NovelToon NovelToon
The Eternal Sovereign: Aku Mewarisi Takdir Yang Seharusnya Tidak Ada

The Eternal Sovereign: Aku Mewarisi Takdir Yang Seharusnya Tidak Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Misteri
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Bagas Hirmawan

Di dunia tempat Surga mengendalikan takdir dan kekuatan menentukan segalanya, Gu Chenxiao adalah anomali yang tidak pernah tercatat dalam Kitab Surga.

Dengan bantuan Arsip Pengamat Abadi, ia menapaki Dao Iblis yang menentang hukum kosmos. Ia bukan pahlawan yang menyelamatkan dunia, melainkan manipulator yang mempermainkan takdir, memanfaatkan pengkhianatan, dan menjadikan musuh sebagai bidak dalam rencana jangka panjangnya.

Namun, ketika Fondasi Asal mulai mengoreksi keberadaannya, Gu Chenxiao menyadari bahwa dunia yang ia kenal hanyalah sebagian kecil dari rahasia kosmos.

**Jika Surga menentukan takdir semua makhluk, siapa yang berani menentukan takdir Surga?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 — Harga Sebuah Nama

Pagi tiba di kediaman Klan Gu dengan suara lonceng latihan yang menggema dari lapangan timur.

Kabut tipis menyelimuti paviliun, sementara para murid muda telah berkumpul untuk menjalani latihan harian. Sebagian duduk bersila menyerap energi spiritual, sebagian mengayunkan pedang kayu, dan beberapa lainnya berdiri di dekat panggung batu sambil menunggu giliran menguji kemampuan.

Di dunia kultivasi, waktu bukan sekadar sesuatu yang berlalu. Setiap hari yang dihabiskan seseorang tanpa kemajuan berarti dapat menjadi jarak yang semakin sulit dikejar dari para pesaingnya. Karena itulah, bahkan keturunan keluarga besar tidak selalu memiliki kemewahan untuk bermalas-malasan.

Namun, di sebuah paviliun yang agak jauh dari lapangan latihan, Gu Chenxiao sedang sarapan dengan tenang.

Ia membaca surat yang diletakkan di samping mangkuk tehnya. Surat itu berasal dari pengelola gudang sumber daya keluarga, berisi laporan mengenai keterlambatan pengiriman batu roh dari tiga wilayah perdagangan. Angkanya tampak wajar pada pandangan pertama, tetapi ada dua transaksi yang tidak cocok dengan catatan bulan sebelumnya.

Gu Chenxiao mengambil kuas dan membuat tanda kecil di tepi surat.

“Paman Fu,” panggilnya.

Seorang pria paruh baya yang berdiri di dekat pintu segera mendekat. “Tuan Muda.”

“Siapa yang mengurus pengiriman dari Lembah Qinghe?”

“Pengawas Luo Ming, Tuan Muda. Beliau bertanggung jawab atas jalur perdagangan barat selama enam tahun.”

“Enam tahun,” ulang Gu Chenxiao. “Cukup lama untuk mengenal semua jalan pintas.”

Paman Fu tidak memahami maksudnya. “Apakah ada masalah dengan laporannya?”

“Belum tentu. Aku hanya ingin mengetahui mengapa biaya pengawalan meningkat, sementara jumlah pengawal yang tercatat justru berkurang.”

Paman Fu mengambil surat tersebut dan memeriksanya. Wajahnya berubah sedikit. “Mungkin ada perubahan tarif dari pihak luar.”

“Mungkin.” Gu Chenxiao meletakkan cangkirnya. “Cari laporan asli dari dua bulan terakhir. Jangan tanyakan kepada Pengawas Luo. Aku ingin melihat apakah angka-angka itu memang berubah atau hanya penjelasannya yang berubah.”

“Baik, Tuan Muda.”

Paman Fu pergi membawa surat itu. Gu Chenxiao kembali menikmati sarapannya seolah-olah percakapan tadi tidak lebih penting daripada memilih teh yang tepat.

