Ashela Safira, seorang gadis yang membanting tulang demi melunasi utang ayahnya, terpaksa merelakan kesucian yang ia jaga selama ini direnggut oleh pria asing.
Merasa harga dirinya telah hancur, ia memilih melarikan diri dan menghilang setelah malam panjang itu. Namun, di tengah pelariannya, Ashela justru mendapati dirinya hamil.
Sementara itu, Elvano Gavian Narendra, seorang dokter berhati dingin, terbangun dan mendapati gadis yang bersamanya telah pergi.
Rasa sesal seketika menghantamnya saat melihat bercak merah di atas ranjang, yaitu sebuah tanda bahwa ia telah menodai seorang gadis asing yang bahkan tidak ia ketahui identitasnya.
Bagaimana kelanjutannya???
YUKKKK GAS BACAAAA!!!
IG @LALA_SYALALA13
YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Garis Merah
Elvano kembali ke mejanya, mengambil berkas pasien berikutnya, dan menenggelamkan diri kembali ke dalam deretan angka dan istilah medis. Ia akan terus bekerja hingga tubuhnya menyerah, berharap bahwa kelelahan fisik akan mampu membunuh memori yang terus menghantuinya.
Ia tidak tahu bahwa di luar sana, wanita yang ia cari sedang berjuang dengan cara yang berbeda. Ia tidak tahu bahwa pencariannya yang gagal bukan karena wanita itu menguap, melainkan karena takdir sedang menyembunyikannya dengan sangat rapat, membiarkan waktu yang akan mematangkan pertemuan mereka kembali.
Untuk saat ini, Elvano Gavian Narendra tetaplah sang Dokter Es yang tanpa cela di mata dunia, namun seorang pria yang hancur dan kesepian di balik pintu ruang kerjanya yang terkunci rapat.
...****************...
Pagi itu, Jakarta diguyur gerimis tipis yang membuat udara terasa lebih lembap dan dingin dari biasanya.
Di dalam kamar kosnya yang sempit, Ashela Safira terbangun dengan perasaan yang sangat tidak nyaman. Bukan sekadar rasa lelah akibat lembur di gudang supermarket semalam, melainkan sebuah gejolak aneh yang muncul dari dasar perutnya.
Ia mencoba duduk, namun dunianya seolah berputar. Rasa mual yang hebat tiba-tiba naik ke kerongkongannya. Ashela segera menutup mulutnya dengan tangan, berlari tertatih menuju kamar mandi umum di ujung gang kosan yang untungnya masih sepi.
Huekk... huekk...
Ashela membungkuk di depan wastafel semen yang berlumut, memuntahkan cairan bening karena perutnya memang masih kosong.
Tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin membasahi pelipisnya.
Setelah beberapa menit yang menyiksa, rasa mual itu perlahan mereda, meninggalkan rasa pahit di lidah dan lemas yang luar biasa di sekujur tubuh.
"Pasti masuk angin," gumamnya sambil membasuh wajah dengan air dingin. "Beberapa hari ini aku memang kurang tidur dan sering telat makan." ucapnya mensugesti dirinya kalau dia hanya masuk angin.
Ashela mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Ia kembali ke kamar, mencoba meminum teh hangat untuk menenangkan perutnya. Ia berpikir bahwa bekerja di tiga tempat sekaligus yaitu kantor logistik, pasar induk, dan supermarket akhirnya mulai mengambil paksa kesehatan tubuhnya. Ia hanya butuh minyak kayu putih dan istirahat sejenak sebelum berangkat kerja.
Namun, saat ia sedang mengoleskan minyak hangat ke perutnya yang rata, jemarinya berhenti bergerak. Sebuah ingatan melintas begitu saja, dingin dan tajam seperti mata pisau.
Ashela terdiam, matanya menatap kosong ke arah kalender kecil yang ia letakkan di samping bantal. Ia mulai menghitung mundur. Detak jantungnya tiba-tiba berpacu lebih cepat. Ia menghitung kembali, kali ini dengan jari yang gemetar.
"Tidak mungkin..." bisiknya dengan suara yang hilang timbul.
Ia sudah terlambat dua minggu. Biasanya, siklus haidnya sangat teratur seperti jam dinding.
Ashela mencoba mengingat-ingat, mungkin karena stres atau kelelahan makanya jadwalnya berantakan.
Namun, memori tentang malam di kamar 1802 kembali menyeruak tanpa ampun. Ia ingat bagaimana Elvano menghujamnya berkali-kali tanpa pengaman. Ia ingat cairan hangat yang memenuhi rahimnya saat itu.
