18 +
Brian, Ali dan Wisnu membawa ketiga teman perempuan mereka sendiri dan memperkenalkannya sebagai calon istri kepada orang tua mereka demi menghindari perjodohan.
Sementara para orang tua tahu jika mereka semua yang merupakan tetangga sekompleks perumahan adalah cuma sekedar teman.
Pernikahan diatur sedemikian rupa oleh orang tua mereka untuk mewujudkan permainan yang dimulai oleh anak anak mereka sendiri.
Bagaimana ketiga pasangan menjalani pernikahan yang terasa aneh itu ?
Ig.rii.ena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Kau jewer saja telinganya
Selama seminggu setelah kepulauan Ali dan Brian dari perkebunan, hari ini mereka kembali lagi karena cucu pak Johan dan pihak ABW Life sudah sepakat dengan segala konsep yang sudah di rundingkan.
Riella dan Amira tidak ikut, tetapi tidak dengan Fifi, tanpa memberi tahukan Wisnu, ia ikut ke perkebunan.
" Li..."
" Iya...Jaga mata...Jaga hati ! kamu sudah mengucapkannya berapa kali ? Dari malam tadi hingga pagi, aku tidak bisa menghitungnya "
Sahut Ali memasukkan tas bawaannya ke bagasi.
" Supaya kau tidak lupa "
" Apakah kau mulai cemburu ? Berarti kau sudah mulai jatuh cinta padaku ? " Ali menaik turunkan alisnya menggodai Riella.
Riella mendengkus, dia sebal dengan Ali tetapi agar Ali selalu teringat akan dirinya biarlah Riella mengalah.
" Iya, aku mulai mencintaimu, kau puas? "
Mendengar itu Ali terkekeh, mengusap lembut kepala Riella.
" Yang mesra dong mengucapkannya ! Aku juga mulai mencintai mu, Rie " Ujarnya dengan mengedipkan matanya genit.
Blush
Wajah Riella merona.
Mendengar ucapan Ali, Riella jadi kepengen ngikut tetapi sudah tidak mungkin, Riella hanya bisa melambaikan tangannya mengiringi mobil yang membawa Brian, Ali dan Fifi bergerak menjauh, di ikuti sebuah truk bermuatan penuh yang membawa segala furniture ke rumah pak Johan ke perkebunan.
Tidak ada satupun dari mereka yang memberi tahukan pada Wisnu jika Fifi menyusulnya, tidak juga Brian.
Brian sendiri menunggu bagaimana Wisnu akan ditangani oleh Fifi.
Melihat wajah Fifi yang terus ditekuk membuat Ali dan Brian serba tidak enak.
" Fi, cemberutnya nantilah di depan Wisnu, apa kau tidak capek menekuk wajahmu terus, perjalanan kita masih jauh lho "
Ali mencoba berdamai dengan Fifi.
" Aku bukan hanya marah pada Wisnu tetapi pada kalian bertiga " Sembur Fifi emosi.
" Salah kami apa ? "
Brian pura pura polos
" Jangan berdrama ! Gak ngaruh "
Fifi masih dalam mode merajuk.
" Memang Riella mengatakan apa ? " Ali memutar tubuhnya menghadap ke belakang, Fifi duduk sendirian di belakang.
" Tidak ada apa pun tetapi ketika dia menyuruh aku berhenti bekerja, tersirat jika Wisnu sedang bertingkah, benar tebakan aku kan ? "
Ali tidak menjawab, ia hanya kembali memutar badannya menghadap ke belakang.
" Tidak seburuk yang ada di dalam pikiran mu, Wisnu hanya sedang mempunyai teman baru "
Brian akhirnya buka suara.
" Pasti wanita bukan ? "
Fifi langsung menebak.
" Kau jewer saja nanti telinganya Fi ! Aku mendukungmu "
Ali berkata santai, Brian mendelik.
Fifi hanya mendengkus sebal.
Entah karena sudah kali kedua datang, atau memang perjalanannya yang lancar jaya dikarenakan Fifi yang dalam mode memendam amarah.
Mana ada hubungannya.
Sore hari mobil yang Brian dan Ali kendarai secara bergantian, sudah memasuki halaman rumah pak Johan.
Bertepatan dengan Wisnu yang sudah di susul oleh Zahra, bersiap siap pergi entah hendak mengukur perkebunan teh milik siapa lagi yang mau di ukunya hari ini.
Fifi berusaha menahan emosinya, berkali kali ia menarik napas dalam dalam, lalu mengeluarkannya.
Mengipas ngipas wajahnya dengan telapak tangan agar rona kemerahan karena emosi segera hilang
Brian dan Ali saling berpandangan.
" Fi, tahan emosi ! Sabar ! Ini cobaan "
Gaya Ali sudah mirip iklan di bulan Ramadhan.
" Diam ! " Semprot Fifi
Brian tergidik ngeri membayangkan apa yang akan terjadi.
Membiarkan Fifi di dalam mobil menenangkan perasaannya dulu, Brian dan Ali keluar dari dalam mobil.
" Mau kemana Nu ? "
Ali berpura pura agar Wisnu tidak menyadari jika Fifi ada ikut bersama mereka.
" Pergi memancing "
Sahutnya santai.
Brian menatap motor yang Zahra kendarai tadi, kosong, tidak ada peralatan mancing yang dibawanya.
" Memancing apa ? Memancing peperangan ? Sejak kapan kau punya hobi memancing ? "
Brian bertanya menahan geramnya karena Wisnu semakin kebablasan, ditinggal seminggu sepertinya hubungan Wisnu dan Zahra semakin dekat.