Ia tidak langsung menuduh siapa pun melakukan penggelapan. Angka yang tidak cocok bukan bukti pengkhianatan, dan orang yang terburu-buru menjatuhkan hukuman sering kali justru membantu pelaku menyembunyikan jejaknya. Ia hanya perlu mengetahui siapa yang mendapatkan keuntungan, siapa yang menanggung kerugian, dan siapa yang berusaha membuat kedua hal itu terlihat seperti kebetulan.

Sebelum ia selesai sarapan, suara langkah terdengar dari halaman luar.

Seorang pemuda berjubah biru memasuki paviliun tanpa menunggu izin. Wajahnya tampan, dagunya terangkat, dan pedang panjang tergantung di pinggangnya. Ia adalah Gu Mingyuan, salah satu keturunan inti Klan Gu yang memiliki bakat kultivasi cukup menonjol.

“Sepupu Chenxiao,” katanya sambil tersenyum. “Kau masih menghabiskan pagi dengan membaca laporan?”

Gu Chenxiao mengangkat mata. “Dan kau masih menghabiskan pagi dengan mengomentari apa yang dibaca orang lain?”

Senyum Gu Mingyuan sedikit menegang, tetapi ia segera tertawa. “Aku hanya khawatir kau tertinggal. Ujian generasi muda tinggal tiga hari lagi. Kudengar beberapa murid telah mencapai puncak Pembangunan Fondasi. Dengan kultivasimu sekarang, mungkin kau sebaiknya tidak terlalu berharap.”

“Terima kasih atas peringatannya.”

“Tidak perlu berterima kasih. Kita keluarga, bukan?”

Gu Chenxiao mengangguk perlahan. “Benar. Karena itu aku yakin kau datang membawa sesuatu yang lebih penting daripada kekhawatiran terhadap kultivasiku.”

Gu Mingyuan terdiam sesaat. Ia tidak menyangka percakapan itu akan berbalik begitu cepat. “Apa maksudmu?”

“Kau datang pagi-pagi, tidak membawa hadiah, tidak meminta bantuan, dan langsung membicarakan ujian. Sepertinya kau ingin aku melakukan sesuatu.”

“Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya ingin mengundangmu ke arena latihan.”

“Untuk bertarung?”

“Kalau kau mau menyebutnya begitu.”

Gu Chenxiao menatap pedang di pinggang sepupunya. Sarungnya baru, tetapi gagangnya memperlihatkan bekas penggunaan. Gu Mingyuan telah berlatih sebelum datang. Ada juga sedikit debu merah pada ujung sepatunya, jenis debu yang biasa ditemukan di jalur menuju arena selatan, bukan di paviliun tempat tinggalnya.

Ia sudah mempersiapkan pertarungan ini sebelum mengundang Gu Chenxiao.

“Baik,” jawab Gu Chenxiao. “Aku akan datang.”

Gu Mingyuan tampak puas. “Bagus. Jangan terlambat.”

Setelah pemuda itu pergi, Gu Chenxiao mengambil kembali surat perdagangan. Ia tidak terlalu tertarik pada undangan tersebut, tetapi menolaknya juga tidak memberikan keuntungan yang jelas. Jika Gu Mingyuan ingin mempermalukannya di hadapan para murid, ia akan mendapatkan kesempatan untuk melihat siapa yang mendukung sepupunya. Jika ada alasan lain di balik undangan itu, menghadirinya akan memberikan informasi yang lebih baik daripada sekadar menebak.

Tiga hari sebelum ujian generasi muda, seseorang tiba-tiba ingin menguji dirinya.

Mungkin itu hanya kesombongan.

Mungkin juga seseorang sedang berusaha mengukur sesuatu.

Gu Chenxiao lebih suka memastikan sendiri.

Arena latihan selatan telah dipenuhi puluhan murid ketika Gu Chenxiao tiba. Beberapa orang sedang berlatih, sementara yang lain berkumpul di sekitar panggung batu tempat Gu Mingyuan berdiri. Di sampingnya terdapat dua pemuda yang dikenal sebagai pengikut dekatnya.

