-
Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.
Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3
🍂🍂🍂🍂
Keheningan di tepi telaga Sendang Manten mendadak pecah. Air telaga yang tadinya tenang bagai kaca hitam tiba-tiba bergejolak hebat. Gelembung-gelembung udara muncul dari dasar air, diiringi suara desisan halus yang bersahut-sahutan dari segala arah.
Sssss... sssss...
Dari balik belukar dan celah-celah batu yang basah, meluncur ratusan hingga ribuan ekor ular hijau kecil. Sisik mereka yang mengilap memantulkan cahaya redup, bergerak cepat membanjiri tepian telaga. Tanpa memberi kesempatan bagi Bagas untuk menghindar, gelombang ular-ular itu mulai merayapi kakinya.
Rasa dingin yang mencengkeram langsung menjalar saat sisik-sisik licin itu menyentuh kulit telanjang Bagas. Ular-ular itu membelit pergelangan kakinya, naik merayap ke paha, hingga melilit dada dan lengannya. Rasa takut yang amat sangat memicu jantung Bagas berdegup kencang hingga dadanya terasa sesak. Tangannya gemetar hebat, dan nalurinya menjerit agar ia lari atau kibaskan reptil-reptil itu.
Namun, bayangan wajah ibunya yang pucat pasi dan batuk berdarah mendadak berkelebat di benaknya.
"Tidak... aku tidak boleh lari," bisik Bagas pada dirinya sendiri. Ia memejamkan mata erat-erat, menggertakkan gigi menahan dingin dan jijik yang membakar nyalinya. "Lakukan apa saja padaku... asal Ibuku bisa sembuh! Aku tidak akan mundur!"
Bagas berdiri tegap. Ia membiarkan tubuhnya dililit puluhan ular hijau tanpa sedikit pun bergemuruh lari.
“Keteguhan yang luar biasa untuk seorang anak manusia...”
Sebuah suara wanita yang amat merdu dan menggema memecah malam. Seketika itu pula, ratusan ular hijau yang merayapi tubuh Bagas mendadak meluncur turun kembali ke dalam air telaga, seolah-olah patuh pada perintah tanpa kata.
Tiba-tiba, tirai air terjun raksasa di depan Bagas terbelah. Daya tarik gaib yang sangat kuat seperti menyedot tubuh Bagas ke depan. Langkah kakinya tak lagi menapak di tanah basah, melainkan melayang menembus gumpalan air terjun.
Dalam sekejap mata, kegelapan malam dan dinginnya hujan lenyap.
Bagas tersentak saat kedua kakinya berpijak di atas ubin marmer hijau zamrud yang sangat halus dan hangat. Pandangannya membelalak tak percaya. Di depannya terhampar sebuah lorong istana yang luar biasa megah. Pilar-pilar batu raksasa berlapis emas murni menjulang tinggi menopang atap ukiran antik, dihiasi ribuan lampu gantung berbentuk naga yang memancarkan cahaya keemasan yang lembut. Udara di dalam istana ini hangat dan harum semerbak oleh wewangian melati serta dupa sakral.
"Di... di mana aku?" gumam Bagas dengan napas terengah-engah.
"Kamu berada di istanaku, pemuda," sahut suara merdu itu lagi.
Dari balik tirai sutra hijau di ujung aula, muncul sosok yang membuat napas Bagas terhenti seketika.
Sesosok wanita dengan kecantikan yang tak masuk akal. Dari pinggang ke atas, ia berwujud wanita berwajah anggun dengan kulit putih bersih bagai porselen, mengenakan kemben hijau tua berhias sulaman emas dan mahkota megah bertabur ronce bunga melati yang harumnya menyeruak. Namun, dari pinggang ke bawah, tubuh wanita itu berupa ekor ular raksasa berkulit hijau zamrud yang meliuk-liuk di atas lantai marmer.
Aura dominan, sakral, sekaligus mengintimidasi terpancar kuat dari dirinya. Tatapan mata emasnya yang berpupil vertikal mengunci keberadaan Bagas.
"Sebut aku Nyai... Ratu Penguasa Sendang Manten," ucap sang Ratu Ular. Suaranya halus, namun menyimpan tekanan gaib yang membuat Bagas refleks berlutut di hadapannya.
"Nyai..." bisik Bagas, suaranya parau. "Hamba... hamba datang untuk memohon pertolongan."
Nyai Siluman tersenyum tipis. Ekor ular raksasanya meliuk perlahan mendekati Bagas, melingkari tubuh pemuda itu dengan kehangatan yang asing. Tangannya yang berkulit halus dengan kuku-kuku terawat menyentuh dagu Bagas, mengadahtan wajah pemuda itu agar menatap langsung ke matanya.
"Aku sudah memperhatikanmu sejak kamu menapakkan kaki di hutanku," ujar Nyai dengan nada memikat. "Keberanianmu menahan gigitan pesuruhku cukup mengesankan. Jarang sekali ada manusia yang sudi menyerahkan rasa takutnya demi orang lain. Apa yang kamu inginkan dariku, Bagas?"
"Ibu hamba sedang sekarat, Nyai," kata Bagas, mencoba menahan getaran di suaranya. "Hamba butuh uang untuk biaya pengobatannya di rumah sakit kota. Hamba tidak punya apa-apa lagi... hamba mohon, berikan hamba penawar untuk kemiskinan ini."
Nyai tertawa pelan. Suara tawanya terdengar bagai denting genta emas yang menenangkan sekaligus merindingkan.
"Uang? Kekayaan?" Nyai mengelus pipi Bagas dengan ujung jarinya yang dingin. "Bagi istanaku, emas dan harta tak lebih dari sekadar kerikil di tepian sungai. Aku bisa memberikanmu sisik-sisik emas murni yang nilainya tak akan habis untuk tujuh keturunanmu. Ibumu akan sembuh, dan kamu akan menjadi orang terpandang di desa itu."
Mata Bagas berbinar seketika. "Benarkah, Nyai? Apa syaratnya? Hamba siap melakukan apa saja!"
Nyai menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Bagas. Bisikannya terasa hangat membelai tengkuk pemuda itu.
"Ingat satu hal, Bagas... tidak ada bantuan dari alam gaib yang tidak meminta bayaran," bisik Nyai pelan namun tajam. "Aku tidak butuh sajen kambing atau ayam hitam dan kembang setaman dari manusia lemah. Yang aku inginkan adalah jiwamu... pengabdianmu seumur hidup."
Bagas menelan ludah. "Pengabdian?"
"Kamu akan menjadi suami gaibku," tegas Nyai seraya menatap lurus mata Bagas. "Setiap kepingan sisik emas yang kamu ambil adalah bukti ikatan darah kita. Sekali kamu menerima perjanjian ini, kamu adalah milikku selamanya. Tidak akan mudah—bahkan mustahil—bagimu untuk melepaskan diri dari dekapanku."
Bagas tertegun. Kata-kata Mbah Dirjo kembali terngiang di kepalanya. Sekali kamu masuk ke dalam pelukannya, kamu tidak akan pernah bisa keluar lagi.
"Bagaimana, Bagas?" tanya Nyai lagi. Tangannya mengelus bahu Bagas yang tegap. "Apakah kamu sanggup mengikat janji suci dan menjadi suamiku di alam ini?"
Bagas memejamkan mata sejenak. Di bayangannya, wajah ibunya yang merintih kesakitan kembali hadir. Tanpa uang dari Nyai, ibunya pasti meninggal sebelum fajar menyingsing.
"Hamba sanggup, Nyai," jawab Bagas mantap. "Hamba menerima perjanjian ini."
Senyum penuh kemenangan mengembang di bibir indah Nyai. "Bagus sekali, pemudaku. Tapi sebelum kamu membawa pulang kekayaan itu untuk ibumu, ada satu syarat utama malam ini."
"Apa syarat itu, Nyai?"
"Malam ini, kamu harus bermalam di istanaku," ujar Nyai seraya merapatkan tubuh ularnya melilit pinggang Bagas secara protektif. "Kamu harus menuntaskan malam pertama perjanjian kita di sini. Barulah saat fajar tiba, kamu boleh pulang membawa emasmu."
Bagas menatap sekeliling istana gaib yang megah namun penuh misteri itu. Ia tahu, langkah yang ia ambil telah memotong jalur hidupnya sebagai manusia biasa. Malam ini, di dalam istana ular, nasibnya sebagai tawanan sang Ratu resmi dimulai.
Bersambung.....
Happy reading semuanya, karya terbaru dan berbeda dari author dari sebelumnya semoga kalian menikmatinya ❤️✨❤️✨❤️❤️✨❤️✨