Mentari adalah CEO konglomerat besar yang menyamar menjadi karyawan biasa demi mencari cinta sejati. Ia bertemu dengan Bara seorang pekerja yang sangat ulet dan ambisius. Selama tiga tahun ia menjalin hubungan dan diam-diam membantu pria itu membangun perusahaan.
Bara pernah berjanji akan memberikan pernikahan yang megah setelah sukses, tetapi setelah berhasil meraih kejayaan sikap pria itu ternyata berubah.
Pada malam peresmian perusahaan, Vanya, sahabat sekaligus sekretaris Bara menghina dan mempermalukan Mentari. Namun, Bara hanya diam dan berpura-pura tidak melihat.
Kecewa dengan sikap pria itu, Mentari pun pergi dan menghentikan seluruh bantuan yang selama ini diberikannya.
Saat Bara menyesali perbuatannya dan berusaha mendapatkan Mentari kembali, wanita itu telah menemukan kebahagiaan bersama Titan, seorang miliarder yang mencintainya dengan tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ban 12— Mulai Terjun Ke Perusahaan
.
Pagi itu, gedung utama Adipradana Group terlihat lebih sibuk dari biasanya. Seluruh direktur dan kepala divisi baru saja menerima undangan rapat khusus dari sekretaris pribadi Tuan Panji. Tidak ada penjelasan mengenai agenda pertemuan selain satu hal: pemilik sekaligus pimpinan tertinggi perusahaan akan menyampaikan pengumuman penting tentang masa depan bisnis keluarga.
Di lantai eksekutif, Tuan Panji berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya. Selama bertahun-tahun, ia terpaksa menyembunyikan identitas putri tunggalnya dari publik karena keinginan putrinya yang memang ingin menjalani kehidupan biasa agar dapat mengenal dunia tanpa dibayangi nama besar keluarga. Kini, waktunya telah tiba untuk mengembalikan Mentari ke tempat yang seharusnya.
“Pastikan semua direktur sudah berkumpul,” ujar Tuan Panji kepada sekretarisnya. “Aku tidak ingin menunda lagi.”
*
*
Satu jam kemudian, pintu ruang rapat terbuka. Para direktur segera berdiri ketika Tuan Panji masuk. Namun, perhatian mereka langsung tertuju pada perempuan yang berjalan di sampingnya.
Mentari Paramita Adiprana. Gadis itu berjalan dengan langkah tegap mengenakan setelan jas arang gelap. Rambutnya tertata rapi dan sorot matanya jauh lebih tegas daripada sosok karyawan biasa yang mungkin pernah mereka kenal.
Tuan Panji berhenti di ujung meja lalu mengedarkan pandangannya pada segenap yang hadir. “Duduklah,” titahnya kemudian.
Setelah semua kembali duduk di tempat masing-masing, ia melambaikan tangannya agar Mentari mendekat padanya. Tak pelak apa yang ia lakukan menjadi sorotan dari semua mata.
“Sebagian besar dari kalian mungkin mengenalnya sebagai Mentari,” ucapnya. “Namun ada satu hal yang selama ini tidak kalian ketahui. Nama lengkapnya adalah Mentari Paramita Adiprana, Putri tunggal keluarga sekaligus pewaris sah bisnis keluarga Adiprana.”
Seketika itu juga ruangan menjadi sunyi. Beberapa direktur saling berpandangan. Sebagian dari mereka memang ada yang mengenal Mentari, tetapi tidak pernah menyangka perempuan itu adalah putri pemilik perusahaan.
Seorang direktur senior akhirnya angkat bicara. “Apakah Nona Mentari akan mulai terlibat langsung dalam pengelolaan perusahaan?”
“Benar,” jawab Tuan Panji dengan mata mengedar menatap seluruh jajaran direksi. “Mulai hari ini, Mentari akan terlibat dalam keputusan strategis perusahaan, termasuk pengembangan bisnis dan investasi. Untuk sementara, saya tetap akan mendampinginya.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Namun saya harap kalian memperlakukannya sebagai pemimpin yang sedang menjalankan tanggung jawabnya, bukan sekadar sebagai putri saya. Tegur dia jika memang dia melakukan kesalahan. Ingatkan jika dia sedang lupa!”
Kata-kata tuan Panji yang begitu bijak membuat para direktur mengangguk.
Mentari menatap wajah ayahnya kemudian menganggukkan kepala sebelum kemudian menatap ke arah semua para hadirin. Ia hanya memperkenalkan diri, tidak memberikan pidato panjang. Baginya, pengakuan itu hanyalah awal dari tanggung jawab yang selama ini sengaja ia tinggalkan.
Ketika sesi perkenalan usai dan rapat berlanjut dengan bahasan perusahaan, Tuan Panji memintanya memberikan pendapat mengenai beberapa proyek investasi.
Dengan tenang Mentari membuka dokumen di hadapannya. “Saya melihat ada ketidaksesuaian pada proyeksi investasi ini,” ucapnya sambil menunjuk salah satu angka. “Pertumbuhan yang digunakan terlalu optimistis,” lanjutnya. “Jika kondisi pasar berubah, risiko kerugiannya cukup besar.”
