Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11 - Dia Memilih Cerai
Setelah Sari pergi, Bambang berdiri di ruang tengah seperti orang yang baru kehilangan tempat bersembunyi.
Tidak ada lagi alasan "hanya membantu". Tidak ada lagi cerita "perempuan malang yang perlu ditolong". Sari sendiri sudah mengatakan semuanya. Rumah untuk masa tua mereka. Janji setelah anak-anak besar. Harapan yang dipelihara selama bertahun-tahun.
Ratna merasa aneh.
Ia tidak lagi ingin berteriak.
Yang ia rasakan justru hening. Dalam sekali. Seolah ada pintu besar yang tertutup di belakangnya, dan di depan hanya ada jalan panjang yang belum dikenali.
Dimas memecah sunyi.
"Pak, sekarang jelas. Rumah itu harus dibatalkan."
Bambang duduk kembali, wajahnya lelah. "Uang mukanya mungkin hangus."
Raka tertawa dingin. "Masih mikir uang muka."
"Kamu pikir uang gampang dicari?"
"Bapak pikir hati Ibu gampang diganti?"
Bambang memukul lengan kursi. "Kamu dari tadi menyerangku terus!"
"Karena Bapak pantas diserang."
"Raka, cukup," kata Ratna.
Raka menahan diri.
Melati menatap ayahnya dengan mata merah. "Pak, apa Bapak benar-benar mau meninggalkan Ibu?"
Bambang menatap putrinya.
Melati menangis lagi. "Jawab, Pak. Aku perlu dengar."
Bambang mengusap wajah.
"Bapak tidak tahu."
Melati seperti kehilangan tenaga. Rizal merangkul bahunya.
Ratna menatap Bambang. "Kalau tidak tahu, aku bantu."
Bambang mengangkat kepala.
"Aku ingin berpisah."
Kalimat itu keluar pelan.
Tetapi dampaknya seperti meja besar jatuh di tengah ruangan.
Melati langsung berdiri. "Bu!"
Dimas terdiam. Raka menutup mata sebentar, rahangnya bergetar. Bambang menatap Ratna seperti baru mendengar bahasa asing.
"Apa katamu?"
Ratna mengulang, kali ini lebih jelas.
"Aku ingin bercerai."
Melati menangis keras. "Bu, jangan sekarang. Jangan di saat semua emosi."
"Aku tidak emosi."
"Justru karena Ibu terlalu tenang, aku takut."
Dimas akhirnya bicara, "Bu, pikirkan dulu. Setidaknya tunggu beberapa hari."
Ratna menatapnya. "Aku sudah menunggu sepuluh tahun tanpa sadar."
"Tapi prosesnya..."
"Aku tahu prosesnya melalui Pengadilan Agama. Aku tahu tidak selesai sehari. Aku tahu harus ada gugatan, mediasi, sidang. Aku dokter, Dim, bukan orang yang tidak bisa belajar."
Dimas menunduk.
Bambang tiba-tiba tertawa.
Tawanya pelan, tetapi menyakitkan.
"Kamu? Menggugat cerai aku?"
Ratna menatapnya. "Iya."
"Di usia enam puluh?"
"Iya."
"Kamu pikir siapa yang mau dengan janda tua?"
Raka langsung berdiri, tetapi Ratna mengangkat tangan.
"Aku tidak bercerai untuk mencari laki-laki baru."
Bambang menunjuknya. "Jangan munafik. Pasti kamu ingin menghukum aku. Kamu ingin aku memohon."
"Tidak."
"Lalu untuk apa?"
Ratna menatapnya lama.
"Agar aku tidak lagi menjadi istri dari laki-laki yang menghormatiku hanya kalau aku diam."
Wajah Bambang berubah.
Melati terisak, "Bu..."
Ratna melanjutkan, "Aku tidak tahu setelah cerai aku tinggal di mana. Mungkin di klinik. Mungkin menyewa kamar. Mungkin sementara di rumah anak. Aku juga tidak tahu orang kampung akan bicara apa. Tapi aku tahu satu hal. Kalau aku tetap di sini, aku akan membenci diriku sendiri."
Tidak ada yang bicara.
Bambang berdiri lagi. Kali ini suaranya tidak lagi marah, melainkan panik.
"Ratna, jangan bodoh. Aku tidak pernah berniat membuangmu."
"Itulah masalahnya."
"Apa?"
"Kamu ingin menyimpan aku."
Bambang diam.
"Kamu ingin aku tetap di rumah, tetap memasak, tetap menjadi ibu anak-anakmu, tetap menjadi wajah baik keluarga ini. Sementara Sari menjadi tempat kamu merasa muda, merasa dipuja, merasa punya cinta yang tidak selesai."
Bambang tampak ingin membantah, tetapi tidak menemukan kata.
"Aku bukan lemari tempat kamu menyimpan barang lama, Bang."
Melati menutup wajah.
Dimas menatap ibunya dengan mata basah.
Raka akhirnya duduk, kedua tangannya menutup mulut. Ia tampak menahan tangis dengan cara laki-laki yang tidak terbiasa menangis.
Bambang berkata lebih rendah, "Kalau aku putus dengan Sari?"
Ratna menatapnya.
"Kalau aku batalkan rumah? Batalkan makam?"
Ratna tidak langsung menjawab.
Bambang melihat celah. Ia melangkah mendekat.
"Kita sudah tua. Kita punya anak cucu. Jangan hancurkan semuanya karena kesalahan."
"Kesalahan satu kali bisa dibicarakan. Sepuluh tahun adalah pilihan hidup."
"Aku khilaf."
"Sepuluh tahun?"
Bambang mengangkat suara. "Laki-laki bisa lemah!"
Ratna mengangguk. "Dan perempuan juga bisa lelah."
Kalimat itu menghentikan semua.
Melati berjalan mendekati Ratna, berlutut di samping kursi ibunya.
"Bu, aku minta maaf kalau kemarin aku salah bicara. Aku cuma takut. Aku tidak mau kehilangan rumah ini. Aku tidak mau kehilangan tempat pulang. Tapi aku juga tidak mau Ibu sakit."
Ratna menyentuh rambut anaknya.
"Kamu tidak kehilangan ibu hanya karena ibu tidak lagi menjadi istri bapakmu."
"Tapi keluarga kita..."
"Keluarga yang hanya utuh karena satu orang terus menelan luka, itu bukan utuh. Itu cuma rapi dari luar."
Melati menangis di pangkuannya.
Bambang melihat pemandangan itu dengan wajah tak terbaca.
Dimas berkata, "Bu, kalau Ibu benar-benar ingin menggugat cerai, aku akan bantu urus dokumen. Tapi soal tempat tinggal..."
"Aku bisa tinggal di kamar klinik sementara."
Yuni yang baru keluar dari kamar langsung berkata, "Jangan, Bu. Kamar itu sempit."
Ratna tersenyum kecil. "Sempit tidak apa-apa."
Raka menyahut, "Ibu ikut aku dulu. Aku bisa cuti beberapa hari. Anisa sudah aku telepon, dia setuju."
Melati mengangkat wajah. "Ibu juga bisa di rumahku."
Raka menatapnya.
Melati cepat berkata, "Aku tahu rumahku kecil. Aku tahu mertuaku sering datang. Tapi Ibu tetap ibuku."
Ratna menghela napas.
Ia melihat ketiga anaknya. Mereka tidak sempurna. Mereka egois dengan cara masing-masing. Mereka juga takut. Tetapi malam itu, setidaknya, mereka mulai melihatnya.
Bambang tiba-tiba berkata, "Aku tidak setuju cerai."
Ratna menoleh.
"Kalau kamu menggugat, aku akan menolak."
Dimas menghela napas.
Raka tersenyum miring. "Silakan. Mediasi saja sampai hakim bosan."
Bambang menunjuk Ratna. "Kamu akan malu. Semua orang akan tahu kamu menggugat suamimu karena cemburu pada cinta lama."
Ratna berdiri.
Ia tidak tinggi seperti Raka, tidak keras seperti Dimas ketika marah, tidak dramatis seperti Melati. Tetapi ketika ia berdiri, semua orang diam.
"Kalau orang bertanya, aku akan jawab."
"Jawab apa?"
"Suamiku berhubungan dengan cinta lamanya selama sepuluh tahun, membelikan rumah, dan memesan makam berdua. Aku menggugat karena aku masih punya harga diri."
Bambang pucat.
"Kamu tidak akan berani."
Ratna mengambil map bukti dan memeluknya di dada.
"Lihat saja."
Malam itu, keputusan belum menjadi dokumen hukum. Belum ada gugatan, belum ada nomor perkara, belum ada hakim, belum ada akta cerai.
Tetapi di ruang tengah rumah itu, pernikahan Ratna dan Bambang sudah berubah selamanya.
Bambang kehilangan istri yang nurut.
Dan Ratna, untuk pertama kalinya, mendapatkan kembali suaranya.
Malam itu, setelah semua orang pulang, Ratna tidak langsung tidur.
Ia membuka lemari dan mengeluarkan akta nikah lama. Kertas itu sudah menguning di pinggirnya. Ada namanya dan nama Bambang, tanda tangan penghulu, cap KUA, dan foto mereka yang masih muda.
Ratna menyentuh fotonya sendiri.
Perempuan muda di sana tampak patuh, bingung, dan sedikit takut. Ia ingin berkata pada perempuan itu bahwa hidupnya akan panjang, bahwa ia akan melahirkan anak-anak baik sekaligus menyakitkan, bahwa ia akan menua di samping laki-laki yang tidak sepenuhnya melihatnya.
Tapi ia juga ingin berkata, suatu hari kamu akan berani.
Walau terlambat.
Walau rambutmu sudah putih.
Walau semua orang menyuruhmu sabar.
Ratna memasukkan akta nikah itu ke dalam map bukti, bukan sebagai kenangan, melainkan sebagai dokumen yang akan ia bawa ke pengadilan.
Perubahan itu kecil.
Namun bagi Ratna, rasanya seperti memindahkan batu besar dari dadanya ke atas meja.
Ia juga mengambil mukena lama dari gantungan pintu. Mukena itu sudah tipis, tetapi bersih. Selama bertahun-tahun, ia memakainya untuk mendoakan rumah tangga agar baik-baik saja.
Malam itu, doanya berbeda.
Ia tidak meminta Bambang berubah. Tidak meminta Sari pergi. Tidak meminta anak-anak langsung mengerti.
Ia hanya meminta diberi kekuatan untuk tidak menarik kembali kata-kata yang akhirnya berhasil ia ucapkan.
Sebab Ratna tahu dirinya sendiri. Ia terlalu mudah kasihan. Terlalu mudah merasa bersalah. Terlalu mudah berpikir, "Sudahlah, demi anak-anak."
Ia takut bukan pada pengadilan.
Ia takut pada kelembutan hatinya sendiri.
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
emosiiii akuuuuu
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan