Di siang hari, Arkana Baswara adalah pengusaha paling terhormat di kota, sosok tampan berkuasa yang diperebutkan setiap wanita. Namun ketika malam turun, ia berubah menjadi Sang Iblis: penguasa dunia hitam yang paling ditakuti, seorang pria yang tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh hatinya.
Salsabila hanyalah gadis penjual bunga miskin dengan satu mimpi sederhana: menjadi dokter dan mengangkat keluarganya dari kesulitan. Sampai satu malam kelam mengubah seluruh hidupnya, dan meninggalkan sebuah rahasia yang harus ia jaga dengan nyawanya.
Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini sang mafia menemukan apa yang selama ini disembunyikan darinya, dan ia tak akan melepaskannya begitu saja. "Kau dan dia adalah milikku," katanya. Tapi Salsabila punya satu tekad: melarikan diri, sejauh apa pun, berapa kali pun.
Namun bagaimana caranya kabur dari seorang pria yang menguasai seluruh kota? Bagaimana caranya membenci pria yang perlahan meruntuhkan setiap tembok di hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 — Om, Tolong Mamaku
Arkana berada di dalam mobil, menunggu sinyal yang begitu ia nantikan. Tubuhnya rileks dengan mata terpejam, tenggelam dalam meditasi sebelum ia benar-benar gila oleh kecemasan. Meski wajahnya datar, di dalam dirinya tubuhnya bergejolak bagai badai.
"Bos, mau kopi?"
"Tidak."
Tiba-tiba ponselnya bergetar tak keruan. Arkana membuka mata dan menatap layar. Sebuah titik merah, tak jauh dari lokasinya, berkedip-kedip dengan panik.
Itu adalah detak jantung gadis kecil itu yang berdenyut cepat. Ayahnya telah memasang pelacak di dalam medali berbentuk hati itu, dan pelacak itu hanya aktif saat ditekan. Itulah sebabnya ia berkata pada putrinya bahwa jika medali itu ditekan, ia bisa meminta satu permohonan. Gadis kecil itu dalam bahaya. Hanya dalam keadaan seperti itulah seorang anak akan meminta permohonan dengan jantung berdegup kencang. Saat diaktifkan, medali itu menampilkan denyut jantung pemiliknya, sehingga Arkana bisa tahu sudah berapa lama pemiliknya bertahan hingga saat itu, dan apakah ia masih hidup.
Arkana berpindah tempat duduk. Ada yang tak beres, dan ia ingin menjadi yang pertama tiba, dan itu hanya mungkin jika ia sendiri yang menyetir.
"Kerahkan semua orang dan ikuti lokasinya. Sudah kutemukan."
Galih berlari bersama anak buah yang lain, menyusul di belakang Arkana.
Beni tadi butuh setengah jam karena ia menyetir pelan agar tak menarik perhatian siapa pun. Namun, Arkana melaju seperti kesetanan, hampir saja membakar mesin mobil yang ia kemudikan.
Deru mobil-mobil itu memekakkan.
Arkana berlari masuk ke rumah tempat GPS menunjukkan lokasi. Ia dibutakan amarah, maka ia berlari menaiki tangga untuk mencari putrinya.
"Alika, ini Om. Ini Om Arkana. Katakan, kamu di mana?"
Alika terlalu ketakutan hingga tak mendengar Arkana memanggilnya. Arkana berlutut dan memeriksa kolong ranjang, dan menemukan putrinya meringkuk ketakutan.
"Nak, ayo keluar. Om sudah datang untuk menyelamatkanmu."
"Om benar-benar datang. Medalinya sungguhan. Alika minta permohonan, Alika mau Om datang menyelamatkan kami."
"Om sudah di sini, putri cantikku."
Alika keluar dari kolong ranjang dan menghambur ke pelukan ayahnya. Ia merasa begitu bahagia di sisi pria itu. Aroma tubuhnya membuatnya tenang.
Arkana merasakan kehidupan kembali mengalir ke tubuhnya. Ia bangkit bersama putri kecilnya yang cantik dan menggendongnya untuk membawanya keluar dari rumah mengerikan itu.
Ia keluar dengan gadis kecil dalam gendongan menuju mobil, tapi sebelum menaikkannya, Alika berbicara.
"Om, cari Mama. Tadi Om Devan memukuli Mama. Alika takut sekali sama Mama. Cari dia, Om, kumohon."
Alika menatap mata ayahnya dengan mata kecilnya yang berkaca-kaca, hingga air mata itu tumpah. Tangan mungilnya gemetar, dan penanda detak jantungnya kembali berbunyi di ponsel Arkana.
"Di mana Mamamu?"
"Tadi ada di ruang tamu, berkelahi sama Om."
"Om akan mencarinya."
Semua anak buah tiba tepat saat Arkana masuk kembali ke dalam rumah. Mereka menyebar ke seluruh area, dan di sekeliling mobil mereka membentuk pagar pengaman untuk melindungi gadis kecil itu.
Arkana pergi mencari Salsabila, dan apa yang dilihatnya sungguh mengerikan. Bahkan ia sendiri tak pernah membayangkan hal seperti itu. Pikirannya melayang ke hari itu.