NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

🔥CRAZY UP🔥

Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.

Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.

Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Kamis pagi, Dimas datang lebih awal ke lantai arsip. Ruang baca terbatas masih terkunci. Sari sudah berdiri di depan pintu dengan kartu akses sementara.

“Dia belum datang,” kata Sari. “Pak Adrian bilang antar dia dari lobi, bukan biarkan dia naik sendiri.”

Dimas mengangguk. Ia membawa laptop dan satu map tipis berisi salinan berita lama yang kemarin ia simpan. Di dalamnya ada foto Baskara Prameswari dari tahun 2022, dan satu foto lain yang ia temukan semalam di arsip internal yang lebih dalam: foto acara tahunan Mahendra 2019. Di baris belakang, di antara staf keuangan, ada perempuan muda yang wajahnya ia kenali.

Ia membuka laptop di meja koridor, bukan di dalam ruang baca. Foto itu ia perbesar. Rambutnya lebih panjang saat itu, tidak diikat rendah. Tapi garis rahang, cara berdiri, dan sudut mata sama dengan perempuan yang kemarin duduk di ruang sekuriti.

Dimas menutup laptop. Ia belum siap menunjukkan ini ke Adrian. Kemarin Adrian sudah melihat artikel Baskara. Hari ini, kalau ia membawa bukti wajah, percakapan akan berubah menjadi interogasi keluarga, bukan lagi soal angka. Ia belum yakin itu yang dibutuhkan sekarang.

Pukul 08.40 lift terbuka. Alina keluar didampingi satu sekuriti. Ia tidak membawa tas. Hanya jaket tipis dan botol minum yang sama seperti kemarin. Sari membuka pintu ruang baca. Alina masuk tanpa menunggu diundang.

Dimas mengikuti. Monitor sudah menyala dengan draf yang sama. Alina duduk di kursi yang kemarin ia pakai. Dimas duduk di seberang, laptop tertutup di pangkuannya.

“Anda boleh melihat,” kata Dimas. “Tidak boleh menyalin. Tidak boleh memotret. Kalau ada yang ingin dicatat, bilang. Saya yang tulis.”

Alina mengangguk. Ia mulai menggulir halaman. Baris vendor. Tanggal. Status. Ia berhenti di satu nama yang kemarin sudah ia hafal.

“Lazuardi masih di sini,” katanya.

“Oscar belum menandai ulang. Draf ini versi kemarin sore.”

Alina menatap layar lebih lama. “Ada tiga transaksi yang angkanya dipindah dari kolom detail ke ringkasan. Bukan dihapus. Hanya digeser supaya total di halaman depan lebih kecil.”

Dimas tidak langsung menjawab. Ia mencatat di buku kecil. “Anda melihat itu kemarin di data room?”

“Saya melihat selisihnya. Hari ini saya melihat caranya.”

Mereka bekerja dalam diam selama hampir empat puluh menit. Alina menunjuk baris, Dimas menulis. Tidak ada percakapan yang tidak perlu. Sari sesekali membuka pintu untuk memastikan mereka masih di dalam.

Alina berhenti di satu baris yang lebih tua. “Ini tanggalnya dua tahun sebelum akuisisi Pesisir dimulai. Kenapa masih masuk draf yang akan dikirim ke Aruna?”

Dimas mencondongkan badan. “Karena belum ditutup di sistem. Vendor historis kadang ikut terbawa kalau rekonsiliasi belum selesai.”

“Atau karena seseorang sengaja membiarkannya terbawa.”

Dimas tidak menjawab. Ia hanya menulis tanggal itu di buku catatannya.

Menjelang siang, Adrian masuk. Ia tidak duduk. Ia berdiri di belakang Dimas, melihat catatan yang sudah terkumpul.

“Tiga transaksi,” kata Dimas. “Dipindah, bukan dihapus. Lazuardi masih aktif di draf. Ada satu baris lama yang ikut terbawa dari dua tahun sebelumnya.”

Adrian menatap Alina. “Cukup untuk hari ini.”

Alina tidak bergerak. “Saya belum selesai. Ada pola pemindahan yang sama di dua tempat lain.”

“Anda sudah melihat lebih banyak daripada yang saya izinkan kemarin. Besok kita lanjut. Hari ini Anda kembali ke lobi bersama Sari. Ponsel tetap di laci.”

