Clara Adelin Dewangga, seorang siswi SMA berusia 18 tahun yang ceria namun sering terlibat masalah, tidak pernah membayangkan bahwa kehidupan remajanya akan berubah drastis dalam semalam. Karena perjodohan keluarga yang terikat janji masa lalu, Clara terpaksa menikah muda di usianya yang masih duduk di bangku sekolah.
Pria yang dijodohkan dengannya adalah Arka Samudra, seorang dokter muda berparas tampan, cerdas, namun terkenal sangat dingin, kaku, dan penuh aturan. Di depan publik dan di rumah sakit, Arka adalah sosok dokter profesional yang disegani. Namun di rumah, ia menjadi sosok suami super protektif yang menyebalkan bagi Clara.
Kehidupan pernikahan rahasia mereka penuh dengan pertengkaran kecil yang menggelitik:
Clara sangat membenci Arka, karena dia menerima perjodohan tersebut, tanpa syarat.
Di balik sikap Arka yang dingin dan membuat kesal, perlahan terkuak perhatian-perhatian kecil yang membuat jantung Clara berdebar tak menentu. Hal itu yang membuat Clara tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keraguan
Suasana kelas XII IPA 2 mendadak senyap begitu Pak Hendra, guru Matematika peminatan yang terkenal paling disiplin dan jarang tersenyum, melangkah masuk membawa setumpuk kertas ulangan harian. Clara yang duduk di bangku baris kedua bersama Maya hanya bisa menghela napas pasrah, berusaha menepis sisa-sisa kekesalan akibat insiden di kantin tadi siang.
Meski pesan terakhir dari Arka berhasil mengembalikan mood-nya, bayangan Kenan yang tiba-tiba muncul dan melontarkan kalimat sinis sempat meninggalkan sedikit ganjalan di benaknya. Apa maksud anak itu dengan "liat aja nanti"? batin Clara bertanya-tanya. Namun, ia segera menggelengkan kepala, mencoba fokus pada lembar soal integral yang kini dibagikan di meja mereka.
Dua jam pelajaran berlalu dengan cukup menegangkan. Begitu bel kepulangan sekolah berbunyi nyaring, seisi kelas langsung bersorak lega.
"Clara, Fani, Rara, buruan! Nanti keburu sore piket kelas kita," seru Maya sambil menyambar ranselnya.
"Iya, sebentar, May. Ini pensil aku gelinding ke kolong meja," balas Clara sambil membungkuk mencari pensilnya yang jatuh.
Sambil menunggu Clara menyelesaikan tugas piketnya bersama ketiga sahabatnya, waktu berjalan cepat. Tak terasa, jarum jam menunjukkan pukul tiga sore lewat sepuluh menit. Tugas menyapu, menghapus papan tulis, dan merapikan meja guru telah usai. Keempat gadis itu berjalan bersama menuju gerbang utama sekolah yang mulai lengang.
Sesampainya di trotoar depan gerbang, sebuah mobil Range Rover hitam berpelat nomor familiar tampak terparkir rapi di bawah pohon rindang. Kaca jendela mobil itu perlahan turun, menampilkan sosok pria berjas rapi dengan lengan kemeja yang digulung hingga siku Arka, suaminya, yang tampak begitu memesona di balik kemudi.
"Wah, mobil Dokter Es udah ngetem tuh dari tadi. Pengantin baru gercep bener ya," goda Fani sambil menyenggol lengan Clara.
Clara tersenyum malu-malu. "Kalian duluan ya, itu Mas Arka udah nunggu."
"Yoi, duluan ya Clar! Titip salam buat Dokter ganteng," teriak Rara melambaikan tangan bersama Maya dan Fani yang berjalan ke arah halte bus.
Clara melangkah cepat menghampiri mobil Arka. Begitu ia membuka pintu dan duduk di kursi penumpang depan, aroma parfum maskulin yang khas langsung menyambut indra penciumannya. Arka langsung menoleh, menyambut sang istri dengan senyuman hangat yang selalu berhasil membuat debar jantung Clara berantakan.
"Capek ya, istri kecilku?" sapa Arka lembut, tangannya terulur secara alami untuk merapikan beberapa helai rambut Clara yang sedikit berantakan di dahi.
"Sedikit, Mas. Tadi habis piket kelas, terus... ya gitu deh," jawab Clara, suaranya sedikit menurun di ujung kalimat.
Arka yang peka langsung menangkap perubahan nada bicara istrinya. Ia urung memasukkan gigi mobil, lalu menatap Clara lekat-lekat dengan pandangan menyelidik. "Gitu deh gimana? Ada apa di sekolah? Kamu dibully anak kelas lain lagi?"
Clara menghela napas pelan, lalu menceritakan kejadian di kantin siang tadi secara jujur, mulai dari kemunculan Kenan, ucapan sinis mantannya itu, hingga sindiran soal pernikahan mereka. Clara sengaja tidak ingin menyembunyikan apa pun dari suaminya, karena bagi mereka, keterbukaan adalah fondasi utama.
Alih-alih marah atau tersulut emosi, Arka justru mendengarkan cerita Clara dengan tenang. Sudut bibirnya bahkan terangkat membentuk senyuman tipis penuh percaya diri.
"Jadi... mantanmu yang waktu itu ditentang keras sama papa mertuaku tiba-tiba muncul dan meragukan kebahagiaan kita?" tanya Arka memastikan, jemarinya dengan lembut menggenggam tangan Clara yang terasa sedikit dingin.
Clara mengangguk kecil. "Aku risih banget, Mas. Padahal aku udah tegasin kalau aku bahagia sama kamu. Tapi dia malah ngomong seolah-olah mau nunjukkin sesuatu."
Arka tertawa pelan, suara baritonnya terdengar sangat menenangkan. Ia membawa tangan Clara ke bibirnya dan mengecup punggung tangan itu sekilas.
"Dengerin Mas, ya, Clara," ujar Arka dengan suara penuh wibawa namun sarat kelembutan. "Mas nggak peduli apa kata Kenan, atau apa pun masa lalu kalian. Yang Mas tahu, kamu sekarang adalah istri sah Mas, tanggung jawab Mas, dan rumah tempat Mas pulang. Kalau dia masih berani ganggu kamu atau mencoba merusak mental istri kesayangan aku ini, biar Mas sendiri yang nanti kasih pelajaran ke dia. Oke?"
Mendengar kalimat itu, raut muka Clara langsung cerah. Rasa cemas dan risih yang sempat bersarang di dadanya seketika musnah berganti dengan rasa aman yang luar biasa. Ia tahu, ia tidak salah memilih Arka sebagai pelabuhan terakhir hidupnya.
"Makasih ya, Mas. Kamu selalu tahu cara bikin aku tenang," ucap Clara tulus sambil tersenyum manis.
"Sama-sama, sayang. Nah, sekarang karena hari ini kamu udah jadi istri dan murid yang baik, dokter ganteng ini mau ngajak kamu kulineran dulu sebelum pulang ke rumah. Mau makan sate kambing langganan kita, atau mau cari dessert manis?"
"Mau dua-duanya!" jawab Clara riang, membuat Arka tergelak renyah.
Mobil Range Rover hitam itu akhirnya meluncur meninggalkan area sekolah, membelah senja kota yang mulai menyala. Namun, di balik kehangatan di dalam kabin mobil, tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah mengawasi kepergian mereka dari balik kaca spion mobil lain yang terparkir tak jauh dari gerbang.
Kenan mengepal erat setir mobilnya, rahangnya mengeras tajam saat melihat kemesraan Arka dan Clara.
"Lihat saja, Arka... Clara bakal sadar kalau pria tua sok mapan kayak lo itu nggak pantes buat dia," gumam Kenan penuh dendam, sebelum akhirnya menginjak pedal gas dan mengikuti arah mobil Arka secara diam-diam.
"Oh ya, weekend ini temenin aku untuk belanja ya" ucap Arka tiba-tiba sambil terus fokus menyetir mobilnya.
"Belanja? Memang mas Arka mau belanja apa? Kebutuhan harian, atau apa?" tanya Clara beruntun karena bingung sekaligus penasaran.
"Aku ingin membelikan beberapa gamis untuk Keynara" jawab Arka singkat.
"Gamis untuk adik kamu? Bukannya dia ada di pondok pesantren?"
"Iya, dia memang sedang berada di pondok pesantren. Cuma tadi siang dia telfon, katanya dia ingin benar-benar berhijrah untuk menutup semua suratnya. Maksud dia..., dia itu ingin menggunakan cadar juga untuk memantapkan hati dan jiwanya"
"Waaah... Mulia sekali niat Keynara ya mas. Jadi bikin iri deh" seru Clara memuji adik iparnya.
"Kamu sendiri juga bisa kok" ucap Arka dengan nada serius.
"Kamu bercanda ya mas?! Nggak mungkin itu terjadi mas. Kamu kan tau sendiri sifat dan sikap aku gimana? Mana mungkin aku punya niat untuk hijrah seperti itu" tegas Clara.
"Jangan bilang nggak, tapi kamu harus bilang belum ada niat untuk kesana" ucap Arka.
"Baiklah... Terserah kamu aja mas. Tapi sepertinya itu mustahil untuk seorang play girl seperti aku" pasrah Clara.
Arka hanya tersenyum mendengar perkataan terakhir istrinya.