Kaca mobil yang memang tidak tertutup dengan rapat membuat Fifi yang berada di dalam mobil mendengar percakapan mereka.
Setelah menenangkan dirinya, Fifi turun dari dalam mobil dan menghampiri Wisnu yang sudah bersiap siap naik keatas motor Zahra.
Wisnu terkejut melihat Fifi, badannya kaku tidak bergerak dengan mulut sedikit terbuka
" Hallo sayang ? Terkejut melihat kedatangan ku ? Kau bilang merindukan aku bukan ? "
Fifi memeluk Wisnu mesra dan memberikan ciuman langsung ke bibir Wisnu yang terbuka, sedikit memasukkan lidahnya nakal agar kesadaran Wisnu kembali.
Brian dan Ali melihat drama yang Fifi pertontonkan, keduanya membuka mulut lebar.
Tidak percaya Fifi bisa men skak mat lawannya dengan tindakan yang sangat manis.
" F fi, kenapa tidak memberitahukan jika datang " Wisnu sedikit tergagap dengan wajah memerah, bagaimanapun mereka tidak pernah mempertontonkan kemesraan di depan orang lain, apa lagi sekarang di kampung pak Johan.
Untung saja karyawan yang ikut stay bersama Wisnu di rumah pak Johan sedang sibuk memberikan aba aba menurunkan furniture yang dibawa dari kota tidak melihat drama rumah tangga yang sedang berlangsung.
" Kejutan sayang, jangan memancing ikan ! Mereka juga punya hak untuk hidup, bersama istrimu ini saja kita memancing di dalam kamar, kamu tahu kan sayang, apa yang akan kita pancing ? " Fifi terkekeh dengan ucapan fulgarnya, sebelah tangannya masih memeluk Wisnu dan sebelahnya lagi bermain main di kancing kemeja Wisnu.
" Hah ? "
Wisnu seperti orang bodoh mendapatkan Fifi yang berkelakuan aneh.
Zahra yang berdiri dekat dengan Fifi dan Wisnu, kedua kakinya seperti terbenam di dalam tanah tidak bisa di gerakan.
Semua yang Fifi katakan terdengar jelas di telinganya, begitu juga apa yang dilakukan Fifi.
Dengan mata terbuka Zahra melihat Fifi mencium dan memasukkan lidahnya ke dalam mulut Wisnu.
Ia baru tahu jika Wisnu sudah mempunyai istri, cantik dan tentu saja terawat.
Bekerja di konter kosmetik tentu cantik, pandai berdandan dan kulit terawat dengan baik.
" Kita ke dalam sayang, aku capek berdiri terus " Rengek Fifi manja.
Wisnu yang saat ini melambung karena Fifi yang menciumnya tiba tiba tadi dan belum pernah dilakukan oleh Fifi, tentu saja melupakan Zahra.
Dia membawa Fifi untuk duduk di beranda rumah Pak Johan yang saat ini sedang pergi ke luar sebentar bersama istrinya.
Ketika Wisnu membawa istrinya berjalan ke beranda, diam diam Zahra pergi meninggalkan halaman rumah pak Johan.
Ali melirik Zahra yang pergi mengendarai sepeda motornya tanpa permisi pada Wisnu, sejujurnya ia kasihan melihat gadis muda itu, tetapi harusnya ia juga jangan dengan gampang akbrab dengan seseorang yang belum dikenal dengan jelas, apalagi pria pria yang seusia Brian, Wisnu dan Ali
Kebanyakan diusia seperti itu sudah berumah tangga.
Melihat Zahra yang sudah pergi, wajah Fifi yang manis tadi mendadak berubah menjadi marah.
" Kamu mulai nakal disini ya Nu ? Kau jangan macam macam padaku, atau kau mau ku kebiri ? "
Wisnu yang melihat perubahan Fifi, cepat menyadari jika yang Fifi lakukan tadi hanya sandiwara.
Tangan Fifi menggantung di udara membuat gerakan mencengkeram burung kakak tua Wisnu.
Wisnu mengkerut takut melindungi aset masa depannya dengan kedua telapak tangannya.
Brian dan Wisnu yang masih sangat betah melihat Wisnu di hukum Fifi, tertawa ngakak.
Fifi tidak perduli dengan keduanya.
" Fi, tidak seperti itu, dia hanya menemani aku jalan jalan di perkebunan ini, tidak ada apa apa " Wisnu berusaha membela diri.
" Kau disini bekerja Nu, bukan berjalan jalan dan jika kau ingin berjalan jalan, ayo aku temani ! "
Fifi sudah beranjak dari duduknya.
" Fi, bukan begitu, aku dan ...." Wisnu melongok ke halaman dimana motor Zahra terparkir kosong, Wisnu tidak menyadari kapan Zahra pergi.
" Awas kau berani macam macam ! "
Fifi menendang tulang kering Wisnu dengan geram.
" Auw "
Wisnu mengerang kesakitan.
" Ampun Fi ! Aku tidak berani macam macam "
Wisnu meraih tangan Fifi lalu menggoyang goyangkannya.
Brian dan Ali ikut meringis, seakan tulang kering mereka ikutan ngilu.
Tidak menyangka jika Fifi bisa segarang itu.
Bagaimana dengan Riella dan Amira ya ?
Brian dan Ali sama sama bertanya di dalam hati.
Apakah keduanya sama garangannya seperti Fifi jika mereka berulah seperti Wisnu ?
******
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
terimakasih ya Kak ❤️❤️❤️❤️