“Dia datang juga,” bisik seseorang.

“Bukankah dia jarang berlatih di arena?”

“Katanya kultivasinya hanya tahap menengah Pembangunan Fondasi. Aku tidak mengerti mengapa dia masih bersikeras mengikuti ujian.”

“Karena dia pewaris keluarga. Kedudukan bisa menutupi banyak kekurangan.”

Gu Chenxiao mendengar sebagian percakapan itu, tetapi tidak menunjukkan reaksi. Ia berjalan menuju panggung, lalu berhenti beberapa langkah dari Gu Mingyuan.

“Kau ingin bertarung denganku?” tanyanya.

“Bukan aku.” Gu Mingyuan menggeser tubuhnya, memperlihatkan seorang pemuda bertubuh kekar di belakangnya. “Gu Han telah mencapai tahap akhir Pembangunan Fondasi. Dia ingin bertukar pengalaman denganmu.”

Gu Han melangkah maju dan memberi salam singkat. “Mohon petunjuknya, Saudara Chenxiao.”

Nada suaranya sopan, tetapi tatapannya tidak menunjukkan rasa hormat. Ia jelas menganggap pertarungan ini sebagai kesempatan untuk membuktikan bahwa seorang pewaris dengan kultivasi biasa tidak pantas menerima perhatian khusus.

Gu Chenxiao menatapnya. “Apakah kau yakin ingin bertarung?”

Gu Han mengerutkan kening. “Mengapa tidak?”

“Tidak ada alasan khusus. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau tidak dipaksa.”

Beberapa murid tertawa kecil. Gu Mingyuan menyilangkan tangan. “Chenxiao, jangan mencari alasan untuk mundur. Ini hanya pertukaran teknik.”

Gu Chenxiao memandang sepupunya sebentar, lalu naik ke panggung.

Tidak ada sorak-sorai ketika mereka mengambil posisi. Para murid hanya mendekat, ingin melihat apakah pewaris Klan Gu mampu bertahan melawan seseorang yang memiliki keunggulan satu tingkat kultivasi minor.

Gu Han mengangkat kedua tangannya, membentuk posisi awal dari Teknik Telapak Batu. Energi spiritual mengalir ke lengannya, membuat kulitnya tampak sedikit lebih gelap. Teknik itu bukan warisan tingkat tinggi, tetapi cukup efektif untuk pertarungan jarak dekat.

“Mulai!” seru seorang pengawas.

Gu Han bergerak lebih dahulu.

Langkahnya cepat, telapak tangannya meluncur menuju bahu Gu Chenxiao. Serangan itu tidak mengarah ke titik vital, tetapi cukup kuat untuk menjatuhkan lawan jika mengenai sasaran dengan bersih.

Gu Chenxiao mundur setengah langkah.

Serangan pertama meleset.

Gu Han segera mengubah arah dan melancarkan serangan kedua, kali ini mengincar bagian rusuk. Gu Chenxiao memutar tubuh, membiarkan telapak tangan lawannya lewat di sisi jubahnya, lalu bergerak mundur sekali lagi.

Dua serangan. Dua kali menghindar.

Tidak ada serangan balasan.

“Dia hanya bisa lari!” seseorang berseru dari pinggir arena.

Gu Mingyuan tersenyum. “Setidaknya dia tahu cara menjaga dirinya sendiri.”

Gu Han mulai merasa kesal. Ia meningkatkan kecepatan dan menekan lawannya dengan rangkaian serangan. Namun, semakin lama pertarungan berlangsung, semakin jelas bahwa Gu Chenxiao tidak bergerak secara acak. Ia selalu mundur ke sisi yang sama, menjaga jarak tertentu, dan menghindari serangan dengan gerakan sekecil mungkin.

Setelah serangan kesembilan, Gu Han mengubah pola.

Ia berpura-pura menyerang dari kanan, kemudian mengalihkan tenaga ke kaki kiri untuk memotong jalur mundur Gu Chenxiao. Itu langkah yang cukup cerdas. Jika berhasil, Gu Chenxiao akan terjebak di dekat tepi panggung.

Tetapi ketika Gu Han bergerak, Gu Chenxiao justru melangkah maju.

Jarak di antara mereka mendadak menyempit. Telapak tangan Gu Han kehilangan ruang untuk mengerahkan tenaga penuh, sementara Gu Chenxiao memiringkan bahunya dan menyentuh pergelangan tangan lawannya.

Gerakannya sederhana.

Tidak ada ledakan energi atau teknik rahasia.

Hanya sebuah dorongan kecil pada sudut yang tepat.

Keseimbangan Gu Han terganggu. Ia terpaksa mengambil satu langkah untuk menahan tubuhnya, dan langkah itu membawanya melewati batas lingkaran pertarungan.

Pengawas segera mengangkat tangan. “Gu Chenxiao menang.”

Arena menjadi sunyi selama beberapa detik.

Gu Han menatap kakinya sendiri sebelum memandang lawannya. Ia tidak terluka, tetapi rasa malunya terlihat jelas. Ia telah memiliki keunggulan kultivasi, menyerang lebih dahulu, dan menguasai sebagian besar pertarungan. Namun, ia tetap kalah karena satu kesalahan kecil.

Gu Chenxiao menurunkan tangannya. “Terima kasih atas pertukarannya.”

Gu Han mengepalkan tangan. “Kau sudah mengetahui langkahku sejak awal?”

“Tidak.”

“Lalu bagaimana kau—”

“Aku hanya memperhatikan kakimu.”

Gu Han terdiam. Gu Chenxiao tidak menjelaskan lebih jauh, dan tidak ada alasan baginya untuk melakukannya. Ia telah melihat bahwa setiap kali Gu Han hendak memotong jalur mundurnya, kaki kirinya menanggung beban lebih dahulu. Itu bukan kelemahan yang mustahil diperbaiki, tetapi cukup untuk dimanfaatkan dalam pertarungan singkat.

Gu Chenxiao tidak lebih kuat daripada lawannya. Ia hanya menemukan satu kesalahan sebelum lawannya menyadari bahwa kesalahan itu ada.

Gu Mingyuan turun dari panggung dengan senyum yang telah menghilang. “Kau cukup beruntung.”

“Mungkin,” jawab Gu Chenxiao.

“Kau menghindar sepanjang pertarungan. Jika Gu Han menggunakan teknik tingkat tinggi, kau belum tentu menang.”

“Itu benar.”

Jawaban sederhana tersebut membuat Gu Mingyuan kehilangan kesempatan untuk melanjutkan ejekannya. Gu Chenxiao tidak mengklaim bahwa dirinya lebih hebat, tidak berusaha memamerkan kecerdasan, dan tidak memberikan alasan bagi orang lain untuk menuduhnya sombong.

Ia hanya menerima kemungkinan bahwa ia bisa kalah.

Bagi Gu Chenxiao, mengetahui batas kemampuan sendiri jauh lebih berguna daripada meyakinkan orang lain bahwa batas itu tidak ada.

Ketika ia meninggalkan arena, seorang pemuda berjubah putih yang sejak tadi mengamati pertarungan menghampirinya. Wajah pemuda itu tenang, tetapi matanya memperlihatkan rasa ingin tahu.

“Saudara Chenxiao, boleh aku bertanya sesuatu?”

“Silakan.”

“Apakah kau benar-benar tidak pernah mempelajari teknik langkah khusus?”

“Tidak pernah.”

“Kalau begitu, kau memiliki pengamatan yang bagus.”

Gu Chenxiao menatapnya sekilas. “Dan kau memiliki kebiasaan memperhatikan pertarungan orang lain.”

Pemuda itu tersenyum. “Namaku Lin Yue. Aku hanya tertarik pada hal-hal yang tidak biasa.”

“Kalau begitu, kita memiliki kesamaan.”

Lin Yue tertawa kecil, tetapi sebelum ia sempat menjawab, seorang pelayan berlari ke arah mereka. Pelayan itu membungkuk kepada Gu Chenxiao dan menyerahkan sebuah gulungan tipis.

“Tuan Muda, Paman Fu meminta Anda segera kembali ke paviliun.”

Gu Chenxiao menerima gulungan tersebut. Segelnya berasal dari ruang pengelolaan sumber daya keluarga. Ia membukanya dan membaca beberapa baris tulisan di dalamnya.

Wajahnya tidak berubah.

Namun, setelah selesai membaca, ia melipat gulungan itu dan memasukkannya ke dalam lengan jubah.

“Apakah ada masalah?” tanya Lin Yue.

“Belum tentu.”

“Jawaban yang menarik.”

Gu Chenxiao tersenyum tipis. “Kau akan sering mendengarnya jika terus bertanya sebelum mengetahui seluruh keadaannya.”

Ia meninggalkan arena tanpa menoleh kembali.

Di dalam gulungan tersebut, Paman Fu menyampaikan hasil pemeriksaan awal atas laporan perdagangan. Biaya pengawalan yang meningkat ternyata bukan disebabkan oleh perubahan tarif, melainkan oleh pembayaran kepada sebuah perusahaan pengangkut yang tidak pernah tercatat sebagai mitra resmi Klan Gu.

Perusahaan itu memiliki nama yang berbeda dari dua bulan sebelumnya.

Namun, alamat gudangnya sama.

Dan orang yang menandatangani persetujuan pembayaran adalah Pengawas Luo Ming.

Gu Chenxiao berhenti di persimpangan jalan, membaca kembali nama tersebut di dalam pikirannya. Luo Ming bukan orang yang dekat dengannya, tetapi ia telah bertanggung jawab atas perdagangan barat selama enam tahun. Ia memiliki reputasi sebagai pengelola yang berhati-hati dan dikenal mampu menjaga keuntungan keluarga bahkan ketika jalur perdagangan terganggu.

Jika laporan itu benar, Luo Ming telah mengambil risiko besar untuk memperoleh keuntungan yang belum diketahui jumlahnya.

Jika laporan itu salah, seseorang telah berusaha membuatnya tampak bersalah.

Kedua kemungkinan tersebut memiliki konsekuensi yang berbeda.

Gu Chenxiao melanjutkan langkahnya menuju paviliun.

Ia belum memiliki bukti yang cukup untuk menjatuhkan tuduhan. Ia juga tidak berniat memperingatkan Luo Ming, sebab peringatan terlalu dini hanya akan memberinya kesempatan untuk mengubah catatan dan menutup jalur yang mungkin masih berguna.

Untuk saat ini, Gu Chenxiao hanya membutuhkan satu hal.

Waktu.

Dan selama orang yang sedang diselidikinya tidak menyadari bahwa sebuah penyelidikan telah dimulai, waktu itu akan menjadi miliknya.

Ketika ia tiba di paviliun, Paman Fu telah menunggu di depan meja batu dengan dua tumpukan dokumen. “Tuan Muda, saya menemukan sesuatu yang lain.”

Gu Chenxiao meletakkan gulungan di meja. “Katakan.”

“Pembayaran kepada perusahaan pengangkut itu tidak berasal dari satu rekening. Ada tiga jalur pembayaran berbeda, tetapi semuanya melewati satu pengelola gudang yang sama sebelum diteruskan ke luar.”

“Siapa pengelolanya?”

Paman Fu menyebutkan sebuah nama.

Gu Chenxiao tidak langsung menjawab. Ia mengambil dokumen pertama, memeriksa tanggalnya, lalu membandingkannya dengan dokumen kedua. Ada jeda sebelas hari antara pembayaran pertama dan kedua. Pembayaran ketiga dilakukan dua hari setelah sebuah pengiriman penting tiba di ibu kota.

Seseorang tidak sekadar mengambil uang.

Seseorang sedang menyusun pola.

