Siapa yang tidak kenal dengan Jordan Mikhael Anderson. Pria berkharisma itu adalah pemilik perusahaan MA Group. Perusahaan besar di dunia, memiliki banyak cabang di setiap negara.
Dewi keberuntungan sedang tidak berpihak padanya, Alana Jovanka. Alana menelan saliva dengan susah payah melihat kopinya yang tumpah pada tuksedo pria yang kini menatapnya, tatapan itu seperti laser yang siap membelah tubuhnya.
Alana menahan nafasnya, saat Jordan mendekat dan membisikan sesuatu di telinganya.
"Jangan harap kau bisa lepas dariku, bodoh!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebutuhan di atas Ranjang
Jordan memperhatikan Alana yang sedang makan dengan tergesa-gesa, sampai Alana tersedak. “Pelan-pelan Alana!”
Alana menganggukan kepalanya dan menerima air minum yang di berika Jordan.
“Tadi kau pergi karena marah padaku?” Jordan ingin memastikan jawaban Alana.
Alana menghentikan acara makannya, “Kenapa aku harus marah?”
Gadisnya malah balik bertanya, dengan berat hari Jordan mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Alana. Pergi ke mana saja gadisnya itu hingga kakinya lecet?
“Kenapa kau kembali, bukannya kau ingin lari dariku?”
Alana menatap Jordan kesal, pria itu pasti berasa ada di atas angin karena Alana kembali ke rumahnya.
“Aku ke sini untuk mengambil semua barangku,” ucap Alana memberi alasan. Dia tidak mungkin jujur pada Jordan bahwa dia tidak tahu kenapa kakinya malah melangkah kembali ke rumah sang tuan muda.
“Kau lupa! barangmu sudah ku buang semua.”
“Aku lupa!” ketus Alana. Selera makannya sudah hilang karena perdebatannya dengan Jordan.
“Kamu cukup memuaskanku di atas ranjang, dan kau boleh menikmati semua fasilitas di rumah ini. Kecuali kau mau menjadi gelandangan, silahkan aku tidak akan menahanmu.”
Alana menundukan kepalanya, lagi-lagi Jordan membiarkan dia tinggal di sini hanya untuk kepuasan ranjangnya. “Lalu untuk apa surat nikah yang di buat Niko tempo hari?”
“Hanya sekedar jaga-jaga. Kau tahu, aku tidak suka pakai pengaman dan membuang benihku dengan percuma.”
Alana tidak mengerti maksud ucapan Jordan, dia menerka-nerka jawaban pasti tentang maksud ucapan tuan mudanya.
Jaga-jaga dari apa ?
Membuang benih?
Alana langsung menatap mata hitam Jordan. “Lalu kalau aku hamil bagaimana?”
“Dia keturunanku.”
Alana menunjuk dirinya, “Terus aku?”
Jordan sengaja tindak menjawab ucapan Alana, dia lebih memilih merebahkan tubuhnya di samping Alana dan memejamkan matanya.
Alana tidak bisa tidur karena merasa tidak tenang, dia terus memikirkan semua ucapan Jordan. Alana takut hamil, kalau dia hamil apa Jordan akan mengusirnya. Tetapi pria itu bilang kalau Alana hamil itu keturunannya.
Jika aku hamil, aku tidak ingin jauh dari anakku. Bagaimanapun aku ibunya.
Alana mengguncang tubuh Jordan, dia butuh kepastian. “Aku tidak ingin berpisah dengan anakku, jika nanti aku hamil.”
“Hmmm,” Jordan hanya menjawab dengan deheman.
Alana tidak puas dengan jawaban yang di berikan Jordan, jawaban tuan muda tidak membantu sama sekali.
Alana terus merubah posisi tidurnya, miring kanan, miring kiri. Semuanya terasa tidak nyaman.
“Berhenti bergerak Alana!” tegas Jordan.
Alana terkejut saat Jordan membentaknya, air matanya turun tanpa bisa Alana tahan. Dia menyeka air matanya dengan kasar, hatinya sakit mendengar Jordan membentaknya.
Kenapa aku jadi cengeng seperti ini?
Jordan merasa terganggu karena mendengar rintihan dari mulut Alana. Dia mengerjapkan matanya, mencoba bangkit dan melihat kondisi Alana.
Tubuh Alana seperti mengigil, Jordan menempelkan punggung tangannya di kening Alana. Jordan merasakan suhu tubuh Alana yang semakin bertambah panas.
Kenapa aku bisa sampai lupa memberikan obat dari dokter Al. Jordan membantu Alana bangun dan memasukan satu butir obat ke mulut Alana.
Alana tidak menolak dia menerima obat dari Jordan dan menelannya. “Dingin,” gumam Alana.
Jordan merebahkan tubuhnya, dan menarik alana ke dalam dekapannya. Mencoba memberi kehatangan untuk istrinya.
Istri?
Senyum tipis terukir dari bibir Jordan.
Setelah beberapa saat tuan muda menempelkan punggung tangannya ke kening Alana.
Jordan merasa tenang setelah suhu tubuh Alana kembali normal. Dia memejamkan matanya kembali untuk pergi kealam mimpi.