Alina berdiri. Ia tidak membantah. Ia hanya menatap Dimas sebentar, seolah ingin bertanya sesuatu, lalu memutuskan tidak. Ia keluar didampingi Sari.

Setelah pintu tertutup, Adrian menoleh ke Dimas. “Ada yang perlu saya tahu?”

Dimas ragu. Ia membuka laptop, menampilkan foto acara 2019 sebentar, lalu menutupnya lagi sebelum Adrian sempat melihat jelas.

“Belum,” kata Dimas. “Saya masih mencocokkan beberapa hal. Kalau sudah yakin, saya laporkan.”

Adrian menatapnya lebih lama. “Jangan menahan terlalu lama. Kalau ini soal nama yang sama, saya ingin tahu sebelum dia melihat lebih banyak draf.”

“Saya mengerti.”

Adrian pergi. Dimas tinggal sendiri di ruang baca. Ia membuka lagi foto itu. Wajah perempuan di baris belakang staf keuangan. Tahun 2019. Dua tahun sebelum Baskara keluar dalam skandal. Ia memperbesar, lalu membuka artikel lama di tab lain. Nama putri tidak disebut di berita. Hanya “keluarga”. Tapi wajah itu sama. Garis rahang, jarak mata, cara bahu ditegakkan.

Dimas menyimpan salinan di folder terenkripsi di laptopnya. Ia tidak mengirim ke siapa pun. Ia tidak mencetak. Ia hanya menatap layar sampai mata terasa kering, lalu menutupnya.

Siang itu ia makan sendirian di kantin lantai 5. Nasi dan lauk yang sudah agak dingin. Ia tidak bercerita ke siapa-siapa. Di kepalanya, dua kemungkinan berputar: perempuan itu memang anak Baskara, atau kemiripan wajah hanya kebetulan yang berbahaya. Kalau yang pertama, Adrian harus tahu sebelum akses terbatas berubah menjadi sesuatu yang lebih longgar. Kalau yang kedua, ia sudah hampir menuduh orang yang salah dan membuka luka lama tanpa alasan.

Sore hari, Dimas kembali ke ruangannya di lantai 30. Ia membuka sistem arsip personalia lama. Nama “Prameswari” tidak muncul di daftar karyawan aktif maupun nonaktif setelah 2022. Tidak ada file anak. Tidak ada kontak darurat yang tersimpan dengan nama Alina. Yang ada hanya catatan singkat di folder Baskara: “Keluarga telah dihubungi. Tidak ada klaim tambahan.” Tanggal catatan itu dua minggu setelah berita skandal keluar.

Ia menutup sistem. Ia belum siap. Besok, atau lusa, ia akan memutuskan. Hari ini ia memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sekali nama itu diucapkan sebagai fakta, tidak ada jalan kembali untuk memperlakukannya hanya sebagai penyusup biasa.

Di sisi lain kota, Alina kembali ke studio Tebet lewat jalan belakang. Lampu tangga masih mati di tanjakan kedua. Ia naik pelan, satu tangan di dinding. Di dalam, ia duduk di kursi lipat dan menulis di kertas yang sama dengan kemarin: tiga transaksi dipindah. Lazuardi masih hidup. Satu baris lama ikut terbawa. Adrian memberi akses terbatas, bukan karena percaya, tapi karena angka mengancam akuisisinya juga.

Ia tidak punya ponsel. Ia tidak bisa menelepon Mei. Ia hanya menunggu malam tiba, lalu tidur dengan lampu meja tetap menyala, karena gelap di tangga terasa terlalu dekat dengan gelap yang sama di ruang arsip tadi siang.

Di Menara, Adrian duduk di ruang kerjanya sampai larut. Ia membuka kembali draf yang sama. Tiga transaksi. Selisih yang sama. Nama Lazuardi yang sama. Ia menuliskan catatan kecil di pinggir kertas: “Jangan ditandai ulang sebelum saya lihat lagi.” Lalu ia menutup map dan mematikan lampu.

Di lantai bawah, ponsel Alina masih berada di laci kredensa data room. Layarnya tetap gelap. Kuncinya tetap di saku jas Adrian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!