NovelToon NovelToon
Sang Mafia dan Gadis Desa

Sang Mafia dan Gadis Desa

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Obsesi / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yingiola Macosay

Andrew Quintana menguasai dunia hitam tanpa belas kasihan. Bos kartel yang dijuluki "si iblis" ini punya segalanya—kekuasaan, kekayaan, dan sumpah untuk tidak pernah jatuh cinta pada siapa pun. Sampai suatu malam, di tengah baku tembak berdarah, seorang gadis berambut merah terjatuh dari mobil musuhnya.

Alondra hanyalah gadis desa yang menjual hasil kebun di pasar—sampai ia diculik, dijual, dan nyaris kehilangan nyawa. Kini ia terbangun di sebuah mansion mewah milik pria paling berbahaya yang pernah ia temui, sebagai sandera. Tapi Alondra bukan perempuan yang mudah ditundukkan. Ia melawan, membalas hinaan, dan sama sekali tak gentar pada sang bos mafia—sesuatu yang belum pernah dialami Andrew seumur hidupnya.

Dari pertengkaran sengit menjadi kesepakatan berbahaya, dari kebencian menjadi gairah yang tak bisa mereka bendung. Namun mencintai seorang mafioso berarti masuk ke dunia penuh peluru, pengkhianatan, dan musuh yang mengintai di setiap sudut. Ketika kecemburuan, kebohongan, dan rahasia mengancam menghancurkan segalanya, seberapa jauh keduanya rela bertaruh demi cinta yang tak seharusnya ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yingiola Macosay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Kejutan

Ketika kami tiba di gereja, ibuku turun bersama adikku. Aku masih tetap di dalam mobil. Kemudian ayahku turun. "Ayo, Nak, kita harus masuk."

Aku tak bisa menahan air mata yang meluncur di pipiku. "Papa, kumohon, aku tak mau menikah."

"Alondra, anakku, kalau bisa aku pun tak akan membiarkanmu menikah, tapi aku tak punya pilihan lain."

Kurasakan air mataku mengalir di pipi. Setelah beberapa menit, aku turun dari mobil dan menoleh ke segala arah. Aku tak melepas harapan bahwa Andrew bisa datang sewaktu-waktu untuk menggagalkan pernikahan konyol ini. Tapi malang bagiku, aku tak melihat siapa pun.

"Ayo, Alondra, apa sih yang kau lihat-lihat?"

"Tidak ada. Baiklah, Papa, ayo kita masuk sebelum si tua buncit itu datang." Kugandeng lengan ayahku dan kami memasuki gereja. Musik langsung mengalun. Kurasakan rasa takut menguasai sekujur tubuhku, bahkan kakiku terasa gemetar. Ketika ayahku menyerahkanku pada si tua itu, aku cuma menatapnya tajam seolah ia hantu.

Pastor mulai bicara. Aku tak mendengar apa pun yang diucapkannya, toh bagiku tak ada artinya. Aku benar-benar tenggelam dalam pikiranku sendiri.

Sampai-sampai aku bahkan tak mendengar keributan yang pecah di gereja. Ketika aku berbalik untuk melihat apa yang terjadi, kulihat di mana-mana ada pria bersenjata yang mengacungkan senjata, dan para wanita menjerit histeris. (Mudah sekali panik cuma karena hal sepele.) Kualihkan pandanganku ke pintu, dan kulihat Andrew berjalan menuju tempatku berdiri.

Sesaat kukira aku berhalusinasi, sampai kudengar ia memanggil namaku. "Alondra."

Barulah aku sadar ini nyata. Aku ingin berlari, tapi si tua kotor itu menarik lenganku. Andrew tiba di tempatku berdiri. "Lepaskan calon istriku."

Aku ingin tertawa melihat wajah si tua bangkotan itu, matanya nyaris melotot keluar mendengar bahwa akulah calon istrinya.

Lalu kukatakan padanya dengan senyum bahagia, "Sudah kubilang lidahmu akan dipotong, atau mungkin aku akan jadi janda sebelum pernikahan."

Setelah keributan itu, semuanya hening. Untung orang tuaku tak berpenyakit jantung, kalau tidak mereka pasti mati di tempat karena kaget. Ayahku mendekat sambil berkata, "Apa yang baru saja Anda ucapkan?"

"Bahwa dia calon istriku, dan dia tak boleh menikah dengan pria lain selain aku."

