NovelToon NovelToon
DUDAKU ANAK DUA

DUDAKU ANAK DUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Duda
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bubur Buatan Rania

Begitu Rania dan Kenzie keluar menuju dapur, Arkan segera meraih ponselnya dan menekan kontak Nathan.

Panggilan tersambung setelah nada tunggu kedua. "Halo." suara Nathan terdengar di seberang.

"Jadwal gue hari ini gimana?" tanya Arkan langsung, suaranya masih sedikit serak.

"Lu baru sadar dari mabuk, langsung nanya kerjaan." Nathan terkekeh. "Gue udah handle meeting pagi ini. Lu istirahat aja dulu."

Arkan mengusap wajahnya. "Ada yang penting?"

"Semua aman. Nggak ada yang perlu lu khawatirin. Kalau ada, gue pasti kabarin." jawab Nathan santai.

Arkan menghela napas. "Oke, thanks. Gue tutup."

Namun, Arkan tetap sibuk dengan ponselnya setelahnya memeriksa beberapa email penting yang masuk. Baru saja dia meletakkan ponselnya, pintu kamar terbuka lagi, menampilkan Kenzie yang berlari kecil dengan segelas air, sementara Rania mengikutinya di belakang.

Rania membawa satu mangkuk bubur polos dan satu mangkuk kecil berisi kuah gula jawa.

Rania masuk ke kamar Arkan dan meletakkan mangkuk di atas nakas. "Makan dulu sebelum diminum obat." katanyanya datar.

Kenzie meletakkan gelas air di nakas dengan hati-hati, lalu naik ke tempat tidur lagi, duduk di samping Arkan.

Arkan melirik bubur sumsum itu, sedikit terkejut. "Saya kira bubur ayam."

"Kalau nggak suka, nggak usah dimakan." balas Rania santai.

Kenzie yang duduk di tepi tempat tidur langsung menyahut, "Daddy, ini enak banget! Tante Rania bilang sering buat ini kalau Bang Galang sama Bang Zidan sakit."

Arkan menatap putranya, lalu kembali menatap bubur di hadapannya. Dengan enggan, dia mengambil sendok dan mencicipinya.

Rania menyilangkan tangan, mengamati ekspresinya. "Jadi, enak atau nggak?"

Arkan mendengus kecil, tapi tetap mengunyah. "Lumayan." akunya, meski sebenarnya rasanya jauh lebih dari sekadar lumayan.

Kenzie terkikik. "Daddy suka, kan?"

Arkan hanya mengusap kepala putranya. Sementara Rania mengambil gelas dan obat di nakas, lalu menyodorkannya. "Kalau sudah selesai, minum obatnya. Jangan sampai Kenzie nangis lagi gara-gara kamu."

Arkan terdiam. Tatapannya beralih ke Kenzie yang mengangguk-angguk seolah mendukung ucapan Rania. Ada kehangatan di dadanya, tapi dia menepisnya cepat-cepat.

"Besok buat lagi." katanyanya tiba-tiba.

Rania mengerutkan kening. "Mau sakit terus biar dibuatin bubur?" sindirnya.

Arkan terkekeh pelan. "Nggak, tapi buburnya enak."

Rania menghela napas. "Dasar nggak tau malu."

Alih-alih tersinggung, Arkan justru tersenyum tipis sebelum mulai menyendok bubur. Sementara itu, Kenzie dengan setia duduk di sampingnya, memastikan Daddynya makan sampai habis.

Ting.

Ponsel Rania yang berada di dalam tas berbunyi, membuatnya berbalik dan mengambilnya dari sofa. Ia memeriksa pesan yang masuk, lalu tersenyum tipis sebelum mengetik balasan singkat dan menyimpan kembali ponselnya.

Arkan, yang diam-diam memperhatikan, merasa aneh melihat binar di mata Rania saat menatap ponselnya. Entah kenapa, perasaan tak nyaman menjalar di dadanya. Apa-apaan ini?

"Tante pulang, ya?" ujar Rania, kembali berdiri di sisi tempat tidur.

Kenzie langsung memasang wajah muram. Arkan menyadarinya dan tanpa pikir panjang, ia berucap, "Saya belum benar-benar sehat. Kalau kamu pergi terus saya tiba-tiba pingsan, gimana? Kenzie bisa nangis kejar. Memangnya kamu nggak kasihan?"

Rania menatapnya dengan dahi berkerut. Dih... apa-apaan nih duda? Mau nahan gue?

"Pak Arkan sudah sehat, kok." sahutnya ketus.

"Belum. Saya masih lemas. Pegang sendok saja susah." kilah Arkan, memasang ekspresi memelas.

Rania mendelik kecil. Siapa yang mau ditipu? Mata perempuan itu menelusuri sosok Arkan yang duduk bersandar dengan santai, bertelanjang dada karena atasan yang entah ke mana. Perut kotaknya terekspos bebas. Rania jadi untung, dong.

Astaghfirullah, Rania! Jaga pandangan!

Rania buru-buru mengalihkan pandangannya dan berdeham kecil, mencoba mengusir pikiran yang mulai melantur. "Kalau masih lemas, istirahat yang benar. Jangan malah banyak alasan." ujarnya, menatap Arkan dengan sorot tajam.

Arkan menyeringai, jelas menikmati reaksi Rania. "Saya cuma butuh perawatan ekstra. Siapa tahu dengan perhatian lebih, saya bisa pulih lebih cepat."

Rania mendecak, sementara Kenzie yang sedari tadi diam langsung menyahut, "Tante, jangan pulang dulu! Temenin Kenzie di sini."

Rania menghela napas. Ia memang tak tega melihat ekspresi memohon dari bocah kecil itu. "Tante temenin sampai kamu tidur siang, oke?"

Kenzie langsung mengangguk semangat. Arkan meliriknya penuh rasa terima kasih atau mungkin lebih ke rasa menang karena berhasil menahan Rania lebih lama.

"Kalau gitu, saya tidur siang juga." kata Arkan santai, lalu dengan sengaja berbaring dan memejamkan mata.

Rania melipat tangan di dada, menatap Arkan dengan curiga. "Lagi-lagi alasan, ya?"

Arkan membuka sebelah matanya dan menyeringai kecil. "Nggak. Ini namanya banyak istirahat. Kan saya sakit."

Rania mendesah panjang. Duda satu ini benar-benar bikin darah naik!

"Kenzie juga tidur siang." ucap Kenzie ceria, lalu dengan sigap mengambil posisi berbaring di sebelah Arkan.

"Eh... bukannya kamu punya kamar sendiri, Cil?" tanya Rania, bingung dengan tingkah bocah itu.

"Kan Kenzie sekalian nemenin Daddy yang sakit, Tante. Jadi tidur di sini aja. Boleh kan, Daddy?" Kenzie menoleh ke arah Arkan dengan wajah penuh harap.

Tanpa ragu, Arkan mengangguk cepat. "Boleh, dong."

Rania memutar bola matanya. Loh, bapak sama anak ini apa-apaan?

"Tapi... Tante masa harus nungguin kalian di sini terus?" tanyanya ragu.

"Nggak apa-apa, Tante. Jagain Kenzie sekalian Daddy,m." jawab Kenzie polos.

Arkan kembali mengangguk dengan ekspresi penuh kemenangan. "Santai aja. Kalau gitu, saya sama Kenzie tidur. Kamu temenin kita." ucapnya santai.

Rania menatap keduanya dengan tatapan penuh protes tapi jelas tak ada yang peduli.

Menghela napas panjang Rania akhirnya duduk di kursi dekat tempat tidur sambil melipat tangan di dada. Dalam hati ia menggerutu. "Kenapa rasanya gue jadi babysitter bayi gede sama bayi kecil sih."

Rania memperhatikan dua makhluk yang berbaring santai di atas tempat tidur. Kenzie menggeliat pelan sementara Arkan malah tampak terlalu nyaman dengan situasinya.

"Jangan-jangan Pak Arkan pura-pura sakit tadi ya?" sindir Rania memicingkan matanya curiga.

Arkan membuka satu matanya dan menyeringai kecil. "Mana mungkin? Saya kan benar-benar butuh istirahat. Kenzie juga tahu kan?"

Kenzie yang hampir terlelap mengangguk kecil. "Iya, Daddy masih lemes..." gumamnya setengah sadar.

Rania mendengus kecil lalu mengalihkan pandangannya ke jendela. Matahari siang mulai bergeser pertanda waktu sudah cukup lama berlalu sejak ia datang.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Kenzie sudah tertidur napasnya teratur. Tapi Arkan?

Rania melirik ke arahnya dan mendapati pria itu juga memejamkan mata. Rambutnya sedikit berantakan dan meski wajahnya masih tampak pucat juga lelah tetap saja Rania harus mengakui Arkan punya aura yang sulit diabaikan.

"Jangan melototin saya nanti kesengsem." tiba-tiba Arkan berucap dengan mata tetap terpejam.

Rania refleks mengerucutkan bibir mendengus. "Pede banget, Pak."

Arkan membuka sebelah matanya lagi kali ini dengan senyum jahil. "Insting saya tajam."

Rania menghela napas panjang. "Udah, tidur aja."

Arkan hanya terkekeh pelan sebelum akhirnya benar-benar terdiam.

Rania berusaha mengalihkan pikirannya tetapi suasana kamar yang hening hanya diiringi napas teratur Kenzie dan Arkan membuatnya sulit berkonsentrasi.

Harusnya dia sudah pergi kembali ke kegiatannya. Tapi melihat Kenzie yang begitu tenang dalam tidurnya juga Arkan yang meskipun menyebalkan tampak lebih manusiawi dalam keadaan seperti ini Rania memilih tetap tinggal.

Hanya sebentar pikirnya.

Lima belas menit berlalu Rania menghela napas. Dia harus pergi sekarang sebelum terlalu nyaman di sini. Dengan hati-hati dia bangkit dari kursi memastikan tidak membuat suara yang bisa membangunkan Kenzie.

Namun saat dia berbalik hendak pergi suara berat Arkan menghentikannya.

"Kamu mau ke mana?"

Rania menoleh dan mendapati Arkan sudah membuka mata menatapnya dengan sorot yang sulit ditebak.

"Mau pulang lah. Pak Arkan udah sehat Kenzie juga udah tidur." jawab Rania pelan.

Arkan terdiam sejenak sebelum menghela napas. "Hati-hati di jalan."

Rania mengangguk lalu tanpa banyak kata lagi dia melangkah pergi.

Saat pintu tertutup Arkan masih memandangi arah kepergiannya. Ada perasaan aneh yang menggelitik dadanya, sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

Dia menoleh ke arah Kenzie yang masih terlelap. Jemarinya mengusap lembut rambut bocah kecil itu.

"Gimana kalau Tante Rania jadi ibu baru kamu, Cil?" gumamnya pelan. Tanpa sadar ikut-ikutan memanggil Kenzie dengan panggilan Rania Cil yang artinya bocil.

Kenzie bergumam kecil dalam tidurnya membuat Arkan tersenyum samar.

Mungkin ide Nathan memang tidak buruk. Bukan jadi pengasih bayaran tapi pengasih seumur hidup untuknya dan anak-anak.

1
Sri Supriatin
Tks upnya thor 👍👍👍👍
Sri Supriatin
Semangat upnya thor semoga sukses kontraknya🙏🙏🙏
Noona Rara: Makasih kak
total 1 replies
sunaryati jarum
Buru buru pindah rumah terus tancap gas, untuk gaet ibu sambung Zidan dan Kenzie
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 Kenzie baru sehari semalam.sudah suka sama Rania
Sri Supriatin
Semangat Arkan 💪💪💪😍😍😍
sunaryati jarum
Pas tuh Zidan,kamu sudah kenal
sunaryati jarum
Anak kecil diajak ngomong yang tidak benar
sunaryati jarum
Perkataan Zidan kok kasar dan tidak sopan dengan orang yang lebih tua.
sunaryati jarum
Baru mampir
Noona Rara: Makasih sudah mampir kak
total 1 replies
Sri Supriatin
Top upnya thor tjs 🙏🙏🙏😍😍
Sri Supriatin
Arkan g mau kok ngamuk🤭🤭🤭
Yunita Asep
yess kerren banget.. thorr.. lanjuutt...!!
Yunita Asep
🤭🤭
Yunita Asep
kaya sekar Rania, cepas ceploss
Yunita Asep
lanjutkAn
Yunita Asep
yess dah.. setuju...
Sri Supriatin
Seruuu dong ada Luna pasti kalah lah anak2 pro Rania🤭🤣🤣🤣🤣
Yunita Asep
ngawur Rania 😄😄😄
Sri Supriatin
Hadeuh Arkan aya2 wae 😄😄😄
Yunita Asep
lanjuutt,..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!