“Jangan hentikan pembayaran berikutnya,” kata Gu Chenxiao.

Paman Fu terkejut. “Tuan Muda, jika benar ada penggelapan, membiarkannya berlanjut hanya akan menambah kerugian keluarga.”

“Jika kita menghentikannya sekarang, kita mungkin menghemat uang, tetapi kehilangan kesempatan mengetahui ke mana uang itu pergi.”

“Namun, bagaimana jika mereka menyadari bahwa kita sedang menyelidiki?”

“Karena itu jangan biarkan mereka menyadarinya.”

Gu Chenxiao menunjuk dokumen di atas meja. “Periksa siapa yang memiliki akses terhadap catatan pembayaran, tetapi jangan memanggil mereka satu per satu. Buat salinan laporan dengan kesalahan kecil pada tanggal pengiriman, lalu simpan di tempat yang berbeda. Jangan gunakan kesalahan yang sama untuk setiap salinan.”

Paman Fu mulai memahami arah pikirannya. “Anda ingin mengetahui siapa yang akan menyebarkan laporan itu?”

“Aku ingin mengetahui laporan mana yang akan keluar dari gudang lebih dahulu, dan siapa yang mengetahuinya sebelum laporan tersebut seharusnya dibaca.”

“Bagaimana jika tidak ada yang membocorkannya?”

“Kalau begitu, kita akan mengetahui bahwa masalahnya berada di tempat lain.”

Gu Chenxiao duduk kembali. “Jangan menuduh siapa pun. Jangan mengubah perlakuan terhadap Luo Ming. Dan yang terpenting, jangan memberi tahu orang lain bahwa aku telah melihat dokumen ini.”

Paman Fu membungkuk. “Saya mengerti.”

Setelah pria itu pergi, Gu Chenxiao membuka kembali laporan perdagangan. Di luar, matahari telah naik lebih tinggi, dan suara latihan dari lapangan timur terdengar seperti biasa. Klan Gu tetap menjalani hari-harinya tanpa menyadari bahwa sebuah penyelidikan kecil sedang berjalan di balik dinding-dindingnya.

Gu Chenxiao tidak mengetahui siapa yang berada di balik transaksi tersebut. Ia tidak tahu apakah Luo Ming bertindak demi dirinya sendiri, melindungi seseorang, atau sedang dipaksa oleh pihak lain. Ia juga tidak tahu apakah masalah perdagangan ini berkaitan dengan kejadian di aula rahasia pada malam sebelumnya.

Untuk saat ini, tidak ada bukti yang menghubungkan keduanya.

Ia tidak akan menciptakan hubungan hanya karena dua kejadian berlangsung berdekatan.

Namun, sebelum menutup dokumen, ia memperhatikan satu detail kecil yang sebelumnya terlewatkan.

Perusahaan pengangkut yang menerima pembayaran itu baru didaftarkan delapan bulan lalu.

Tetapi tanda tangan persetujuan pada dokumen pertama menggunakan cap lama milik Klan Gu, cap yang menurut catatan resmi telah dihancurkan lebih dari dua belas tahun sebelumnya.

Gu Chenxiao menatap tanda tangan itu cukup lama.

Kemudian, perlahan, ia tersenyum.

“Sepertinya,” gumamnya, “ada seseorang yang lebih ceroboh daripada yang kukira.”

Ia menutup dokumen dan menyimpannya di laci terkunci.

Di luar paviliun, lonceng latihan kembali berbunyi. Hari itu belum berakhir, dan Gu Chenxiao belum menemukan jawaban atas pertanyaan yang dibawanya sejak malam sebelumnya.

Tetapi ia telah menemukan sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Seseorang di dalam Klan Gu sedang menggunakan rahasia lama untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin diketahui keluarga.

Dan sebelum ia mengetahui alasan sebenarnya, Gu Chenxiao tidak berniat membiarkan orang tersebut menyadari bahwa dirinya telah mulai mencari.

1
Nanik S
Hadir... dan awal yang berbeda
ARTHUR
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!