hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍
Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?
Itulah yang terjadi sama Ema.
Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.
Tapi ternyata, Ema salah besar.
Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.
Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.
Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
di paksa menikah
Hallo gyuss! aku datang lagi dengan cerita bertema Vampir nih moga suka yah 🌼🌼
Tolong dukung terus aku, ya. Jangan lupa vote cerita aku, teman-teman!
Kalau ada kesamaan nama, tokoh, ataupun cerita, aku mohon maaf sebelumnya. Tapi cerita ini murni dari ide aku sendiri.
Jangan lupa follow, komen Dan vote yah
_______________________________________________
"Kamu harus menikah dengan anak rekan bisnis Ayah. Kamu mau Ibu dan kakakmu hidup susah?" ucap Bram.
"Nggak. Masih ada Kakak, kenapa harus aku? Sudah berapa kali juga aku bilang, nggak, Yah! Nggak!" tolak Emma. Gadis itu sudah berkali-kali menolak keinginan ayahnya.
Sudah hampir seminggu Bram memaksanya menikah dengan anak rekan bisnisnya, tetapi Emma tetap bersikeras menolak.
"Kamu selalu saja keras kepala! Sudah berapa kali Ayah katakan kalau kakakmu sudah punya calon!" Bram mulai kesal. "Ya sudah, kalau kamu tetap menolak, jangan harap harta warisan bundamu jatuh ke tanganmu. Semuanya akan Ayah serahkan kepada Marisa," lanjutnya.
"Apaan sih, Yah? Kok gitu? Kak Marisa itu cuma anak tiri Ayah!" Emma tidak terima.
"Mau menikah atau hartanya hangus?" tawar Bram santai sambil menyilangkan kedua kakinya.
Emma mengembuskan napas kesal. Ayahnya benar-benar membuatnya naik darah.
"Oke, kalau gitu, aku mau menikah. Tapi, aku punya satu syarat." Emma akhirnya menyerah.
Bram mengangkat alisnya. "Syarat apa?"
"Pernikahan ini cuma kontrak. Kalau masa kontraknya sudah selesai, pernikahan kami juga selesai. Aku nggak mau terikat sama orang yang bahkan nggak aku kenal!" tegas Emma.
Bram menatap putrinya beberapa saat sebelum terkekeh pelan.
"Memangnya kamu pikir pernikahan itu permainan, hah? Bisa seenaknya menikah, terus seenaknya minta cerai?" tanyanya.
"Lah, Ayah sendiri yang maksa aku nikah. Jadi, ya, aku punya hak buat ngasih syarat!" balas Emma tak mau kalah.
"Dasar anak keras kepala!"
"Biarin!"
Bram menggelengkan kepalanya. Berdebat dengan Emma memang tidak pernah ada habisnya. Gadis itu selalu punya jawaban untuk setiap perkataannya.
"Oke, Ayah setuju," ujar Bram tiba-tiba.
Emma yang tadinya memasang wajah kesal langsung menatap ayahnya dengan curiga.
"Serius?"
"Iya, tapi ada satu masalah."
"Nah, kan! Pasti ada tapinya!" Emma mendengus. "Apa lagi, Yah?"
"Kesepakatan ini bukan cuma urusan Ayah dan kamu. Ayah harus membicarakannya dengan keluarga Damian terlebih dahulu."
Emma mengernyit. "Damian? Siapa lagi itu?"
"Calon suamimu."
Emma terdiam beberapa detik, lalu menepuk dahinya sendiri.
"Ya ampun, Yah! Namanya aja aku baru tahu sekarang. Gimana mau nikah kalau orangnya aja aku nggak kenal?"
"Makanya, nanti kamu akan bertemu dengannya."
"Kalau orangnya jelek gimana?"
Bram menatap putrinya datar. "Kamu mau menikah atau mau Ayah batalkan semuanya?"
"Ya, nikah, nikah! Bawel banget sih!"
Emma menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan wajah masam. Dalam hati, ia sudah mengutuk keputusan ayahnya berkali-kali.
Gara-gara harta warisan mendiang bundanya, sekarang ia harus menikah dengan laki-laki asing bernama Damian.
Semoga saja laki-laki itu bukan orang aneh.
Karena Emma benar-benar tidak punya niat untuk jatuh cinta kepada pria yang bahkan tidak pernah ia pilih sendiri.
"Pernikahan kalian akan dilaksanakan pada malam bulan purnama minggu depan," ujar Bram.
Emma yang sedang minum langsung meletakkan gelasnya di atas meja.
"HAH? BULAN PURNAMA?"
Bram mengernyit. "Kenapa teriak-teriak?"
"Ya, siapa juga yang nggak kaget, Yah! Orang biasanya nikah pagi atau siang, ini malah malam bulan purnama. Emangnya calon suamiku manusia serigala?"
"Emma!"