Si tua Manuel langsung menghadapi Andrew tanpa tahu siapa dia sebenarnya. "Siapa Anda berani-beraninya datang mengganggu pernikahanku dengan Nona ini?"

"Anda sendiri yang mengatakannya. Aku Andrew Quintana, atau lebih tepatnya, si Iblis Quintana."

Si tua nyaris jatuh pingsan begitu tahu bahwa yang berdiri di hadapannya adalah Andrew Quintana. Ayahku langsung berkata, "Anda tak ada urusan di sini, Tuan."

"Maaf, Papa, tapi aku tak akan menikahi si tua itu." Aku diam beberapa detik, lalu berkata, "Maaf, Papa, tapi aku mencintai pria ini dan aku akan ikut dengannya."

"Kau sudah gila. Kau tak sadar siapa dia?"

"Aku sadar, Papa. Aku tahu siapa dia. Dia orang yang menyelamatkanku saat aku diculik."

"Kau tak bisa pergi, Alondra. Jangan lupa utang yang ditanggung ayahmu padaku. Ia berutang banyak sekali padaku. Kalau kau tak menikah denganku, akan kutendang kalian ke jalanan."

Mendengar lelaki itu bicara begitu, saat itu juga aku ingin memotong lidahnya sekalian dengan kepalanya. Teganya ia memanfaatkan kebaikan orang. Aku sanggup melakukan apa pun yang mereka mau, tapi tidak sampai sejauh itu. Kuberi isyarat pada salah satu anak buahku, dan koper itu langsung dibawakan padaku. "Ini, Tuan. Lunasi utang Anda pada lelaki ini."

"Aku tak bisa menerima uang itu."

"Kenapa?"

"Karena itu sama saja menjual anakku pada Anda."

"Begitu? Lalu apa yang Anda lakukan sekarang, coba katakan, bukankah sama saja demi melunasi utang Anda? Sebaiknya lunasi saja utang Anda. Ayo, Alondra." Kugenggam tangan Alondra.

"Kau mau ke mana, Alondra?"

"Maaf, Papa, tapi aku pergi dengan Andrew." Kugenggam lagi tangan Andrew dan kami berjalan menuju pintu keluar gereja, ketika adikku menyusul kami. "Kak, jangan tinggalkan aku, bawa aku ikut."

"Tapi kau gila, Itzel. Aku tak bisa membawamu ikut."

Saat itu ibuku menghampiri kami. "Alondra, Itzel."

Aku cuma memandangnya, lalu berkata, "Maaf, Mama, aku tak bisa tinggal. Aku mencintai Andrew dan aku pergi dengannya."

"Tapi, Nak, semua tak semudah itu. Bagaimana bisa kau pergi begitu saja tanpa alasan jelas? Dan kau, Itzel, apa maksudmu ingin ikut kakakmu? Kalian seharusnya bicara dulu dengan ayahmu. Sebagaimana kau punya keberanian bicara di dalam sana, lakukan juga langsung di hadapan ayahmu. Dan Anda, Tuan, tidakkah menurut Anda lebih baik Anda bicara dulu dengan suamiku?"

"Ibumu benar, Alondra. Lebih baik aku bicara dulu dengan ayahmu."

Sesaat aku terdiam memikirkan ucapan ibunya, dan wanita itu memang benar sepenuhnya. Aku tak bisa membawa Alondra begitu saja tanpa alasan jelas. Ia punya keluarga, jadi lebih baik aku bicara dulu dengan ayahnya, dan memberitahunya bahwa kami saling mencintai dan aku berniat menikahinya.

Ketika kami tiba di rumah Alondra, kami harus menunggu ayahnya. "Baiklah, aku cuma berharap Papa tak lama datangnya."

"Katakan padaku satu hal, Alondra. Apa kau sudah bertekad ikut denganku, seandainya ayahmu tak merestui hubungan kita?"

"Ya. Kenapa kau meragukannya?"

"Aku cuma ingin tahu."

Aku mendekati Andrew, melingkarkan lenganku ke lehernya. Ia begitu dekat, sampai aku ingin melahapnya dengan ciuman. Tapi aku memilih bertanya, "Kenapa kau begitu lama datang menjemputku?"

Aku tak menyangka Alondra akan menanyakan kenapa aku begitu lama datang menjemputnya. "Karena aku sibuk sepanjang waktu ini. Baru hari ini aku sampai di mansion dan tahu apa yang sedang menimpamu, sayang."

"Kau memanggilku sayang?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!