Rasa dingin yang lebih hebat dari air hujan di luar sana kini menyergap hatinya. Ketakutan yang luar biasa mulai melumpuhkan logikanya.
"Tidak, Tuhan... Kumohon jangan sekarang. Jangan seperti ini," isaknya pelan sambil meremas perutnya.
"Tidak.... tidak mungkin... " serunya sambil mencoba tertawa hambar kalau dugaannya salah.
Sepanjang hari di kantor logistik, Ashela tidak bisa fokus. Ia melakukan kesalahan pada tiga laporan pengiriman, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Setiap kali aroma kopi dari kubikel sebelah tercium, perutnya kembali bergejolak. Ia harus bolak-balik ke toilet hanya untuk menenangkan rasa mual yang terus datang menyerang.
Ia merasa seolah-olah semua orang sedang memperhatikannya. Apakah mereka tahu? Apakah wajahnya memancarkan rahasia kelam itu? Pikiran-pikiran paranoid mulai menghantuinya. Ashela tahu ia tidak bisa membiarkan ketidakpastian ini membunuhnya perlahan. Ia harus memastikan segalanya.
Sore harinya, saat pulang kerja, Ashela tidak langsung menuju kosan. Ia turun dari angkot di daerah yang cukup jauh dari tempat tinggalnya yaitu sebuah kawasan yang tidak pernah ia kunjungi agar tidak ada orang yang mengenalnya. Ia mengenakan jaket hoodie kebesaran, menarik tudungnya hingga menutupi sebagian wajah, dan mengenakan masker medis yang rapat.
Ia berjalan menyusuri deretan ruko hingga menemukan sebuah apotek besar yang cukup ramai.
Dengan langkah yang terasa sangat berat, seolah setiap kakinya terikat beban berton-ton, ia masuk ke dalam.
Ashela berdiri di depan rak yang memajang berbagai merk alat tes kehamilan. Tangannya bergetar saat hendak mengambil satu. Ia merasa seolah-olah kamera pengawas di sudut ruangan sedang menyorotnya sebagai seorang pendosa. Dengan cepat, ia mengambil dua merk yang berbeda dan segera menuju kasir.
"Ini saja, Mbak?" tanya petugas apotek dengan nada datar.
Ashela hanya mengangguk tanpa suara, tidak berani menatap mata sang petugas.
Begitu transaksi selesai, ia segera memasukkan kantong plastik kecil itu ke dalam tasnya dan berjalan keluar secepat mungkin, hampir berlari menuju pangkalan angkot terdekat.
Sesampainya di kamar kos, Ashela mengunci pintu dengan rapat, bahkan menyelipkan sepotong kayu di antara celah pintu agar tidak ada yang bisa mengintip atau masuk tiba-tiba. Ia duduk di lantai, menatap kantong plastik di hadapannya seolah itu adalah bom waktu yang siap meledak.
"Tolong, negatif... kumohon negatif... kumohon garis satu ya tuhan..." doanya berkali-kali.
Dengan tangan yang masih gemetar, ia masuk ke kamar mandi. Proses itu terasa seperti keabadian. Ia menunggu di depan alat tes yang ia letakkan di atas tutup ember plastik. Satu menit... dua menit...
Ashela memejamkan matanya rapat-rapat, tidak sanggup melihat hasilnya. Ia menghitung sampai sepuluh dalam hati sebelum akhirnya memberanikan diri untuk melirik.
Dua garis merah. Jelas. Tegas. Tanpa keraguan.
Dunia Ashela seolah runtuh seketika. Ia terduduk di lantai kamar mandi yang dingin dan lembap. Air matanya jatuh tanpa suara, membasahi pipinya yang pucat. Ia mencoba alat tes kedua untuk memastikan, berharap yang pertama salah. Namun hasilnya sama. Dua garis merah yang seolah menertawakan kemalangannya.
"Kenapa... kenapa harus aku?" rintihnya sambil memeluk perutnya sendiri.
Di dalam sana, di rahimnya yang sebelumnya suci, kini ada sebuah kehidupan yang mulai tumbuh.
Benih dari pria asing yang bahkan tidak tahu keberadaannya. Benih dari seorang dokter kaya yang hidup di menara gading, sementara ia hanyalah seorang yatim piatu yang dikejar-kejar hutang.
Seketika Ashela seperti patung yang tak bisa bergerak, dia tidak tahu harus bagaimana dengan janin yang baru diketahui kehidupannya ini.
"Ayah, ibu... maafkan Asha... " lirih wanita itu, pikirannya begitu kacau sekali sekarang dengan hadirnya kehidupan baru yang tidak di rencanakan ini.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
semoga mereka bisa berkumpul bersama...
next...
semangat othor💪💪💪💪
di double up