Beberapa direktur segera memeriksa laporan mereka.
Mentari terus menyampaikan pendapatnya dengan tenang juga menjawab pertanyaan-pertanyaan tajam dari para direktur yang seakan sedang ingin mengujinya.
Di kursinya, Tuan Panji hanya tersenyum tipis melihat putrinya berhasil membuat beberapa orang kembali memeriksa keputusan yang sebelumnya mereka anggap aman. Ia tahu putrinya mampu mengambil tanggung jawab tersebut. Namun sedetik kemudian senyum di wajah pria paruh baya itu lenyap ketika mengingat bahwa selama ini Mentari menggunakan kemampuan dan seluruh tenaganya untuk membantu seorang pria yang bahkan tidak menghargai pengorbanannya.
Setelah rapat berakhir, Tuan Panji membawa Mentari kembali ke ruang kerjanya. “Kamu tidak lelah?”
Mentari menggeleng. “Tidak. Sebagian besar materinya sudah kupahami.”
Tuan Panji kemudian mengingatkan bahwa pengumuman tersebut pasti menarik perhatian media.
“Aku tidak keberatan,” jawab Mentari. “Kalau mereka ingin mengenalku, biarkan mereka melihat apa yang kulakukan. Aku tidak perlu menjelaskan kehidupan pribadiku.”
Tuan Panji mengangguk. “Bagus. Tapi kamu harus berhati-hati. Setelah orang-orang mengetahui siapa dirimu, akan ada banyak orang yang tiba-tiba ingin mendekat. Jangan sampai kamu kembali mengorbankan dirimu demi seseorang yang tidak menghargaimu.”
Mentari terdiam sesaat. Nama Bara kembali terlintas di benaknya. Namun sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya.
“Urusanku dengannya sudah selesai, Ayah,” jawabnya sambil menatap ayahnya dengan mantap. “Aku tidak akan kembali.”
Tuan Panji menghela napas lega. Ia tidak meminta putrinya melupakan masa lalu. Ia hanya ingin Mentari menjadikan masa lalu itu sebagai pelajaran.
Di tempat lain, keadaan perusahaan Bara semakin buruk setelah dua bank telah menolak permohonan pinjaman darurat. Bara duduk di ruangannya sambil menatap laporan keuangan. Namun angka-angka itu hanya membuat kepalanya semakin pusing.
Ia mencoba menghubungi beberapa kenalan yang yang dulu sering nongkrong dan foya-foya bersama, tetapi tidak satu pun memberikan kepastian.
Saat itulah sebuah berita ekonomi muncul di ponselnya.
Putri Tunggal Pemilik Adiprana Group Resmi Diperkenalkan sebagai Pewaris.
Bara hampir melewati berita tersebut. Namun, ketika matanya melihat foto yang terpampang, seketika itu juga jarinya berhenti. Wajah yang sangat ia kenali, wajah yang sudah beberapa hari tak lagi ia lihat. Mentari. Ia membuka artikel itu dan membaca judulnya sekali lagi.
MENTARI PARAMITA ADIPRANA.
Seketika itu juga wajah Bara berubah. “Mentari Paramita Adiprana?”
Ia memperbesar foto tersebut takut jika matanya salah melihat. Tetapi itu memang benar-benar Mentari. Perempuan yang selama ini ia anggap sebagai karyawan biasa kini berdiri di samping Tuan Panji dengan pakaian formal, diperkenalkan sebagai putri tunggal sekaligus pewaris Adiprana Group.
Vanya yang baru masuk tanpa sengaja ikut melihat layar ponsel Bara. “Ini... Mentari?” pekiknya tak percaya
Bara tidak menjawab. Tiba-tiba saja ia ingat berbagai kejadian beberapa hari terakhir. Kepergian Mentari. Penolakan bank. Investor yang tiba-tiba menarik diri. Ia belum memiliki bukti bahwa semuanya berhubungan.
Namun kini Bara menyadari bahwa perempuan yang selama ini ia remehkan ternyata menyimpan kehidupan yang sama sekali tidak pernah ia ketahui.
Di ruang kerjanya, Mentari menerima laporan terbaru dari Bram.
“Perusahaan Bara semakin tertekan,” ujar Bram. “Tim intelijen yang kami atur untuk mengawasinya memberikan informasi bahwa kemarin dia ditolak oleh beberapa bank.”
Mentari mengangguk. “Terus pantau. Jangan mengambil langkah yang tergesa-gesa.”
“Apakah Nona akan menggunakan nama Group untuk melakukan akuisisi?” tanya Bram.
“Mungkin belum sekarang,” jawab Mentari. “Tapi sudah mulai bisa dimasukkan dalam agenda. Untuk sementara ini aku ingin melihat apa yang bisa ia lakukan untuk mempertahankan perusahaan kecil itu."
*
*
*
Gaesss... Maaf ya udah berapa hari gak bisa up. Emak baru saja pulang dari RS nungguin anak Emak yang baru kecelakaan. Semoga kalian bisa memakluminya 🙏🏼🙏🏼🙏🏼
Mak boleh yx getok dikit anak ny ,, 🤭
SIM ny blum ad Bu ,, 🤭🤭🤣🤣