Reynand, CEO dingin yang anti-cinta, terpaksa menikahi asisten pribadinya, Aira, demi meredam skandal kantor.
Bagi Reynand, pernikahan ini hanyalah kontrak sementara. Namun, keteguhan hati Aira perlahan meruntuhkan pertahanan sang CEO.
Saat intrik dan masa lalu mengancam, sanggupkah Reynand mengakui perasaannya sebelum kehilangan wanita yang telah menjerat hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11: Langkah Menuju Pelaminan
Berita hilangnya pengaruh Devan Aristha dari jajaran direksi Aristha Tower menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru perusahaan. Namun kali ini, tidak ada lagi tatapan meremehkan atau bisik-bisik miring yang mengarah pada Aira. Setiap kali Aira berjalan menyusuri koridor utama, para pegawai membungkuk hormat dengan senyum segan—menyadari bahwa Aira bukan sekadar asisten, melainkan calon permaisuri dari pemilik Aristha Tower.
Siang itu, suasana di ruang kerja CEO terasa jauh lebih hangat dari biasanya. Aira sedang merapikan dokumen jadwal pertemuan Reynand ketika pintu ruangan ketukan tiga kali, lalu terbuka.
Nyonya Rosalinda melangkah masuk membawa sebuah kotak beludru hitam berukuran sedang. Di belakangnya, dua orang perancang busana ternama mengikutinya dengan membawa beberapa gantungan gaun malam dan stelan pengantin kelas tinggi.
"Ibu?" Aira menghentikan pekerjaannya, terkejut melihat kedatangan calon ibu mertuanya.
Reynand yang sedang menatap layar komputer langsung berdiri dan menyambut ibunya. "Ada apa, Bu? Bukankah jadwal pengukuran gaun baru minggu depan?"
Nyonya Rosalinda tersenyum anggun, mengibaskan tangannya pelan. "Ibu tidak sabar, Reynand. Lagi pula, pesta pertunangan resmi dan pengumuman pernikahan kalian akan diadakan akhir bulan ini. Semakin cepat persiapan selesai, semakin tenang Ibu."
Nyonya Rosalinda berjalan mendekati Aira, lalu membuka kotak beludru hitam tersebut. Di dalamnya berkilau sebuah cincin berlian berdesain klasik yang sangat indah dan memancarkan kemewahan tiada tanding.
"Ini adalah cincin warisan keluarga Aristha," ucap Nyonya Rosalinda lembut, menatap Aira dengan penuh kehangatan. "Cincin ini dulu milik nenek Reynand, dan hanya diberikan kepada wanita yang benar-benar dicintai dan diakui oleh penerus Aristha. Sekarang, cincin ini milikmu, Aira."
Aira menahan napas, matanya berkaca-kaca menatap cincin bertatahkan berlian itu. "Nyonya... ini terlalu berharga untuk saya..."
"Panggil Ibu, Aira," potong Nyonya Rosalinda tegas namun lembut. "Kamu sudah membuktikan kesetiaanmu pada Reynand saat Devan mencoba menghancurkan keluarga kita. Kamu sangat pantas mendapatkannya."
Reynand melangkah mendekat, mengambil cincin itu dari kotaknya. Tanpa ragu, ia meraih jemari lentik Aira dan menyematkan cincin berlian tersebut di jari manis tangan kiri Aira. Ukurannya pas sempurna.
Genggaman tangan Reynand di jemari Aira terasa hangat. "Mulai hari ini, kamu resmi menjadi bagian dari hidupku sepenuhnya, Aira."
Dada Aira bergemuruh oleh rasa bahagia yang tak membendung. Namun, di tengah suasana hangat dan haru itu, ponsel milik Aira di atas meja kerja tiba-tiba bergetar panik. Anomali pesan masuk dari nomor tak dikenal terpampang di layar sentuh.
Aira mengernyit pelan, mengambil ponselnya lalu membuka pesan tersebut saat Reynand dan Nyonya Rosalinda sedang berdiskusi dengan perancang busana.
Nomor Tak Dikenal:
"Jangan terlalu cepat merayakan kemenanganmu di Aristha Tower, Aira. Kamu pikir Devan adalah satu-satunya musuhmu? Tanya pada Reynand, apa yang sebenarnya terjadi pada rahasia masa lalu keluargamu sepuluh tahun yang lalu."
Aira terpaku seketika. Wajahnya yang tadi merona bahagia mendadak pucat pasi. Jemarinya gemetaran menggenggam ponsel.
Rahasia masa lalu sepuluh tahun lalu? Apa hubungannya keluarga Aira yang sederhana dengan keluarga megah Aristha?
Reynand yang menyadari perubahan raut wajah calon istrinya langsung berjalan mendekat, menyentuh bahu Aira dengan cemas. "Aira? Ada apa? Wajahmu pucat sekali."
Aira menyembunyikan layar ponselnya refleks, mencoba mengulas senyum meski paksakan. "T-tidak apa-apa, Reynand. Hanya... sedikit pusing."
Namun, di dalam hatinya, benih gelisah dan misteri baru mulai bertunas, mengancam kedamaian yang baru saja mereka bangun.