"Iya, iya, ampun!" Emma mengangkat kedua tangannya dramatis . "Tapi serius, Yah, kenapa harus malam bulan purnama? Kenapa nggak hari Minggu pagi aja? Habis nikah, kita bisa langsung makan prasmanan."
"Karena keluarga Damian yang meminta begitu."
Emma terdiam sebentar.
"Loh, kok keluarga dia? Memangnya mereka mau nikahin anaknya atau mau mengadakan acara pemanggilan arwah?"
Bram memijat pelipisnya. "Ayah nggak mau tahu apa alasan mereka. Yang jelas, pernikahan kalian akan dilaksanakan malam itu."
Emma menjatuhkan tubuhnya ke sofa sambil mengembuskan napas panjang.
Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?
Belum juga bertemu calon suaminya, sekarang ia sudah harus mengikuti aturan pernikahan yang aneh.
Dan yang paling menyebalkan, ia bahkan tidak diberi kesempatan untuk menolak.
"Ya udah, terserah," gumam Emma. "Yang penting kontraknya tetap berlaku. Setelah masa kontraknya selesai, aku bebas, kan?"
"Kalau semua kesepakatan sudah ditandatangani, iya."
Emma mengangguk puas. Setidaknya masih ada satu hal yang bisa ia pegang.
Ia belum tahu siapa Damian sebenarnya.
Ia juga belum tahu keluarga seperti apa yang akan dimasukinya.
Yang Emma tahu, seminggu lagi ia akan menikah dengan orang asing.
Dan ia hanya berharap laki-laki itu tidak aneh-aneh.
Sayangnya, Emma sama sekali tidak tahu betapa salahnya harapan itu.
Di tempat lain, sebuah mansion besar berdiri megah di balik pepohonan rindang. Matahari sore menyinari halaman luasnya, tetapi tirai di hampir seluruh jendela mansion itu tertutup rapat.
Di dalam ruang keluarga, seorang pria paruh baya duduk berhadapan dengan putranya.
"Damian, minggu depan kamu akan menikah," ucap pria itu tenang.
Damian yang sedang memainkan ponselnya langsung mengangkat kepala.
"Apa?"
"Kamu tidak salah dengar."
"Papi bercanda, kan?"
"Apa wajah Papi kelihatan sedang bercanda?"
Damian meletakkan ponselnya di atas meja, kemudian tertawa kecil tanpa sedikit pun merasa lucu.
"Gila. Aku bahkan tidak memiliki kekasih bagimana aku bisa menikah pi, aku tidak mau ?"
"Pernikahan ini penting untuk keluarga kita."
"Kalau penting buat keluarga, kenapa harus Damian?"
Pria itu terdiam sesaat sebelum menjawab, "Karena kakakmu sudah memiliki pilihannya sendiri. Dan kamu adalah orang yang paling tepat untuk menjalankan kesepakatan ini."
Damian mengusap wajahnya kasar.
Ia sudah tahu bahwa keluarganya tidak pernah benar-benar memberinya kebebasan untuk menentukan masa depan. Namun, ia tidak pernah menyangka mereka akan sampai mengatur pernikahannya.
"Siapa nama perempuan itu?" tanyanya akhirnya.
"Emma."
Damian mengangguk malas.
"Oke. Damian mau menikah."
Ayahnya tampak sedikit terkejut dengan jawaban yang begitu mudah.
"Tapi Damian punya syarat," lanjutnya.
"Apa?"
"Setelah menikah, jangan harap Papi menyuruh Damian bersikap romantis atau berpura-pura jadi suami idaman. Kami menikah cuma karena kesepakatan bisnis. Jadi, jangan ikut campur urusan pribadi Damian."
Ayahnya menatap Damian cukup lama, lalu mengangguk.
"Baik. Asalkan kamu ingat satu hal, Damian."
"Apa lagi?"
"Jangan sampai perempuan itu mengetahui rahasia keluarga kita."
Senyum tipis di wajah Damian perlahan menghilang.Ia tahu betul apa maksud ayahnya Rahasia yang selama ratusan tahun mereka jaga Rahasia bahwa keluarga Dirgantara bukanlah keluarga manusia biasa.
Seminggu kemudian....
Seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya, Emma akhirnya bersiap untuk pernikahannya. Gadis itu mengenakan gaun pengantin putih yang sudah disiapkan sejak sore tadi.
Ngantuk? Jelas!
Bayangkan saja, dari jam enam sore dia sudah didandani, rambutnya ditata, wajahnya dipoles, sampai akhirnya hampir tengah malam pun dia masih harus duduk manis di depan cermin.
"Cantik sekali anak Mama," puji Alya sambil tersenyum. Namun, entah kenapa, pujian itu justru terdengar seperti ejekan di telinga Emma.
Emma melirik ibunya melalui pantulan cermin. "Iya, Ma. Aku juga tahu. Nggak usah diulang-ulang."
Alya mendengus mendengar jawaban putrinya.
