Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saya Sangat Yakin
Ibu Yati meremas ujung dasternya, raut wajah wanita paruh baya itu memerah karena menahan rasa malu sekaligus amarah yang membuncah di dalam dadanya. Di usianya yang senja, ia harus menghadapi tetangga yang tidak punya empati dan senang memperkeruh keadaan.
Ayara mengepalkan kedua tangannya erat-erat di sisi tubuh, napasnya mulai memburu karena kesal. Ia terbiasa menahan segala cercaan dan kesulitan hidup untuk dirinya sendiri, namun ia tidak akan tinggal diam jika ibunya diinjak-injak dengan fitnah murahan seperti itu di depan umum.
Sebelum Ayara sempat membuka mulut untuk melontarkan pembelaan yang pedas, sebuah tangan kekar dengan gerakan tenang namun pasti terulur menyentuh pelan bahu Ayara.
Althaf melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Ayara untuk melindungi gadis itu dari sorotan mata menghakimi para tetangga. Pria itu menepis segala kecanggungan dengan postur tubuhnya yang tinggi tegap dan sorot mata setajam elang, memancarkan wibawa yang membuat nyali Bu Nur dan yang lainnya mendadak menciut seketika.
"Selamat malam, Ibu-ibu sekalian," sapa Althaf dengan suara baritonnya yang tenang, dingin, namun terdengar sangat berwibawa di tengah kesunyian malam gang tersebut.
Bu Nur dan Bu Ina saling berpandangan sejenak. Meski sempat merasa gentar melihat ketampanan dan kemapanan Althaf, rasa penasaran dan gengsi membuat mereka tetap memasang wajah menantang.
"Malam, Mas... Wah, hebat ya, malam-malam begini masih repot ngurusin anak gadis orang," sindir Bu Nur dengan nada suara yang sengaja dibuat-buat meremehkan.
Althaf tidak terpancing emosi. Pria itu justru menyunggingkan senyum tipis, senyum dingin yang justru membuat siapa pun yang melihatnya merasa merinding. Sebagai seorang pengacara yang terbiasa menghadapi saksi dusta dan lawan di ruang sidang, menghadapi ibu-ibu usil seperti mereka bukanlah hal yang sulit bagi Althaf.
"Benar sekali, saya memang sengaja merepotkan diri saya untuk mengantar Ayara," jawab Althaf tegas, tanpa ragu sedikit pun.
"Karena pertama, sepeda motornya memang mogok. Dan kedua, sebagai seorang pria yang memiliki akal sehat dan tanggung jawab moral, saya tidak mungkin membiarkan seorang wanita pulang sendirian di malam hari. Apakah tindakan saya ini melanggar norma, dan dimana letak tidak pantasnya?" tanya Althaf balik dengan intonasi suara yang tajam, menusuk tepat di ulu hati para pendengarnya.
Bu Nur terkesiap, lidahnya mendadak kelu mendapati jawaban telak yang dibalut tata krama tingkat tinggi tersebut, dan tidak menyangka pria di hadapannya akan berbicara setegas itu.
"Bu-bukan begitu maksudnya, Mas... Cuma kan kurang enak dilihat warga kalau...," Bu Ina mencoba membela diri dengan suara yang mulai menciut.
"Kurang enak dilihat atau mata ibu-ibu saja yang memang terbiasa melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang buruk dan kotor?" potong Althaf cepat, suaranya naik satu tingkat namun tetap terjaga di dalam koridor kesopanan.
"Saya sarankan, daripada malam-malam begini kalian membuang waktu mengurusi urusan orang lain dengan asumsi rendahan itu, lebih baik gunakan waktu tersebut untuk beristirahat atau mengurus keluarga masing-masing. Karena apa yang kalian ucapkan barusan sudah masuk dalam kategori pencemaran nama baik dan fitnah di muka umum," lanjut Althaf dengan nada dingin penuh ancaman profesional hukum.
Mendengar perkataan Althaf, wajah Bu Nur, Bu Ina dan Bu Sri langsung memucat pasi. Mereka tidak menyangka jika Althaf sangat pandai berbicara hingga membuat mereka takut.
Tanpa menunggu balasan dari para tetangga yang kini sudah diam seribu bahasa, Althaf menoleh ke arah Ibu Yati. Pria itu membungkukkan sedikit tubuhnya dengan sangat takzim.
