa membuat kamu semakin mempermalukan diri kamu sendiri. Bagaimanapun, kamu adalah model,
kamu harus menjaga tingkah laku kamu dalam keseharian. Aku datang kesini untuk menjelaskan semuanya sama kamu, maaf aku tidak jujur dari awal sama kamu.” Vian berkata dengan lembut sambil memegang kedua tangan Vanessa, berusaha meyakinkan wanita itu agar mau mendengarkan apa
yang akan ia sampaikan.
“Oke, jelaskan sekarang.” Ujar Vanessa
parau sambil mengelap hidungnya dengan tissu.
“Terima kasih, sayang, kamu sudah kasih aku kesempatan. Jadi gini, aku dan Putri itu hanya nikah bohongan. Kami cuma nikah kontrak. Selama ini aku da dia tidak terjadi apa-apa, maksudku hubungan seperti layaknya suami istri.” Vian
memulai penjelasannya. Ia pikirhanya cara ini yang bisa menyelamatkan hubungannya dan juga menghindarkan Putri dari keadaan yang tidak mengenakkan lagi. Ia tidak bisa membiarkan Putri dalam bahaya, meskipun itu hanya serangan-serangan kecil seperti yang ia dapatkan dari Vanessa yang hari ini terjadi.
“Kenapa kamu tidak menikahi aku saja? Kenapa kamu harus menikahi Putri?” seperti perkiraan Vian, pertanyaan semacam itu jelas akan ia dapatkan dari Vanessa. Ia diam sejenak, lalu mengembangkan senyum perlahan.
“Masalahnya, kamu sendiri tahu, kalau nenek tidak menerima kamu menjadi calon istriku, sementara syarat untukku dapat mengambil alih harta orangtuaku adalah menikah dengan calon istri yang di
setujui oleh nenek. Aku harap kamu mau bersabar, aku hanya butuh waktu satu tahun bersama dengan Putri, setelah itu kami akan berpisah. Aku melakukan ini untuk kebaikan kita dan masa
depan kita. Apa kamu mengerti sekarang?” Vian menatap Vanessa lembut, gadis itu adalah satu-satunya gadis yang paling ia cintai. Selama bertahun-tahun mereka bersama belum ada satupun yang
bisa mengalihkan hati Vian darinya.
“Satu tahun? Apa kamu gila? Satu tahun
itu sangat lama. Kamu akan melewati hari sebanyak itu berada satu atap dengannya? Bagaimana aku bisa merasa tenang kalau seperti ini?” kedua bola mata
Vanessa memancarkan rasa tidak percaya. Ia meragukan kekasihnya dan tidak yakin cinta Vian tidak akan berpaling darinya.
“Percaya padaku, Vanessa, tidak
ada wanita lain yang menempati hatiku selain kamu. Aku tidak akan pernah berubah, hanya kamu
yang aku sayangi, dan bukankah kita sudah bersama dalam waktu yang sangat lama?” Vian meminta Vanessa untuk mengingat lagi, seberapa lama ia telah
mempertahankan hubungan mereka. Vian tidak ingin Vanessa menganggapnya sama dengan lelaki di luar sana, meskipun kenyataannya ia memang mempunyai kekasih lain selain wanita itu.
“Baiklah, aku coba terima. Aku mencoba
memahami apa yang terjadi di antara kalian, tetapi ada syarat yang harus kamu penuhi.” Bukan Vanessa namanya kalau tidak meminta kompensasi atas apa yang terjadi, Vian tentu dengan senang hati akan menuruti apa yang menjadi keinginan kekasihnya tanpa keberatan.
“Apa syaratnya? Aku harap aku bisa mengabulkannya untukmu. “ Vian memandang Vanessa serius. Ia ingin tahu syarat apa yang akan di ajukan olehnya.
“Kapanpun, kamu harus selalu ada untukku. Aku tidak mau kamu menjadikan Putri sebagai alasan hingga kamu mengabaikan aku, gimana?” Vanessa
melemparkan senyum manisnya, ia sangat yakin, Vian tidak akan menolak apa yang menjadi keinginannya.
“Baik, aku akan mengabulkan permintaanmu, meskipun begitu, kamu tidak boleh asal datang ke kantorku sekarang. Aku tidak mau semua sandiwara ini terbongkar. Kamu juga harus membantuku, oke?” Vian ingin memastikan Vanessa tidak akan menghancurkan drama yang sedang ia jalani bersama Putri.
“Tentu saja, aku tidak akan menghancurkan
semua usahamu. Aku mendukungmu, Vian. Aku boleh pesan makanan, Sayang?” gadis itu menampilkan pandangan penuh harap yang menggemaskan, Vian tersenyum dan mengangguk, sebagai tanda ia mengiyakan permintaan Vanessa.
Di rumah nenek...
Nenek Vian sedang duduk berdua dengan Bimo, supir pribadi keluarganya. Ia merupakan orang kepercayaan nenek untuk mengawasi segala tingkah Vian di luar
pengawasannya. Nenek paham, cucunya bukan anak kecil lagi. Banyak hal yang menyimpang yang sering di lakukan oleh cucu kesayangannya itu, terutama tentang membengkaknya tagihan kartu kredit yang ia gunakan. Vian memang cukup cerdas dalam
berbisnis, tetapi di mata neneknya dia cukup bodoh dalam hal bercinta.
“Katakan padaku, ada info apa hari ini hingga kamu mengajakku duduk berdua seperti ini? Pasti permasalahannya cukup rumit, benar?” mata teduh nenek itu di tatap sekilas oleh Bimo, sedetk
kemudian lelaki setengah baya itu menunduk untuk menunjukkan rasa hormatnya.
“Benar, Nyonya. Ini tentang Vanessa, pacar Tuan Vian.” Ungkap Bimo perlahan, ini sangat menarik perhatian nenek hingga ia membenarkan letak
duduknya agar bisa mendengar cerita Bimo dengan jelas.
“Ada apa dengan gadis itu?” tanya nenek penasaran.
“Dia datang ke kantor Tuan Vian, lalu membuat sedikit kekacauan, dari info yang saya dapat, ia bahkan menampar wajah Non Putri, berakhir dengan di usirnya Vanessa dari kantor Tuan.” Bimo
melaporkan inti dari kejadian yang terjadi di kantor Vian hari ini.
“Berani sekali perempuan itu menampar menantu kesayanganku. Sayang sekali, aku tidak bisa turun tangan langsung untuk ikut campur dalam masalah mereka. Aku terpaksa harus tetap pura-pura tidak tahu segalanya sampai berhasil membuat keduanya saling jatuh cinta.” Nenek berjalan ke arah jendela kaca yang terpampang di salah satu sudut ruangan. Wanita itu tampak sedikit gusar.
“Nyonya tidak perlu cemas, Non Putri sudah di rawat oleh Tuan Vian, sepertinya ia merasa bersalah atas kejadian ini. Hanya itu yang ingin sayan sampaikan, kalau begitu saya pamit undur diri, Nyonya.” Bimo bangkit dari duduknya dan pamit undur diri dari hadapan nenek.
“Tolong terus awasi cucu-cucuku, Bimo. Beri aku laporan setiap hari. Aku akan pikirkan caranya, supaya Vian dan Putri benar-benar menjadi pasangan suami istri.” Kata nenek lembut seraya
memandang Bimo.
“Baik, Nyonya, saya akan selalu memberikan informasi mengenai cucu nyonya setiap hari. Saya tidak akan mengecewakan nyonya, permisi.” Bimo meninggalkan ruangan, nenek kembali menghadap ke jendela agar bisa melihat pemandangan di taman pribadi miliknya.
Aku hanya bisa berharap cucuku segera tahu, wanita seperti apa pacarnya itu. Supaya ia
paham, apa yang membuatku menolaknya mentah-mentah masuk ke dalam keluargaku. Hah,
masalah anak muda memang sedikit rumit. Keluh nenek dalam hati.
mulai suka dan coment.
lanjut....