"Ingat, ya! Setelah menikah nanti, kamu nggak boleh dekat-dekat lagi sama Dirga!" sahut Raisa, kakak tiri Emma, yang sejak tadi berdiri di dekat pintu.
Emma langsung memutar bola matanya.
"Ish, ular! Bisanya cuma bau jengkol!" cibirnya sambil membenarkan sedikit rambutnya yang terurai di bahu.
Raisa langsung melotot. "Kamu, ya-"
"Kenapa, Kak?" potong Emma, lalu menoleh dengan senyum menyebalkan. "Kakak takut Dirga lebih milih aku, ya?"
"Kamu jangan kepedean!"
"Lah, aku nanya doang, kok. Kenapa sewot?"
"Emma!"
"Esttt, jangan teriak-teriak, dong. Nanti keriput, loh!" Emma terkekeh kecil. "Lagipula, kalau aku mau, gampang banget buat bikin Ayah tahu kelakuan kalian. Mau aku laporin sekarang? Biar hari ini juga kalian bisa hidup sengsara!"
Raisa mengepalkan tangannya kesal, sedangkan Emma kembali menatap cermin seolah tidak terjadi apa-apa.
Baginya, menghadapi Raisa memang sudah menjadi makanan sehari-hari.
Namun, kali ini berbeda.
Beberapa menit lagi, Emma akan resmi menjadi istri seorang laki-laki yang bahkan belum pernah dikenalnya dengan baik.
Dan sialnya, dia masih mengantuk setengah mati Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Seorang pelayan masuk dan menghampiri Alya.
"Permisi, Nyonya. Pengantin perempuan sudah bisa dibawa ke altar. Keluarga mempelai pria sudah menunggu."
Alya mengangguk. "Baik, kami segera ke sana."
Emma yang sejak tadi sibuk menahan kantuk langsung berdiri. Ia merapikan gaunnya sebentar sebelum mengikuti ibunya keluar dari ruangan.
Malam itu, mansion tempat pernikahan berlangsung tampak begitu megah. Lampu-lampu kristal menerangi setiap sudut ruangan, sementara cahaya bulan purnama terlihat jelas dari jendela-jendela besar.
Emma berjalan menuju altar dengan langkah pelan. Di sana, seorang pria sudah berdiri menunggunya.
Damian.
Namun, ada satu hal yang langsung membuat Emma mengernyit.
Pria itu memakai topeng.
Bukan topeng biasa yang hanya menutupi sebagian wajah, melainkan topeng hitam elegan yang menutupi hampir seluruh wajahnya Emma sempat memperlambat langkahnya.
Lah, ini orang kenapa pakai topeng? Nikahan apa pesta Halloween?
Belum sempat ia memikirkan hal lain, seorang pelayan mempersilakannya berdiri di samping Damian Dari balik topengnya, Damian melirik sekilas ke arah perempuan yang kini resmi menjadi calon istrinya itu.
Sementara Emma hanya bisa menatap lurus ke depan sambil berusaha menahan rasa kantuk.
Ya Tuhan, cepatlah selesai. Aku mau tidur.
Prosesi pernikahan pun dimulai. Setelah melalui rangkaian acara yang telah disiapkan kedua keluarga, akhirnya mereka resmi menjadi pasangan suami istri.
Emma mengembuskan napas lega.
Akhirnya selesai juga!
Namun, baru saja ia hendak duduk, suara Raisa terdengar dari sampingnya.
"Ck, kasihan banget, ya," bisik Raisa dengan senyum mengejek.
Emma menoleh. "Kenapa lagi?"
"Suami sendiri sampai harus pakai topeng. Jangan-jangan mukanya jelek banget, makanya disembunyiin."
Emma terdiam.
Matanya kembali melirik Damian yang masih mengenakan topeng hitamnya Jangan-jangan beneran? Ia mencoba membayangkan wajah suaminya di balik topeng itu, tetapi tidak berhasil.
Raisa terkekeh melihat ekspresi Emma.
"Semoga aja suami kamu nggak bikin kamu kaget pas topengnya dibuka, deh."
Emma mendengus, lalu memalingkan wajahnya.
"Bawel banget, sih. Urusin aja muka sendiri."
"Cih!"
Raisa pergi sambil tertawa kecil, meninggalkan Emma yang kini kembali melirik suaminya Gadis itu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bergumam pelan.
"Ya, kalau emang jelek juga nggak masalah, sih. Tinggal operasi plastik."
Emma mengangguk-angguk sendiri, seolah baru saja menemukan solusi terbaik untuk masalah hidupnya.
"Uang keluarga kayaknya banyak. Masa buat operasi hidung sama rahang doang nggak ada?"
Tanpa sadar, Emma mengucapkan kalimat itu sedikit lebih keras dari yang ia kira Dan sialnya, Damian mendengarnya Pria bertopeng itu perlahan menoleh ke arahnya.
Emma langsung membeku kemudian terkekeh pelan Anjir. Dia dengar nggak, ya?
eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