"Maafkan saya, Bu. Saya lancang ikut bicara di hadapan Ibu, saya hanya ingin meluruskan kesalahpahaman agar tidak menjadi fitnah," ucap Althaf lembut, kontras dengan ketegasannya pada para tetangga tadi.
Ibu Yati menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca karena terharu melihat bagaimana Althaf membela kehormatan putri dan keluarganya. "Iya, Nak Althaf... Terima kasih banyak," jawab Ibu Yati tulus.
Karena sudah kalah telak, ibu-ibu itu pun pergi dan tidak ingin mencari masalah lagi. "Ayo, masuk. Ayara, buatin teh untuk Nak Althaf."
Suasana di ruang tamu mendadak hening begitu pintu dapur ditutup rapat oleh Ayara, meninggalkan Ibu Yati dan Althaf duduk berhadapan di atas tikar pandan.
Ibu Yati meremas jemarinya yang keriput di atas pangkuan, ada raut ragu dan beban berat yang membayang jelas di wajah wanita paruh baya itu sebelum ia memberanikan diri menatap mata tajam Althaf dengan penuh kesungguhan.
"Nak Althaf... Ibu sangat berterima kasih atas semua kebaikan Nak Althaf selama ini...," suara Ibu Yati bergetar halus, terdengar begitu sarat akan kekhawatiran seorang ibu.
Althaf mendengarkan dengan penuh takzim, mencondongkan sedikit tubuhnya ke depan untuk menghormati wanita paruh baya di hadapannya itu.
"Ibu tidak perlu berterimakasih, saya melakukan ini atas kemauan saya sendiri," ucap Althaf lembut.
Ibu Yati menghela napas panjang, menundukkan pandangannya sejenak sebelum kembali menatap Althaf. "Tapi... demi kebaikan Ayara dan Ibu, kalau boleh Ibu minta... tolong, jangan datang ke rumah ini lagi, Nak Althaf."
Mendengar permintaan langsung dari Ibu Yati tersebut, Althaf sama sekali tidak menunjukkan ekspresi tersinggung ataupun marah. Sebaliknya, sorot mata pria itu justru berubah semakin teduh dan penuh ketegasan.
Althaf menegakkan postur tubuhnya, lalu merapikan ujung kemejanya sesaat sebelum menatap lurus ke manik mata Ibu Yati tanpa sedikit pun keraguan.
"Ada apa, Bu?" tanya Althaf.
"Ibu hanya tidak mau orang-orang berpikir buruk tentang Ayara," jawab Ibu Yati.
"Saya mengerti dan sangat menghargai kekhawatiran Ibu sebagai orang tua yang ingin melindungi anak gadisnya dari omongan orang yang tidak bertanggung jawab."
Althaf menarik napas dalam-dalam, lalu melanjutkan kata-katanya dengan penuh keyakinan. "Tapi saya minta maaf, Bu... untuk permintaan Ibu itu, saya tidak bisa menurutinya."
"Kenapa Nak Althaf? Apa Nak Althaf tidak kasihan dengan Ayara?" tanya Ibu Yati.
Althaf tersenyum tipis, senyuman hangat yang memancarkan ketulusan luar biasa dari lubuk hatinya paling dalam. Pria itu menangkupkan kedua tangannya di atas lutut, menatap Ibu Yati dengan sorot mata yang penuh keseriusan seorang pria sejati.
"Sebenarnya kedatangan saya bukan sekadar ingin bertamu atau bermain-main, Bu," jawab Althaf.
"Maksudnya?" tanya Ibu Yati.
"Saya menyukai, Ayara. Saya ingin menjadikan Ayara pasangan saya," jawab Althaf.
Ibu Yati terpaku bisu, napasnya seolah tertahan di tenggorokan mendengar kalimat yang meluncur begitu saja dari bibir Althaf.
"Saya ingin melamar Ayara, saya memohon restu dari Ibu untuk menikahi putri Ibu secepatnya," ucap Althaf tanpa ragu sedikit pun.
"Nak Althaf yakin?" tanya Ibu Yati.
"Saya sangat yakin," jawab Althaf.
"Tapi, Ayara berasal dari keluarga yang serba pas-pasan...," cicit Ibu Yati ragu, merasa minder dengan status sosial mereka.
"Bagi saya, Ayara adalah wanita paling istimewa. Perbedaan status bukan halangan, asalkan Ibu merestui," jawab Althaf penuh keyakinan.
"I-ibu ikut keputusan, Ayara." balas Ibu Yati.
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita